Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 28
BERTEMU SAUDARI
Langit masih menyisakan kelabu di ufuk timur, setengah gelap setengah terang, seolah belum sepenuhnya melepaskan tidurnya.
Laura berdiri di halaman depan mansion, mengenakan pakaian sederhana namun rapi, menatap sosok yang berdiri tak jauh darinya.
Sementara Killian berbincang singkat dengan beberapa anak buahnya — suaranya rendah, tak terdengar jelas, namun setiap gerakannya tegas dan mantap.
Percakapan itu berakhir ketika Killian menoleh ke arah gadis yang menunggunya, lalu mengangguk pelan.
"Ayo."
Mereka berdua melangkah menuju mobil hitam yang terparkir tenang di halaman. Pintu terbuka, dan kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan kediaman, menyisakan beberapa orang yang membungkuk hormat hingga bayangan mobil itu menghilang di tikungan jalan.
Dari balik celah tirai jendela lantai atas, Zoey berdiri diam menatap kepergian mereka. Bibirnya terkatup rapat, matanya tidak menyembunyikan rasa tidak suka yang mendalam.
“Pasangan yang serasi.Seharusnya aku yang duduk di sana. Di sampingnya, bersanding sebagai istrinya. Namun kenyataan berkata lain,” gumamnya pelan. “Shit!”
Kedua tangan Zoey masih bersilang terlipat di perut. Dan ia hanya dapat berdiri di sini, menatap bayangan yang tak pernah menjadi miliknya.
Di dalam mobil, udara pagi yang sejuk menyapa wajah Laura saat ia menurunkan kaca jendela sepenuhnya. Angin segar menerpa rambutnya, dan untuk pertama kalinya sejak sekian lama, ia dapat menarik napas panjang tanpa merasa sesak.
"Ke mana kita pergi?" tanyanya pelan, menatap profil pria yang fokus menyetir.
Killian menatap lurus ke depan. "Ke suatu tempat."
Laura terdiam sejenak, membiarkan angin membelai wajahnya. Lalu ia kembali bertanya.
"Bagaimana keadaan keluarga McManaman? Maksudku... Nyonya Eleanor... dan putri serta putra kecil mereka?"
"Kieran dan Eleanor sudah tewas. Aku membiarkan putra dan putri mereka pergi." Killian menjawab dengan nada datar, seakan membicarakan hal yang tak berarti.
Laura menoleh, terkejut. "Kau tidak menahan mereka? Tidak mencari mereka?"
"Tidak," jawabnya singkat, tanpa sedikit pun nada belas kasih.
Laura menunduk, menatap jalanan yang melintas di luar jendela. Hati kecilnya terasa asing, tak dapat memutuskan apakah ia harus merasa lega atau justru sedih meskipun mereka yang awalnya mengubah hidupnya menjadi neraka. Apalagi Bobby masih kecil.
Killian melirik sekilas ke arahnya, menatap wajah gadis itu sejenak sebelum kembali menatap jalan di depannya.
Perjalanan berlangsung cukup lama, hingga pemandangan gedung-gedung berganti menjadi pepohonan rindang dan jalan yang lebih tenang. Akhirnya mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah kayu sederhana yang dicat putih tulang, berdiri sendirian di tengah halaman yang luas. Nico berdiri di depan pintu, menunggu kedatangan mereka, diikuti oleh empat orang yang berdiri tegap di sudut-sudut halaman.
Laura turun perlahan, menahan sedikit rasa nyeri di pahanya yang masih terasa saat melangkah. Ia menatap bangunan itu dengan bingung.
"Rumah siapa itu?" tanyanya pelan.
Killian menutup pintu mobil, suaranya tetap datar. "Seseorang."
Ia berjalan mendekati Nico. "Bagaimana keadaannya?"
"Sedikit lemah, Tuan," jawab Nico rendah. "Suntikan yang terus diberikan kepadanya telah mengganggu kewarasannya. Dia ketakutan setiap kali mendengar suara langkah kaki."
Killian menoleh seketika ke arah Laura. Tatapan matanya membuat gadis itu terdiam, hatinya berdebar tanpa sebab yang jelas. Bahkan yang lain ikut menatapnya juga.
"Antar dia masuk," perintahnya kepada Nico.
Ia meraih sebatang rokok dari tangan anak buahnya, lalu menyalakannya dengan tenang, berdiri di halaman kecil itu sambil menghembuskan asap perlahan.
Nico berjalan mendekati Laura.
"Mari, Nyonya."
Laura menatap Killian sekali lagi — pria itu berdiri membelakanginya, menatap pepohonan di kejauhan, seakan tak ingin ikut masuk.
Dengan keraguan yang masih tersisa, ia melangkah mengikuti Nico masuk ke dalam rumah.
Suasana di dalamnya hangat dan sederhana, namun tak ada tanda-tanda penghuni lain selain mereka berdua. Nico menunjuk sebuah pintu di ujung lorong, lalu pergi meninggalkannya sendirian.
Laura melangkah mendekat, membuka pintu itu perlahan. Di sana, di sudut ranjang yang empuk, duduk sesosok gadis meringkuk, kedua lengannya melingkar di lutut, wajahnya tertutup oleh rambut yang berantakan. Tubuhnya gemetar halus, seakan setiap detik yang berlalu adalah ancaman.
Hening sejenak. Napas Laura tertahan di kerongkongan.
"Lily..."
Gadis itu mendongak perlahan, matanya yang sembab membelalak tak percaya.
"Kakak?"
Lily bangkit berdiri seketika, lalu berlari kecil mendekat namun tak sempat berdiri karena Laura lebih cepat, dan dalam sekejap mereka berpelukan erat.
Laura merasakan tubuh adiknya yang kurus dan gemetar di dekapannya, mendengar isak tangis yang tertahan sekian lama akhirnya tumpah sepenuhnya.
"Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi..." isak Lily, memeluk pinggang kakaknya erat. "Mereka, mereka menyuntikku terus... mengurungku... Aku tidak gila, Kakak... Kumohon jangan percaya kata mereka... Aku tidak gila, sungguh."
Laura mengusap punggung adiknya berulang kali, menahan air mata yang hendak menetes. Ia mencium ubun-ubun kepala Lily dengan penuh kasih sayang.
"Aku tahu. Aku tahu kau tidak gila. Semuanya sudah berakhir sekarang. Kau aman."
Lily melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah kakaknya lekat. Jari-jarinya menyentuh pelan bekas luka di pelipis dan sudut pipi Laura.
"Kau terluka..." suaranya lembut namun sedih. "Si-siapa yang melakukan ini padamu?"
Laura tersenyum tipis, menangkup tangan adiknya di wajahnya. "Ini tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
Lily menatapnya, lalu bertanya dengan ragu. "Siapa orang-orang yang menolongku? Mereka... mereka terlihat seperti orang yang baik."
Laura duduk di tepi ranjang, menarik napas panjang, menatap lurus ke dinding di hadapannya dengan nafas sedikit memburu akibat pelepasan rindu tadi.
"Mereka bukan orang yang datang tanpa alasan, Lily," ucapnya pelan namun tegas. "Keluarga McManaman — merekalah yang membunuh Ayah dan Ibu. Mereka mengurungmu agar aku menuruti kemauan mereka. Aku dipaksa menjadi pengantin pengganti putri mereka, ditahan di tempat yang asing, sendirian... Di tempat mereka yang menolong mu."
Lily menatapnya lekat, matanya masih basah. "Kenapa kau tidak kabur?"
Laura menoleh, menatap mata adiknya. "Karena aku takut mereka menyakitimu. Itulah satu-satunya hal yang kupegang selama ini — harapan agar kau tetap selamat."
Lily tersenyum tipis, menyentuh punggung tangan kakaknya. "Mungkin mereka yang menolong kita... mereka sungguh-sungguh baik hati."
Laura menggeleng pelan, menatap pintu yang tertutup. "Semoga saja."
Keheningan menyelimuti mereka sejenak, hingga suara Lily terdengar kembali, pelan namun jelas.
"Aku pikir... orang yang melakukan semua kejahatan itu... Santiago."
Laura menegang seketika, menatap adiknya tajam penuh kewaspadaan.
"Lupakan nama itu, Lily. Jangan pernah menyebutnya lagi."
Lily terkejut, menunduk pelan. "Maafkan aku..."
Laura menarik adiknya ke dalam pelukan sekali lagi, membiarkan kepala gadis itu bersandar di bahunya. "Bukan salahmu.." ucapnya tersenyum tipis.