Selama 15 tahun, Adelia Zuri Latisha mengabdi penuh sebagai istri, melepas karier dan tampil sederhana demi menghemat pengeluaran keluarga. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan menyakitkan. Sang suami, Arkananta Ethan Pradana, berselingkuh dengan Clara Selvania, rekan kerjanya yang muda dan menawan. Arkananta menceraikan dan mengusir Adelia tanpa harta sedikit pun, mencapnya "ketinggalan zaman" dan tidak selevel lagi. Dihina oleh mantan mertua, Adelia menolak terpuruk. Mengandalkan keahlian menjahitnya di masa muda, ia bangkit merintis bisnis hingga bertransformasi menjadi pemilik butik ternama yang anggun dan berwibawa. Saat roda berputar, Arkananta bangkrut akibat ulah Clara yang boros. Ketika sang mantan suami datang bersimpuh memohon rujuk, ia harus menelan pil pahit. Adelia telah menemukan kebahagiaan sejati bersama pria mapan lain yang jauh lebih menghargainya, sementara karma instan bersiap meruntuhkan kesombongan mantan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Clara?
Uap panas dari mangkuk sup iga masih mengepul halus di tengah meja makan. Adelia mengelap keringat di dahi dengan punggung tangannya, lalu merapikan letak piring-piring porselen yang sudah tertata rapi.
Di atas meja, ada ayam bakar madu, sambal terasi kesukaan suaminya, serta kue cokelat buatan rumah dengan tulisan Happy Birthday Kenzie dari krim putih.
Adelia menarik napas panjang sambil tersenyum kecil. Ia menunduk, menatap daster kain katun warna biru pudar yang melekat di tubuhnya. Ada sedikit noda bumbu kecap di bagian perut, bekas letupan tumisan tadi sore.
Ia sempat berpikir untuk berganti pakaian, tapi bel pintu rumah yang berdering nyaring mendadak membatalkan niatnya.
"Ibu! Biar Kenzie yang buka pintunya!" seru Kenzie dari arah tangga. Remaja berusia delapan belas tahun itu berlari kecil dengan wajah cerah, memperlihatkan Nilai Try Out SMA yang baru diterimanya siang tadi.
"Jangan lari-lari, Kenzie. Panggil adikmu sekalian di kamar!" sahut Adelia dari meja makan.
Arkananta melangkah masuk ke dalam rumah. Jas hitam mahal yang biasa membungkus tubuh tegapnya kini tersampir melungker di lengan kiri. Dasi merah marunnya sudah dikendorkan, dan kancing teratas kemejanya terbuka.
"Papa pulang!" seru Kenzie antusias sambil mendekati ayahnya. "Lihat, Pa, nilai Kenzie keluar dan masuk lima besar pararel!"
Arkananta hanya menepuk bahu Kenzie dua kali tanpa benar-benar menatap mata anaknya. "Bagus. Tingkatkan lagi di bangku kuliah nanti."
Adelia mendekat, niat hatinya ingin mengambil tas kerja Arkananta seperti biasa. Namun, begitu langkahnya berjarak satu meter dari sang suami, aroma tajam parfum menyengat langsung menusuk hidungnya. Itu bukan aroma parfum yang biasa ia belikan untuk Arkananta. Ini aroma manis vanila manis dan mawar parfum wanita mahal.
"Mas, kok baru pulang? Katanya tadi cuma ada rapat sebentar jam lima?" tanya Adelia lembut, berusaha menyembunyikan getaran curiga di suaranya.
Arkananta menghentikan langkahnya di depan meja makan. Ia menatap Adelia dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangannya berhenti tepat pada noda bumbu di daster biru yang sudah longgar dan pudar di bahu Adelia. Kerutan jijik sangat jelas tercetak di antara kedua alis Arkananta.
"Macet," jawab Arkananta pendek, ketus, dan dingin.
"Ya sudah, ayo duduk dulu, Mas. Aku sudah masak makanan kesukaanmu," ucap Adelia sambil mengulurkan tangan hendak menyambut tas Arkananta.
Arkananta sengaja menghindar dan meletakkan tasnya sendiri di atas kursi samping. "Aku sudah makan di luar."
Adelia tertegun. Tangannya menggantung di udara selama beberapa detik sebelum perlahan ditarik kembali.
"Makan di luar? Tapi aku sudah kirim pesan dari jam empat sore kalau kita mau rayakan ulang tahun Kenzie malam ini."
"Saya sibuk, Del! Kamu pikir pekerjaan saya di kantor cuma main-main?" potong Arkananta dengan nada tinggi yang membuat suasana meja makan mendadak membisu. Kenzie yang berdiri tak jauh dari sana langsung terdiam melangkah mundur.
"Mas, suara kamu," bisik Adelia sambil melirik Kenzie. "Aku cuma nanya baik-baik."
"Lagipula, lihat penampilanmu ini," Arkananta menunjuk daster Adelia dengan dagunya, matanya memancar kekesalan yang tak ditahan.
"Rumah bau minyak, kamu pakai baju rombeng ada noda kotor begini. Bikin hilang nafsu makan tahu tidak? Apa kamu nggak malu dilihat anak-anak tiap hari bentukannya begini?"
"Mas! Aku dari tadi siang di dapur masak buat kamu dan anak-anak!" Adelia membela diri, dadanya terasa sesak. "Kalau aku dandan berjam-jam, siapa yang urus makanan di rumah ini?"
"Alasan terus," dengus Arkananta dingin. Ia berbalik tanpa menyentuh makanan sedikit pun. "Kenzie, Papa naik dulu mau mandi. Lanjutkan saja makan kalian."
"Tapi Pa..." Kenzie mencoba memanggil, namun langkah ayahnya di tangga terasa begitu cepat dan tak tertahan.
Kayla, putri bungsu mereka yang baru berusia empat belas tahun, keluar dari kamar dengan wajah bingung. "Ibu, Papa kenapa marah-marah?"
Adelia mengusap dadanya yang rasanya seperti dihantam batu besar. Ia memaksakan senyum tipis, menatap kedua anaknya yang menatapnya khawatir. "Papa cuma capek, Nak. Pekerjaan kantor lagi banyak. Ayo, kita makan bertiga saja ya? Kue cokelatnya nanti keburu dingin."
Malam itu, makan malam kelulusan berjalan sepi. Adelia menyuap nasi tanpa merasai rasanya sama sekali. Setiap kali mengunyah, kata-kata bikin hilang nafsu makan dan aroma parfum wanita asing di kemeja Arkananta terus berputar di kepalanya.
Pukul satu dini hari, suasana rumah sudah benar-benar senyap. Adelia berbaring membelakangi Arkananta di ranjang utama mereka. Suaminya sudah tertidur lelap dengan napas teratur.
Adelia masih terjaga, memandangi bayangan lampu jalan yang menembus celah gorden. Rasa cemas dan ketakutan yang tak beralasan membuat dadanya terus bergemuruh.
Tiba-tiba, layar ponsel Arkananta yang tergeletak di atas meja nakas menyala terang. Getaran halus berbunyi dua kali bzz... bzz.. di atas permukaan kayu.
Adelia menahan napas. Ia menoleh pelan ke arah Arkananta yang masih terpejam. Dengan gerakan sangat hati-hati, Adelia mengulurkan tangan dan mengambil ponsel tersebut.
Layar terkunci itu memperlihatkan sebuah notifikasi pesan dari aplikasi percakapan. Nama kontak yang tertera di sana sangat jelas: Clara.
Isi pesannya terbaca utuh di layar:
Mas Arkan, terima kasih ya buat makan malam mewahnya tadi. Jangan lupa besok kemeja pink yang aku pilihkan dipakai ke kantor. I miss you... 😘
Jantung Adelia serasa berhenti berdetak saat itu juga. Mata dan tenggorokannya mendadak panas. Seluruh persendian di tubuhnya terasa melorot kehilangan daya.
Lima belas tahun ia mengabdi, melepas karirnya, membiarkan tubuhnya tak terawat demi menghemat uang keluarga, dan ini jawaban yang ia dapatkan?
Tiba-tiba, Arkananta lengket membalikkan badannya di ranjang.
Adelia dengan cepat meletakkan kembali ponsel itu ke meja nakas, lalu buru-buru memejamkan mata dan menarik selimut hingga sebatas dada. Ia berpura-pura tidur lelap.
Tangan Arkananta terulur, meraih ponselnya yang sempat menyala. Suara gesekan jari di layar terdengar jelas di tengah kegelapan kamar. Arkananta terkekeh pelan,sebuah kekehan halus yang terasa sangat mesra,sebelum menaruh kembali ponselnya dan membelakangi Adelia.
Di balik selimutnya, Adelia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa asin darah. Air matanya menetes pelan menembus sarung bantal, menahan tangis yang nyaris pecah di dadanya.
Pagi harinya, Adelia sengaja bangun lebih awal dari biasanya. Saat Arkananta turun ke meja makan dengan setelan jas rapi, Adelia sedang berdiri menatap lurus ke arah pintu dapur.
Arkananta melirik jam tangannya. "Del, mana kopi saya? Kenapa meja makan masih kosong?"
Adelia berbalik pelan, menatap Arkananta tepat di iris matanya dengan pandangan yang sama sekali tak pernah Arkananta lihat selama lima belas tahun pernikahan mereka.
"Mas," panggil Adelia dengan suara datar tanpa intonasi. "Siapa Clara?"
Semoga usaha butik semakin berkembang dengan dukungan Pak Faris ,Adel