NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Mata Dewa

Perjalanan ke Trowulan memakan waktu tiga hari, dan Raka belajar bahwa menunggang kuda tidak menjadi lebih mudah hanya karena ia sudah berlatih tiga minggu. Hanya saja kali ini ia jatuh lebih jarang, dan Bekel Tarub sudah berhenti menyindirnya setiap kali ia hampir terpelanting.

Sebenarnya Tarub mulai menyukai Raka. Hal itu terlihat dari caranya diam-diam menyodorkan kantong air tanpa diminta, dan dari kebiasaannya mengoreksi cara duduk Raka dengan nada yang makin kurang galak.

"Kau mulai mirip penunggang kuda," katanya pada hari kedua, nada suaranya hampir seperti pujian.

"Mirip sekali? Atau sedikit?"

"Sedikit." Tarub menyeringai. "Tapi cukup untuk tidak dikira pendeta yang tersesat."

Rombongan itu mengikuti jalur yang menyusuri sungai besar, melewati sawah-sawah luas, desa-desa yang ramai, dan beberapa gapura batu yang dijaga prajurit berseragam. Semakin dekat ke ibu kota, semakin padat jalannya. Pedagang menuntun sapi bermuatan tembikar, rombongan peziarah berjalan sambil menyanyikan kidung, dan sesekali iring-iringan pejabat lewat dengan tandu yang dipikul empat orang.

Pada sore hari kedua, Raka melihatnya.

Di balik tikungan, sebuah gapura raksasa dari bata merah berdiri menjulang di atas jalan, setinggi hampir sepuluh meter, dengan ornamen yang rumit di setiap sisinya. Raka mengenalnya dalam sekejap. Di zamannya, hanya bagian bawahnya yang tersisa, retak dan berlumut di tengah lapangan Trowulan, dan setiap hari ia menjelaskannya pada turis dengan suara yang sudah terlalu hafal.

Sekarang gapura itu utuh. Berwarna merah menyala di bawah cahaya senja, dengan dua prajurit berjaga di bawahnya.

"Wringin Lawang," bisiknya.

"Kau tahu namanya?" tanya Sekar, mendekatkan kudanya.

"Saya... pernah mendengar tentangnya."

"Orang jauh pun tahu soal gerbang itu. Memang megah." Sekar tersenyum bangga, seolah gapura itu miliknya. "Aku pernah ke sini sekali waktu kecil. Aku mengira itu rumah para dewa."

Raka tak sanggup menjawab. Dadanya terlalu penuh. Selama bertahun-tahun ia bercerita tentang tempat ini, dan sekarang ia melihatnya hidup, ramai, berdenyut. Itu campuran aneh antara kebahagiaan murni dan duka yang tak bisa ia jelaskan.

"Kita bermalam di luar kota," kata Wirabhaya. "Besok pagi baru masuk. Mpu lelah, dan aku lebih suka masuk Trowulan dengan terang."

Mereka berkemah di tepi sungai kecil, di bawah serumpun bambu. Api unggun dinyalakan, nasi dan ikan bakar dibagikan, dan seperti biasa, Gandra tidak ada, jadi Raka-lah yang kebagian mencuci piring.

Ia sedang berlutut di tepi air ketika Sekar duduk di sampingnya.

"Kau selalu memandang ke arah gapura tadi seperti memandang kekasih lama," katanya.

"Hah?"

"Kau menatapnya terus."

"Saya... suka bangunan." Itu jawaban paling bodoh yang bisa ia bayangkan.

"Itu bukan hanya bangunan bagimu." Sekar menatap permukaan air. "Kau punya sesuatu yang hilang. Aku bisa melihatnya. Mpu juga sama."

Raka mengeringkan tangan pada kainnya dan memandang gadis itu. Di bawah cahaya api unggun dari kejauhan, wajahnya lembut, bayangan menari di pipinya.

"Kau cukup tajam," katanya.

"Orang desa biasa melihat tanda-tanda cuaca. Aku hanya belajar membaca tanda-tanda orang."

"Dan apa tanda-tandaku?"

"Rindu rumah, takut, tapi keras kepala." Sekar menyeringai. "Perpaduan yang buruk."

Raka tertawa. Lalu, tanpa tahu mengapa, ia mengeluarkan buku catatannya dan membuka halaman kosong. "Mau saya tunjukkan sesuatu?"

"Apa?"

Ia menulis dengan pensil pendek: S-E-K-A-R. Huruf-huruf Latin yang rapi, lalu menyodorkannya.

Sekar memiringkan kepala. "Apa ini?"

"Namamu. Dalam huruf dari tempat asal saya."

Gadis itu menatap huruf-huruf itu lama, jemarinya meraba tulisan tinta pensil dengan hati-hati seakan takut menghapusnya. "Lima tanda," katanya pelan. "Hanya lima, untuk namaku."

"Setiap tanda satu bunyi."

"Itu... sederhana. Jauh lebih sederhana dari aksara kami."

"Ya. Tapi aksara kalian lebih indah."

Sekar mengangkat wajah, dan sesuatu di matanya berbinar, campuran rasa heran dan sesuatu yang lebih hangat. "Ajari aku," katanya. "Aku mau bisa menulis namaku sendiri dalam huruf-hurufmu."

Raka tersenyum. "Dengan senang hati."

Mereka duduk berdua hampir satu jam di tepi sungai, Raka mengajarinya abjad satu per satu dalam cahaya api yang temaram. Sekar belajar cepat, jauh lebih cepat daripada yang Raka duga. Pada akhir malam, ia sudah bisa menulis namanya sendiri tanpa melihat contoh, huruf-hurufnya miring-miring tapi bangga.

"Aku akan menyimpannya," katanya, merobek halaman itu dengan hati-hati dan menyelipkannya di balik kainnya, tepat di samping cincin. "Sebagai kenang-kenangan."

Raka tak tahu bagaimana harus menanggapi itu. Untungnya, ia tak perlu.

Suara ribut terdengar dari arah semak-semak.

"Gusti! Gusti Wirabhaya!"

Tarub muncul dari kegelapan, menyeret seseorang dengan satu tangan, tombaknya di tangan lain. Orang yang diseretnya ternyata seorang anak lelaki kurus, berusia mungkin dua belas atau tiga belas tahun, dengan pakaian lusuh dan wajah pucat ketakutan.

"Aku menangkapnya mengintai kita dari balik bambu!" lapor Tarub. "Dia sudah mengikuti kita sejak siang!"

Anak itu meronta. "Lepaskan! Aku tak bermaksud jahat! Aku hanya disuruh!"

"Disuruh siapa?" Wirabhaya berdiri, suaranya dingin.

"A-aku tidak tahu namanya! Seorang tuan, dia memberi kepingan perak, dan..."

"Dan apa?"

"Dan ini." Anak itu mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya dengan tangan gemetar.

Raka membeku.

Itu adalah dua tabung kecil berwarna hitam, disambung di tengah, dengan lensa kaca di ujung-ujungnya. Ada tulisan di salah satu sisinya, dalam huruf Latin yang sangat kecil: 8x21.

Sebuah teropong. Teropong lipat modern, buatan pabrik, dari plastik dan kaca.

"Katanya itu mata dewa," isak anak itu. "Aku disuruh melihat pertapaan di bukit dengan benda ini, dan melaporkan siapa yang keluar-masuk. Setiap sore aku harus menemui seorang penunggang kuda di persimpangan. Itu saja! Aku tidak tahu apa-apa lagi!"

Mpu Kalandara mengambil teropong itu dari tangan anak itu, memutarnya perlahan di bawah cahaya api, lalu menatap Raka. Tidak ada yang perlu dikatakan. Mereka berdua tahu.

"Siapa nama tuan itu?" tanya Mpu Kalandara dengan suara lembut.

"Aku... aku tak tahu. Aku hanya dengar orang-orang di pasar menyebutnya Tabib Langit."

"Apa lagi yang dia minta?"

Anak itu menelan ludah. "Dia bilang... aku harus memperhatikan dua hal. Pertama, apakah ada seorang pemuda berpakaian aneh. Dan kedua..."

Ia ragu, matanya melirik ke arah Sekar.

"Katakan," desak Wirabhaya.

"Dan seorang gadis," bisik anak itu, nyaris tak terdengar, "yang memakai cincin bergambar matahari."

Keheningan jatuh di antara api unggun dan malam.

Tangan Sekar, yang tadi memegang selembar kertas kecil dengan huruf Latin, perlahan mengepal.

1
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
mimief
wah ..berat Baginda
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
mimief
sama...aku juga🫣🤣🤣🤣
mimief
wah...
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
mimief
iy bener..
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!