NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21:Tiga Tuntutan Mutlak

Aku sudah berada di dalam kamar, Hendra juga sama. Jefry menemani Shinta di kamar utama karena kondisinya belum pulih.

Suasana sunyi, hanya suara angin dari AC berdesis pelan, seperti nafas panjang di telinga.

Posisiku di atas ranjang, menoleh ke arah laptop yang ku taruh di atas meja lemari kayu. Tertutup rapat tapi seakan ingin memaksaku untuk membukanya.

Aku tidak bisa menghilangkan tampilan itu dalam pikiranku. Sebuah folder khusus berisi file tulisan, rasanya ingin sekali ku buka.

“Pesan Rahasia.”

Setiap kali aku mengingat. Aku merasa seperti orang terpenting di dunia. Hanya aku satu-satunya yang mengetahui keberadaan tulisan tersebut.

“Cuma aku,” gumamku dalam hati.

Aku mengucek mata karena sudah sangat mengantuk. “Sekarang atau besok aja?”

Kepalaku berat, badan lelah. Tubuh rasanya seperti diperas habis-habisan. Tapi ada dorongan lain di dalam hati. Rasa penasaran tidak nyaman.

Aku sampai menoleh ke kanan, membelakangi laptop.

Niatan awal hanya merem sebentar. Tapi gelap menelanku cepat sekali.

Sekejap, aku tertidur.

Namun rasanya aku baru terpejam sebentar, tiba-tiba terbangun lagi, bukan karena ingin.

Tapi seperti ada yang menyentakku keluar dari alam bawah sadar.

Jantungku langsung berdetak kencang. Sekujur tubuh dingin. Mata melirik ke arah jam di handphone yang ku ketuk dua kali di samping bantal, meski sudah tahu jawabannya.

“03.00”

Seperti biasa.

Aku terduduk. Mulut terasa kering. Suasana kamar gelap, namun masih bisa terlihat karena cahaya masuk dari celah-celah ventilasi kamar.

Tiba-tiba saja, terdengar suara.

“Tok, tok, tok”

Aku mulai hafal dengan suara ini. Dalam hatiku, pasti setelah ini akan dilanjutkan dengan ketukan dua kali, dan terakhir satu kali. Lalu muncul suara langkah kaki.

“Tok, tok”

Dugaanku benar. Dan setelahnya, “Tok.”

Namun hanya sampai disitu saja karena selanjutnya tidak ada suara langkah kaki. Hanya ada keheningan.

Aku membalikkan badan. Mataku langsung terbelalak saat melihat laptopku sudah menyala. Layar memperlihatkan file dokumen “Pesan Rahasia” yang terbuka.

Seketika itu juga sadar kalau sepertinya Ratna ingin aku segera membaca tulisannya.

Perlahan aku duduk, mengambil laptop lalu kembali ke atas ranjang. Meletakkan laptop itu di paha, aku mulai membaca lanjutan isi pesan.

“Saya akan memberitahu semua informasi yang kamu butuhkan tentang apartemen Garden Citywalk.

Aku ingat telah membaca sampai sini. Tanpa menunda, aku melanjutkannya.

“Apartemen ini, telah menjadi tempat pembunuhan massal.”

Baru juga satu kalimat, aku langsung ragu. Apakah harus baca sekarang?

Tapi aku teringat situasinya. Ratna sudah memberi tanda bahwa aku harus membaca segera. Aku takut kalau tidak menuruti, ia justru marah, menjadi masalah untukku.

Aku menemukan pendapat yang kuat. Kalau ia ingin mencelakaiku, tidak mungkin ia mempercayakan pesan ini kepadaku. Mungkin ini hanya dalihku agar bisa berani, tapi masuk akal.

“Selanjutnya saya akan memberitahu ‘Tiga Tuntutan Mutlak Korban Penghuni Apartemen Garden Citywalk’ yang harus kamu penuhi!”

Pagi harinya, bayangan tentang isi pesan tiga tuntutan korban penghuni apartemen masih menempel di kepalaku.

Aku berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap wajahku sendiri yang pucat seperti kertas. Mata cekung, bibir kering.

Begitu keluar dari kamar mandi, aku terkejut karena Hendra tiba-tiba saja membuka pintu kamar yang kebetulan letaknya tepat di sebelah kamar mandi apartemen.

“Astaghfirullah, Bang!”

Tentu saja Hendra merasa heran, “Lo kenapa, Gas?” katanya sambil mengucek mata, rambut berantakan.

Aku mencoba tersenyum, meski aku tahu itu gagal.

“Nggak apa-apa, Bang,” jawabku singkat. “Kaget aja, lo buka pintu dadakan.”

Hendra tidak langsung percaya. Tatapannya menelusuri wajahku lama, seakan mencari jawaban yang kusimpan di balik pikiran.

“Serius nih?” tanyanya lagi.

Aku menelan ludah. Di kepalaku, masih terngiang kalimat itu, tajam, mengancam, dan memaksa.

Tiga tuntutan.

Kata-kata yang sampai sekarang masih membuat kulit tubuhku dingin. Tapi aku tidak bisa bilang kepada siapapun.

“Serius,” ulangku, kali ini lebih tegas. “Aman aja, Bang.”

Hendra menguap, masih mengantuk. Ia tidak memaksa lagi, menyelip di sebelahku, masuk ke dalam kamar mandi.

Aku duduk di ranjang kamar. Menatap ke arah laptop terbuka, namun layarnya mati.

Tak berapa lama, seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku mendekat perlahan, penasaran dengan siapa yang ada di baliknya.

Ternyata Jefry ingin memberitahu kalau Shinta masih tidak sehat. Ia minta obat kepadaku.

“Parah, Bang?” kataku sambil masuk ke dalam mengambilkan obat dari dalam tas. “Tapi dia udah sadar?”

Jefry mengiyakan, dengan ekspresi yang jelas tidak menunjukkan kabar baik.

“Bangun sih, bangun, tapi kelihatannya makin drop,” katanya sambil bersandar ke daun pintu. “Dia bilang kepala berat banget, badan panas, tapi tangannya dingin.”

Aku memberikan obat ke Jefry, tapi juga langsung mengikuti ke kamar utama untuk melihat kondisi Shinta. Pada saat yang sama, Hendra juga keluar dari kamar mandi.

“Shinta sakit lagi, Bro,” kata Jefry menegur Hendra.

Kami bertiga pun beriringan masuk ke dalam kamar utama.

Shinta terbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan mata sayu. Bibir pucat, nafasnya terengah-engah. Begitu melihat kami, dia memaksakan senyum.

“Pagi,” lirih.

“Duduk dulu, Dek. Minum obat,” kata Jefry pelan. Shinta menatapku sejenak, entah apa maksudnya.

Ia seperti ingin berbicara, tapi tidak ingin Jefry dan Hendra mengetahui.

“Sorry ya, gua ngerepotin kalian lagi,” ucapnya.

Jefry memegang tangan Shinta, tapi aku bisa lihat tangannya ikut bergetar. Ia segera memberikan obat dan air minum di gelas.

Setelah itu, kami membiarkan Shinta untuk beristirahat.

Sama seperti kemarin, Jefry minta agar kami tidak pergi ke restoran. “Kita libur aja dulu, kalian juga jangan kemana-mana.”

Tak membantah, aku justru merasa bahwa usulnya merupakan pilihan tepat. Entah kenapa, setelah membaca pesan dari Ratna, aku tidak bergairah melakukan apapun.

Mungkin aku butuh waktu untuk memproses tentang apa yang baru saja ku ketahui.

Awalnya kami hanya ingin bersantai. Duduk di ruang tengah, menonton televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ditayangkan.

Hendra menaruh kedua kakinya di meja, Jefry bersandar di sofa dengan wajah letih, dan Shinta sudah ikut duduk bersama kami, tertutup selimut tipis. Matanya masih sayu, seperti habis menangis semalaman. Ia mengaku bosan kalau hanya rebahan di kamar.

Aku pun tak jauh berbeda. Kepala masih berat oleh isi tulisan Ratna yang ku baca di jam 3 dini hari. Tapi aku berusaha tampak normal.

Tiba-tiba saja, nada dering handphone memotong keheningan. Suara itu seperti terlalu nyaring untuk ruangan sekecil ini.

Aku langsung menyadari kalau Jefry yang sedang mendapatkan panggilan. Ia menghela nafas sebelum mengangkat.

“Ya, Bos?” suaranya terdengar asik tapi dengan wajah datar.

Beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah. Alis saling mendekat, matanya menyorot tajam.

“Lo dah di resto?”

Kami serempak menoleh ke arah Jefry.

Ia terlihat memberikan alasan bahwa Shinta sedang sakit. Kami langsung paham kalau Damar pasti mempertanyakan keberadaan kami karena tidak ada di restoran.

Setelah menutup telepon, Jefry menghembuskan nafas panjang. “Damar sama Sully udah balik. Mereka nanya, kenapa kita nggak ada yang ke restoran hari ini. Katanya, ada banyak urusan harus diberesin.”

Aku bisa merasakan perutku menegang. Jadi sepertinya libur hari ini gagal.

“Terus, gimana dong?” tanya Hendra.

“Kita ke resto, biar Bagas di sini temenin Shinta,” ujar Jefry cepat.

Aku melirik Shinta, ia hanya diam. Aku sedikit heran karena biasanya ia akan menolak jika merepotkan orang. Harapanku, ia berkata bahwa tidak perlu ditemani atau mungkin memaksa ikut ke restoran, agar aku tidak bersamanya.

Tapi kenapa sekarang ia membisu? Pasti sengaja, pikirku.

Mengikuti instruksi dari Jefry, aku pun juga tidak berkata apa-apa. Menerima nasib harus berdua dengan Shinta di apartemen ini.

Tak berapa lama, Jefry dan Hendra pergi meninggalkan kami.

“Jeglek!”

Suara pintu menutup, pertanda kini hanya ada aku dan Shinta di dalam ruangan.

Aku memandang Shinta. Ia mencoba ramah padaku, meski terlihat jelas senyum dipaksakan.

“Shinta, lo mau di sini atau balik ke kamar?” tanyaku karena melihat wajahnya yang seperti tidak sedang baik-baik saja.

Ia hanya menatapku. Diam, tatapan kosong, seperti bukan dirinya. Ia bangkit dari rebahnya, duduk dengan tegap. Tak lagi terlihat lelah.

Mati aku, jangan bilang Shinta kesurupan lagi. “Apa yang harus aku lakukan?”

Aku mau baca ayat kursi seperti Hendra, tapi aku tidak hafal. “Masa iya aku komat-kamit sambil baca dari handphone via online?”

Pada akhirnya, aku berusaha untuk berdamai. Aku tarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan perlahan.

“Shinta!” aku setengah berteriak.

Pada saat itu juga, Shinta kembali merespons. Matanya mulai berkedip. Tapi aku teralihkan oleh perasaan di tanganku. Gelang yang kupakai meregang. Sepersekian detik, aku menyadari kalau gelang sempat menyempit, meremas kulitku.

Persis seperti kejadian waktu aku berada di dalam dimensi lain dari apartemen ini.

“Mas Bagas?” lirih Shinta, kini terlihat lebih sehat.

Aku tidak langsung menjawab. Memastikan bahwa ia benar-benar Shinta yang ku kenal.

“Lo.. Shinta, kan?”

Ia melirik ke beberapa sudut lain, seperti mencari sesuatu. “Yang lain kemana?” ucapnya polos.

Mendengar pertanyaan itu, aku langsung yakin kalau ia adalah Shinta. Aku pun menjelaskan kalau Jefry dan Hendra sedang ke restoran.

Rupanya ia sudah tidak sadar sejak lama. Hanya kami yang kurang memperhatikan.

“Mas Bagas, gua capek banget gini terus. Kita udahan aja deh, nanti gua bantu bilang ke Bang Jef. Kita pergi dari sini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. “Gua udah nggak kuat, Mas.”

Aku menghela nafas panjang. Menutup seluruh wajah dengan tanganku. Menari telapak hingga ke atas rambut. Aku kemudian menatapnya, lalu berkata, “Kita belum bisa pergi, Shin.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!