NovelToon NovelToon
SANTANA MILIK SENJANA

SANTANA MILIK SENJANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: little ky

Kisah cinta yang tak usia saat masih berseragam abu-abu, akankah bisa terjalin kembali? Disaat keduanya sudah tak lagi sama, namun hati tak bisa dibohongi, cinta mereka nyatanya masih ada.
Namun, disaat cinta kembali mengalahkan logika, keadaan justru menyudutkan keduanya.
Akankah SANTANA masih bisa menjadi milik SENJANA?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon little ky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menolak mengakui

Jamal dan Miduri sepakat membawa Senjana ke rumah sakit yang dulu menjadi tempatnya berobat selama Senjana depresi. Rekam medis Senjana sudah tersimpan disini, akan lebih mudah untuk memeriksanya nanti. Meskipun berbeda dokter, tentu saja rekam medis mempengaruhi resep yang akan diberikan oleh dokter.

Cukup lama sih menunggu, karena pasien di rumah sakit ini sangat ramai. Selain fasilitas lengkap, mereka juga memiliki program pemeriksaan gratis bagi keluarga kurang mampu, dengan menyertakan keterangan tidak mampu dari desa. Jadilah banyak yang memeriksakan diri ke sini.

Dokter spesialis di rumah sakit ini juga lengkap, buka selama 24 jam, IGD melayani pasien gawat darurat selama 24 juga. Meskipun rumah sakit swasta, tapi program yang mereka buat membuat orang-orang tidak ragu memeriksakan diri di rumah sakit ini.

" Nona Senjana Radiyaksa. " suster jaga memanggil nama Senjana.

Ditemani Miduri, Senjana memasuki ruangan dokter umum yang sebenarnya sudah tak asing lagi bagi Senjana. Dr. Dirgantara namanya, usianya sudah banyak, mungkin saat ini sudah di usia kepala limaan.

" Kenapa nih? Kangen sama saya atau gimana, Sen. " sapa dokter Dirga.

" Ck.. Kangen kok sama dokter sih. Mendingan sama asisten dokter yang dulu itu, ganteng mana masih muda.. "

" Aduuhhhhhh.. " jerit Senjana yang merasakan panas perih di pahanya. Rupanya Miduri mencubitnya.

" Apa sih mbak Mi? panas tahu paha ku. " protes Senjana.

" Yang sopan kamu sama yang tuaan. " tegur Miduri lirih.

" Nggak apa mbak.. Saya sudah biasa bercanda dengan Senja. Tapi ngomong-ngomong mbak ini siapanya Senja ya? " tanya dokter Dirga yang rasanya baru pertama kali melihat sosok Miduri.

" Dia anaknya mbok Jumi, dok. " Senjana yang menjawab.

" Ohhhhhh.. Ya.. Ya... "

" Ayo baring dulu, Sen.. " Setelah dibantu suster, Senjana berbaring di bed pasien untuk diperiksa.

" Apa nih keluhannya? " tanya dokter Dirga sembari tangannya memegang stetoskop dan mulai memeriksa Senjana.

" Rasanya agak sesek dok, sama nggak nyaman aja di bagian dada. " ujar Senjana.

Dokter Dirga mengangguk, lalu meminta suster membantu Senjana turun dari bed. Mereka pun kembali duduk, lalu dokter Dirga mulai menuliskan resep untuk Senjana.

" Lagi mikirin apa sih, Sen? " tanya dokter Dirga.

" Nggak mikir yang berat-berat kok, dok. " jawab Senjana yang tahu kemana arah pembicaraan dokter Dirga.

" Perasaan nggak nyaman kamu itu karena sesuatu yang kamu pikirkan terlalu dalam, atau ada sesuatu yang mengganggu kamu sampai akhirnya kamu tertekan dan berujung stres, Sen. "

" Kamu coba itu cari kegiatan yang bikin kamu merasa tenang. Coba yoga deh, itu bisa bantu pikiran kamu tenang. Atau kegiatan lain yang nggak membebani kamu... " Senjana mengangguk paham.

" Resepnya diambil di apotik, ya.. Kembali lagi satu minggu ke depan. " dokter Dirga menyerahkan selembar resep pada Senjana.

" Makasih, dok. "

Berdua, Senjana dan Miduri keluar dari ruangan dokter, disambut Jamal yang penasaran sebenarnya Senjana sakit apa. Apa otaknya yang sakit makanya sengklek begitu kelakuannya.

" Kata dokter sakit apa, Sen? " Jamal langsung melangkah maju berdiri tepat di depan Senjana.

" Stres mas.. Kata dokter disuruh yoga biar pikirannya tenang... " jawab Senjana.

" Sekarang mas Jamal ambil obat di apotik, aku sama mbak Mi mau ke mall yang ada di depan. " Senjana main oper resep ke tangan Jamal.

" Lho.. Lho.. Maksude piye iki? " Jamal toleh kanan kiri.

" Maksude, aku sama mbak Mi mau shoping, trus mas Jamal yang ambil obatnya. Aku mau beli baju buat yoga. " lalu Senjana menyeret Miduri pergi begitu saja, meninggalkan Jamal yang merana.

*******

Rahayu nampak sibuk di dapur, bersama pelayan yang membantunya mempersiapkan hidangan makan malam untuk nanti. Lalu tiba-tiba datang Yara yang langsung merengek seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan.

Rahayu pun segera mengajak Yara masuk ke kamar anak gadisnya itu karena tidak ingin membuat pelayan di dapur mendengarkan apa yang akan dibicarakan mereka berdua. Rahayu sendiri yakin kalau Yara pasti akan merengek agar menentang keputusan Santana yang ingin membatalkan pertunangan mereka.

" Lain kali nggak gitu dong, dek. Udah gede masa ngrengek kaya anak kecil di depan mbak-mbaknya sih. Ibu kan jadi malu. " tegur Rahayu yang jengkel dengan rengekan Yara yang tak tahu tempat.

" Habisnya ibu gitu sih, masak ibu nggak ngedukung adek sama sekali sih. " protes Yara yang wajahnya sudah mau menangis.

" Nggak ngedukung gimana? Dua tahun lho, ibu biarin kamu seenak jidat sendiri. Trus sekarang kalau jadinya begini ya resiko to, dek. " Rahayu enggan membela Yara.

" Ibuk... " rengek Yara.

Rahayu tenangkan hatinya yang bergejolak dengan mengambil nafas yang dalam. Sudah waktunya dia memberikan pandangan hidup pada Yara. Meskipun jika dia membicarakan hal ini, yang ada luka yang dia kubur dalam bisa kembali timbul.

" Dek.. Mau sampai kapan kamu kekeh mempertahankan hubungan nggak sehat kamu dengan Santana? Kamu nggak bisa lihat to kalau Santana sebenarnya tertekan, dek. " Yara melengos, menolak mengakui ucapan ibunya.

" Dulu ibu juga kaya kamu, dek. Percaya kalau semuanya akan baik-baik aja kalau ibu sama ayahmu sama-sama... "

" Ibu... " Yara langsung memotong ucapan ibunya. kalau sudah membahas ayah mereka, Yara takut ibunya kembali merasakan sakit pengkhianatan ayahnya dulu.

" Nggak.. Diem dulu, kamu. Ibu harus ngomong ini agar apa yang kejadian sama ibu nggak kejadian sama kamu, dek.. "

" Ayahmu selalu bersikap baik sama ibu, dek. Bahkan saat ayahmu sudah sama perempuan itu, sikap ayahmu nggak pernah berubah. Dia perhatian sama ibu, tetap memprioritaskan ibu lebih dari apapun tapi apa kamu tahu, tiap ibu lihat mata bapak, yang kelihatan cuma kosong... "

" Ayah lihat ibu, tapi bukan ibu yang ada di mata ayah. Sampai akhirnya ibu lihat sendiri, cara ayah kamu mandang perempuan itu, dek.. "

" Hidup.. Tatapan mata ayah kelihatan hidup sekali, dan itu nggak pernah ibu lihat selama ini. " gremet-gremet perih mulai kembali dirasakan Rahayu. Dia abaikan, demi putrinya agar tidak salah mengambil langkah.

" Kamu tahu kan, sejak dulu Santana itu sudah suka sama cewek lain. Tapi kamu manfaatin rasa bersalah Santana demi mengikat dia. Lalu sekarang ibu tanya, kamu bahagia??? "

" Jangan bohong sama ibu dengan bilang kamu bahagia, karena yang ibu lihat nggak begitu. "

Yara merasa ditampar oleh kata-kata ibunya. Benar kata Rahayu, bahwa sebenernya selama dua tahun ini Yara tidak bahagia. Dia cuma terus berusaha meyakinkan diri sendiri kalau semuanya akan baik-baik saja selama Santana menjadi tunangannya. Persis seperti apa yang dirasakan oleh ibunya saat bersama ayahnya sendiri.

Selama ini Yara hanya menolak mengakui karena dia sangat mencintai Santana dan baginya cinta itu harus memiliki. Dia abai pada ucapan Santana kalau pria itu sudah memiliki seseorang yang dia cintai. Karena kenyataannya, Santana tidak bersama wanita itu. Kalau cinta, kenapa mereka harus berpisah.

Dari sanalah Yara menutup mata dan telinganya. Mengabaikan semua yang sebenarnya dia lihat. Mengabaikan perasaan Santana, demi memuaskan egonya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!