Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidupnya.
Saras Danuarta—putri sebuah dinasti perhiasan ternama, calon dokter yang hanya bermimpi menyelamatkan nyawa orang lain—dikhianati oleh keluarganya sendiri. Demi menyelamatkan sang adik, ia terpaksa menyerahkan diri semalam kepada pria paling ditakuti di Paris: Nael Hendarto, raja bawah tanah berjuluk "Bayangan Maut". Pria yang kejam, dingin, dan tak mengenal kata cinta.
Pagi itu Saras pergi tanpa menoleh, membawa satu rahasia yang akan ia jaga dengan nyawanya.
Tujuh tahun kemudian, ia telah menjelma menjadi dokter yang dipuja seantero rumah sakit—seorang ibu tunggal yang membesarkan si kembar dengan tangannya sendiri di sudut kota yang keras. Sampai takdir kembali mempertemukannya dengan pria itu. Dan kali ini, Nael menemukan sesuatu yang tak pernah ia tahu ia miliki: sepasang mata cokelat keemasan yang sama persis dengan matanya.
Pria yang selama ini hanya mengenal darah dan kuasa kini bertekad merebut kembali segalanya—istrinya, anak-anaknya, keluarga yang tak pernah ia impikan. Tapi cinta tak bisa dibeli, tak bisa dipaksa, dan tak bisa direbut dengan ancaman. Untuk memiliki hati Saras, sang mafia harus belajar menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seorang penguasa: seorang pria yang layak dicintai.
Di antara dendam masa lalu, musuh yang mengintai, dan rahasia keluarga yang mematikan, mampukah luka yang dulu berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 09. MASALAH BERTAMBAH
Nael tersenyum melihat Karlo begitu putus asa, begitu bersungguh-sungguh ingin menolong gadis itu. Ia menggeleng, tapi kisah yang diceritakan Karlo terasa menyedihkan bahkan baginya. Dengan suara tenang ia berkata.
"Karlo, tak perlu kau beri aku data apa pun. Aku akan mempercayaimu, dan kuharap ini tak menimbulkan masalah, karena kalau sampai merepotkanku, takkan ada lagi bantuan untukmu. Sekarang keluarlah, dan kau sendiri yang menelepon rumah sakit. Bicaralah dengan direkturnya, katakan apa yang kau inginkan untuk gadis itu. Tegaskan pada direktur bahwa ini perintah dariku dan tak seorang pun boleh mengganggunya. Suruh ia mengirimimu laporan setiap bulan, supaya kau sendiri yang memantau perkembangannya. Mulai hari ini, itu jadi urusanmu. Kau paham, kan?"
"Terima kasih, Bos. Saya berjanji takkan ada masalah, saya sendiri yang akan bertanggung jawab atas perempuan itu."
Karlo keluar dari ruang kerja, meninggalkan Nael sendirian. Begitu sendiri, Nael sedikit mengendur. Ia merebahkan diri di sofa ruang kerjanya dan mulai mengenang gadis itu. Anehnya, kenangan yang paling sering menyeruak ke kepalanya adalah saat ia mendengar gadis itu menangis di kamar mandi. Kenangan itu menyiksanya, membuat suasana hatinya kacau. Ia tak sanggup melawan rasa bersalahnya sendiri, dan itu membuatnya begitu terpuruk. Suasana hatinya buruk, segala hal membuatnya kesal, dan ia selalu berakhir membentak orang yang paling tak pantas dibentak, melampiaskan kekesalannya pada mereka yang tak bersalah.
Nael ingin rasa bersalah itu berakhir. Ia terus mengulang dalam hati, "Ini bukan salahku, pahamilah baik-baik. Dia yang memutuskan, aku tak memaksanya. Hati nurani sialan, mengertilah sudah."* Setelah merapal kata-kata itu dalam benaknya, ia beralih memikirkan, "Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah sebulan lebih satu minggu sejak semua itu terjadi, sama lamanya aku tak tahu kabarmu. Anehnya, aku hanya mengenalmu beberapa jam. Beberapa jam itu saja sudah cukup untuk membuatmu menyusup ke dalam hati nuraniku, perempuan bodoh. Andai aku tahu bahwa kau akan menjadi karmaku, aku bersumpah, begitu melihatmu, aku akan berbalik dan menjauh darimu."* Ia selalu memejamkan mata, tenggelam dalam kenangan—dari suara tangisnya, hingga betapa nikmatnya bersamanya.
Nael berpindah-pindah dari marah menjadi terangsang, dan selalu berakhir dengan penyesalan, dengan rasa bersalah. Begitulah setiap hari, sejak ia membuka mata sampai ia terlelap. Tapi ini masalah lain lagi: mimpinya selalu berakhir pada gadis itu, pada kenangannya, sehingga ia tak bisa tidur nyenyak, tak bisa beristirahat. Ia terpaksa memeriksakan diri ke dokter, dan kini ia bergantung pada pil agar bisa tidur. Baginya, hari-hari berubah menjadi kepahitan. Sejak ia meninggalkan gadis itu, ia tak menemukan ketenangan. Ia menjelma menjadi pria yang getir, murung, dingin—lebih parah dari sebelumnya. Kali ini jauh lebih buruk: ia tak menoleransi kesalahan, semakin haus darah terhadap musuh-musuhnya. Dan kali ini tak ada musuh sepele; siapa pun ia, Nael akan menghadapinya dan membuatnya menderita sampai nyawanya melayang.
Karlo langsung menelepon direktur rumah sakit. Secara harfiah ia memerintahkan agar Saras diberi kontrak tetap, memerintahkan agar tak seorang pun boleh mengganggunya dan ia harus mendapat perlakuan yang adil sebagaimana pekerja biasa. Gajinya akan tetap sama sampai ia memperoleh ijazah, di mana status kerjanya kelak berubah menjadi seorang dokter. Sang direktur menjadi sangat gugup mendengar perintah itu, dan dikuasai rasa takut ia berkata.
"Pak, tolong sampaikan pada Bos, saya tidak tahu bahwa ia salah satu orang yang dilindungi Bos. Kalau saya tahu, tak akan pernah saya biarkan ada yang mengganggunya. Saya tahu dokter itu memang agak keras padanya, tapi mohon dimengerti, ia sedang jatuh cinta—ia hanya ingin gadis itu pergi dari rumah sakit karena tak tahan melihatnya. Tapi saya tidak memecatnya. Saya bilang gadis itu pekerja yang baik, saya tak bisa memecat orang yang tahu betul betapa hebatnya ia sebagai dokter, hanya gara-gara masalah pribadi. Saya sudah menjadi direktur yang baik. Tolong sampaikan pada Bos, dan saya berjanji akan lebih memperhatikan. Saya tak akan lagi membiarkan perasaan pribadi mengendalikan saya."
"Omong kosong apa yang kau ucapkan? Bagaimana bisa kau membiarkan salah satu dokter mengintimidasi dokter lain? Sebaiknya kau hentikan ini dan jangan sampai terulang. Satu lagi, kirimkan ke nomor ini laporan bulanan tentang bagaimana ia bekerja dan bersikap. Bersungguh-sungguhlah, karena aku akan tahu kalau kau berbohong."
Setelah berkata begitu, Karlo menutup teleponnya, dan sejak itu ia justru semakin penasaran pada gadis itu. Mulai hari itu ia selalu memperhatikannya, memeriksa setiap laporan yang dikirim dokter itu, memastikan tak ada yang mengganggu dan semua menghormatinya.
Ketika Saras selesai menjalani USG, ia berpamitan pada kedua dokter itu, mengucapkan terima kasih, lalu pulang ke apartemennya. Ia mampir memeriksa si pemuda, menyuntikkan antibiotik, lalu langsung pulang. Hari belum terlalu larut, matahari pun belum tenggelam, tapi ia sudah tak keluar lagi sama sekali. Ia merebahkan diri, menangis sepuas-puasnya, tak mau makan apa pun, dan hanya terbaring di sana sampai akhirnya tertidur.
Keesokan paginya ia menjalani rutinitasnya. Ia mampir menengok si pemuda, lalu berangkat ke rumah sakit. Begitu ia tiba, petugas HRD sudah menunggunya. Petugas itu membawanya ke kantornya dan menyerahkan kontrak yang baru—sesuatu yang membuat Saras sangat bahagia. Kini ia punya pekerjaan tetap, dan tak ada lagi yang penting selain menabung untuk kelahiran bayi-bayinya, agar siap menghadapi saat itu.
Saras tak jadi membayar biaya ujian profesi. Ia merasa itu percuma; ia tak bisa menghabiskan sedikit uang yang dimilikinya untuk itu. Ia harus menabung sebisa mungkin untuk berjaga-jaga. Kini ia sendirian, tak ada seorang pun yang bisa menariknya keluar dari masalah, dan sebentar lagi ia akan menggendong dua bayi yang sepenuhnya bergantung padanya. Ia menanamkan tekad dalam diri, bahwa dirinya sendiri tak lagi penting—hanya bayi-bayi itu. Sejak hari itu, ia berhenti merasa; ia tak membiarkan perasaannya menguasainya, apalagi kesedihan. Ia tak mau ada apa pun yang membahayakan bayi-bayinya. Sejak saat itu ia mengabdikan diri untuk bekerja lalu pulang ke rumah, tapi keadaan mulai berubah menjadi lebih baik untuknya.
Di rumah sakit, sang dokter dan Marisa mulai menjaganya. Setiap hari mereka memastikan Saras makan bersama mereka, meminum vitaminnya, dan mendapatkan segala yang dibutuhkan untuk kehamilannya. Keduanya menjadi sahabat sejatinya, dua orang yang merawatnya, yang selalu memperhatikannya dan apa pun yang ia butuhkan.
Di apartemen, para penghuni mulai mencarinya untuk minta pertolongan atas penyakit mereka. Dila menyebarkan kabar bahwa Saras dokter yang luar biasa, dan itu membuat banyak orang datang minta diperiksa—sesuatu yang membuat semua orang mulai menyayanginya dan makin menjaganya. Ketika semua tahu tentang kehamilannya, Anto mulai memandangnya dengan sinis dan hendak mengusirnya, tapi sebagian besar penghuni bersatu mencegahnya, terutama si pemuda yang pernah ia tolong. Itu momen yang mencemaskan bagi Saras, tapi akhirnya semua berakhir baik—walaupun sejak hari itu Anto mulai memandangnya rendah, menganggapnya perempuan gampangan dengan reputasi buruk.
Saras mengabaikannya. Setiap kali datang atau pergi, ia tetap menyapanya dengan hormat, meski Anto tak menjawab. Setiap kali pulang dari rumah sakit, sudah ada orang menunggunya untuk diperiksa. Saras mulai memahami sistem rumah sakit dan mulai membawa obat-obatan seperti untuk flu, demam, dan penyakit-penyakit ringan, yang ia berikan pada para penghuni yang sakit. Marisa, yang menyadari apa yang dilakukan Saras, mulai membantunya. Pada hari liburnya, Marisa ikut ke tempat Saras untuk menangani para ibu hamil atau penyakit jenis lain. Itu membuat mereka makin akrab, sampai-sampai Marisa terkadang menginap di tempat Saras, membawa kasur lipat, selimut, dan bantal.
Dokter yang dulu sering mengganggunya sudah meminta maaf. Tapi begitu ia menyadari kehamilan Saras, ia mulai menyebar rumor di rumah sakit yang menggambarkannya sebagai perempuan tak benar. Di antara rumornya, ia mengatakan bahwa Saras sendiri tak tahu siapa ayah bayinya, itu sebabnya tak ada seorang pun di sisinya, bahwa ia sudah tidur dengan begitu banyak pria sampai dokter itu sendiri menolaknya ketika menyadarinya. Rumor-rumor ini mulai membuat banyak pekerja mengganggu Saras dengan sindiran atau ajakan tak senonoh. Sebagian besar perempuan mulai memperlakukannya dengan buruk, memercayai rumor itu, menganggapnya perempuan gampangan yang bejat.
Saras mengabaikan mereka semua. Ia selalu berkata pada dirinya sendiri, ini tidak benar, dan aku tahu itu; apa pun kata orang lain tak penting. Begitulah tiga bulan kehamilannya berlalu. Ia sudah memasuki bulan keempat ketika suatu hari ia berpapasan dengan dokter yang mengganggunya itu di pintu masuk rumah sakit. Dokter itu berdiri di depannya, menghadang jalannya, hendak menggodanya, lalu berkata dengan nada mengesalkan.
"Kau masih di sini juga? Setelah semua orang di rumah sakit tahu perempuan macam apa kau ini, kalau aku jadi kau, aku akan tahu malu dan tak kembali lagi. Tapi tentu saja, kau perempuan tak tahu malu, yang tak kenal rasa malu. Saras, begitu bayi haram-mu lahir, entah lelaki atau perempuan, carilah aku. Aku bersedia membayar tarifmu untuk menghabiskan waktu sebentar bersamamu."
Saras merasa malu mendengarnya dan berusaha menghindarinya, tapi dokter itu tak membiarkannya, terus menghalangi jalannya. Tapi yang membuatnya makin merasa terpuruk adalah para penonton yang menyaksikan dan mendengarkan mulai tertawa—mereka rekan-rekan kerjanya sendiri: para dokter, perawat laki-laki dan perempuan, petugas kebersihan. Ia tak tahu harus membalas apa. Ia tak mau ada masalah di tempat kerjanya, ia tak sanggup menanggung risiko kehilangannya. Sekuat apa pun ia ingin membungkam dokter itu, meneriakkan kebenaran ke wajahnya, ia berpikir bahwa itu hanya kata-kata dan takkan memengaruhinya. Ia takkan termakan provokasi yang bisa membuatnya dipecat. Ia menatap dokter itu dengan tatapan jijik dan marah, berusaha tak terpancing, tak membiarkan dirinya diseret ke dalam masalah.