Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Titik lemah.
"Saya belum mati tapi kamu sudah begini."
Langkah kaki Bang Oscar sungguh terasa berat saat ia melangkah keluar pintu rumah dinas itu. Tak menoleh ke belakang sekalipun, meski isak tangis Pitta masih terdengar menusuk telinganya. Setiap langkah itu terasa seperti menginjak pecahan kaca sepecah hatinya saat ini.
"Abang.. Pitta benar-benar minta maaf." Pitta hendak berlari menyusulnya tapi Mama Dilan memeluknya.
"Sabar dulu, nak. Beri suamimu ruang dan waktu. Situasi ini memang tidak baik." Kata Pak Dante. "Mama tolong tenangkan Pitta, Satria ikut Papa..!!!!"
Bang Satria pun mengikuti langkah Papanya.
//
"Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan, Satria?????" Ucap kesal Pak Dante.
"Saya tau, Pa. Saya menyesal."
"Sekarang bagaimana, Satria?? Abangmu yang biasanya brutal menghajar orang, sekarang memilih diam. Diamnya laki-laki seperti itu berkali lipat lebih bahaya. Kenapa sebelum ada kejadian ini, kau tidak memikirkan baik dan buruknya????" Bentak Pak Dante. "Kamu benar-benar keterlaluan."
"Besok saya temui Abang, saya akan selesai semua. Apapun yang terjadi, saya akan tanggung jawab dengan apapun yang sudah saya lakukan." Jawab Bang Satria.
"Oohh jelas. Kamu laki-laki, kan??? Selesaikan semua perkara yang sudah kamu buat." Balas Pak Dante tegas.
-_-_-_-_-
Siang berganti sore, sore berganti malam lalu malam turun larut perlahan. Di meja kerjanya, tumpukan laporan belum tersentuh. Bang Oscar masih menyibukkan diri dengan urusan kompi, berbicara tegas kepada prajuritnya, memeriksa pos jaga, memantau secara langsung gudang logistik dan senjata, ia memastikan segala sesuatu berjalan teratur rapi.
Di hari ini seluruh anggota melihat Danki mereka yang tangguh, tegas, dan berwibawa. Tak ada yang tau bahwa di balik seragam rapi dan wajah yang tenang itu, hatinya remuk redam.
Jam di dinding menunjukkan lewat pukul dua belas malam. Ruang kerjanya yang redup remang-remang menerangi ruangan, Tiba-tiba rasa perih yang teramat sangat menyerang perutnya. Ia meringis kesakitan sesekali menggigit bibirnya. Baru saat itu Bang Oscar menyadari terakhir kali makan adalah pagi kemarin. Rasa sakit di dadanya ternyata jauh lebih kuat daripada rasa lapar, sampai ia lupa bahwa tubuhnya pun juga butuh dipedulikan.
Bang Oscar kembali menyandarkan punggungnya, ia memejamkan mata sejenak. Bayangan wajah Pitta yang berlutut di kakinya tadi tak lepas dari pandangannya. Hatinya berteriak ingin menenangkan, ingin memeluk istrinya itu dan berkata bahwa ia tidak benar-benar mengusirnya. Tapi bayang wajah sang adik terus datang menghantui, bayangan Satria yang memeluk istrinya, mencium keningnya, bahkan menggantikan dirinya 'mendekap' Pitta saat dirinya tak berdaya di balik jeruji sel membuat sayatan luka batinnya semakin terasa pedih.
"Aku menikahinya, memberikan kehormatan yang layak. Kenapa Pitta juga tega menerima Satria??" Gumamnya.
...
Suara pintu ruang kerjanya diketuk pelan. Bang Oscar tak menoleh, hanya menegakkan punggungnya yang mulai terasa lelah, matanya mulai panas, kepalanya pun pening.
"Masuk..!!!" Ucapnya datar, suaranya sedikit berat karena belum ada yang terucap selain perintah dinas sejak tadi.
Pintu terbuka. Bukan anggota yang melapor, melainkan Bang Satria. Ia melihat handuk terserak sembarangan, ruangan itu redup, dingin namun pekat dengan asap rokok. Tangan kanannya menggenggam bungkusan nasi, tangan kirinya memegang botol air mineral. Langkahnya pelan, hati-hati, seakan takut mengusik ketenangan Abangnya.
Dari kursinya, Bang Oscar melirik adiknya yang ia sangka adalah Prada Syafi'i yang ia minta membelikan makan malam dan jahe hangat.
"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini? Pergi..!!! Saya tidak mau melihatmu sekarang." Usir Bang Oscar.
"Abang belum makan sejak kemarin. Abang bisa sakit. Makan dulu ya, Bang." Kata Bang Satria.
"Kamu pikir yang menyakitkan ini hanya perut yang kosong?" Mata Bang Oscar yang merah juga lelah menatap tajam adiknya. Ia berdiri dan mendekat. "Yang kau lakukan itu, seperti menancapkan belati di hati saya lalu kamu belaga seolah tidak tau apapun."
Bang Satria menunduk penuh penyesalan. "Saya salah. Saya tidak punya alasan yang bisa membela diri saya. Saya salah besar. Tapi percayalah... Pitta tidak pernah meminta itu. Dia menolak. Saya yang memaksakan diri. Saya yang tidak tau diri."
"Kamu tau dia milik saya. Kamu tau dia istri saya. Tapi kamu melanggar batasanmu."
"Saya siap menerima apapun hukuman dari Abang. Saya siap pindah ke kompi terjauh, siap dimutasi kemanapun, asal Abang jangan menyalahkan Pitta. Dia tidak bersalah. Semua yang terjadi, murni kesalahan saya yang memanfaatkan ketidak berdayaan nya saat jauh dari Abang" Suara Bang Satria bergetar. "Saya rela kehilangan apapun. Tapi saya tidak tega melihat rumah tangga kalian hancur karena kebo*ohan dan kekhilafan saya sebagai laki-laki."
Bang Oscar memejamkan mata, menelan sakit hati yang ia rasakan. Perutnya kembali terasa nyeri, lebih tajam dari sebelumnya. Ia menyangga kuat tubuhnya pada sisi meja.
"Makan ya, Bang." Bujuk Bang Satria.
Perhatian ini semakin membuat rasa sakit itu terasa menusuk semakin dalam di dada Bang Oscar mendengar pengakuan adiknya. Napasnya berat, tangannya terkepal erat. Emosi yang sudah ia tahan sejak tadi seketika meledak tak terkendali.
Plaaaaakk..
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bang Satria, cukup keras membuat kepala adiknya terayun ke samping. Belum sempat Satria bereaksi, tinju kuat langsung menghantam perutnya.
Buuugghh...
Bang Satria terbatuk-batuk, tubuhnya membungkuk, meringis menahan nyeri yang menjalar, namun ia tidak melawan. Ia tidak mundur selangkah pun. Matanya berkaca-kaca, bukan karena sakit fisiknya, tapi karena ia pantas menerima semua ini.
"Pergi...!!!" suara Bang Oscar semakin berat. "Sebelum saya lupa kalau kau itu adik saya, pergi dari sini sekarang juga...!!!!!"
Prada Syafi'i yang baru sampai di ambang pintu langsung berlari masuk saat mendengar suara gaduh itu. "Danki..!!! Tenang, Danki..!!!" Ia berdiri di antara keduanya, menahan bahu atasannya yang masih di kuasai amarah.
Prada Syafi'i menoleh kepada Bang Satria dengan nada hormat namun tegas. "Mohon ijin, mohon maaf. Sebaiknya Letnan pergi dulu. Biarkan Danki istirahat."
Tak banyak bicara, Bang Satria keluar dari ruangan. Ia hanya mengusap sudut bibirnya yang pecah karena tamparan Abangnya. Lalu menutup pintu ruangan tanpa balasan emosi.
Setelah Satria benar-benar pergi dan hilang dari pandangan, Bang Oscar mendadak ambruk. Kakinya tak lagi bisa menyangga tubuhnya yang luar biasa kelelahan.
"Danki..!!!" teriak Syafi'i sigap menangkap tubuh atasannya yang tegap gagah, kini tubuh itu terkulai lemah jatuh ke lantai. Mata Danki BS penyerang terpejam samar, wajahnya pucat dengan nafas lemah. "Dankiii..!!!!"
Sigap dengan situasi, Prada Syafi'i melapor pada petugas piket depan kesatrian.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍