Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5: Pagi Pertama
Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya yang tipis di balik ufuk timur. Suasana rumah besar berarsitektur modern itu masih diliputi kesunyian yang dingin, namun di area dapur, kehangatan sudah mulai mengepul.
Ayu sudah terbangun sejak pukul empat pagi. Setelah menunaikan salat Subuh dan memanjatkan doa-doa panjang untuk keutuhan rumah tangga barunya, ia melangkah turun menuju dapur.
Langkah kakinya begitu pelan, karena tidak ingin membangunkan para penghuni rumah yang mungkin masih terlelap. Lengannya yang kemarin malam tersiram kuah sup panas masih dibalut kain kassa tipis, dan masih memberikan sedikit rasa nyut-nyutan jika tersenggol, tetapi Ayu mengabaikannya.
Di dapur, Bibi Minah yang baru saja hendak menyalakan kompor kaget setengah mati melihat keberadaan Ayu.
"Ya Allah, Bu Ayu! Kok sudah bangun jam segini?" bisik Bibi Minah panik seraya menatap lengan Ayu yang terbalut kassa. "Tangan Ibu kan masih sakit, kenapa gak istirahat saja di kamar? Biar Bibi yang siapkan semuanya."
Ayu menyunggingkan senyum manis yang menenangkan, lalu mengambil celemek kain berwarna abu-abu yang tergantung di sisi lemari pendingin. "Gak apa-apa, Bi. Salepnya ampuh, kok, udah gak begitu perih. Lagipula, saya sudah terbiasa bangun pagi. Daripada melamun di kamar, lebih baik saya bantu Bibi masak buat sarapan keluarga."
"Tapi Bu..."
"Sudah, Bibi tenang saja. Saya tidak akan memaksakan diri," potong Ayu lembut sembari mulai mengupas bawang merah. "Pagi ini kita mau masak apa, Bi? Mas Yoga dan anak-anak biasanya suka sarapan apa?"
Melihat kesungguhan dan ketulusan di mata wanita muda itu, Bibi Minah akhirnya mengalah dan tersenyum haru. "Den Kenzo sama Non Lea biasanya cuma mau sarapan roti bakar atau nasi goreng sederhana, Bu. Kalau Pak Yoga suka yang hangat-hangat kayak soto atau nasi uduk. Nah, kalau Neng Moana apa saja dimakan asal disuapin."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita buat nasi uduk gurih lengkap dengan telur balado, orek tempe kering, dan sup ayam bening untuk Moana? Supnya juga bagus buat stamina Mas Yoga," usul Ayu bersemangat.
"Ide bagus itu, Bu!" sahut Bibi Minah sumringah.
Keduanya pun mulai sibuk bergelut dengan alat-alat dapur. Suara denting spatula, harum rempah santan yang mendidih, serta aroma gurih dari bawang goreng mulai memenuhi seisi rumah. Ayu dengan telaten merajang bahan makanan, dan sesekali mengelap keringat tipis di dahinya dengan ujung jilbab.
Sekitar pukul setengah enam pagi, saat aroma masakan kian menyengat lezat, sebuah tepukan kecil hinggap di paha Ayu.
Puk.
Ayu menoleh ke bawah. Di sana berdiri Moana yang masih mengucek matanya yang sipit. Rambutnya yang sedikit acak-acakan khas bangun tidur dan piyama kelinci yang kemarin malam dikenakannya membuat gadis kecil itu terlihat sangat menggemaskan.
"Ibuuu..." gumam Moana dengan suara serak khas bangun tidur, lalu menduselkan kepalanya ke pinggang Ayu.
Ayu serta-merta berlutut, lalu mengusap lembut pipi Moana. "Eh, Putri Cantik sudah bangun? Kok gak panggil Ibu?"
"Moana bangun terus nyariin Ibu di kasur tapi Ibu gak ada," cicit Moana polos, seraya memeluk leher Ayu erat-erat. "Terus Moana cium bau enak banget dari dapur."
Ayu terkekeh geli, lalu mengecup pipi Moana dengan gemas. "Ibu lagi masak buat sarapan kita semua. Moana mau ikut bantu?"
Moana mengangguk cepat dengan mata yang berbinar. "Mau! Mau bantu tata piring!"
Sejak detik itu, Moana bagaikan bayangan kecil yang tidak pernah lepas membuntut ke mana pun Ayu melangkah.
Saat Ayu membawa mangkuk sup ke meja makan, Moana mengekor di belakangnya membawa sendok-sendok plastik. Saat Ayu merapikan serbet, Moana sibuk menggeser kursi. Kehadiran Moana yang begitu ceria menjadi pencerah di tengah kekakuan rumah megah tersebut.
Sebelum seluruh penghuni rumah bersiap-siap untuk pergi keluar melakukan kesibukan masing-masing, menu sarapan yang berlimpah sudah siap sedia di meja makan kayu jati yang panjang.
Nasi uduk yang masih mengepulkan uap wangi, piring-piring berisi lauk pauk, hingga teh hangat dan susu coklat untuk anak-anak telah tersusun dengan sangat rapi.
Moana yang sejak tadi sibuk membuntut kini sudah duduk manis di salah satu kursi kayu, menggoyangkan kakinya yang menggantung sambil menggenggam sendok. Wajahnya begitu bersemangat untuk segera menyantap masakan yang dibuat oleh ibu barunya.
Tak lama kemudian, langkah kaki berwibawa terdengar melintasi koridor. Yoga turun dari kamar utama. Ia tampil rapi dan gagah dengan kemeja biru tua yang disetrika licin, celana bahan hitam, serta jam tangan perak melingkar di pergelangan tangannya.
Wajah pria empat puluh tahun itu tampak segar dan berseri-seri begitu melangkahkan kaki ke area meja makan.
Namun, langkahnya terhenti sejenak. Pemandangan di hadapannya membuat rasa hangat menjalar hebat di dalam dadanya.
Di sana, Ayu sedang merapikan cangkir teh dengan senyum lembut, sementara Moana tertawa riang menceritakan sesuatu pada Ayu. Keakraban putri bungsunya dengan istri barunya adalah hal yang paling ia impikan selama bertahun-tahun ini.
Yoga tersenyum lebar, kemudian berjalan mendekat lalu duduk di kursi tengah, kursi utama sebagai pemimpin keluarga.
"Pagi, Mas Yoga," sapa Ayu hangat begitu menyadari kehadiran suaminya.
"Pagi, Ayu... Pagi, Anak Pintar Papa," balas Yoga, matanya tak lepas menatap Ayu dengan binar penuh cinta dan kekaguman. "Aroma masakannya wangi sekali dari atas."
"Pagi, Papa! Ibu bikin nasi uduk enak banget! Moana tadi ikut bantu tata sendok lho!" pamer Moana dengan bangga.
Yoga tertawa pelan, sambil mengacak rambut putri bungsunya dengan gemas. "Wah, jagoan Papa pinter banget."
Lalu, Ayu bergerak dengan sangat telaten. Tanpa diminta, ia mengambil piring Yoga, menyendokkan nasi uduk hangat secukupnya, menambahkan telur balado, orek tempe, dan sedikit sambal di pinggirnya.
Ia lalu meletakkan piring itu di hadapan Yoga lengkap dengan segelas teh manis hangat. Setelah itu, ia beralih melayani Moana, menyiangi serat ayam dalam mangkuk sup agar Moana tidak kesulitan mengunyah.
Yoga menatap gerakan jemari Ayu yang begitu sigap dan perhatian. Rasanya sudah sangat lama sekali ia tidak dirawat dan dilayani seperti ini. Jiwa dan hatinya rasanya dipenuhi kedamaian yang luar biasa.
"Terima kasih ya, Ayu..." bisik Yoga sambil menatap mata istrinya saat Ayu meletakkan cangkir teh di samping piringnya.
Ayu membalas menatap Yoga hingga pipinya merona halus, lalu mengangguk pelan. "Sama-sama, Mas. Dimakan ya, mumpung masih hangat."
Namun, suasana hangat nan harmonis itu mendadak luntur saat langkah kaki yang terseret-seret terdengar dari arah tangga melingkar.
Lea turun dari lantai dua. Gadis remaja berusia empat belas tahun itu sudah mengenakan seragam SMP lengkap dengan tas ransel yang dicangklong di satu bahunya. Namun, raut wajahnya begitu masam. Matanya terlihat sedikit sembab bekas menangis semalaman di dalam kamar.
Ayu yang melihat Lea serta-merta berdiri dari duduknya. Ia memamerkan senyuman paling tulus dan hangat yang ia miliki, dan mencoba melupakan insiden tersiram sup panas semalam.
"Selamat pagi, Lea... Ayo sarapan dulu, Ibu buatkan nasi uduk hangat kesukaan—"
Belum sempat Ayu menyelesaikan kalimatnya, Lea sama sekali tidak menoleh. Gadis itu membuang muka, dan melewati meja makan begitu saja seolah-olah Ayu dan hidangan berlimpah di atas meja itu adalah angin lalu.
Langkah kakinya terus berjalan lurus menuju pintu keluar utama hingga membuat Ayu tertegun, bibirnya membeku dalam posisi tersenyum, sementara uluran tangannya perlahan melemas turun.
Raut wajah Yoga seketika berubah tegang. Rahangnya mengetat melihat tingkah anak perempuannya yang sangat tidak sopan.
"Lea, sarapan dulu!" panggil Yoga dengan suara tegas hingga menghentikan langkah Lea tepat di depan pintu depan.
Lea pun menghentikan langkahnya, namun ia tidak berbalik menghadap meja makan dengan punggung yang tampak tegang.
"Lea gak lapar," jawab Lea singkat dan datar.
"Sedikit saja, Lea. Ibu kamu sudah bangun dari Subuh buat siapkan makanan ini," tambah Yoga, yang berusaha menahan emosinya agar tidak meledak di depan Moana.
"Lea bilang Lea gak lapar, Pa!" potong Lea dengan nada menajam, lalu tanpa membalas lagi, ia melangkah keluar rumah, menutup pintu rapat-rapat dan memilih menunggu di dalam mobil ayahnya untuk berangkat sekolah bersama seperti biasa.
Keheningan yang berat mendadak menyelimuti meja makan. Suasana gembira tadi seolah menguap dalam sekejap. Ayu menghela napas pelan sembari mengusap dadanya untuk menenangkan rasa nyeri yang menyengat.
"Mas... tidak apa-apa, jangan dimarahi. Nanti di sekolah Lea bisa jajan kalau lapar," bisik Ayu pada Yoga, dan berusaha meredakan amarah suaminya.
Yoga memijat pelipisnya yang berdenyut, lalu menatap Ayu dengan rasa bersalah yang tak terhingga. "Dia benar-benar keterlaluan, Ayu..."
Belum sempat Yoga menyelesaikan kekesalannya, sosok anak sulungnya, Kenzo, muncul dari koridor lantai atas. Remaja berusia enam belas tahun itu tampil rapi dengan seragam SMA, namun jaket hoodie hitamnya tetap terpasang menutupi sebagian seragamnya. Matanya datar, dingin, dan tanpa ekspresi.
Kenzo melangkah mendekati meja makan. Berbeda dengan Lea yang melengos pergi, Kenzo justru menarik salah satu kursi di depan Yoga dan duduk di sana.
Ayu yang tidak ingin putus asa segera mengambilkan piring bersih untuk Kenzo. "Kenzo, mau nasi uduk atau sup ayam?" tanya Ayu selembut mungkin.
"Sendiri aja," potong Kenzo dingin tanpa memandang wajah Ayu.
Jemarinya yang panjang meraih bakul nasi, menyendok sedikit nasi uduk ke piringnya, lalu mengambil sepotong telur tanpa bumbu balado.
Ia makan dalam diam dan tidak ada raut muka ramah yang ia tunjukkan di meja makan itu. Tatapannya terus tertuju pada piringnya, gerak mengunyahnya lambat dan kaku, seolah memancarkan aura penolakan yang begitu pekat meski ia mau duduk di sana.
Moana yang merasakan suasana tegang itu hanya bisa terdiam sambil memegangi pinggir baju Ayu dengan takut-takut.
Hanya dalam waktu kurang dari lima menit, Kenzo mendorong piringnya yang baru terisi sedikit makanan. Makanan di piringnya bahkan belum habis separuh dan langsung meneguk air putih dalam satu kali tegukan panjang, lalu berdiri dari kursinya.
"Pa, aku duluan, naik gojeg aja," seru Kenzo datar sembari mencangklong tasnya.
Yoga mendongak kaget. "Kenzo! Papa kan berangkat searah sama sekolah kamu! Kenapa harus naik ojek online?"
"Mau ada urusan kelompok dulu sama temen sebelum bel masuk," jawab Kenzo beralasan, tanpa menunggu persetujuan atau tanggapan dari ayahnya.
Ia pun melangkah pergi keluar rumah begitu saja, meninggalkan hembusan angin dingin yang kembali menusuk ulu hati Ayunyang berdiri terpaku di samping meja makan yang kini terasa begitu luas dan sepi.
Bersambung...