DENDAM BERSELIMUT TAWA
Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?
Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.
Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.
Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.
Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.
Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.
Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8-KEKUATAN RAKA
"matilah..."
beberapa belati langsung melesat membelah angin, menembus bagian bagian tubuh sosok berkepala babi tanpa belas kasih.
Ke 4 sosok itu menoleh langsung ke arah raka.
Namun tak ada tatapan penuh amarah, malah tatapan penuh binar.
bahkan sesekali mereka menjilat bibir babinya sendiri.
"bang Tito, kenapa kalian bisa sampai ke sini"
Kirana mendongak saat Tito menyelinap mendatanginya.
Tito tak menjawab, ia mengangkat Kirana menuju gerombolan yang lain.
Para sosok berkepala babi bisa melihat ini dengan jelas, namun mereka tak menghentikannya.
"kakak pertama, sepertinya kita pesta besar malam ini" ucap salah satu sosok berkepala babi.
"kau benar adik ke 3, walau entah bagaimana mereka masuk tanpa sepengetahuan kita. Tapi semua itu tak penting, toh kita tak perlu pusing mencari keberadaan mereka lagi"
sedangkan Raka kini masih menatap ke arah 4 sosok berkepala babi.
Lebih tepatnya ke tempat tempat yang telah tertembus belatinya.
Raka menatap benar benar tanpa berkedip.
"bagaimana bisa" batinnya.
Hal di depannya ini baru pertama kali ia saksikan langsung.
Dari banyaknya orang kuat yang pernah ia saksikan atau ia hanya dengar.
Tak ada satu pun yang bisa beregenerasi secepat itu.
Sedangkan di sisi Kirana, ia menepis obat yang di berikan Tito.
Dia hanya mengambil pil pemilih energi.
"aku tak perlu ini" ungkapnya.
"Rana, mau ke mana" ungkap Tito melihat Kirana berdiri.
"bang Tito fokus saja mencari yang lain, dan jangan pernah meremehkan jika bertemu babi hutan. Walau bentuknya seratus persen babi hutan biasa, tapi bisa jadi sebenarnya itu termasuk binatang iblis. sekarang yang lain tengah di serang para babi itu, bantulah mereka. Urusan di sini serahkan kepadaku dan Raka."
"tapi, kau baru sembuh. Apa kau yakin akan melawan mereka. Ku lihat mereka tak lemah"
Kirana tak menjawab, kini ia telah memunggungi Tito.
"bang, jangan lupa kami berdua adalah murid langsung dari mbah. Sekarang prioritaskan lah lebih banyak nyawa dari pada hanya nyawa kami berdua, bahkan di antara pengawal yang ku bawa tadi masih ada pengawal baru, mereka juga adalah warga desa. Jadi nyawa kami tak lebih penting dari pada mereka yang memiliki jumlah lebih banyak."
tito terdiam, ia tak bisa membantah lagi.
Sedangkan Kirana menghampiri Raka yang masih terdiam.
"jangan terlalu banyak berfikir, sekarang musuh ada di depan mata"
Raka menoleh...
"Rana, kenapa kau di sini. Mundurlah biar aku dan bang..."
namun saat Raka menoleh, tak ada siapapun lagi di belakangnya.
"di mana rombongan bang Tito" gumamnya.
"tak usah di cari mereka telah pergi"
"kalok begitu mundurlah. Biar aku yang menghadapi mereka"
tangan Kirana langsung mengayun, mendorong kepala Raka hingga sang empu sedikit bergeser.
"jangan sok tangguh. Kita lakukan berdua"
"tapi..."
"aku tak luka."
"para manusia, apa sudah selesai berbincang" suara salah satu sosok berkepala babi.
Ini membuat perdebatan keduanya berhenti, kini mereka menatap ke arah 4 sosok itu.
"sepertinya mereka meremehkan kita." ungkap kirana.
"sepertinya begitu, tapi tak masalah. Bukankah keren jika bisa membuat mereka yang meremehkan kita menjadi meminta ampun kepada kita" jawab Raka.
Perkataan ini langsung membuatnya mendapatkan tatapan maut Kirana.
"ini bukan waktunya bercanda" ungkap Kirana kesal.
Raka sedikit te senyum.
."ya maaf, lagian gak asik tegang terus."
Raka berdiri dari sikap kuda kudanya. Ia ingin melangkah maju, namun ia kembali ke dekat Kirana.
"oh ia, apa mereka memang tak bisa mati..." bisik Raka.
Kirana mendorong kepala Raka yang menurutnya terlalu dekat.
"jauh sikit, napasmu bau"
"masa si..."
Raka mencoba me mencium bau napasnya sendiri.
"enggak ah."
sedangkan para sosok berkepala babi yang tadi masih tenang, kini sudah merasa marah.
pasalnya sejak tadi mereka terus saja di abaikan.
ke 4-nya melesat maju, Raka bisa melihat ini dari ujung matanya.
Lalu keduanya saling menatap dang mengangguk.
Seketika itu, sebuah bayangan mencuat dari tanah.
Bayangan itu langsung mengikat pinggang Raka, dan melemparkannya.
"uuuuu, terbang" teriaknya.
"fokus" teriak Kirana tak kalah keras.
Gerakan keduanya ini membuat langkah ke empat sosok itu berhenti.
"menghindar" ungkap sosok yang di panggil kakak pertama.
Raka yang sudah mengayunkan tinjunya di udara langsung berputar karena pukulannya hanya terkena angin.
"ea...." teriak Raka yang tubuhnya hendak terbentur pohon.
namun di sela teriakan ini. bibir Raka tiba tiba-tiba melengkung, saat melihat fokus ke empat sosok itu mengarak kepadanya.
"dasar babi.."
jari jari tangannya sedikit bergerak, membuat belati belati yang sebelumnya terjatuh setelah di gunakan menyerang bergetar tiba tiba.
Tanpa ada yang menyadari, belati belati itu kembali melayang cepat.
Bayangan belati di bawahnya juga tiba tiba membuat bentuk hitam nyata.
sayangnya, perhitungan Raka sedikit melenceng.
ternyata tak semua sosok itu fokus ke arahnya.
sosok yang di sebut kakak pertama ternyata masih menatap sekitar.
"awas" ungkap sosok kakak pertama sambil berbalik dengan menarik salah satu sosok.
Dengan sigap, orang yang di sebut kakak pertama itu menangkap belati dengan tangan besarnya.
Sedangkan dua sosok yang tersisa tersentak, salah satunya berhasil menghindar.
Namun salah satunya terlambat, 2 belati dan dia bayangan belati langsung menembus dan menghancurkan tengkorak kepalanya dengan tanpa belas kasih.
"adik ke 3..." teriak ke 3 sosok yang tersisa secara bersamaan.
Bug....
"aw...."
Raka berdiri setelah menabrak pohon besar.
"sial, padahal kalok di cerita Mbah ada yang bisa sampai ngancurin pohon terus bisa berdiri. sedangkan aku.. Jangankan hancur, bahkan pohonnya cuma bergetar sikit tapi pinggangku kayak mau patah" gumamnya kesal karena merasa tertipu oleh cerita cerita yang ia dengar.
Walau begitu, Raka tetap berdiri.
Namun baru saja berhasil berdiri, ia langsung bisa merasakan tatapan tajam menusuk ke arahnya.
"bocah manusia... Berani beraninya kau membunuh adik pangeran ini dengan kejam."
Kaki Raka mulai merapat, bintik bintik keringat muncul sebesar biji jagung.
Kirana yang masih bisa melihat dari kejauhan langsung mengerutkan keningnya ia hendak bergerak.
Namun tiba tiba dia mematung.
"apa itu.." gumamnya.
Dari kejauhan ia bisa melihat mata Raka berubah warna.
Bahkan dengan cepat, tubuh Raka menghilang dari pandangan.
Samar samar Kirana bisa melihat kelebatan energi hitam gelap yang muncul, lalu di susul dengan energi putih menenangkan yang.
Kirana bisa memastikan kalau di energi berlawanan ini bukan dari sosok berkepala babi.
Karena jelas kedua energi ini menyerang para babi, dan energi itu tak hanya terlihat dari kelebatan. Beberapa belati Raka juga bergerak dengan energi yang sama.
Bahkan luka di tubuh babi tak mampu beregenerasi.
Sosok babi yang mengaku dirinya pangeran, kini bergetar.
Apalagi saat Raka muncul setelah 2 sosok berkepala babi tumbang.
Di mata sosok ini, Raka terlihat selayaknya seorang raja iblis di mata manusia fana. Sangat menyeramkan dan mengerikan.
Sosok itu berbalik tak memperdulikan mayat adik adiknya lagi, ia berlari sebisanya.
"ingin lari..?" gumam Raka.
Setelah itu tubuhnya menghilang.
Dua belati dengan energi gelap dan energi putih melesat langsung mengenai kaki babi.
Serangan ini membuat babi itu langsung terjatuh.
"tuan, selamatkan aku" teriak babi.
seketika, sebuah pusaran hitam muncul.
"si..." baru sedikit suara yang keluar dari pusaran hitam.
namun pusaran itu sudah keburu hancur di remas oleh Raka.
"ingin meminta bantuan...? Jangan harap"
tangan kiri Raka langsung mencengkram kepala babi.
Dengan muda ia mengangkat babi itu ke udara, keduanya melayang.
"tu...."
belum sempat sosok berkepala babi menyelesaikan kata katanya, Raka sudah memutuskan leher sosok itu dengan tangan kanan yang di selimuti energi putih.
Tubuh sosok itu langsung terjatuh, begitu pula dengan Raka.
Kirana yang barusan sadar, langsung menghampiri Raka.
"ka kau tak apa apa"
Kirana mengelap darah dari mata Raka, wajahnya tampak sangat panik.
"aku tak apa" ungkap Raka.
Bersama dengan kematian sosok babi terakhir, langit tiba tiba berubah biru kembali.
"Rana tolong." ungkap Raka.
"katakan, jangan setengah setengah."
"tolong cepat bantu aku mencari sungai terdekat.".
Kirana mengangguk pasti, apa lagi melihat keringat Raka semakin banyak.