Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Pagi itu, Jingga terbangun lebih awal dari biasanya. Setelah mencuci muka dan merapikan rambutnya, ia berdiri cukup lama di depan cermin, memperhatikan wajahnya yang tampak pucat dengan mata sedikit sembap. Bekas tamparan Rangga memang sudah memudar, tetapi rasa sakit yang ditinggalkan pria itu masih terasa jelas di hatinya.
Ia menghela napas, lalu mengambil bedak tipis dari dalam tas dan merapikan penampilannya. Hari ini, ia tidak ingin terlihat seperti wanita yang baru saja kehilangan segalanya. Ia ingin mulai menjalani hidupnya sendiri, meskipun harus belajar melakukannya dari awal.
Jingga memesan sarapan sederhana melalui layanan penginapan. Sambil makan, ia membuka kembali catatan berisi daftar kebutuhan yang harus segera diselesaikannya. Ia membutuhkan tempat tinggal yang lebih murah, harus memastikan pekerjaannya tetap berjalan, dan perlu mengurus dokumen perceraian.
Tabungannya memang tidak terlalu banyak karena selama ini sebagian besar penghasilannya digunakan untuk kebutuhan anak mereka. Namun, ia masih memiliki pekerjaan sebagai perawat dan tidak berniat bergantung kepada Rangga lagi. Setelah selesai sarapan, ia menghubungi Maya untuk menanyakan kemungkinan menyewa kamar di dekat klinik tempat sahabatnya bekerja.
Tidak lama kemudian, Maya membalas pesannya dan memberikan alamat sebuah rumah kos khusus perempuan yang dikelola kenalannya. Harga sewanya cukup terjangkau, lokasinya dekat dengan rumah sakit, dan kamar yang tersedia bisa langsung ditempati.
Jingga merasa sedikit lega membaca kabar itu. Setidaknya, ia tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk tinggal di penginapan. Ia segera mengemasi barang-barangnya, membayar biaya kamar, kemudian berangkat menuju alamat yang diberikan Maya.
Rumah kos itu sederhana, tetapi bersih dan cukup nyaman. Pemiliknya, seorang perempuan paruh baya bernama Bu Ratih, menyambut Jingga dengan ramah. Setelah melihat kamar yang akan ditempatinya, Jingga langsung memutuskan untuk menyewa selama satu bulan terlebih dahulu. Ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan sebelum mengetahui berapa banyak pengeluaran yang harus ditanggungnya sendiri.
“Kalau ada apa-apa, bilang saja, Nak. Di sini kebanyakan penghuninya bekerja, jadi kita harus saling menjaga,” kata Bu Ratih sambil menyerahkan kunci kamar.
Jingga tersenyum sopan. “Terima kasih, Bu. Saya akan berusaha tidak merepotkan.”
“Tidak merepotkan, kok. Kamu tinggal di sini memang untuk beristirahat dan bekerja.”
Kata-kata sederhana itu membuat Jingga merasa hangat. Sudah lama sekali ia tidak mendengar seseorang berbicara kepadanya tanpa menyelipkan tuntutan atau menyalahkannya atas sesuatu.
Ia membawa kopernya masuk, menata pakaian di lemari kecil, kemudian meletakkan foto putranya di atas meja. Setelah semuanya selesai, ia duduk di tepi tempat tidur dan menatap foto tersebut beberapa saat.
“Bunda mulai lagi dari awal, ya, Nak,” bisiknya pelan. “Bunda tidak tahu apakah semuanya akan mudah, tapi Bunda akan berusaha.”
Ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Rangga muncul di layar, membuat Jingga terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Kamu sekarang di mana?” suara Rangga terdengar tajam.
“Di tempat tinggalku.”
“Tempat tinggalmu? Maksudmu apa? Kamu benar-benar menyewa kamar sendiri?”
“Iya, aku tidak bisa terus tinggal di penginapan.”
Rangga tertawa sinis. “Jadi, kamu benar-benar mau hidup sendiri? Kamu pikir gajimu cukup untuk membiayai semua kebutuhanmu?”
Jingga menggenggam ponselnya sedikit lebih erat. Dulu, perkataan seperti itu akan membuatnya takut. Sekarang, ia hanya merasa kecewa karena Rangga masih menganggap dirinya tidak mampu mengambil keputusan tanpa bantuan suaminya.
“Aku akan mengaturnya sendiri.”
“Jingga, berhenti bersikap keras kepala. Pulanglah. Aku tidak mau masalah ini sampai diketahui keluarga besar.”
“Kalau yang kau khawatirkan hanya nama baik keluarga, kau tidak perlu mencemaskan aku, Mas. Aku tidak berniat menceritakan masalah kita kepada siapa pun.”
“Aku tidak sedang membicarakan itu. Kamu istriku, dan sudah seharusnya kamu tinggal di rumah bersama suamimu.”
Jingga terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Seharusnya seorang suami juga melindungi istrinya, bukan menampar dan menuduhnya tanpa bukti.”
Rangga mendengus kesal. “Kamu masih mempermasalahkan tamparan itu?”
Pertanyaan tersebut membuat Jingga memejamkan mata. Ia tidak percaya Rangga bisa mengucapkan kalimat itu seolah tamparan yang diberikannya hanyalah persoalan kecil.
“Bagi orang yang menampar, mungkin itu cuma satu gerakan tangan. Tapi bagi orang yang menerima, itu bisa mengubah banyak hal.”
“Kamu mulai pandai bicara sekarang.”
“Aku hanya tidak ingin terus diam.”
Jingga mengakhiri panggilan sebelum Rangga kembali mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Tangannya masih sedikit gemetar, tetapi ia tidak menyesali keputusannya.
Ia tahu percakapan seperti itu mungkin akan terjadi lagi, terutama selama proses perceraian mereka belum selesai. Namun, ia harus belajar menetapkan batasan agar tidak kembali terjebak dalam keadaan yang sama.
Siang harinya, Jingga menghubungi pihak rumah sakit untuk memastikan jadwal kerjanya. Ia sempat mengambil beberapa hari libur setelah putranya meninggal, dan kini ia merasa sudah cukup siap untuk kembali bekerja. Ia membutuhkan rutinitas agar pikirannya tidak terus-menerus dipenuhi kenangan buruk. Selain itu, bekerja sebagai perawat adalah bagian dari hidupnya yang tidak ingin ia lepaskan hanya karena masalah rumah tangga.
Ketika tiba di rumah sakit, beberapa rekan kerjanya menyambut dengan ramah. Ada yang bertanya tentang keadaannya, ada pula yang hanya tersenyum tanpa banyak bertanya. Jingga menghargai sikap mereka. Ia belum siap menceritakan semua yang terjadi, tetapi setidaknya berada di lingkungan yang dikenalnya membuatnya merasa lebih tenang.
Sore menjelang ketika Jingga menyelesaikan pekerjaannya. Saat hendak keluar dari ruang perawat, seorang dokter muda menghampirinya sambil membawa berkas pasien.
“Jingga, kamu sudah kembali bekerja?” tanyanya ramah.
Jingga mengangguk. “Iya, Dok. Saya sudah merasa lebih baik.”
“Syukurlah. Jangan memaksakan diri kalau memang masih butuh waktu untuk beristirahat.”
“Terima kasih, Dok.”
Percakapan mereka berlangsung singkat. Jingga tidak mengenal dokter itu secara pribadi, tetapi keramahan sederhana tersebut cukup membuatnya tersenyum. Ia lalu berpamitan dan berjalan menuju halte untuk pulang ke rumah kos.
Di tengah perjalanan, ponselnya kembali bergetar. Kali ini pesan dari nomor yang tidak disimpan muncul di layar. Pengirimnya ternyata Bu Farah.
[Jingga, Mama ingin kamu pulang. Kita bicarakan semuanya baik-baik. Jangan sampai keputusanmu merusak masa depanmu sendiri.]
Jingga membaca pesan itu sampai selesai. Ia tahu Bu Farah mungkin merasa khawatir, tetapi kalimat tersebut tetap membuatnya merasa seolah semua kesalahan dibebankan kepadanya. Ia membalas dengan sopan bahwa dirinya tidak akan kembali dan akan menyelesaikan masalah rumah tangganya melalui jalur yang semestinya.
Setelah mengirim pesan, Jingga memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia berjalan pulang dengan langkah perlahan, memperhatikan langit sore yang mulai berubah jingga . Warna itu mengingatkannya pada namanya sendiri, nama yang dahulu diberikan ibunya dengan harapan ia akan menjadi perempuan yang membawa kehangatan bagi orang-orang di sekitarnya.
Selama ini, Jingga terlalu sibuk membuat orang lain bahagia sampai lupa bahwa dirinya juga berhak merasakan hal yang sama. Ia tidak tahu apakah suatu hari nanti akan menemukan cinta yang lebih baik atau justru memilih hidup sendiri untuk waktu yang lama. Untuk sekarang, ia hanya ingin berdamai dengan dirinya sendiri.
Malam itu, sebelum tidur, Jingga membuka kembali dokumen pernikahannya dan meletakkannya di dalam map. Besok ia akan melanjutkan urusan perceraian serta memastikan semua berkas yang dibutuhkan sudah lengkap. Keputusan itu masih terasa berat, tetapi ia tidak lagi ingin mundur hanya karena takut menghadapi masa depan.
Ia mematikan lampu kamar, lalu berbaring sambil memeluk bantal. Jingga tahu badai dalam hidupnya belum berlalu. Masih ada perceraian yang harus diperjuangkan, luka yang harus disembuhkan, dan masa depan yang belum pasti.
Namun, malam ini ia tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya demi mempertahankan pernikahan yang sudah kehilangan makna. Ia akan bangkit, perlahan tetapi pasti. Dan kali ini... ia akan melakukannya untuk dirinya sendiri.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu