Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.
Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.
Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.
Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.
Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Part 14
Tina berjalan ke arah luar ruangan, tanpa mau menunggu Alfan mengajaknya makan siang. Sedangkan Alfan yang menyadari itu seketika memicingkan matanya, menatap kesal ke arah Tina yang sudah mengabaikan perintahnya untuk selalu makan siang bersamanya.
Tidak mau menunggu lebih lama lagi, Alfan membereskan pekerjaannya dan menata setiap map yang sempat berserakan di mejanya. Setelah selesai melakukannya, Alfan mendirikan tubuhnya dan keluar dari ruangannya berniat menyusul Tina.
Bagi Alfan, Tina benar-benar tidak sopan sudah meninggalkannya tanpa mengatakan sepatah kata pun, wanita itu bahkan keluar dengan wajah muram. Alfan merasa tidak bisa membiarkan hal itu, karena baginya Tina itu harus selalu ada untuknya.
Di sisi lainnya, Tina baru keluar dari kamar mandi setelah sempat mencuci wajahnya agar tampak sedikit lebih segar. Pekerjaan dan juga bosnya sudah hampir membuatnya gila, rasanya hampir mustahil ia tetap bertahan. Meski pada akhirnya tatapan sendu papanya berhasil menguatkan Tina untuk tidak menyerah, terlebih lagi marah dengan bosnya.
"Tina," panggil Ria yang baru saja melihatnya keluar, sedangkan di sampingnya ada Viona.
"Kalian mau ke kamar kecil juga?"
"Iya nih. Kamu baru dari sana ya?"
"Iya." Tina berusaha menyunggingkan senyumnya, berusaha terlihat baik-baik saja seperti biasa.
"Kamu tunggu sini ya, setelah ini kita makan siang di kantin." Viona menunjuk tempat mereka berdiri, yang diangguki setuju oleh Ria, namun tidak dengan Tina.
"Maaf, aku enggak bisa."
"Kenapa?" tanya Ria dan Viona bersamaan, ekspresi mereka tampak penasaran, karena tidak biasanya Tina menolak permintaan mereka untuk makan bersama.
"Itu karena Pak Alfan maunya aku makan siang sama dia. Setiap hari." Tina menjawab dengan senyum bersalah ke arah dua sahabatnya.
"Tina," panggil Alfan dari arah belakang, ekspresinya kali ini tampak tak suka melihat Tina bersama kedua sahabatnya tanpa mau memberitahu sebelumnya.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" Tina bertanya ke arah Alfan, sedangkan Ria dan Viona hanya menunduk dengan sopan.
"Saya kan sudah bilang, setiap hari kamu harus makan siang sama saya."
"Iya, Pak. Saya mengerti kok. Lalu apa masalahnya?" tanya Tina terdengar heran, matanya sempat melirik ke arah dua sahabatnya yang tampak khawatir dengannya.
"Kamu masih tanya lagi? Jelas-jelas kamu mau makan siang sama mereka," jawab Alfan sembari menunjuk ke arah Ria dan Viona yang saling menatap satu sama lain dengan ekspresi kebingungan.
"Tidak kok, Pak. Saya tidak berniat makan siang dengan mereka."
"Lalu kenapa kamu sama mereka di sini?"
"Saya baru dari kamar kecil kok, Pak. Kebetulan ketemu sama mereka, mereka juga sempat mengajak makan siang, tapi saya menolak." Tina menjawab jujur, yang sempat membuat Alfan terdiam dengan rasa bersalah meski itu tak terlalu kentara bila dilihat dari wajah tenangnya.
"Oh, saya pikir kamu mau makan siang sama mereka." Alfan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, berusaha terlihat biasa saja padahal ia sudah salah sangka.
"Kamu sudah dari kamar kecil kan?"
"Sudah, Pak."
"Baik kalau begitu kamu ikut saya, kita makan siang sekarang!" Alfan mengajak Tina makan, berusaha mengalihkan kesalahpahamannya.
"Baik, Pak."
"Dan untuk kalian, jangan pernah mengajak Tina makan siang lagi! Tina itu calon istri saya, dia harus menemani saya makan. Mengerti kalian?" Alfan menunjuk ke arah Ria dan Viona yang masih menunduk.
"Iya, Pak. Kami mengerti." Viona dan Ria menjawab bersamaan, sedangkan Alfan hanya menatap mereka dengan wajah keangkuhan lalu menarik lengan Tina begitu saja.
"Aku pergi dulu ya," pamit Tina ke arah Ria dan Viona, yang hanya diangguki oleh mereka.
"Wah Pak Alfan itu posesif ya ternyata, aku jadi kasihan sama Tina. Masa kita ajak dia makan siang aja enggak boleh." Ria menatap sendu ke arah Tina yang berjalan bersama dengan bosnya.
"Iya. Pak Alfan itu terlalu berlebihan, padahal kan kita cuma mau ajak Tina makan siang." Viona tak kalah kesalnya, ia juga merasa kasihan dengan sahabat baiknya itu.
"Aku jadi tambah penasaran, bagaimana Pak Alfan mendekati Tina ya sampai mau jadi pacarnya? Jangan-jangan Tina diancam lagi." Ria menggembungkan pipinya, merasa tak habis pikir saja dengan kedekatan mereka yang terlalu tak masuk akal.
"Iya, bisa jadi. Tina juga enggak kelihatan bahagia sama Pak Alfan, jangan-jangan Tina memang diancam."
"Terus bagaimana dong? Kasihan kan Tina?" tanya Ria terdengar khawatir, sedangkan Viona tampak berpikir.
"Ya kita harus bantu Tina lah. Tapi sebelum itu kita harus pastikan dulu, Tina benar-benar diancam apa enggak? Bagaimana?"
"Setuju."
***
Tina menurunkan tubuhnya dari mobil Alfan setelah bosnya itu mengantarkannya pulang. Sebenarnya Tina sudah menolak, namun bosnya itu memaksa dan bahkan mengancamnya, bila ia tidak menuruti perintahnya ia tidak akan mendapatkan bayarannya. Dengan sangat terpaksa, Tina mau diantar, padahal ia paling tidak suka merepotkan orang lain tak terkecuali bosnya yang menyebalkan itu.
"Terima kasih untuk tumpangannya, Pak." Tina menunduk sopan ke arah Alfan yang sedang berdiri di samping mobil.
"Iya. Tapi saya harus menemui Papa kamu dulu," jawab Alfan sembari berjalan ke arah rumah Tina, yang langsung ditatap oleh empunya.
"Buat apa Bapak menemui Papa saya?" Tina melangkahkan kakinya, berusaha menahan Alfan untuk tetap di tempatnya.
"Memangnya kenapa? Saya cuma mau meminta izin ke Papa kamu untuk mengajak kamu ke luar kota besok. Kamu kan wanita, Papa kamu pasti khawatir kalau tidak ada lelaki yang bisa dia percaya untuk menjaga kamu." Alfan kembali melenggangkan kakinya ke arah rumah Tina, namun lagi-lagi empunya tidak bisa membiarkannya begitu saja.
"Tidak usah, Pak. Papa saya pasti akan mengerti bila saya yang berbicara." Tina kembali menghadang langkah Alfan.
"Kamu ini kenapa sih? Saya ini sudah baik meminta izin ke Papa kamu dulu sebelum mengajak kamu pergi, tapi kamu malah melarang saya." Alfan menatap tenang ke arah Tina yang tampak gelisah.
"Bukan begitu, Pak. Saya cuma tidak mau Papa saya semakin berharap dan salah paham dengan hubungan kita. Seperti yang Bapak tahu, Papa saya mengira bila Anda itu kekasih saya dan bahkan calon suami saya. Bagaimana perasaan Papa saya kalau tahu hubungan kita itu palsu? Saya cuma tidak mau mengecewakan Papa saya apalagi membohonginya sampai seperti ini, tolong kali ini saja Bapak mengerti posisi saya." Tina menundukkan wajahnya, berharap bosnya itu mau mengerti perasaannya.
Sedangkan Alfan justru terdiam, merasa bersalah dengan apa yang sudah Tina katakan. Ia pikir bila dirinya sudah bertindak jauh tanpa mau memikirkan perasaan Tina dan papanya terlebih dahulu, ia sudah bersikap kekanak-kanakan dan bahkan terkesan egois sampai tidak bisa memikirkan yang akan terjadi ke depannya.
"Baiklah, saya mengerti. Saya akan pergi, jangan lupa kamu harus ada di kantor pagi, saya akan menunggu kamu di sana untuk keberangkatan kita ke Surabaya." Tina menjawab tenang seperti biasa lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah mobilnya, di balik itu Alfan merasa sangat bersalah bisa dilihat dari ekspresinya yang tampak putus asa.
Sedangkan di belakangnya, Tina menghela nafas panjangnya, merasa lega bosnya mau mengerti keinginannya. Setelah melihat bosnya melaju pergi, Tina berjalan ke arah rumahnya, ia berniat menyiapkan baju-bajunya dan mengistirahatkan tubuhnya.