NovelToon NovelToon
Suara Untuk Dia

Suara Untuk Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Balas Dendam / Idola sekolah
Popularitas:153
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Putra Satria Hsb

【Perjuang keras meraih cinta+Cerita di waktu SMA+Romantis nonfiksi】Seseorang yang jatuh cinta kepda perempuan terpintar di sekolah... Meskipun dia bukan pria yang pandai dalam akademi tapi dia ingin membuktikan jika dia layak mendapatkan perempuan tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Putra Satria Hsb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12- Jarak Yang Tercipta Perlahan

Sejak Nara resmi ditunjuk Pak Ridwan untuk mewakili sekolah di ajang Olimpiade Fisika tingkat kabupaten, ritme kesehariannya di sekolah mendadak berubah drastis. Jam-jam kosong yang biasanya kami pakai buat bercanda atau diskusi tugas di kelas, kini lebih sering dia habiskan di ruang perpustakaan atau ruang guru untuk bimbingan khusus.

Aku sendiri juga makin disibukkan dengan jadwal latihan pencak silat di aula bawah. Mas Teguh mulai menggembleng fisik dan teknik bertarung kami secara intensif karena seleksi untuk kejuaraan tingkat pelajar antar-sekolah tinggal beberapa bulan lagi.

Praktis, waktu ngobrol kami di kelas X IPA 2 jadi berkurang banyak. Tapi anehnya, setiap kali ada kesempatan sekecil apa pun buat bertemu, rasa canggung sama sekali enggak pernah ada.

Hari Rabu siang itu, suasana kelas X IPA 2 agak lengang karena guru Kimia sedang ada rapat di ruang kepala sekolah. Kami cuma diberikan tugas merangkum bab Hukum-Hukum Dasar Kimia di buku catatan masing-masing.

Diko seperti biasa sudah molor dengan menempelkan pipinya di atas meja, sementara aku duduk sambil memangku dagu, menatap bangku depan tempat Nara biasanya duduk. Bangku itu kosong. Nara sedang bimbingan Fisika sejak jam pelajaran pertama tadi.

Sekitar lima belas menit sebelum bel istirahat berbunyi, pintu kelas terbuka pelan. Nara masuk sambil membawa tumpukan kertas soal berukuran tebal. Wajahnya kelihatan agak pucat dan lesu. Dia berjalan menuju mejanya, lalu langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi sambil bersandar lelah.

Aku yang memperhatikan dari belakang langsung bergeser dari kursiku dan berjalan menghampiri mejanya. Aku duduk di kursi kosong milik Lina yang lagi ke kamar mandi.

"Capek ya, Mbak Olimpiade?" sapaku pelan sambil menyandarkan lengan di atas mejanya.

Nara menoleh pelan. Kacamata yang biasa dia pakai saat membaca buku tebal masih menempel di hidungnya. Dia menghela napas panjang, lalu melepas kacamatanya dan memijat pelan pangkal hidungnya.

"Pusing banget, Sat. Soal-soalnya susah semua, rumus turunan gayanya bikin kepala mau pecah," bisiknya dengan suara pelan yang terdengar pasrah.

Ini pemandangan yang cukup langka. Nara yang biasanya selalu kelihatan tangguh, percaya diri, dan suka marah-marah kalau diganggu, hari ini kelihatan bener-bener kehabisan energi.

"Ya namanya juga soal Olimpiade, Ra. Kalau gampang mah Diko juga bisa ngerjain," balasku mencoba mencairkan suasana.

Nara sempat tertawa kecil mendengar celetukanku, walau tawa itu cuma bertahan beberapa detik sebelum dia kembali menatap tumpukan kertas soal di atas mejanya.

"Pak Ridwan minta aku harus lolos sampai tingkat provinsi tahun ini. Bebannya kerasa banget, Sat. Aku takut bikin kecewa," lanjut Nara jujur. Matanya menatap lurus ke arahku, memperlihatkan sisi rapuh yang enggak pernah dia tunjukkan ke anak-anak lain.

Aku menatap wajah lesunya. Ada rasa kasihan yang menyelinap di dalam dada. Tapi aku tahu, cewek di depanku ini bukan tipe orang yang butuh dikasihani dengan kata-kata manis mendayu-dayu.

Aku mengambil salah satu pulpen gel miliknya yang tergeletak di meja, lalu menggambar pola senyum konyol (smiley face) di pojok atas lembar soal Fisikanya yang penuh dengan rumus rumit itu.

Nara mengernyitkan dahi melihat perbuatanku. "Ngapain dikotori gitu kertas soalku?"

"Biar kamu tersenyum dikit, Ra. Mukamu dari tadi udah kayak papan tulis belum dihapus, kusam banget," jawabku santai sambil menyeringai lebar. "Dengar ya, Juara Kelas. Kamu itu udah pinter banget. Kalaupun nanti hasilnya enggak sesuai target, enggak bakal ada yang nyalahin kamu. Yang penting kan udah usaha maksimal."

Nara menatapi gambar senyum konyol di kertas soalnya, lalu matanya beralih menatap wajahku agak lama. Guratan tegang di dahi dan pelipisnya perlahan-lahan mulai mengendur.

"Lagian kalau kamu pusing gara-gara Fisika terus, nanti siapa yang mau ngomeli aku pas latihan silat?" tambahku lagi.

Nara terkekeh pelan. Kali ini tawanya terasa lebih lepas. Dia mengambil pulpennya lalu mencoret gambar senyum yang kubuat tadi, diganti dengan gambar wajah galak bermata tajam.

"Nih, ini muka aku kalau kamu mulai konyol lagi," cetusnya judes, tapi ada binar gembira yang kembali muncul di bola matanya.

"Nah gitu dong! Marah-marah lagi kan lebih cocok buat kamu daripada menderita sendirian," balasku sambil tertawa.

Saat bel istirahat kedua berbunyi sore harinya, hujan gerimis kembali mengguyur pelataran sekolah. Karena kantin penuh dan bising, Nara milih makan bekal nasi goreng yang dibawanya dari rumah di teras samping kelas. Aku yang enggak ada kegiatan latihan sore itu milih buat duduk di sampingnya, ditemani satu plastik es lilin rasa cokelat yang kubeli dari kantin.

Suasana teras samping cukup sepi karena terlindung dari lalu lalang siswa lain. Cuma ada suara tetesan air hujan yang jatuh menimpa dedaunan pohon mahoni di depan kami.

"Sat," panggil Nara pelan di sela-sela suapannya.

"Ya?" sahutku sambil mengulum es lilin.

"Kamu nanti kalau tamat SMA mau lanjut ke mana?" tanya Nara spontan.

Pertanyaan itu cukup bikin aku kaget. Kami baru kelas X, semester satu pun belum selesai, tapi pemikiran Nara ternyata sudah melompat jauh ke masa depan.

Aku menggaruk kepala yang enggak gatal. "Aduh, belum kepikiran sampai sana aku, Ra. Yang penting sekarang bisa naik kelas dulu tanpa angka merah udah syukur banget."

Nara menoleh, menatapku dengan raut wajah serius. "Harus kepikiran dari sekarang, Satria. Waktu tiga tahun di SMA itu cepat banget pas lewat. Kalau aku sih rencana mau ngejar beasiswa kuliah di Jawa, ambil jurusan Teknik atau MIPA."

Mendengar kata "Jawa", dadaku rasanya agak berdenyut aneh. Tempat itu terasa sangat jauh dari kota tempat tinggal kami sekarang.

"Jauh banget, Ra? Kenapa enggak kuliah di sini aja?" tanyaku mencoba mengalirkan obrolan walau ada rasa ganjal yang mendadak muncul.

"Ya kan di sana kampus-kampus bagusnya banyak, Sat. Aku mau berkembang lebih jauh," jawab Nara polos tanpa ada maksud memamerkan ambisinya. "Kalau kamu punya bakat di silat, kamu bisa lewat jalur prestasi olahraga tahu. Jangan cuma mikir pendek."

Aku manggut-manggut pelan mencerna kata-katanya. Cara berpikir Nara memang selalu beberapa langkah di depanku. Di saat aku cuma mikirin gimana caranya bisa duduk berdekatan sama dia tiap hari di kelas, dia justru udah merancang masa depannya dengan sangat rapi.

Perbedaan cara pandang dan tujuan hidup ini makin mempertegas garis batas di antara kami. Tapi saat itu, aku yang masih berjiwa muda memilih untuk enggak terlalu ambil pusing. Buatku, selama saat ini aku masih bisa duduk di sampingnya, mendengarkan cerita dan omelannya, itu udah lebih dari cukup.

"Iya, iya, Mbak Masa Depan. Nanti tak pikirin deh saranmu," jawabku sambil tersenyum tenang.

Nara memutar kedua bola matanya melihat respon santaiku, lalu menghabiskan suapan terakhir nasi gorengnya. "Batu banget kalau dikasih tahu. Terserah kamu deh!"

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat ketika hujan benar-benar mereda. Langkah-langkah siswa yang mau pulang mulai ramai melewati koridor. Nara merapikan tempat bekalnya lalu berdiri dari bangku kayu.

"Aku pulang duluan ya, Sat. Sore ini mau lanjut bimbingan mandiri di rumah," kata Nara sambil memasang tali ranselnya.

"Sip. Hati-hati naik motor merah marunmu itu. Jangan ngebut-ngebut, jalanan masih basah," pesanku mengingatkan insiden cipratan lumpur waktu itu.

Nara terkekeh pelan mengingat hal yang sama. "Iya, enggak bakal ngebut kok! Daah, Satria!"

Dia berjalan cepat menyusuri koridor basah menuju parkiran motor. Aku berdiri bersandar di tiang teras, memperhatikan sosoknya yang makin menjauh sampai akhirnya menghilang di belokan gedung sekolah.

Hari itu aku sadar satu hal: kesibukan dan ambisi masing-masing mulai pelan-pelan menyita waktu kami. Tapi di balik semua perbedaan mimpi dan kesibukan itu, rasa nyaman yang terbangun di antara kami tetap terasa makin kuat dan nyata.

Aku enggak pernah menyangka kalau masa-masa manis dan tenang seperti ini enggak bakal bertahan selamanya. Karena di beberapa bulan ke depan, saat dinamika kehidupan sekolah makin kompleks, bakal ada sosok-sosok baru yang masuk dan mulai mengguncang apa yang sudah kami bangun bersama.

Malam harinya di kamar, aku menyelesaikan beberapa soal rangkuman Kimia di buku catatan. Di samping buku, HP jadoelku menyala terang menandakan ada SMS masuk.

Dari Nara: "Gara-gara gambar senyum konyolmu tadi, kertas soal Olinpiadeku dimarahi Pak Ridwan karena dibilang enggak rapi. Awas kamu besok ya!"

Aku tertawa sendiri membaca pesan itu, lalu mengetik balasan dengan cepat:

"Tapi pusingmu hilang kan? Nanti tak gambarin yang lebih gede lagi besok :P"

Pesan itu enggak dibalas lagi, tapi aku yakin Nara membacanya sambil menggerutu pelan di dalam kamarnya. Malam itu aku mematikan lampu kamar dengan perasaan lega, siap menghadapi hari esok dengan segala dinamikanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!