Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam di Rumah
Dharma menggendong Melisa menuju mobil. Begitu duduk dalam mobil Melisa tidak sengaja sedikit memekik kesakitan.
“Apa mereka menyakitimu? Orang-orangku akan segera menemukan siapa mereka.”
Merasa menemukan waktu yang tepat, Melisa menunjukkan luka bakar di pahanya.
Dharma awalnya heran begitu melihat Melisa malah menggeser roknya ke atas. Setelah paha Melisa terbuka, wajah Dharma yang sejak tadi tegang, jadi terlihat semakin kaku. Ia ngeri melihat luka itu di kulit perempuan seperti Melisa.
“Ini bukan luka baru, kan?” selidiknya.
Melisa mengangguk.
“Kenapa tidak bilang dari kemarin?”
Melisa hanya diam, ia menimbang-nimbang apakah Dharma akan percaya padanya atau tidak jika nama Sheila yang ia sebutkan.
Melihat Melisa hanya diam, Dharma menghidupkan mesin mobilnya. “Sudah diobati? Kita harus ke dokter sekarang!”
“Tidak perlu, aku sudah membeli salep beberapa hari lalu.”
“Tetap saja harus dengan perawatan dokter. Luka bakar itu bukan luka yang ringan, apalagi sebesar itu.” Dharma fokus menghadap jalan.
“Mm, tapi apa kita boleh ke resto yang tadi dulu? Aku lapar dan tadi sudah memesan makanan yang sangat aku inginkan.” Ia meringis menahan malu.
Dharma melihat ke arah Melisa sebentar. Heran, bagaimana bisa orang yang membuatnya khawatir setengah mati justru malah santai memikirkan makanan.
“Tolong pesankan ulang makanan yang tadi aku dan Melisa pesan di resto, kami tunggu di rumah.” Dharma menghubungi seseorang di ponselnya.
Wah, Melisa begitu kagum sampai bertepuk tangan. Baru kali ini ia melakukan adegan yang biasa dilakukan oleh orang kaya.
Sesampainya di rumah, Dharma membantu Melisa membersihkan diri dan mengantarnya untuk berganti pakaian di kamar mandi. Setelah selesai, ia juga membersihkan dirinya sendiri. Melisa menunggu di tepian ranjang.
“Hanya terpeleset sedikit kenapa sampai terkilir begini ya? Apa karena tadi pakai sepatu berhak tinggi?” Melisa memijat kakinya yang sakit sambil bergumam sendiri.
Bel berbunyi. Ia sudah menduga yang datang pasti makanan pesanan mereka.
Ia tidak sabar kalau harus menunggu Dharma selesai, jadi berjalan pelan ke arah meja makan.
“Akhirnya, makan juga.”
Rosa yang menyiapkan memandangnya sinis.
“Apa? Mau cicipi juga ga?” efeknya dengan sengaja. Bahkan ia menjulurkan lidahnya juga agar Rosa semakin kesal.
Makanan selesai dihidangkan. Rosa hendak pergi, tapi Melisa memanggilnya lagi. “Terima kasih ya, Pelayan.”
Tentu saja Rosa pergi dengan wajah masam. Melisa puas sekali.
Melisa tidak menyentuh makanan itu sampai Dharma datang.
“Kenapa belum dimakan?” tanya Dharma padanya.
“Menunggumu.” Melisa memindahkan makanan-makanan itu ke piringnya.
Makanan di meja mereka sudah agak dingin, tapi Melisa tetap menikmatinya dengan lahap. Menggemaskan sekali melihat mulut kecil itu disuapi besar-besar, seperti makan balon.
Dharma menatap cincin yang melingkar di jarinya. Itu cincin pernikahannya dengan mendiang istrinya. Ia selalu memakainya dan menatapnya begitu lama saat butuh sandaran seperti ini.
Akhir-akhir ini banyak sekali masalah yang menghampiri hidupnya. Ia butuh pelukan yang tenang, tapi pemilik pelukan itu sudah tidak berada dalam dunia yang sama dengannya.
“Bapak tidak makan? Tadi katanya lapar. Padahal Pak Dharma sendiri loh yang mengajak saya makan di sana.” Mulut Melisa masih penuh dengan makanan dan ia terus mengoceh dengan suara yang tidak jelas.
Dharma ingin menegurnya, tapi mengingat kejadian yang baru saja menimpanya, ia urung melakukannya. Biarkan saja dulu dia seperti itu, daripada melakukan hal buruk karena mengalami trauma.
…
Malam hari di dalam kamar, Dharma membuka laptopnya, ia perlu membaca laporan dugaan penyebab kebakaran restonya kemarin. Lalu memperkirakan jumlah kerugian dan menyiapkan pesangon untuk para karyawan yang mendadak di rumahkan.
Di belakangnya ada suara berisik yang cukup mengganggu. Ia menoleh, dilihatnya Melisa sedang bergerak meliuk-liuk di dekat sofa tempatnya tidur. Sesekali melompat dan diam dengan posisi aneh.
Diperhatikan Dharma seperti itu, Melisa merasa perlu memberikan klarifikasi. “Ini namanya olahraga sebelum tidur, Pak Dharma. Apalagi barusan abis makan banyak, jadi kalorinya biar kebakar, makanannya biar tercerna. Baru setelah itu boleh tidur, biar gula darah aman, berat badan aman, semuanya aman dan sehat. Gitu.”
Seperti biasa, Dharma hanya diam tanpa ekspresi. Pikirannya sedang sibuk dengan sesuatu yang ditampilkan layar monitor di laptopnya.
Melisa jadi bingung sendiri, pria itu kadang cuek, kadang ramah, kadang peduli, kadang seperti tidak kenal. Terserah sajalah, yang penting tiap bulan ia dapat uang dari dua arah. Bu Inggit dengan kontraknya dan Pak Dharma dengan jatah bulanannya.
“Ah, betapa bahagianya hidup santai menunggu saldo rekening bertambah terus setiap bulan. Apa ini cuplikan surga, Tuhan?” batin Melisa.
Ia tertawa-tawa sendiri sambil terus menggerakkan badannya.
Tiba-tiba ada suara desis Pak Dharma yang mengingatkannya agar tidak berisik. “Sssttt.”
“Terganggu ya?” tanyanya sambil menengok wajah Pak Dharma dari jarak yang dekat. “Oke, aku akan bergerak dalam diam.”
“Satu, dua, tiga, empat,... “
Dharma pelan menggeleng saat suara hitungan Melisa masih terdengar.
“Sudah cukup, aku lelah sekali. Haahh.” Melisa meluruskan kakinya sambil duduk, ia meminum air dari botol yang dibawanya tadi.
“Setelah ini lanjut tidur, lalu besok kerja lagi,” gumamnya sendiri.
Ia melirik Dharma yang masih fokus pada laptopnya, “serius sekali,” pikirnya. Biarkan saja pria itu dengan pekerjaannya. Sekarang Melisa sudah bersiap untuk tidur.
“Selamat malam, Pak Dharma. Good bye,” pamitnya.
Melisa menutupkan selimut itu pada tubuhnya. Begitu matanya terpejam dan napasnya sudah mulai teratur, ia malah tidak bisa tidur memikirkan ulah siapa tadi yang membuatnya sampai dibawa oleh sekelompok orang tidak dikenal.
Bayangan kejadian yang menimpanya tadi terputar ulang dalam pikirannya. Ia jadi takut sendirj, kalau saja tadi Pak Dharma tidak mencarinya, pasti sesuatu yang buruk sudah terjadi. Membayangkannya saja membuat Melisa semakin ngeri.
Ia sampai terisak pelan. “Untung saja hubunganku dengan Pak Dharma sudah mulai baik, kalau kami tetap seasing sebelumnya mungkin dia tidak peduli apa yang terjadi padaku. Terima kasih sudah membuatnya luluh, Tuhan,” ucapnya dalam hati sambil tetap menangis.
Bayangan pelukan dari ibunya melintas dalam ingatannya. Ia merindukan itu, saat ia takut ibu akan memeluknya erat, menyalurkan perasaan aman dengan hati yang penuh. Sejak tidak ada ibu, ia menyilangkan tangan seperti yang ia lakukan saat ini untuk memeluk dirinya sendiri.
Dharma mendengar isak tangis itu langsung menghampirinya. Melihat Melisa memeluk dirinya sendiri, ia jadi mundur pelan-pelan. Lalu duduk di tepi ranjangnya sendiri. Ia belum berani menyentuh Melisa, bahkan sekedar menepuk bahunya untuk membantu memenangkan. Khawatir akan terjadi salah paham dan muncul harapan-harapan kecil di hati perempuan itu.
Melisa menatapnya sambil menghapus air mata yang terus berjatuhan itu.
“Tidak apa-apa, Mel. Menangis saja sampai puas kalau itu bisa membuat hatimu merasa lebih baik,” ucap Dharma.
Kalimat itu membuat Melisa semakin tersedu-sedu, itu persis sekali dengan yang sering diucapkan ibunya dulu.