Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Di Tembak Bawahan
"Nyonya silahkan duduk" Ucap Shen Yuzhi dan Bai Rongxin lekas menuangkan teh untuk ya.
Keduanya terlihat ragu-ragu dan canggung, namun dalam hatinya begitu sulit untuk di jelaskan. Mereka hanya bisa mencuri-curi lirik terhadap Su Wanwan.
"Bahkan kalian membangun aula perjamuan seperti ini, teliti sekali..." Ucap Su Wanwan sambil memperhatikan sekitar.
"Ini ide Shen Yuzhi, Hu Zheng tidak mengerti banyak."
Su Wanwan mengangguk dengan senyum apresiasi. "Pekerjaan mu bagus." ucapnya sambil menatap Shen Yuzhi sebentar.
Wajah Shen Yuzhi sedikit memanas, dia mengangguk dengan kaku. "Terimakasih pujian nyonya."
"Nyonya, s-silahkan teh nya."
Su Wanwan menerima teh tersebut dan meminum nya, matanya melirik Bai Rongxin yang tiba-tiba langsung menunduk seperti seseorang yang ketahuan mencuri. Reaksinya terlihat bersalah dan takut.
Tak! Tak! Tak!
Su Wanwan mengetuk meja pelan, "Sampaikan lah sesuatu sekarang jika ada hal yang ingin di sampaikan."
Mendengar ucapan Su Wanwan, Bai Rongxin sedikit terkejut dan ragu-ragu. "Anu... Apakah anda benar-benar nyonya?"
"Hm?" Su Wanwan menaikan alisnya.
"B-bukan bermaksud buruk, a-aku hanya... Hanya..."
Melihat Bai Rongxin yang terlihat kesulitan, ingin menyampaikan pendapat namun takut menyinggung nya. Su Wanwan tertawa pelan, membuat ketiga pemuda itu menatap nya dengan takjub.
Kecantikan seperti ini belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bahkan para nona dan nyonya dari keluarga kaya, maupun putri pejabat yang selama ini mereka anggap cantik, terasa jauh tertinggal dibandingkan perempuan di hadapan mereka. Rasanya, yang membuatnya begitu memukau bukan semata-mata kecantikan wajah, melainkan juga aura yang terpancar darinya.
Terlebih lagi, perempuan seusia Su Wanwan, meskipun masih memiliki kecantikan yang memukau seperti para nyonya bangsawan, tetap tak dapat sepenuhnya menyembunyikan jejak waktu. Kerutan halus dan tanda-tanda usia akan selalu meninggalkan bekas di wajah mereka.
Namun, nyonya mereka berbeda.
Wajahnya begitu cantik dan muda, seolah-olah masih berada di usia belasan tahun. Namun, aura yang terpancar darinya justru begitu elegan dan dewasa. Ada kehangatan yang membuat siapa pun di dekatnya merasa nyaman, tetapi di saat yang sama, terdapat pula kesan tenang dan tak tersentuh oleh hiruk-pikuk dunia.
Kecantikannya bukan sekadar sesuatu yang dapat dilihat oleh mata. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat orang sulit mengalihkan pandangan, seolah kecantikan itu berasal dari tempat yang jauh lebih dalam daripada sekadar wajah.
"Baiklah, aku tidak akan membuat kalian kebingungan lagi. Sebenarnya, di perjalanan menuju rumah teman aku bertemu seorang kultivator."
"K-kultivator?"
Su Wanwan mengangguk. "Ya, atau kita bisa menyebut nya sebagai orang abadi. Ia bilang aku memiliki takdir dengan jalan abadi, dan di tubuh ku terdapat sebuah Gu racun yang membuat penampilan jelek."
"G-gu racun?" Terkejut Shen Yuzhi, Bai Rongxin dan Hu Zheng memang tidak tahu. Namun sebagian sarjana, Shen Yuzhi pernah membaca sebuah buku mengenai Gu racun tersebut.
"Benar, untungnya ia bilang Gu racun ini hanya Gu tingkat rendah. Bisa di hilangkan dengan melakukan kultivasi dan menyucikan tubuh, jadi dalam sebulan ini di bawah bimbingan sang abadi aku berhasil berkultivasi dan menyingkirkan racun Gu di tubuh ku, hingga akhirnya tubuh bisa kembali seperti semula."
Melihat ekspresi terkejut, simpati, khawatir yang berbeda-beda dari ketiganya membuat Su Wanwan ingin tersenyum dalam diam.
Sebenarnya dia juga hampir sepenuhnya percaya dengan ucapannya sendiri, namun itulah alasan yang cukup masuk akal. Di dunia spiritual ini, racun Gu pasti tentu ada bukan? Jika begitu bagaimana dia bisa memberikan alasan bahwa tubuhnya menjadi kurus dalam sebulan?
Kultivasi sebulan tidak akan bisa menurunkan berat badan secepat itu.
"Ternyata begitu, syukurlah nyonya baik-baik saja."
"Nyonya, bagaimana jika nyonya istirahat lah dahulu. Kami akan menyiapkan makan untuk nyonya." Ucap Hu Zheng dengan sopan.
"Benar nyonya, aku akan membuat daging panggang yang sering nyonya makan!" Seru Bai Rongxin dengan antusias dan di angguki Shen Yuzhi.
Su Wanwan mengangguk setuju. "Baiklah, aku akan menunggu masakan kalian." ucapnya sambil pergi.
Krekk...
Su Wanwan masuk ke dalam kamar nya yang dulu, dia kemudian melihat kamar baru nya-- namun hanya sebentar hingga akhirnya masuk ke dalam ruang nya.
Tidak ada yang lebih nyaman di bandingkan dengan ranjang modern di ruang dimensi nya.
Sambil berbaring, ia seketika teringat pada ketiga pelayan bujang nya. Selama sebulan ini, sepertinya selain Hu Zheng-- keduanya juga mengalami perubahan.
Bai Rongxin yang penurut dan lembut ternyata bisa berubah menjadi cukup galak, dan perhitungan. Meskipun bukan dari sikap nya langsung, namun dari tatapan nya yang tidak selugu dulu sudah bisa membuat Su Wanwan mengetahui nya dengan jelas.
Dan Shen Yuzhi, anak bujang itu memang sangat berubah. Saat melihatnya, matanya tidak lagi memancarkan rasa dingin dan jijik. Malah terlihat bersinar dan malu-malu.
Apakah anak itu malah menyukainya setelah dia cantik? Namun rasanya tidak mungkin, tatapan nya terasa seperti ia telah menunggu-nunggu bertemu dengan dirinya sejak lama.
Sudahlah, Su Wanwan tidak boleh berpikir aneh-aneh. Masa laki-laki muda seperti nya menyukai bibi-bibi sepertinya.
5 Jam kembali.
Setelah selesai makan malam bersama mereka bertiga, Su Wanwan segera kembali ke dalam kamarnya. Rasanya cukup merepotkan menghadapi dua pemuda bujang (Bai Rongxin dan Shen Yuzhi) yang berebut memberikan lauk ke mangkuk nya.
Meskipun sikap mereka berdua terlihat jelas, namun jiwa nya yang sudah merasakan asam pahit kehidupan membuatnya cukup yakin untuk tidak lagi terlibat urusan asmara. Apalagi dengan anak bujang di bawah umur nya seperti ketiga pelayan nya.
Ketiga anak itu masih bau kencur untuk dapat menggoda ataupun memikatnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Siapa?" Tanya Su Wanwan dari dalam.
"Nyonya, ini Hu Zheng. Ada hal yang ingin di sampaikan."
"Baiklah masuk"
"Nyonya, Hu Zheng membawa laporan keuangan selama anda pergi. Hu Zheng mencatatnya di sini..." Ia menjelaskan sedikit banyak nya beberapa kata hal sebelum akhirnya Su Wanwan menerima nya.
"Oh, ya... Kau cepat belajar. Terimakasih sudah bekerja keras." Su Wanwan sebenarnya tidak terlalu peduli, dengan bukti berdirinya rumah besar ini saja ia sudah sangat percaya. Jadi dia hanya membaca nya asal dan langsung meletakkan nya kembali.
"Terimakasih pujian nyonya..."
Su Wanwan. "..." Melirik Hu Zheng.
Hu Zheng. "..." Tersenyum lebar tanpa Pepsodent.
"Apakah... Masih ada urusan?" Tanya Su Wanwan dengan ragu-ragu. Dia pikir kenapa orang ini malah terus berdiri diam disana.
Brukh!
Suara lutut yang menyentuh lantai itu membuat Su Wanwan tersentak kaget. Dia menatap dengan bingung dan terkejut dengan apa yang di lakukan Hu Zheng.
"Nyonya, Hu Zheng tak bisa berkata-kata indah. Namun Hu Zheng menyukai nyonya, apakah nyonya mau memberi Hu Zheng kesempatan."
"?!!"