NovelToon NovelToon
DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TANDA TANGAN

"Surat tanah apa, Mas? Coba sebutkan satu kalimat saja dari isinya."

Sinta bertanya pelan, tanpa menoleh pada mertuanya. Matanya terpaku pada Damar yang berdiri dengan bahu merosot di belakang Bu Retno. Lelaki itu membuka mulut, menutupnya lagi, dan jemarinya meremas ujung kemeja seperti anak SD yang lupa hafalan.

"Aku... aku nggak baca, Sin. Ibu bilang tanda tangan di bawah saja. Katanya urusan balik nama."

"Kamu menandatangani kertas yang tidak kamu baca."

"Ibu bilang itu cuma formalitas."

"Tujuh tahun kamu menikah denganku, tiga puluh tahun hidup di bawah ketiak ibumu, dan kamu masih menandatangani apa pun yang disodorkan ke mukamu." Sinta tertawa pendek, dingin, dan kosong. "Pantas tidak ada yang takut padamu, Mas."

"Cukup, Sinta!" bentak Bu Retno. "Jangan kurang ajar pada suamimu!"

"Suami yang mana, Bu? Yang dua minggu lagi menikah dengan perempuan lain?"

Brigadir berdeham keras dari balik meja. "Ibu-ibu, mohon tenang. Ini kantor polisi."

"Pak Brigadir," Pak Hendra maju dengan wajah dokter yang sabar dan suara yang disetel rendah, penuh wibawa. "Saya jelaskan supaya tidak terjadi salah paham. Surat yang ditandatangani Pak Damar tadi sore adalah surat persetujuan keluarga untuk perawatan rawat inap. Pasien kami, Ibu Sinta, perlu observasi di klinik selama beberapa minggu."

Ruangan seakan menyempit.

"Rawat inap," ulang Sinta, suaranya sangat tenang. "Kejiwaan."

"Demi kebaikan Ibu sendiri."

"Saya baru bertemu Anda tiga kali seumur hidup, Dokter. Pertama di pernikahan sepupu Damar, kedua di arisan, ketiga tadi sore di ruang tamu mertua saya, waktu Anda menyuruh Melia memijat bahu Anda. Anda tidak pernah memeriksa saya."

"Pasien dengan waham biasanya lupa..."

"Pasien dengan waham biasanya juga mengingat dengan sangat jelas siapa yang berbohong padanya." Sinta menoleh pada Brigadir. "Pak, dengan surat itu mereka mengaku berhak membawa saya malam ini juga, bukan?"

Brigadir menggaruk kepala. "Secara prosedur, kalau ada persetujuan keluarga dan rekomendasi dokter..."

"Saya orang dewasa. Saya datang ke sini atas kemauan sendiri, dalam keadaan sadar, dan membuat laporan pidana atas percobaan penculikan." Ia berkata lugas, jelas, satu kata demi satu kata, seperti menjatuhkan batu satu per satu ke lantai. "Kalau malam ini saya diseret keluar dari kantor polisi oleh orang-orang yang saya laporkan, apa yang akan tertulis di berita acara Bapak?"

Wajah Brigadir langsung berubah. Ia menoleh pada rekannya yang tiba-tiba berhenti berpura-pura sibuk.

"Bu Sinta, kami tidak..."

"Saya setuju diperiksa."

Seisi ruangan menoleh.

"Saya bilang saya setuju diperiksa," ulang Sinta. "Tapi bukan di klinik Dokter Hendra. Di rumah sakit jiwa pemerintah, oleh psikiater independen yang saya pilih, sekarang juga, dengan Bapak Brigadir sebagai saksi dan rekaman video dari ponsel teman saya."

Tari langsung mengangkat ponselnya dan menekan tombol rekam. Lampu merah kecil menyala. Ia mengarahkan kamera tepat ke wajah Pak Hendra.

"Kalau hasilnya saya sehat," lanjut Sinta, menatap dokter itu tanpa berkedip, "Dokter harus menjelaskan kepada polisi dan kepada Ikatan Dokter kenapa Anda menyebut saya pasien jiwa tanpa satu pun rekam medis. Dan kenapa seorang dokter andrologi menandatangani kesimpulan hasil lab suami saya dua tahun lalu, lalu menyembunyikannya."

Hening.

Senyum Pak Hendra tidak runtuh, tapi lehernya memerah dari kerah ke telinga. Bu Retno mencengkeram tas kecilnya sampai buku jarinya memutih. Dan Damar, yang selama ini hanya menunduk, mengangkat wajah perlahan dengan ekspresi orang yang baru mendengar sesuatu yang tak ia mengerti.

"Hasil lab suami?" bisik Damar. "Sin, maksudmu apa? Bukannya Ibu yang ambil hasilnya? Kenapa Dokter Hendra yang tanda tangan?"

"Damar!" Bu Retno memotong tajam. "Diam!"

"Bu, kenapa Pak Hendra yang tanda tangan hasil pemeriksaanku?"

"Itu karena beliau dokter keluarga kita, Nak!"

"Tapi aku periksa ulang di klinik lain diam-diam, dan yang baca bukan dia."

Satu kalimat kecil, dilontarkan polos, dan seisi ruangan langsung membeku seperti kolam yang tiba-tiba ditutup es. Pak Hendra dan Bu Retno bertukar pandang sekilas, begitu cepat hingga hampir tak terlihat. Tapi Sinta melihatnya. Kamera Tari juga melihatnya.

"Damar," ucap Bu Retno dengan suara rendah penuh peringatan. "Kita bicarakan ini di rumah."

"Aku mau bicarakan sekarang."

"Kamu tidak tahu apa yang kamu bicarakan!"

"Aku tahu cukup." Damar menelan ludah. Tangannya gemetar, tapi untuk pertama kali, ia tidak mundur. "Aku tahu aku tidak bisa punya anak. Aku tahu dari dua klinik berbeda. Tapi aku tidak tahu kenapa Ibu dan Pak Hendra begitu cepat menyebut Sinta gila padahal yang sakit... aku."

Brigadir menegakkan duduknya. "Pak Damar, Anda bicara apa tadi?"

"Saya mencabut persetujuan saya." Damar menatap lurus ke Brigadir, suaranya bergetar tapi jelas. "Surat yang saya tanda tangani sore tadi. Saya tidak membaca isinya. Saya dibohongi. Saya mencabut tanda tangan saya, Pak. Sekarang."

"Damar!" Bu Retno menjerit. "Kamu mau mempermalukan Ibu?!"

"Ibu yang mempermalukan diri sendiri."

Tamparan keras melayang. Suara *plak* itu menggema di ruangan kantor polisi, dan seisi ruangan tersentak. Damar terhuyung, memegang pipinya yang memerah. Bu Retno berdiri dengan napas memburu, tangan masih terangkat, dada naik turun.

"Ibu!" Brigadir berdiri. "Ini kantor polisi!"

"Dia anak saya! Saya berhak!"

"Ibu menampar orang di depan petugas. Saya bisa menahan Ibu untuk pemeriksaan."

Wajah Bu Retno langsung pucat. Ia menurunkan tangannya perlahan, menyadari betapa banyak mata yang menyaksikan, termasuk lensa ponsel Tari yang terus menyala merah.

Sinta tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menatap pemandangan itu dengan tenang. Tak ada rasa senang, tak ada rasa menang. Hanya dingin yang jernih, seperti air danau di pagi hari. Ia memandang Damar yang memegangi pipinya, lalu Bu Retno yang gemetar, lalu Pak Hendra yang diam-diam menyeka keringat di pelipis.

Dan dalam keheningan itu, sesuatu di dalam dirinya mengeras sepenuhnya, menjadi sesuatu yang tak lagi bisa dilembekkan oleh air mata atau janji-janji.

"Pak Brigadir," katanya pelan. "Saya minta tindakan visum untuk luka di wajah saya. Hari ini juga. Saya juga minta surat laporan resmi tentang apa yang baru terjadi malam ini."

"Baik, Bu."

"Sinta..." Bu Retno melangkah mendekat, suaranya mendadak lembut dan memohon. Perubahan yang begitu cepat hingga membuat bulu kuduk berdiri. "Nak, jangan begini. Kita keluarga. Ibu cuma panik. Ibu takut kamu kenapa-kenapa."

"Ibu panik karena tidak berhasil mengurung saya."

"Bukan begitu..."

"Ibu panik karena tidak mengira saya sanggup membalas." Sinta menatapnya dengan sorot yang tak lagi mengandung ketakutan sedikit pun. "Tujuh tahun, Bu. Selama tujuh tahun Ibu menginjak saya, dan saya diam. Bukan karena saya lemah. Tapi karena saya masih berharap Ibu manusia."

Bu Retno membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar.

"Sekarang saya sudah berhenti berharap."

---

Menjelang subuh, Sinta duduk di kursi tunggu di lorong rumah sakit umum, tangan memegang kantong plastik berisi hasil visum sementara. Tari duduk di sampingnya dengan dua gelas teh hangat. Damar tidak ikut. Setelah pertengkaran itu, Bu Retno menyeretnya pulang dengan alasan "butuh istirahat", dan Sinta tidak berusaha menahan.

"Kamu hebat tadi," kata Tari pelan, menyodorkan gelas. "Aku sampai merinding."

"Aku tidak hebat. Aku cuma sudah kehabisan takut."

"Itu namanya hebat."

Sinta menyesap teh, tapi rasanya hambar. Tubuhnya lelah, kepalanya berdenyut, dan pipinya masih nyeri setiap kali ia menelan. Tapi pikirannya jernih. Terlalu jernih, malah. Seperti ada lampu yang menyala di kepalanya dan menerangi semua sudut gelap sekaligus.

"Tar, tadi Damar bilang dia periksa di klinik lain."

"Aku dengar."

"Berarti ada dua hasil. Yang pertama dari klinikmu, dan yang kedua dari klinik lain yang tidak melibatkan Pak Hendra. Kalau hasil keduanya sama..."

"...berarti Pak Hendra tidak memalsukan apa pun soal kesuburan Damar. Dia hanya berbohong soal siapa yang menyimpannya dan untuk apa."

"Tepat."

"Lalu kenapa mereka menyembunyikannya?"

"Karena yang mereka sembunyikan bukan hasil labnya, Tar." Sinta meletakkan gelas. "Yang mereka sembunyikan adalah apa yang mereka lakukan setelah mengetahuinya."

Tari terdiam. Sebelum ia sempat menjawab, ponsel kecil di saku jaket Sinta bergetar. Nomor tak dikenal. Layarnya menampilkan deretan angka tanpa nama.

"Jangan diangkat," bisik Tari cepat. "Bisa jadi jebakan."

Sinta menatap layar itu beberapa detik. Getarannya berhenti, lalu mulai lagi. Dengan satu tarikan napas, ia menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga tanpa berkata apa-apa.

Hening. Hanya suara napas di seberang. Lalu terdengar suara laki-laki, berat, rendah, dan sangat dikenal, suara yang pernah ia dengar samar-samar di balik semak taman malam itu.

"Sinta," ucapnya perlahan. "Jangan percaya siapa pun di rumah itu, termasuk suamimu. Aku tahu siapa ayah dari anak Melia. Dan kalau kamu mau tahu kebenarannya, temui aku sebelum mereka menemukanmu lebih dulu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!