Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.
Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.
Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.
Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.
Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.
Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?
Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Mendengar Anya berkata seperti itu, Arhan berdiri dari tempat duduknya.
Kursi kayu kecil di samping ranjang itu berdecit pelan saat ia mendorongnya ke belakang. Gelas kopinya yang sudah dingin sedikit bergetar di atas nakas.
"Kalau aku mati, kamu jangan menangis, ya."
Kalimat itu masih menggantung di udara kamar yang temaram. Pelan, serak, tapi jelas sekali di telinga Arhan.
Arhan menghampiri Anya dengan langkah cepat. Ia duduk di tepi ranjang, jantungnya berdegup lagi. Tangannya langsung meraih tangan Anya yang berada di luar selimut.
"An? Anya? Kamu kebangun?"
Tidak ada jawaban.
Di bawah cahaya lampu tidur yang keemasan, Arhan melihat wajah Anya dari dekat. Matanya masih terpejam rapat. Bulu matanya tidak bergerak. Napasnya masih teratur, pelan dan dalam, seperti orang yang tenggelam dalam tidur yang sangat dalam. Bibirnya yang tadi bergerak, kini kembali sedikit terbuka, diam.
Ternyata Anya tengah mengigau.
Ia tidak bangun. Ia tidak sadar. Ia berbicara di dalam tidurnya sendiri.
Arhan mengusap kepalanya pelan. Rambut Anya yang tipis dan agak kering karena obat terasa halus di telapak tangannya. Ia mengusapnya berulang-ulang, dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah takut membangunkan Anya dari mimpi yang entah apa isinya itu.
Bahkan di dalam mimpinya, Anya merasa akan mati dan tidak akan sembuh.
Pikiran itu menghantam dada Arhan lebih keras daripada mimpi buruknya sendiri tadi. Di dalam dunia sadarnya, Anya selalu berusaha tersenyum. Tapi ternyata di dalam mimpinya, di tempat yang paling jujur, Anya tahu. Anya merasa dia akan mati. Anya tidak pernah merasa akan sembuh sama sekali.
Arhan mencoba menahan kembali rasa sakit di dalam hatinya. Rasa sakit itu naik dari perut ke tenggorokan, seperti ingin muntah tapi tidak bisa. Matanya panas. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras agar tidak mengeluarkan suara.
Jangan nangis di depan Anya, bahkan saat Anya tidur. Itu janji kecilnya.
Ia menarik tangan Anya pelan dan mencium punggung tangannya lama. Tangan itu dingin.
"Jangan ngomong gitu, An," bisik Arhan, suaranya hampir tidak terdengar. "Jangan."
Anya masih terlelap, tidak mendengar.
Arhan duduk di tepi ranjang itu beberapa menit, hanya menatap wajah Anya. Memastikan napasnya masih ada, masih teratur. Setelah dadanya terasa sedikit lebih lapang, ia berdiri lagi.
Dia kembali ke laptopnya. Kursi kayu itu kembali berdecit.
Layar laptopnya masih menyala, menampilkan satu kata besar di tengah halaman putih.
BUNGA
Arhan menarik napas dalam-dalam. Panjang, lewat hidung, ia tahan sebentar, lalu ia buang lewat mulut. Ia mengusap wajahnya yang masih basah oleh keringat.
Tangannya kembali di atas keyboard.
Kalau di dunia nyata Anya bahkan di dalam mimpi merasa akan mati, maka di dalam novel ini Arhan harus membuat kebalikannya. Di sini Anya harus hidup. Harus merasa akan hidup selamanya.
Ia mulai mengetik paragraf pertama untuk novelnya. Jari-jarinya bergerak pelan tapi pasti, tidak ragu seperti tadi.
Pagi itu, Bunga bangun lebih dulu daripada matahari. Ia membuka jendela kamarnya, dan angin yang masuk membawa wangi tanah basah. Di taman kecilnya, bunga-bunga yang ia tanam semalam sudah mekar, seolah tidak sabar menemuinya. Bunga tersenyum. Ia tidak sakit. Ia hanya sedang menunggu musim semi datang.
Arhan berhenti mengetik. Ia membaca lagi kalimat terakhir yang ia tulis.
Ia tidak sakit.
Ia menatap Anya yang tertidur di ranjang. Dada Anya naik turun pelan.
Tanpa sadar, waktu berjalan. Kopi di gelasnya sudah benar-benar dingin, meninggalkan endapan hitam di bawahnya. Lampu dapur masih menyala kekuningan di luar kamar. Jam dinding berdetak, menunjukkan pukul tiga, lalu pukul empat.
Kelopak mata Arhan mulai terasa berat. Sangat berat. Tulisannya mulai tidak fokus, hurufnya banyak yang salah ketik. Kepalanya mengangguk beberapa kali, lalu ia tegakkan lagi.
Sampai akhirnya, kepalanya jatuh pelan di atas meja kecil itu, tepat di samping laptopnya yang masih menyala. Napasnya berubah menjadi dengkuran halus. Ia tertidur di depan laptopnya, dengan naskah BUNGA yang baru satu paragraf.
Pagi pun tiba.
Cahaya matahari pagi masuk lewat celah gorden yang tidak tertutup rapat. Garis cahaya kuning jatuh tepat di wajah Arhan. Burung-burung mulai berkicau di luar, di atas pohon mangga.
Dari atas ranjang, terdengar suara pelan.
"Han..."
Arhan tidak mendengar. Ia masih tertidur pulas di kursi kayu, kepalanya miring di atas meja, laptopnya sudah masuk mode sleep.
Suara itu terdengar lagi, sedikit lebih keras, serak karena baru bangun.
"Han, Arhan..."
Arhan terbangun dengan sentakan kecil. Lehernya pegal, punggungnya kaku. Ia mengangkat kepalanya, matanya masih setengah terpejam. Layar laptopnya sudah gelap.
Ia langsung menoleh ke ranjang.
Anya sudah terbangun. Ia duduk bersandar di bantal, rambutnya berantakan, wajahnya pucat tapi matanya terbuka. Ia menatap Arhan.
"Han," panggil Anya lagi, suaranya pelan.
Arhan langsung menghampirinya. Kursi kayu itu sampai terdorong ke belakang.
"Iya, An? Iya? Kamu kenapa? Pusing? Mual?" tanyanya cepat, tangannya langsung memegang dahi Anya untuk mengecek suhu tubuhnya.
Anya menggeleng pelan. Ia tersenyum kecil.
"Minum," katanya.
Arhan langsung meraih gelas air minum putih yang memang selalu ia siapkan di nakas sebelah ranjang. Gelas itu masih penuh dari semalam. Ia membantu Anya duduk sedikit lebih tegak dan memberikan air minum itu pelan-pelan ke bibir Anya.
Anya minum setengah gelas, lalu berhenti. Napasnya agak berat setelah menelan.
"Mau ke kamar kecil," bisik Anya.
Arhan mengangguk tanpa banyak tanya. Ia meletakkan gelas itu kembali, lalu dengan hati-hati menyingkap selimut Anya. Ia memasukkan satu tangannya ke balik punggung Anya dan tangan satunya memegang lengan Anya untuk membantunya berdiri.
Anya dibantu berjalan ke kamar kecil. Langkahnya sangat pelan, kecil-kecil. Setiap langkah seperti butuh tenaga besar. Arhan memeluk pinggangnya erat, menahan sebagian besar berat tubuh Anya agar tidak jatuh. Tubuh Anya terasa lebih ringan dari minggu lalu.
Sampai di depan pintu kamar kecil, Anya masuk pelan.
Arhan menunggu di luar. Ia tidak masuk. Ia bersandar di tembok luar kamar kecil yang catnya sudah agak mengelupas. Kepalanya bersandar di tembok yang dingin. Matanya masih terasa berat, perih karena hanya tidur dua jam di atas meja. Lehernya masih kaku.
Dari dalam, terdengar suara air mengalir.
Arhan memejamkan mata sebentar, hanya sebentar, sambil menunggu.
Pintu kamar kecil terbuka pelan.
Anya selesai. Wajahnya terlihat sedikit lebih segar setelah mencuci muka.
Arhan langsung sigap, menuntunnya lagi. Kali ini Anya tidak mau kembali ke ranjang. Ia menunjuk ke arah dapur dengan dagunya yang kecil.
"Duduk di dapur aja, ya? Bosen di kamar terus," kata Anya.
Arhan menuntunnya duduk di kursi dapur. Kursi kayu yang agak tinggi, yang biasanya Anya pakai untuk mengupas bawang. Ia membantu Anya duduk pelan-pelan, memastikan punggungnya bersandar nyaman di sandaran kursi.
Dapur itu berantakan. Gelas kopi Arhan semalam masih ada di meja.
Anya diam beberapa detik, menatap dapur itu. Menatap kompor yang dingin, menatap rak bumbu yang berdebu, menatap pisau dan talenan yang sudah lama tidak dipakai.
Lalu, saat Anya sudah duduk dengan napas yang masih sedikit terengah, Anya tersenyum lemas. Senyum yang dipaksakan agar terlihat tidak khawatir, tapi matanya terlihat sangat ingin melakukan sesuatu yang normal.
Dia menatap Arhan yang masih berdiri di depannya dengan mata yang masih berat dan rambut berantakan karena tertidur di meja.
"Han," kata Anya pelan.
Arhan belum menjawab. Ia masih menatap Anya, menunggu kalimat selanjutnya, dengan rasa khawatir yang masih menggantung di dadanya.
Anya menarik napas kecil dan berkata,
"Aku ingin memasak untuk kamu, boleh ya?"