Pernikahan Sora dan Rian terancam hampa akibat dinginnya sikap sang suami. Di tengah kesepian yang menghimpit, hadir Aris, sahabat masa kecil Rian yang perhatian dan selalu ada. Sentuhan lembut dan kehangatan Aris perlahan mengikis benteng pertahanan Sora. Sebuah kisah tentang godaan terlarang, dilema kesetiaan, dan gairah yang membakar di balik pintu tertutup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEDATANGAN ARIS
"Aku suamimu, Ra. Kenapa sih kamu makin dingin gini?"
Suara Rian menggema pelan di dalam kamar tidur berukuran luas itu. Udara dingin dari pendingin ruangan terpancar konstan, menusuk permukaan kulit Sora yang hanya terbalut gaun tidur satin berwarna krem.
Sora tidak langsung menjawab. Tangannya berhenti menggerakkan sisir di rambut hitamnya yang terurai. Ia menatap bayangan Rian dari cermin meja rias. Pria yang telah menjadi suaminya selama tiga tahun itu sedang melonggarkan ikatan dasi, memunggungi Sora dengan napas yang teratur namun terasa begitu jauh.
Sora meletakkan sisirnya ke atas meja kaca dengan gerakan sepelan mungkin, seolah takut suara ketukan kecil itu akan memecahkan keheningan tipis di antara mereka.
"Aku nggak pernah dingin, Rian. Kamu aja yang nggak pernah ada buat ngelihat aku."
Rian menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan, menatap Sora dengan alis terangkat tipis. Ada guratan kelelahan di wajah tampannya, namun ada juga selapis ketidakpedulian yang sudah sangat dihafal oleh Sora selama setahun belakangan ini.
"Kamu mulai lagi?" Rian menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang lebih terdengar seperti cemoohan halus. "Ra, aku kerja seharian. Mengurus bisnis yang makin berkembang itu butuh energi. Begitu pulang, aku cuma mau istirahat, bukan mendengarkan drama tanpa alasan."
Sora membalikkan badannya di kursi rias, menatap Rian secara langsung. Mata beningnya menyimpan rasa perih yang sudah terlalu lama ditahan.
"Drama?" bisik Sora pelan.
"Minta suamiku buat sekadar duduk sepuluh menit, nanya hariku gimana, atau makan malam bareng tanpa pegang ponsel... itu kamu sebut drama?"
"Jangan kekanak-kanakan," sahut Rian dingin sambil melepas kemeja putihnya dan melemparnya sembarangan ke atas sofa.
"Aku kerja buat siapa? Buat kamu juga, kan? Fasilitas rumah ini, baju-baju kamu, semuanya dari mana kalau bukan dari keringatku?"
Sora membisu. Kalimat itu selalu menjadi perisai utama Rian. Seolah-olah kecukupan materi bisa menggantikan rasa sepi yang menggerogoti jiwanya setiap malam.
Rian melangkah menuju kamar mandi tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut. Pintu kayu jati itu tertutup rapat, disusul suara gemericik air shower.
Sora menyandarkan punggungnya pada kursi rias. Dada terasa sesak, seakan oksigen di dalam kamar mewah ini mendadak menyusut.
Ia menatap deretan foto pernikahan mereka yang tergantung rapi di dinding. Di foto itu, Rian tersenyum lebar sambil merangkul pinggangnya. Dulu, usapan tangan Rian di punggungnya selalu terasa hangat dan penuh cinta. Kini, jemari itu bahkan jarang sekali menyentuh kulitnya.
Pagi harinya, suasana di area meja makan yang dilapisi marmer putih terasa begitu formal dan sepi. Suara satu-satunya yang terdengar hanyalah denting sendok Sora yang beradu pelan dengan piring porselen, serta ketukan jari Rian pada layar tablet kerjanya.
Sora memperhatikan suaminya yang menyesap kopi hitam tanpa gula. Penampilan Rian selalu sempurna—setelan jas disetrika rapi, rambut ditata klimis, dan aroma parfum maskulin yang mahal. Namun bagi Sora, pria di hadapannya ini tak ubahnya seorang asing yang kebetulan berbagi atap dengannya.
"Rian," panggil Sora lembut, berusaha mencairkan kebekuan. "Hari Sabtu ini kamu ada acara? Bisakah kita keluar sebentar? Sudah lama kita tidak—"
"Sabtu ini aku ada golf sama klien penting, Ra," potong Rian cepat tanpa mengalihkan pandangan dari tabletnya. "Lalu malamnya ada jamuan makan malam bisnis di Hotel Grand Hyatt."
"Oh... begitu," gumam Sora pelan. Ia menunduk, memainkan sendoknya. "Ya sudah kalau begitu."
Rian mendongak sejenak, melihat raut wajah istrinya yang redup. Ada sedikit rasa tidak nyaman yang melintas di matanya, namun hal itu segera menghilang ketika ponsel di samping piringnya berdering keras.
Nama penelpon yang tertera di layar membuat raut wajah Rian berubah drastis dalam sekejap. Ketegangan di wajahnya luntur, berganti dengan senyuman lebar dan binar antusias yang sudah sangat lama tidak Sora lihat.
"Aris! Wah, gila kamu! Akhirnya balik juga ke Indonesia secara permanen!"
Rian tertawa lepas saat menyapa orang di ujung telepon. Suaranya penuh dengan kehangatan dan semangat—sebuah nada suara yang terasa sangat asing di telinga Sora.
Sora menghentikan kunyahannya. Nama itu... Aris.
Sora tahu betul siapa Aris. Dia adalah sahabat karib Rian sejak masa kuliah dulu. Pria yang sangat dipercaya oleh Rian, yang beberapa tahun terakhir memilih menetap di Singapura untuk membangun ekspansi bisnis propertinya. Selama ini Sora hanya mendengar ceritanya dari Rian dan sesekali melihat fotonya di media sosial, namun mereka belum pernah berhadapan secara langsung secara intim dalam suasana santai.
Rian mendengarkan jawaban dari lawan bicaranya di telepon sambil terkekeh
pelan.
"Nggak usah ke kantor dulu, Bro. Langsung aja datang ke rumahku siang ini. Makan siang di sini!"
Rian terus berbicara dengan nada akrab.
"Iya, Sora ada di rumah kok. Nanti aku usahakan keluar sebentar dari kantor jam satu siang buat makan bareng kalian. Kita celebration kecil-kecilan buat kepindahan kamu kembali ke Jakarta."
Setelah mengucapkan beberapa kata penutup, Rian mematikan sambungan telepon. Ia menatap Sora dengan wajah yang tampak jauh lebih segar dari biasanya.
"Ra," panggil Rian dengan nada perintah yang terselubung kehangatan mendadak.
"Aris sudah resmi balik ke Jakarta. Siang ini jam satu dia mau mampir ke rumah kita."
Sora mengedipkan matanya.
"Siang ini? Tapi ini sudah jam sembilan, Rian. Aku belum belanja bahan makanan yang cukup istimewa."
"Minta Asisten Rumah Tangga pesan bahan segar sekarang," potong Rian santai.
"Tolong masak makanan terbaikmu, ya. Aris itu sahabat terbaikku, udah kaya saudara sendiri. Aku mau kita menyambut dia dengan sangat baik."
Sora hanya bisa mengangguk pelan. "Baiklah. Aku akan siapkan makan siang untuk kalian."
Rian berdiri dari kursinya, merapikan jasnya, lalu melangkah menghampiri Sora. Ia membungkuk sedikit dan mengecup kening Sora—sebuah kecupan singkat, formal, dan dingin yang terasa seperti kewajiban belaka sebelum berangkat kerja.
"Aku berangkat dulu. Jangan lupa siapkan semuanya sebelum jam satu," pesan Rian sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah.
Pukul setengah satu siang.
Dapur bersih bernuansa putih itu dipenuhi aroma harum masakan. Sora sibuk menata steak daging sapi, pasta olahan buatan sendiri, dan salad segar di atas meja makan panjang. Ia mengenakan gaun kasual berwarna hijau zamrud yang simpel namun membingkai lekuk tubuhnya dengan sangat anggun.
Rambutnya diikat longgar ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang menjuntai halus di leher jenjangnya.
Meski lelah setelah memasak selama berjam-jam, ada sedikit rasa berdebar di dada Sora. Bukan karena ia antusias menyambut tamu, melainkan karena suasana rumah yang biasanya sepi bagai kuburan ini mendadak akan diisi oleh kehadiran orang baru.
Pukul satu kurang sepuluh menit, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti di pelataran depan rumah. Sora mengelap tangannya dengan serbet bersih, lalu berjalan menuju pintu utama untuk membukakannya.
Ketika pintu kayu jati yang kokoh itu dibuka, sosok pria tinggi tegap berdiri di ambang pintu.
Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru tua yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan lengan yang kokoh dan jam tangan kulit berdesain elegan. Wajahnya memiliki rahang yang tegas, mata cokelat gelap yang dalam, serta ketampanan matang yang berbeda jauh dari Rian. Pria itu memegang seikat bunga tulip putih segar dan sebuah kotak kue berkualitas tinggi.
Pria itu adalah Aris.
Untuk beberapa detik, keduanya saling terpaku. Tatapan mata Aris jatuh tepat pada mata Sora. Ada kilatan aneh yang melintas di manik mata pria itu—sebuah kombinasi antara terkejut, kagum, dan sebuah dorongan emosi mendalam yang tak bisa dijelaskan.
Aris tidak segera mengucapkan salam layaknya tamu biasa. Ia menatap Sora dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang begitu intens, hangat, dan seolah bisa membaca seluruh rasa sepi yang tersimpan rapat di balik senyuman tipis wanita di hadapannya.
Angin sepoi-sepoi bertiup pelan, mengibarkan helai rambut Sora. Tepat saat itu, ponsel di saku gaun Sora bergetar. Sebuah pesan singkat dari Rian masuk:
"Ra, maaf banget. Ada meeting darurat sama investor dari Jepang. Aku nggak bisa pulang makan siang. Tolong temani Aris makan ya, jangan bikin dia canggung."
Sora membaca pesan itu dengan dada yang berdenyut nyeri. Rian lagi-lagi ingkar janji dan meninggalkannya sendirian.
Sora mendongak kembali, mendapati Aris masih menatapnya dengan penuh perhatian. Aris melangkah satu tapak lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka. Aroma wangi sitrus dan kayu cendana yang sangat maskulin dari tubuh Aris merayap masuk ke indra penciuman Sora, membuat jantung wanita itu berdetak lebih cepat dari biasanya.
Aris mengulurkan ikatan bunga tulip putih itu langsung ke jemari Sora. Saat jemari mereka tak sengaja bersentuhan, sebuah sengatan hangat yang asing menjalar dari kulit tangan Sora terus hingga ke dasar dadanya.
Aris menundukkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Sora yang tampak goyah.
"Rian bilang dia nggak bisa pulang, ya?"
Sora terkejut. "Kamu... kamu tahu dari mana?"
Aris tersenyum tipis—sebuah senyuman hangat penuh simpati yang belum pernah Sora dapatkan dari suaminya sendiri selama bertahun-tahun. Jemari Aris merengkuh pelan jemari Sora yang masih memegang tangkai bunga, memberikan usapan lembut yang sangat halus namun sanggup membuat napas Sora tertahan di tenggorokan.
"Karena aku tahu betul gimana tabiat Rian, Sora. Dan jujur... aku senang dia nggak ada di sini siang ini."