NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 21 : Bermalam

Hawa dingin dari arah sungai mulai menerpa tubuh Bima dan yang lain. Pakaian mereka yang basah membuat mereka gemeteran ditengah cuaca remang-remang dimensi tersebut.

Arga dan Bima mulai mendirikan tenda sedangkan Gilang mencari kayu bakar di sekitar mereka.

Elina dan Maira merapat, saling menghangatkan.

" El, gimana luka-luka lo? Udah mendingan?" Maira bertanya sembari memperhatikan perban yang awalnya putih berubah warna menjadi hitam akibat air sungai hitam.

" Udah mendingan kok Mai. Tapi rada perih dikit. Hehe."

" Gue periksa dulu, boleh?"

Elina hanya mengangguk. Maira meraih ranselnya lalu membuka kotak P3K kecil yang selalu ia bawa. Kemudian ia membuka pelan-pelan perban di tubuh Elina yang terluka.

" Udah mulai kering nih El. Gue ganti aja ya perbannya."

" Iya Mai. Syukurlah kalau udah kering."ucap Elina lega.

Maira dengan telaten mengganti perban Elina tapi kali ini tidak setebal sebelumnya.

Bruukkk..

Gilang menghempas kasar kayu ranting yang ia temukan disekitar lalu duduk dihadapan Elina.

" Gimana luka Elina Mai?"tanyanya cemas.

" Tenang aja. Udah mulai kering tuh.Bentar lagi sembuh kok."sahut Maira mengikat sedikit kuat perban di kaki Elina.

" Syukurlah."

" Lang, sini bentar."panggil Bima yang sedang sibuk mendirikan tenda bersama Arga.

" Apaan? Gue baru aja duduk ini."

" Bantuin."

" Kan kalian udah berdua disitu. Masa nggak bisa?"

" Kesini atau tidur diluar."sinis Arga melotot tajam kearahnya.

" Astagaa..."

Gilang berdecak sebal. Lalu bangkit dengan wajah cemberut.

" Semangat Gilang."ledek Elina semakin membuat Gilang memanyunkan bibirnya.

Tak lama kemudian, 2 tenda sudah berdiri tegak.

Gilang dan Arga duduk didepan tenda melepas lelah. Bima sebagai ketua regu melanjutkan aktivitas membuat api unggun. Ia meraih sebuah korek api dari dalam tasnya yang sudah terbungkus plastik lalu mulai menyalakan api unggun.

" Istirahat dulu lah Bim. Jangan digas terus. Lo nggak capek apa."tegur Gilang peduli. Kadang ia salut dengan Bima yang meski lelah tetap memikirkan teman-temannya.

" Cuma hidupin api nggak capek lah."

" Hebat banget ketua kita ini."puji Arga takjub.

Kayu bakar itu akhirnya berhasil menciptakan api sedang yang cukup menghangatkan kelima remaja tersebut. Elina dan Maira langsung merapat kearah api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan.

" El, kayaknya kita perlu ganti baju deh."ucap Maira pelan. Malu kalau kedengeran para laki-laki di sebelah mereka yang jaraknya 1 meter dari mereka.

" Iya Mai. Nggak enak banget pakai baju basah gini."

" Tapi mau ganti dimana?"

" Maira, Elina.."

Keduanya tersentak saat Bima memanggil.

" Iya Bim. Kenapa?"

" Kalian istirahat duluan gih. Diluar dingin."ujar Bima perhatian. Kasihan melihat 2 gadis itu gemeteran kedinginan.

" Oh, oke."

Maira dan Elina beranjak dari duduk mereka. Elina sudah masuk duluan kedalam tenda sembari membawa tas dirinya dan Maira.

Maira tak langsung masuk, ia mendekat kearah Bima dengan ragu-ragu.

" Bima..."

Bima menoleh, alisnya berkerut heran.

" Kenapa Mai?"tanyanya gugup. Bima tak pernah sedekat ini dengan perempuan. Apalagi wajah Maira yang dekat sekali dengan wajahnya sekarang membuat jantung Bima nyaris loncat dari tempatnya.

Gilang dan Arga menatap keduanya dengan tatapan heran. Tidak, lebih terkesan meledek.

Maira mendekatkan mulutnya ke telinga Bima dan berbisik pelan.

" Bim, kami mau ganti baju. Tolong jangan lihat ke tenda kami ya. Cegah Arga dan Gilang juga. Bisa?"bisik Maira lembut.

Wajah Bima langsung bersemu merah.

" Ya,ya,udah sana. Ngapain ngadu ke gue."balas Bima sewot tapi dalam hati ingin teriak kencang.

Maira memanyunkan bibirnya sebal. Tak menyangka balasan Bima seketus itu.

" Ya udah sih. Biasa aja jawabnya. Ketus amat, ish."sahut Maira sebal.

" Awas ya kalau ngintip."lanjutnya sebelum melangkah masuk kedalam tenda.

Setelah Maira masuk, Arga dan Gilang beringsut mendekati Bima dengan wajah kepo mereka.

" Tadi Maira bisik apaan Bim?" Arga.

" Iya.Serius amat sampai wajah lo merah tuh." Gilang.

" Kepo amat sih. Udah sana masuk tenda."usir Bima tak mau menjawab pertanyaan Arga dan Gilang.

" Gitu ya lo ke temen sendiri. Oke, fine. Gue tanya langsung ke Maira." Gilang bangkit, hendak ke tenda para cewek tapi bajunya langsung ditarik Bima dari belakang.

" Mau ngapain lo. Udah duduk diem disini."

" Apaan sih Bim. Lo nggak mau bilang ke kita ya udah gue tanya langsung aja."protes Gilang. Arga ngangguk setuju.

" Kalau lo berdua mau digampar ya silahkan sih. Gue nggak mau ikut campur."

" Maksud lo apaan?"

" Urusan cewek-cewek nggak usah diganggu."ucap Bima memberi kode.

Arga langsung paham. Mulutnya sampai monyong membentuk huruf O.

" Sini aja Lang. Duduk tenang. Jangan kesana dulu. Ntar abis lo kalau kesana."cegah Arga.

" Lo lagi, ikut-ikutan. Apaan sih."

" Udah disini aja, duduk diem. Bawel amat lo ah. Tunggu mereka keluar aja."kata Bima geram, ia terpaksa narik Gilang duduk bersamanya.

Arga langsung membisikkan sesuatu ke telinga Gilang. Dan seketika ia paham.

" Astagaa, kenapa nggak ngomong dari tadi sih."

" Dasar nggak peka lo. Lihat sini aja, nggak usah lihat sana." Arga mengalihkan pandangan Gilang kearah lain.

Sementara didalam tenda, Maira dan Elina segera mengganti baju mereka dengan baju kering. Tak lupa memakai jaket untuk menghangatkan tubuh mereka.

Namun suara perut Elina yang lapar mengalihkan atensi Maira yang baru saja menutup tasnya.

" Lo laper El?"

Elina hanya nyengir,"Hehe, iya Mai."sahutnya sembari memegang perut ratanya.

Maira tersenyum kecil lalu membuka tas di bagian yang lain dan mengeluarkan 3 bungkus mie instan yang lecek dari dalam tasnya.

" Ayo keluar, kita makan dulu."

Maira beranjak lalu keluar tenda disusul Elina.

" Nah, baru aja diomongin udah nongol."seru Gilang saat melihat Elina dan Maira keluar dari tenda dengan pakaian bersih.

" Ngomongin apaan lo pada. Gosipin gue."

" Dih, kepedean."cibir Arga.

" Kalian ganti baju dulu sana. Kami udah selesai."ujar Elina ke para cowok.

" Kalau udah selesai kesini lagi, kita makan bareng."timpal Maira.

" Emang makanan masih ada Mai?"tanya Bima penasaran.

" Ada, tapi nggak banyak lagi. Ini gue ambil 3 bungkus mie instan untuk kita makan berlima. Nggak tau deh cukup apa enggak."kata Maira, menunjukkan mie instan di tangannya.

" Syukurlah. Buruan dimasak deh Mai. Laper banget gue."ucap Gilang memegang perutnya yang keroncongan.

" Tapi air gue nggak cukup untuk rebus nih mie."

" Air punya gue masih ada. Bentar."sahut Arga lalu buru-buru masuk tenda. Tak lama ia keluar dengan botol minum yang isinya tinggal sedikit.

" Cukup kan?"tanya Arga sembari menyerahkan botol itu ke Maira.

" Cukup kayaknya."

" Peralatan masaknya ada di tas gue Mai. Ambil aja."kata Bima.

" Oke, kami segera kembali. Ayo guys." Gilang bangkit lalu menarik Arga dan Bima masuk ke tenda mereka untuk ganti pakaian.

Maira tersenyum kecil melihat tingkah para laki-laki itu, lalu ia dan Elina mulai memasak makanan yang tersisa untuk mereka berlima.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!