NovelToon NovelToon
Detektif Hans

Detektif Hans

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:615
Nilai: 5
Nama Author: Ashciel

Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Runtuhnya Geometri

Pip seketika mematung dengan satu kaki terangkat di udara. Napas anak jalanan itu tertahan di tenggorokan.

Evelyn berpegangan erat pada tepi jeruji baja penutup tabung pneumatik. Wajahnya sepucat mayat melihat rak-rak buku yang melengkung ke arah yang mustahil secara arsitektur.

Tidak ada ujung. Tidak ada pangkal. Hanya labirin kayu jati dan lautan dokumen yang mengambang menentang hukum alam semesta.

"Ini... ini ilusi optik?" bisik Evelyn ngeri, matanya berkedut menahan pusing. "Atau kita menghirup gas halusinogen di dalam pipa tadi?"

"Logam koin tembaga Pip merespons tolakan fisik secara nyata, ini bukan halusinasi," sahut Hans datar. Mata kelabunya bekerja dengan kecepatan bedah.

Kalkulasi: Ruang spasial di tempat ini dilipat menggunakan anomali. Vektor gravitasi tidak lagi menunjuk lurus ke inti bumi, melainkan memusat pada anomali termal di ruangan ini.

Hans merogoh saku rompi cokelatnya secara perlahan. Ia mengeluarkan jam saku tembaganya yang diikat dengan rantai kuningan panjang.

Hans mengulurkan jam itu ke depan, membiarkannya menggantung bebas layaknya sebuah pendulum uji coba.

Awalnya, jam saku itu tertarik miring ke arah kanan atas. Rantainya menegang kaku seolah ada magnet tak kasat mata yang menariknya.

Namun, tiga detik kemudian, jam itu berayun liar ke arah kiri bawah!

"Medan gravitasi lokal di ruangan ini tidak permanen," gumam Hans dingin, otaknya mencatat pola ayunan tersebut. "Ia terus bergeser mencari titik keseimbangan."

Hans menoleh perlahan ke arah Evelyn.

"Lady Finch," panggil Hans tegas, memaksa wanita itu fokus. "Gravitasi bumi adalah gaya tarik massa. Tapi dalam ruang buatan bertekanan anomali seperti ini, apa variabel fisik mutlak yang menentukan arah pergerakan zat?"

Evelyn memicingkan matanya. Ia memaksa kepanikan keluar dari kepalanya. Otak arsitektur dan mekanisnya berputar cepat.

"Suhu!" jawab Evelyn terkesiap, matanya terbelalak lebar. "Termodinamika! Udara panas selalu bergerak merambat ke titik bertekanan rendah!"

"Tepat," Hans menyeringai dingin.

"Arus konveksi suhu itulah yang menentukan arah atas dan bawah dalam ruang hampa ini," lanjut Evelyn dengan napas memburu.

"Mereka mematahkan gravitasi kita," ujar Hans seraya memutar tongkat besinya. "Tapi mereka tidak akan pernah bisa mematahkan hukum suhu."

Mata kelabu Hans menatap sekeliling. Di antara liukan rak-rak kayu yang terbalik itu, terdapat sebuah pipa uap tembaga raksasa yang melintang vertikal di kejauhan.

Pipa itu mendesis pelan, mengeluarkan uap tipis. Itulah jangkar suhu ruangan ini.

"Pip, berapa koin perak yang kau punya di sakumu?" tanya Hans cepat.

"T-tiga keping shilling, Tuan Lorte!" jawab Pip gemetar.

"Lemparkan koin pertamamu lurus ke arah pipa tembaga raksasa itu. Tepat ke bagian tengahnya. Sekarang!"

Pip merogoh sakunya, menggertakkan gigi, dan melemparkan koin pertamanya.

SYUUUTTT!

Koin perak itu melayang miring, tersedot ke arah dinding kiri dengan kecepatan peluru, sebelum akhirnya jatuh ke atas langit-langit.

"Gravitasi sedang bergeser 40 derajat ke kiri," Hans mengkalkulasi dengan suara monoton yang mematikan. "Evelyn, bersiap dengan kunci pas raksasa dari sabukmu."

Hans menggenggam tongkat jalan berkepala besinya dengan kedua tangan. Kuda-kudanya merendah, menapak kuat di atas lempengan marmer yang mengambang.

"Lempar koin keduamu, Pip! Lebih keras!"

Pip melempar lagi dengan sekuat tenaga.

SYUUUTTT!

Kali ini, koin itu berbelok tajam ke kanan, menabrak laci arsip yang melayang.

"Lempar yang ketiga!" raung Hans.

Tepat saat Pip melemparkan koin ketiga, koin itu meluncur lurus ke depan! Arah gravitasi sedang sejajar sesaat menuju pipa tembaga.

Hans tidak membuang fraksi detik itu. Ia melompat melintasi kehampaan!

Jubah kusamnya berkibar. Hans menggunakan momentum pergeseran gravitasi sesaat itu untuk melayang lurus ke arah pipa uap tembaga raksasa di tengah ruangan.

BAM!

Hans mendarat kasar. Ia memeluk pipa panas itu dengan lengan dan kakinya.

Sarung tangan kulitnya mendesis berasap seketika. Telapak tangannya melepuh, namun detektif itu tidak mengerang sedikit pun. Ia tidak peduli pada rasa sakit.

Hans memutar tubuh jangkungnya, mengangkat tongkat besinya, dan menghantamkannya ke katup sambungan kuningan di pipa tersebut!

TRANGGG!! CRACK...!

Baut tembaga itu retak. Semburan uap kecil menyembur mendesis.

"Lady Finch! Lompat padaku sekarang!" teriak Hans menembus deru uap.

Evelyn tidak ragu. Ia menelan ketakutannya dan melompat menembus ruang hampa.

Tepat saat gravitasi mendadak bergeser menarik tubuh Evelyn terlempar ke atas, Hans mengulurkan tangan kirinya dan menangkap pergelangan wanita itu!

Evelyn bergelantungan di udara, tangannya dipegangi erat oleh Hans yang bersandar pada pipa mendidih.

"Hantam katup itu!" teriak Hans. "Habisi tekanannya!"

Evelyn mengayunkan kunci pas raksasanya dengan sisa tenaga terakhirnya. Ia menghantam sisa baut yang retak itu bertubi-tubi.

TRANG! TRANG! BLAAARRR!!!

Pipa tembaga itu jebol seketika!

Semburan uap mendidih meledak dahsyat menyapu bagian tengah ruangan!

Gelombang panas yang ekstrem dan mendadak itu seketika merusak stabilitas udara di dalam ruang non-Euclidean tersebut.

Hukum termodinamika memaksakan kehendaknya yang absolut. Udara panas mendidih yang tumpah ruah memaksa massa ruangan kembali mencari titik nol gravitasi bumi.

Ruangan spasial itu bergetar hebat. Labirin rak buku yang mustahil itu berkedut, lalu hancur berantakan seperti ilusi cermin raksasa yang dipecahkan paksa!

BRUK! BRUK! BAAAM!

Gravitasi kembali normal secara brutal.

Hans, Evelyn, dan Pip jatuh berdebum dari ketinggian lima meter ke atas lantai pualam marmer putih yang datar.

Ribuan laci arsip dan rak-rak kayu yang sebelumnya tak terbatas kini kembali ke bentuk fisik ruang arsip bawah tanah Westminster yang normal. Langit-langit batu dan dinding bata merah kembali terlihat mengelilingi mereka.

Napas Hans memburu keras. Ia berdiri perlahan dan mengibaskan debu dari mantelnya. Tangan kirinya memerah akibat luka bakar, tapi genggamannya pada tongkat besi tetap kokoh.

Di ujung ruangan yang kini normal, di bawah pendaran lampu gas redup, terdapat sebuah meja mahoni tunggal.

Di atas meja tersebut, terletak sebuah buku besar bersampul kulit hitam. Lembaran-lembarannya memancarkan pendaran biru samar dari cairan Atlantik yang mengering.

Hans melangkah mendekat. Ia membuka halaman pertama buku itu menggunakan ujung tongkatnya.

"Buku apa itu, Tuan Lorte?" tanya Pip seraya memijat punggungnya yang memar akibat terjatuh.

"Buku Kas," suara Hans menjadi sedingin es. Mata kelabunya membaca deretan angka bernilai jutaan poundsterling.

Evelyn melangkah mendekat, matanya terbelalak ngeri membaca rincian di kertas itu.

"Laporan anggaran Divisi Nol," bisik Evelyn tercekat. "Pembelian bahan kimia, jaringan pipa uap reaktor, dan impor spesimen Atlantik. Semuanya..."

"...disahkan dan ditandatangani oleh Bendahara Utama Istana Buckingham," potong Hans menutup buku itu dengan kasar.

Brak!

Evelyn menutup mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar. "Tuhan... ini murni konspirasi negara. Raja Inggris mendanai sekte pemusnah ini."

KLIK... KRIEEET...

Suara mekanisme logam terbuka mendadak memecah kesunyian ruangan arsip.

Di dinding ujung ruangan, sebuah pintu kuningan raksasa bergeser terbuka ke samping dengan sangat halus.

Bukannya hawa dingin mematikan atau bau darah monster yang keluar, aroma teh Earl Grey mahal, wangi kayu cendana, dan kehangatan perapian justru menguar menyergap hidung mereka.

Hans meraba anting perak bulan sabitnya. Tatapannya menajam layaknya elang yang mengunci mangsa.

"Mereka mengundang kita masuk," bisik Hans dingin. Ia melangkah maju menembus pendaran cahaya dari pintu itu. "Jangan turunkan kewaspadaan kalian."

1
aefpe fp
baca novelku juga ya😄
Ashciel: terimakasih udah mampir :)
total 1 replies
Putry Chan
Hans seorang detektif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!