Dari seorang pangeran yang diagungkan, Jiang Yui kini beralih profesi menjadi "makcomblang sakti" keliling dunia.
Mulai dari pendekar pedang wanita yang dingin dari sekte es, pangeran dari faksi musuh, hingga siluman rubah yang galau—semuanya harus ia satukan dalam ikatan cinta.
Ditemani oleh layar sistem magis yang mengejek setiap kegagalannya, mampukah Jiang Yui merajut kisah cinta orang lain demi menyelamatkan takdir cintanya sendiri, atau ia justru terjebak selamanya sebagai perjaka tua terkuat di dunia kultivasi?
Jangan lupa like,komen dan subscribe ya kakak, biar author ya semangat ,,dukungan kalian sangat berharga... makasih 🫶🫶🫶🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. M yanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Ia menutup buku itu perlahan, lalu menatap langit malam yang mulai dihiasi oleh taburan bintang-bintang pertama yang berkelap-kelip terang.
Di kejauhan, rasi bintang Sembilan Langit tampak berputar lembut dalam keseimbangan yang sempurna, seolah memberikan penghormatan senyap kepada sang penguasa sejati mereka di bumi.
Jiang Yui menghela napas panjang penuh kelegaan, merangkul bahu Bai Ling erat-erat.
"Sudah waktunya tutup kedai, Nona Pendekar," bisik Jiang Yui dengan senyum penuh jenaka. "Bagaimana kalau kita tutup hari ini dengan semangkuk mi kuah hangat buatanmu?"
Bai Ling tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Jiang Yui dengan nyaman.
"Pilihan yang bagus, Yang Mulia Makcomblang."
Di bawah naungan langit malam yang damai, di sudut kecil Kota Qing yang penuh kenangan, kisah sang mantan perjaka tua resmi abadi, bukan sebagai legenda perang yang ditakuti, melainkan sebagai cerita abadi tentang cinta, tawa, dan kebahagiaan yang menyatukan seluruh isi alam semesta.
Malam beranjak semakin larut. Cahaya bulan purnama menggantung sempurna di atas atap Paviliun Damai, memantulkan pendar perak yang tenang di atas halaman kedai yang bersih.
Di dalam ruangan utama, lampu pelita minyak berkedip hangat, memancarkan bias cahaya kekuningan yang menenangkan jiwa siapa saja yang singgah.
Jiang Yui dan Bai Ling duduk berdampingan di meja kayu jati yang menghadap langsung ke halaman terbuka.
Di hadapan mereka, dua mangkuk mi kuah panas mengepulkan aroma kaldu ayam kampung bercampur rempah pilihan sederhana, namun menghangatkan setiap jengkal tubuh setelah seharian beraktivitas.
Murong Chen, yang baru saja selesai membereskan meja terakhir dan mengunci pintu depan kedai, berjalan mendekat dengan langkah gontai namun wajah yang menyeringai puas. Ia menarik sebuah kursi kayu lalu menjatuhkan dirinya dengan lemas.
"Paman Jiang, Bibi Bai... Aku resmi mengundurkan diri dari jam lembur malam ini," keluh Murong Chen setengah merajuk sambil memegang perutnya yang keroncongan.
"Kalau mi kuah itu tidak dibagi dua dengan ku, aku pastikan arsip Sektor Galaksi Barat besok pagi bakal kuhilangkan isinya!"
Bai Ling melirik pemuda itu sekilas, lalu tersenyum tipis sambil mendorong mangkuk cadangan dan sepasang sumpit ke hadapan Murong Chen.
"Makanlah, Murong Chen. Jangan ancam arsip galaksi kalau perutmu sendiri sedang merajuk."
Mata Murong Chen langsung berbinar terang. Tanpa pikir panjang, ia menyambar sumpit dan langsung melahap mi tersebut dengan lahap, membuat Jiang Yui dan Bai Ling tertawa kecil.
Tidak ada lagi sisa-sisa arogansi pangeran utara yang angkuh di masa lalu, yang tersisa hanyalah seorang pemuda yang menemukan arti kebersamaan di tempat paling tak terduga.
Tiba-tiba, angin malam berembus lebih kencang dari biasanya.
Suara desau daun-daun bambu di belakang kedai bergesekan pelan, disusul oleh pendar cahaya keemasan yang sangat tipis dan lembut menyelimuti pekarangan paviliun.
Jiang Yui menghentikan sumpitnya. Ia mendongak perlahan, menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang.
Di antara konstelasi bintang-bintang terjauh, rasi bintang Sembilan Langit dan galaksi-galaksi antardimensi mendadak berkedip serentak dalam harmoni yang sempurna bukan sebagai bentuk ancaman atau peringatan, melainkan sebuah denyutan kosmik yang hidup.
Seolah-olah alam semesta itu sendiri sedang berdetak, bernapas, dan mengucapkan terima kasih kepada sang penjaga keseimbangan.
Murong Chen ikut berhenti mengunyah, merasakan getaran spiritual yang begitu agung namun menenangkan meresap ke dalam jiwanya.
"Paman... apa itu?" bisiknya pelan, matanya membelalak takjub.
Jiang Yui tersenyum tenang. Ia meletakkan sumpitnya, lalu menegakkan duduknya.
"Itu bukan ancaman, Murong Chen," jawab Jiang Yui lembut.
"Itu adalah tanda bahwa alam semesta kini bisa berjalan dengan sendirinya. Ketika cinta, empati, dan pengertian telah menjadi hukum dasar kehidupan, maka dunia tidak lagi membutuhkan penguasa yang memegang pedang, melainkan jiwa-jiwa yang tahu bagaimana cara merawat kedamaian."
Bai Ling menggenggam tangan Jiang Yui di bawah meja, memberikan kehangatan yang menegaskan bahwa seluruh perjalanan panjang mereka dari Kota Qing yang terpencil hingga puncak Sembilan Langit yang megah, tidak pernah sia-sia.
Jiang Yui menatap Bai Ling, lalu beralih menatap Murong Chen yang kembali melanjutkan makannya dengan lahap di bawah cahaya bulan.
Kisah tentang sang pangeran yang dikutuk sebagai perjaka tua, yang kemudian merintis jalan takdir baru sebagai Makcomblang Agung lintas dimensi, kini telah usai dituliskan dalam lembaran sejarah semesta.
Namun, bagi Jiang Yui, cerita hidup yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa besar nama yang ia tinggalkan di buku legenda, melainkan tentang semangkuk mi kuah hangat di malam yang tenang, senyuman orang terkasih di sisi, dan kedamaian abadi yang akhirnya bisa ia miliki seutuhnya.
Di bawah naungan langit abadi, kedai teh kecil itu berdiri kokoh menyimpan rahasia terbesar dari seluruh galaksi, bahwa cinta adalah sihir terkuat yang pernah ada di alam semesta.
sistem kultivasi perjaka/NosePick/ 🤧