Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.
Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.
Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: BAYANG-BAYANG DI BALIK HUJAN KOTA
BAB 26: BAYANG-BAYANG DI BALIK HUJAN KOTA
Hujan deras mengguyur Jakarta tanpa ampun, mengubah jalanan aspal ibu kota menjadi kilatan pantulan lampu kendaraan yang buram dan melelahkan.
Pukul sebelas malam, deru air yang membanting kaca jendela ruang operasional markas Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) menciptakan irama monoton yang justru mempertajam keheningan di dalam ruangan.
Reno Devano berdiri terpaku di depan papan putih besar yang dipenuhi oleh benang merah penghubung kasus-kasus lama.
Di tangan kanannya, ia memutar sebuah bolpoin perak milik almarhum ayahnya, sementara tatapannya menerawang jauh menembus kaca jendela yang dibasahi air hujan. Penangkapan Rian Prasetya di rumah kaca Menteng kemarin seharusnya menjadi titik akhir yang melegakan.
Namun, ada satu ganjalan kecil yang terus mengusik naluri detektifnya sebuah detail ganjil yang luput dari perhatian laporan akhir Interpol.
Klek.
Pintu ruang operasional terbuka pelan. dr. Sara Maheswari melangkah masuk, mengenakan kardigan rajut abu-abu lembut dengan mug keramik berisi cokelat panas di kedua tangannya.
Aroma manis cokelat berpadu hangat dengan bau antiseptik khas laboratorium yang selalu melekat pada diri sang dokter forensik.
"Kamu belum tidur, Detektif?" suara dr. Sara memecah keheningan malam. Ia melangkah mendekati Reno, menyodorkan salah satu mug hangat ke tangan sang detektif.
"Analisis toksikologi darah Rian Prasetya sudah keluar sejak sore tadi. Tidak ada zat adiktif atau racun aneh. Dia murni pembunuh yang dikuasai serakah dan panik."
Reno menerima mug tersebut, merasakan kehangatan yang menjalar perlahan di telapak tangannya. Ia menoleh, menatap wajah dr. Sara yang tampak lelah namun tetap memancarkan ketenangan yang menyejukkan.
"Bukan hasil lab Rian yang mengusik pikiranku, Sara," ucap Reno pelan, suaranya berat dan berbisik.
Ia meletakkan mugnya di atas meja, lalu menunjuk sebuah dokumen foto kecil yang tersemat di sudut papan putih foto serpihan lambang aneh berukir mata tertutup dikelilingi duri besi yang ditemukan di kotak kayu misterius beberapa hari lalu.
"Kasus Rian, jaringan 'Mata Timbangan', hingga Orde 'Mahkota Kristal'... semuanya terlalu rapi. Mereka bagaikan bidak-bidak catur yang sengaja dikorbankan untuk menutupi papan permainan yang jauh lebih besar."
dr. Sara meletakkan mugnya, mengerutkan dahi anggunnya. Ia ikut memandangi papan putih tersebut.
"Maksudmu... Rian dan jaringan-jaringan itu hanyalah pengalihan?"
"Atau mungkin..." suara Reno terpotong oleh suara dering telepon darurat khusus yang terletak di sudut meja operator utama.
BEEP! BEEP! BEEP!
Suara itu sangat nyaring dan tajam, memecah malam yang basah. Dion 'Zero' Prasetya yang sedang membereskan kabel server di sudut ruangan langsung melonjak berdiri, menyambar gagang telepon khusus tersebut dengan wajah mendadak pias.
"VPCI line darurat," lapor Dion cepat. Ia mendengarkan suara di seberang telepon selama beberapa detik, lalu manik matanya membelalak lebar.
"Tunggu... ulangi! Di mana posisinya?!"
Reno dan dr. Sara langsung melangkah mendekati meja Dion.
"Ada apa, Dion?" tanya Reno tegas.
Dion mendongak, menatap Reno dan dr. Sara dengan napas memburu.
"Itu dari pos jaga Rumah Sakit Pusat Medis Internasional Jakarta. Barusan terjadi pembobolan ruang penyimpanan jenazah forensik tingkat tinggi. Jenazah Hartanto Kusuma... yang baru saja kita otopsi kemarin... dicuri dari dalam lemari pendingin ruang otopsi rumah sakit!"
Reno tertegun. Jantungnya berdegup kencang.
"Dicuri? Bagaimana bisa? Penjagaan di RS Medis Internasional menggunakan otorisasi biometrik ganda!"
"Bukan cuma dicuri, Ren," lanjut Dion dengan suara bergetar, menatap layar komputernya yang mendadak menampilkan peringatan darurat merah.
"Petugas jaga ditemukan tewas terikat di dalam ruang pendingin dengan kondisi dada membeku sempurna... tertusuk jarum jahit tua berkarat dan lambang mata tertutup duri besi di lehernya!"
Seketika itu pula, udara di dalam ruangan terasa membeku. Simbol yang sama persis dengan kotak kayu misterius yang dikirim ke meja otopsi VPCI beberapa waktu lalu. Seseorang sedang mempermainkan mereka, menantang langsung ke jantung markas VPCI.
Empat puluh menit kemudian.
Hujan belum juga mereda saat SUV taktis VPCI merapat di pelataran parkir basement Rumah Sakit Pusat Medis Internasional. Garis polisi berwarna kuning hitam melintang tebal di depan pintu masuk koridor khusus lantai bawah tanah.
Bau amis darah segar bercampur uap nitrogen dingin langsung menyengat hidung begitu Reno, dr. Sara, dan Bara melangkah keluar dari kendaraan.
Inspektur Polisi Bagus, kepala penyidik sektor setempat, menyambut kedatangan mereka dengan raut wajah pucat pasi dan mantel basah kuyup.
"Tuan Reno, Dokter Sara... kalian harus melihat ini sendiri," ucap Inspektur Bagus dengan suara tercekat, menuntun mereka melewati pintu baja tebal menuju ruang penyimpanan jenazah forensik.
Begitu mereka memasuki ruangan berpendingin ekstrem tersebut, uap putih tipis mengepul menyelimuti lantai porselen. Di sudut ruangan, seorang petugas keamanan terikat kaku di kursi besi dengan lilitan kawat baja.
Di leher korban, benar saja, tertancap sehelai jarum jahit tua berkarat, dan kulit di sekitarnya membiru kaku membentuk pola kristal mikro.
Sementara itu, di hadapan Lemari Pendingin Nomor 07 tempat di mana jasad Hartanto Kusuma disemayamkan sementara sebelum dimakamkan pintu besi pendingin tersebut terbuka menganga. Rak stainless steel di dalamnya kosong melompong.
dr. Sara melangkah mendekati lemari pendingin kosong itu. Ia berlutut, menyalakan senter UV portabelnya, dan memeriksa lantai di sekitar lemari.
"Tidak ada tetesan air es yang mencair secara wajar," analisis dr. Sara dengan kepresisian suaranya yang tenang di tengah kengerian. Ia mengambil sampel usap dari lantai menggunakan pinset.
"Pelaku menggunakan alat pendingin portabel khusus bertekanan tinggi untuk menetralkan suhu lemari sebelum membuka paksa kuncinya. Mereka tidak ingin meninggalkan jejak uap panas."
Reno berdiri di samping dr. Sara. Manik matanya menyapu setiap jengkal dinding ruangan.
Ia melepas sarung tangan kulitnya, membiarkan jemari bertelanjangnya menyentuh gagang besi lemari pendingin nomor tujuh yang dingin menggigit.
DEG!
Hantaman psychometry menyambar kesadaran Reno bagaikan sambaran petir di tengah malam!
Dunia di sekelilingnya berputar cepat, menariknya mundur ke waktu kejadian dua jam yang lalu:
Reno melihat tiga orang pria berbalut jubah hitam berkerudung tebal melangkah keluar dari lift servis rumah sakit.
Wajah mereka tersembunyi di balik bayangan tudung. Mereka bergerak dengan efisiensi tingkat militer melumpuhkan petugas jaga dalam tiga detik tanpa suara, membuka lemari pendingin menggunakan dekoder digital rahasia, dan mengangkat jasad Hartanto Kusuma ke dalam brankar medis beroda.
Namun, tepat sebelum mereka mendorong brankar masuk ke dalam lift, salah seorang dari mereka berbalik menatap lurus ke arah kamera CCTV di sudut ruangan dan menyeringai lebar.
Di balik seringai itu, Reno melihat sebuah tato melingkar di pergelangan tangan kiri pelaku: sebuah simbol timbangan yang patah dililit oleh rantai berduri lambang sisa faksi radikal dari sindikat 'Mata Timbangan' yang dikira telah musnah sepenuhnya di Zurich!
BRAK!
Sensasi kilas balik itu menghantam kesadaran Reno, membuatnya terhuyung ke belakang hingga pundaknya menabrak dinding dingin.
"Reno!" seru dr. Sara panik, langsung berdiri dan menahan lengan Reno. "Kamu melihatnya lagi?"
Napas Reno memburu, butiran keringat dingin bercampur dengan tetesan air hujan di pelipisnya. Ia menatap dr. Sara dengan manik mata yang menyala tajam.
"Mereka bukan pencuri jenazah biasa, Sara..." bisik Reno parau, mencengkeram erat lengan jas laboratorium dr. Sara.
"Jasad Hartanto Kusuma dicuri bukan untuk disembunyikan, melainkan karena di dalam rongga dada korban saat otopsi kemarin... tertanam sebuah mikrochip data rahasia yang diselipkan oleh sindikat 'Mata Timbangan' sebelum dia dibunuh!"
Bara yang berdiri mengawasi pintu koridor langsung mengepalkan tangannya.
"Mikrochip data? Jadi pembunuhan Hartanto Kusuma di Vila Puncak bukan sekadar masalah perebutan properti, Bos?"
"Bukan," jawab Reno tegas, menegakkan tubuhnya meski fisiknya masih bergetar akibat syok psychometry.
"Itu adalah kotak hitam berisi daftar seluruh pejabat tinggi negara dan jaringan dokter internasional yang mendanai eksperimen ilegal Ordo Bayangan Hitam."
Inspektur Bagus menelan ludah dengan susah payah. "Lalu... ke mana mereka membawa jasad itu sekarang?"
Reno memejamkan mata sejenak, memusatkan sisa-sisa memori penglihatannya. Bau formalin pekat bercampur aroma garam laut melintas di kepalanya.
"Pelabuhan Sunda Kelapa," ucap Reno tajam. "Gudang terbengkalai nomor empat. Mereka bersiap menyelundupkan jasad itu keluar negeri malam ini juga sebelum fajar menyingsing."
dr. Sara menatap Reno dengan pendar mata yang penuh keberanian dan keyakinan mutlak. Tanpa ragu sedikit pun, sang dokter forensik merapikan sarung tangan lateksnya dan menyambar tas taktis miliknya.
"Kalau begitu, kita tidak punya waktu untuk membuang detik, Detektif," kata dr. Sara tegas. "Kita jemput kembali bukti milik kita."
Reno mengangguk. Ia mengenakan kembali sarung tangan kulitnya, menyambar mantel hitamnya, dan memberi komando kepada seluruh tim VPCI.
Hujan deras di luar semakin menggila, namun tekad di dalam dada mereka jauh lebih membara daripada badai apa pun di kota ini.
Pertarungan akhir melawan sisa-sisa kegelapan masa lalu resmi dimulai malam ini di pelabuhan tua.