NovelToon NovelToon
Mengubah Nasib Dan Berbalik Mencintai Mu

Mengubah Nasib Dan Berbalik Mencintai Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:634
Nilai: 5
Nama Author: senja liana

Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.

Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.

"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Setelah panggilan telepon tersebut, Sagara langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke kediaman Aditama.

Ketika mobil yang ia kendarai sampai tepat di halaman depan kediaman Aditama, Sagara lantas melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan mencari keberadaan Aditama.

"Papa..." panggil Sagara begitu ia melihat Aditama tengah duduk merenung di tepi kolam renang pribadi keluarganya.

Aditama menoleh ke arah sumber suara, begitu suara bariton milik putranya terdengar dan membuyarkan lamunannya.

"Kamu sudah datang?" ucap Aditama dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan oleh Sagara.

"Apa ada sesuatu Pa?" tanya Sagara tanpa basa-basi, yang lantas membuat helaan napas kasar terdengar berhembus dari mulut Aditama.

"Tadi kakekmu datang, dia meminta Papa untuk membatalkan pertunangan antara kamu dan juga Luna. Tidak hanya itu dia juga meminta agar kamu mau menikahi Elika." ucap Aditama dengan nada yang terdengar lirih.

"Lalu apa jawaban Papa? Papa sudah menolaknya bukan?" ucap Sagara dengan raut wajah yang penasaran.

"Tentu saja sudah, tak perlu kamu minta Papa juga sudah melakukannya, hanya saja......" ucap Aditama namun terhenti dengan seketika.

"Hanya apa Pa...." ucap Sagara karena gemas akan ucapan demi ucapan Aditama yang terdengar lesu.

"Dia tahu kalau kita tengah mencari keberadaan Mama, jadi dia menjadikan keberadaan Mama mu sebagai imbalan jika kamu mau menikahi Elika dan putus hubungan dengan Luna." ucap Aditama pada akhirnya yang membuat Sagara menatap tak percaya ke arahnya.

"Pa.... Papa tahu Sagara sudah menyukai Luna sejak lama? Ini satu-satunya kesempatan Sagara, tapi Kakek tua itu ingin merebutnya juga?" ucap Sagara dengan nada yang tak suka.

"Papa tahu....Papa sangat sangat tahu Sagara, untuk itu Papa tidak mengiyakan permintaannya. Kamu tak perlu khawatir untuk hal ini, Papa meminta mu datang hanya untuk memberitahu mu jika nanti Kakek tua itu menemui mu sendiri kamu sudah bersiap akan segalanya." ucap Aditama menjelaskan maksudnya.

"Tapi gak bisa gini juga dong Pa...." ucap Sagara kembali.

Sagara tahu jika saat ini Aditama tengah dilanda kebingungan mencari keberadaan Rania yang tidak tahu pergi kemana, seperti layaknya mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Sagara sadar jika perkataan Razan yang mengatakan akan memberi tahu keberadaan Rania, terdengar seperti oase di tengah gurun yang tandus. Hanya saja apa yang diminta oleh Razan sangat sulit untuk Sagara penuhi.

Keduanya kemudian lantas terdiam beberapa menit seakan tengah menjelajahi pikiran mereka masing-masing. Sampai kemudian Aditama kembali membuka suara.

"Kamu tak perlu goyah, meski kita sudah lama melakukan pencarian dan belum membuahkan hasil hingga kini, hanya saja....perkataan Kakek mu belum tentu kebenarannya. Sebelum Papa menyaksikan sendiri keberadaan Mama mu dengan mata kepala Papa, maka Papa tidak akan pernah percaya." ucap Aditama berusaha untuk meyakinkan putranya.

"Apa Papa yakin? Jika memang Kakek benar-benar tahu keberadaan Mama, apa yang akan Papa lakukan?" ucap Sagara kemudian bertanya.

"Untuk itulah Papa akan cari tahu kebenarannya terlebih dahulu." jawab Aditama dengan penuh keyakinan.

****

Sementara itu di area dapur

Lucas yang kala itu tengah kehausan, lantas melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur untuk mengambil minum.

Ketika sampai di area meja makan, langkah kaki Lucas terhenti seketika begitu mendapati jika Razan tengah sibuk meminum alkohol di area meja makan.

"Ada Pa? Tumben Papa minum alkohol tengah malam seperti ini? Bukankah Papa harusnya berhenti? Usia Papa sudah tidak muda lagi dan tentu saja tidak cocok menyentuh minuman ini." ucap Lucas antara mengingatkan atau malah menyindir Razan.

"Jangan menggoda Papa, Papa benar-benar tidak mood kali ini!" ucap Razan dengan malas.

"Apakah semuanya tidak berjalan sesuai rencana?" tanya Lucas kembali, ia tahu jika Razan hanya meminum sedikit alkohol dengan kadar yang rendah, hal tersebut membuatnya tidak terlalu mabuk namun cukup jika hanya untuk sekedar melepas penat.

"Papa sudah kehabisan ide untuk membujuk ayah dan anak itu, pada akhirnya Papa malah mengatakan jika Papa tahu keberadaan Rania sebagai balasan jika Sagara mau menikah dengan Elika." ucap Razan dengan helaan napas yang panjang.

"Apa Papa sudah gila? Sekali Papa mengatakannya maka kedua orang itu akan mengejar Papa tanpa henti, jika sudah seperti itu...apakah Papa akan mengatakan jika yang Papa ketahui adalah lokasi dimana jasadnya terkubur!" ucap Lucas yang tak tahu lagi harus mengatakan apa.

"Jangan keras-keras Angel nanti mendengar mu, bukan begitu maksud Papa...Papa tadi hanya sedang terpojok. Lagi pula Papa mau semuanya berjalan seperti rencana, jika Sagara tidak menikahi Elika itu artinya sama saja dengan kehancuran perusahaan kita. Apa kau tidak mengerti juga?" ucap Razan dengan nada yang terdengar penuh penekanan.

"Tapi apa yang Papa janjikan sulit untuk di tepati, lalu sekarang kita harus bagaimana?" ucap Lucas yang tak mengerti lagi akan jalan pikiran Razan.

"Tidak ada cara lain lagi selain kita kamuflase segalanya." ucap Razan yang lantas membuat Lucas langsung mengernyit.

"Maksut Papa, kita buat seakan-akan Rania masih hidup dan berada di suatu tempat?" ucap Lucas menebak.

"Benar" jawab Razan singkat.

"Papa sudah gila...kecuali Papa mencari seseorang yang mirip dan mulai bermain peran itu masih masuk akal, jika hanya sebuah karangan apa Aditama akan percaya? Tentu saja jawabannya tidak!" pekik Lucas dengan kesal.

"Ide yang bagus, untuk itu kamu cari lah seseorang yang cocok untuk berperan sebagai Rania.. Papa istirahat dulu ya..." ucap Razan kemudian bangkit dari tempat duduknya.

"Apa? Kenapa harus aku? Harusnya Papa dong, ini kan ide Papa...." ucap Lucas seakan enggan menuruti permintaan Razan barusan.

"Kamu kan pelakunya, sedangkan Papa hanya eksekutornya... Jadi yang harus menanggung dan mencari solusi itu adalah kamu, good luck ya...." ucap Razan sambil berlalu pergi meninggalkan Lucas di ruang makan.

"Apa? Dasar Kakek tua sialan! Mengapa jadi aku yang menanggung semuanya?" ucap Lucas dengan kesal sambil mendudukkan pantatnya di kursi yang terletak di sudut meja makan.

.

.

.

Sementara itu di kamar Lucas, terlihat Angel masuk ke dalam kamar dengan langkah tergesa. Jantungnya berdegup dengan kencang begitu mendengar apa yang tak seharusnya ia dengar.

Niat Angel ke dapur untuk menyusul kepergian Lucas beberapa menit yang lalu, malah membuatnya mendengar rahasia besar yang selalu di tutup rapat oleh kedua orang tersebut.

Angel mengusap keringat di dahinya yang mulai menetes sedari tadi karena gugup takut ketahuan jika ia tengah menguping sedari tadi.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa ternyata Lucas adalah pembunuh Rania, sedangkan Papa yang menutupi segalanya?" ucap Angel dengan nada yang terdengar begitu lirih karena saking terkejutnya.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!