Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: PESTA PERNIKAHAN
Setelah daging rusa panggang yang lezat dan harum itu matang sempurna dengan bumbu rahasia Gunung Lawu, Bima Samudra langsung memotong dan membaginya kepada para wanita yang terlihat sudah sangat kelaparan setelah membantu menyiapkan dekorasi pernikahan.
Melihat para wanitanya, tujuh bidadari cantiknya, yang makan dengan lahap dan bahagia, Bima pun berkata dengan tulus sambil tersenyum,
"Makanlah yang banyak, calon istri-istri ku, agar kalian sehat, kuat, dan bahagia. Aku ingin melihat kalian semua selalu tersenyum seperti ini setiap hari."
Mendengar itu, para wanita jadi malu dan tersipu, sehingga membuat pipi mereka memerah seperti buah apel. Mereka merasa sangat diperhatikan oleh Bima.
Setelah selesai makan bersama di taman belakang, Bima mengajak para wanita itu untuk membagikan daging panggang yang masih tersisa sangat banyak kepada orang-orang yang ada di Perguruan Anggrek Putih.
Masing-masing dari mereka membawa satu nampan besar yang penuh dengan daging panggang, sementara Bima membawa nampan yang paling besar dan paling berat di pundaknya.
Yang dibawa oleh Bima sendiri ia berikan secara khusus kepada para calon mertuanya, yaitu Pak Wijaya Kusuma, Bu Lastri, Raja Sima Ngusada, dan para tetua lainnya yang sedang berkumpul di pendopo utama. Sementara nampan-nampan yang dibawa oleh para wanita diberikan kepada para pekerja, tukang, dan warga Desa Ngargoyoso yang sibuk menyiapkan tenda dan dekorasi pesta pernikahan akbar.
Terlihat semua orang sangat antusias dan lahap memakan daging rusa panggang itu. Orang-orang juga begitu gembira dan terus memuji Bima yang baik hati dan tidak sombong.
"Daging panggang buatan Tuan Muda Bima ini enak sekali, lembut sekali...!"
Sementara di sisi para calon mertua Bima, mereka juga menikmati daging itu dengan penuh selera.
"Daging apa ini, Intan...? Begitu lezat dan empuk, baru kali ini Ayah makan daging seenak ini," tanya Pak Wijaya Kusuma.
"Ini daging Rusa Raksasa Jawa, Ayah. Bima yang memasaknya sendiri dengan bumbu dari Gunung Lawu, jadi seenak ini. Bima memang sangat pandai memasak, Ayah. Kami saja selalu dibuat kekenyangan setiap dia membakar ikan untuk kami di tepi telaga," jelas Intan dengan bahagia dan bangga.
"Rusa Raksasa Jawa seperti ini sangat sulit ditangkap, larinya sangat cepat dan tenaganya besar. Hanya pemburu terbaik dari Keraton saja yang bisa," kata salah seorang tetua dari Solo yang ada di sana dengan kagum.
"Jika ribuan Iblis Ekstratoritorial saja Bima bantai dengan mudah sendirian di Lembah Kematian Merapi kemarin, apalah artinya bagi dia menangkap seekor rusa ini," kata Amelia sambil tersenyum manja, membuat semua orang tertawa.
"Benar juga, kita sampai melupakan kekuatan luar biasa dari calon menantu kita ini," kata Pak Wijaya sambil tertawa bahagia bersama yang lain.
Tak lama kemudian, Bima masuk ke aula tempat para calon mertua dan para tetua lainnya berkumpul untuk membahas persiapan akhir.
"Paman, Bibi, daging dan bahan makanan apa saja yang akan kita masak untuk pesta besar tujuh hari tujuh malam nanti...? Apakah sudah cukup...?" tanya Bima dengan sopan.
"Sangat banyak, Bima, hewan-hewan ternak sudah disiapkan. Ada puluhan kambing, sapi, dan ayam kampung dari warga, serta beras berton-ton dari lumbung desa. Semua warga gotong royong," jawab Pak Darmo, kepala pelayan perguruan.
"Owh, baguslah kalau begitu, berarti kita tidak perlu repot lagi untuk berburu ke hutan. Kita bisa fokus menikmati pesta," kata Bima dengan lega.
Tak terasa, tiga hari berlalu dengan sangat cepat dengan persiapan yang meriah.
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu pun akhirnya telah tiba.
Seluruh Perguruan Anggrek Putih di Desa Ngargoyoso sudah dihiasi dengan begitu indah dan megah. Janur kuning melengkung di setiap gerbang, lampion-lampion merah dan emas menghiasi setiap sudut, bunga melati dan bunga mawar ditaburkan di sepanjang jalan menuju pendopo. Gamelan Jawa dimainkan dengan merdu.
Pada malam harinya, acara pernikahan adat Jawa yang sakral dan khidmat berlangsung di pendopo utama.
Bima Samudra, dengan mengenakan beskap Jawa berwarna hitam emas yang sangat gagah dan blangkon Solo yang berwibawa, berdiri dengan tegak di tengah pendopo.
Dan ketujuh istrinya, Amelia, Intania, Melinda, Tasya, Ayu Wandira, Sherly dan Salsa, datang satu persatu dengan mengenakan kebaya putih yang sangat anggun dan cantik, dengan riasan pengantin Solo Putri yang membuat mereka terlihat seperti tujuh bidadari yang turun dari kahyangan.
Bima dan ketujuh istrinya bersama-sama mengucapkan janji setia pernikahan di depan penghulu, di depan kedua orang tua, dan di depan ratusan saksi dari berbagai kerajaan. Janji untuk saling menjaga, saling menghormati, dan saling mencintai dalam suka maupun duka.
Setelah ijab kabul selesai dengan lancar dan khidmat, semua orang yang ada di pendopo bersorak gembira dengan sangat meriah. Suara tepuk tangan, suara gamelan, dan doa-doa baik menggema.
Mereka semua makan bersama sepuasnya, minum teh jahe bersama, dan menikmati hiburan wayang kulit semalam suntuk sampai larut karena kebahagiaan.
Sementara Bima dan para istrinya sudah kembali ke tempat istirahat khusus pengantin yang telah disiapkan dengan sangat indah di sebuah joglo pribadi di belakang perguruan, yang dikelilingi oleh kolam teratai.
Di dalam joglo itu, suasana menjadi sangat hangat dan penuh canda.
"Bima, siapkan energi mu malam ini, jangan sampai kau mengecewakan kami semua yang sudah menunggu tiga hari ini," terdengar suara candaan berani dari Intan yang begitu usil, membuat semua wanita jadi tertawa terbahak-bahak dengan wajah yang memerah seperti tomat karena malu mendengar keberanian Intan.
"Dia yang paling banyak bicara dan paling berani, mari kita beri pelajaran untuk yang paling berani ini dulu," kata Bima sambil berjalan dengan gaya pura-pura galak ke arah Intan yang langsung bersembunyi di balik punggung Amelia.
Mendengar itu, Intan jadi panik dan tertawa.
Begitu Buma masuk intan langsung
berbisik "Kau sudah sering menyantap ku
apakah malam ini kau tidak mau mencari
yang baru untuk pembukaan."
Tanpa banyak berpikir Bima mulai
melepas pakaian intan sambil berkata
"Pokoknya malam ini kau yang pertama," bibir
intan yang terus di cium membuatnya tak bisa
berbicara lagi dan hanya bisa pasrah
menikmati permainan Bima, tak lama suara
desahan jeritan kenikmatan mulai terdengar
satu persatu di tempat itu sampai subuh
akhirnya bima berhasil mengilir satu persatu istri nya hingga lemas tertidur lelap.
Bima mencium kening ketujuh istrinya satu persatu dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab, memberikan mereka sebuah kalung liontin kecil dari batu giok Gunung Lawu sebagai tanda cinta dan perlindungan.
Cahaya matahari pagi yang lembut masuk melalui jendela joglo yang terbuat dari kayu jati, membangunkan mereka satu persatu dengan sinar yang hangat.
Setelah bangun, semua wanita itu masih mengenakan kebaya tidur mereka yang indah, wajah mereka masih sedikit mengantuk namun terlihat sangat bahagia dan berseri-seri, mengingat pernikahan sakral semalam.
Tak lama kemudian, Bima masuk ke dalam joglo sambil membawa nampan berisi teh hangat dan wedang ronde.
"Kalian semua sudah bangun, putri-putri ku...? Ayo mandi dulu di kolam air hangat di belakang joglo, airnya sudah aku siapkan dengan ramuan khusus," kata Bima dengan lembut.
"Bagaimana mau mandi, Bima, kaki ku masih pegal semua karena kemarin seharian memakai kebaya dan berdiri terus," terdengar suara Intan yang cemberut manja dari atas ranjang.
Mendengar itu, Bima pun tersenyum dan menghampiri mereka satu persatu dengan sabar.
"Aku akan membantu kalian satu persatu, sini, biar aku gendong ke kolam. Aku yang pertama, Bima...!" kata Intan dengan semangat, tidak mau kalah.
"Hahaha, kamu selalu mau jadi yang pertama, Intan," canda Bima sambil berjalan ke tempat tidur Intan dan menggendongnya dengan lembut seperti seorang putri.
"Tidak mungkin aku tega membiarkan putri-putri ku kedinginan," bujuk Bima sambil menggendong Intan ke tempat pemandian.
Intan dalam hati merasa begitu gembira dan terharu karena Bima sangat memanjakan dan menyayangi mereka dengan tulus, tanpa membeda-bedakan.
Setelah satu persatu dari ketujuh wanita itu masuk ke dalam kolam air hangat alami yang dikelilingi oleh batu-batu alam dan bunga kamboja, Bima pun duduk bersantai di tepi kolam, menjaga mereka sambil menyeruput tehnya.
"Aku sudah menambahkan ramuan obat khusus dari Gunung Lawu, ramuan daun sirih dan bunga mawar, di kolam ini. Jadi setelah kalian selesai berendam di sini, rasa pegal dan lelah kalian akan hilang dan tubuh kalian akan menjadi segar kembali," jelas Bima.
Mendengar itu, semua wanita jadi bahagia, terutama Intan yang tadinya mengeluh pegal.
"Wah, sungguh...? Ramuan ajaib seperti itu ada...? Tentu saja ada, ini resep dari Bibi Lastri," kata Bima sambil terkekeh melihat ekspresi mereka yang polos.
Melihat keakraban itu, semua wanita jadi tertawa bersama dengan bahagia. Suara tawa tujuh bidadari itu menggema di pagi hari.
"Aku hanya bercanda tadi, hari ini aku ingin mengajak kalian semua jalan-jalan keliling Jawa Tengah untuk menikmati kebersamaan kita sebagai keluarga baru," kata Bima dengan tulus.
Mendengar ajakan itu, semua wanita jadi gembira dan penuh semangat, mata mereka berbinar-binar.
"Kita harus menikmati kebersamaan ini sebaik mungkin, karena tak lama lagi aku harus pulang sebentar ke Gunung Lawu untuk menemui Guru ku," kata Bima dengan nada yang sedikit sedih.
Mendengar itu, para wanita yang tadinya gembira dan bersemangat seketika menjadi bersedih dan terdiam, wajah ceria mereka langsung berubah menjadi mendung.
"Tidak perlu bersedih, putri-putri ku, aku bukan pergi untuk selamanya dan bukan mati. Aku hanya pulang sebentar untuk berbakti kepada Guru ku, jadi aku masih bisa kembali ke sini di kemudian hari. Joglo ini akan tetap menjadi rumah kita bersama," hibur Bima dengan lembut.
"Berjanjilah, Bima, kau akan kembali untuk kami. Jangan lupakan kami di sini," terdengar suara Intan yang sedang tertunduk lesu dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, iya, aku berjanji di hadapan Gusti Allah, aku pasti akan kembali untuk kalian semua. Aku tidak akan pernah melupakan janji pernikahan kita kemarin malam," kata Bima dengan mantap sambil mengangkat tangannya bersumpah.
"Ayo, cepat ganti pakaian kalian yang paling cantik. Kalau tidak, aku akan jalan-jalan sendiri naik Phoenix tanpa kalian," goda Bima.
Seketika semua wanita itu segera keluar dari kolam dengan tergesa-gesa dan berlari kecil masuk ke dalam joglo untuk berganti pakaian.
"Baiklah, aku tunggu di luar di halaman, jangan lama-lama," kata Bima sambil berlalu berjalan keluar dengan senyum bahagia.
Sampai di luar, Bima pun mengeluarkan Ratu Phoenix nya, Sekar Lestari, dengan wujud raksasanya yang megah dan indah, bulu-bulunya merah keemasan berkilauan di bawah sinar matahari pagi.
"Hari ini temani aku dan istri-istri ku jalan-jalan keliling Jawa Tengah ya, Sekar," pinta Bima kepada Ratu Phoenix dengan lembut sambil mengelus kepalanya.
"Siap, Tuan ku, dengan senang hati," jawab Sekar Lestari dengan suara yang merdu.
Sementara para wanita masih berganti pakaian di dalam joglo, Bima terus mengelus-elus burung Phoenix raksasa itu dengan penuh kasih sayang seperti hewan peliharaannya sendiri, padahal sebenarnya Sekar adalah seorang ratu yang sangat cantik jelita dalam wujud manusianya.
Merasakan aura Phoenix yang luar biasa besar dan menghangatkan seluruh area perguruan, para tetua dan para pemimpin sekte yang masih ada di perguruan bergegas datang ke sumber aura itu karena penasaran.
Setelah melihat Bima bersama peliharaan raksasanya yang megah, Ketua Perguruan Anggrek Putih pun bertanya dengan heran,
"Mau kemana kamu, Nak Bima...? Mau pergi lagi...?"
"Ayah, aku mau mengajak para istri ku jalan-jalan sebentar keliling Jawa Tengah untuk bulan madu, Ayah. Mumpung masih ada waktu sebelum aku pulang ke Lawu," jawab Bima.
Tak lama kemudian, para putri yang begitu cantik pun keluar dari joglo satu persatu dengan keindahan mereka masing-masing. Mereka sudah mengenakan pakaian kasual yang indah dan siap untuk berpetualang.
"Ayo kita berangkat, Bima, kami sudah tidak sabar," kata Intan yang sudah berlari duluan dan melompat naik ke atas punggung Phoenix.
"Nak, apa kalian tidak makan siang dulu...? Ini masih pagi, perut kosong nanti masuk angin," tanya Bu Lastri dengan perhatian.
"Tidak perlu, Ibu, Bima tidak akan membiarkan kami kelaparan di jalan. Dia pasti sudah menyiapkan bekal yang banyak," jawab Amelia dengan lembut sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, kalian semua berhati-hatilah di jalan, jangan nakal, dan segera kembali sebelum petang," pesan Pak Wijaya.
Mereka semua akhirnya berangkat naik ke atas punggung burung Phoenix raksasa itu bersama-sama. Para mertua Bima sangat senang dan terharu melihat Bima yang begitu pandai membahagiakan dan memanjakan putri-putri mereka dengan tulus.
Di perjalanan yang tinggi di atas awan, meskipun masih pagi dan anginnya kencang, mereka tidak merasa kedinginan sama sekali karena aura hangat dari tubuh Phoenix Sekar Lestari yang menyelimuti mereka seperti selimut tebal.
Para istri Bima begitu gembira dan berteriak-teriak bahagia melihat pemandangan dari atas ketinggian. Mereka melihat Danau Rawa Pening yang biru, Laut Selatan yang luas, dan Gunung Merapi, Gunung Merbabu, dan Gunung Lawu yang begitu indah dilihat dari ketinggian dua ribu meter.
Pada akhirnya, setelah terbang selama satu jam, mereka mendarat di sebuah lembah rahasia yang sangat indah yang dikelilingi oleh gunung-gunung kecil. Tempat itu adalah Lembah Bunga Edelweis Lawu, tempat yang begitu indah, sunyi, dan dipenuhi oleh jutaan bunga-bunga warna-warni yang bermekaran, seperti karpet bunga raksasa.
Hal itu membuat para wanita sangat gembira dan bahagia, mereka berlarian ke sana kemari di antara bunga-bunga, tertawa, dan melupakan segala kesedihan tentang perpisahan yang akan datang.
Di lembah bunga itu, Bima dan ketujuh istrinya, Amelia, Intania, Melinda, Tasya, Ayu Wandira, Sherly dan Salsa, menikmati bulan madu pertama mereka dengan penuh cinta, tawa, dan janji suci untuk masa depan.
BERSAMBUNG
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?