Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 6
Denting getar ponsel di atas meja memecah keheningan kubikel yang sepi. Senja melirik layar yang menyala, menampilkan deretan pesan dari nomor asing tanpa foto profil.
Dengan dahi berkerut, Senja menggeser layar untuk membuka aplikasi perpesanan. Detik berikutnya, napas Senja seolah tertahan di tenggorokan.
Layar ponselnya dipenuhi oleh belasan unduhan foto dan beberapa berkas video. Satu per satu gambar itu meretas masuk, menghancurkan sisa-sisa pertahanan hati Senja hingga tak berbekas.
Foto pertama menampilkan Adam yang sedang tersenyum leluasa, senyuman lepas yang tak pernah Senja lihat selama dua tahun pernikahan mereka sambil merangkul mesra pinggang seorang wanita berambut gelombang di sebuah restoran remang-remang.
Foto kedua memperlihatkan wanita itu mencium pipi Adam dari samping, sementara Adam menutup mata sambil terkekeh pelan.
Dan foto terakhir yang membuat seluruh persendian Senja meluruh dingin, Adam tertidur lelap tanpa mengenakan atasan di atas ranjang serba putih, sementara sang wanita berfoto selfie di sampingnya dengan selimut yang ditarik hingga sebatas dada, tersenyum penuh kemenangan ke arah kamera.
Tangan Senja bergetar hebat. Ponsel di genggamannya hampir terlepas jika ia tak menahannya rapat-rapat. Belum sempat Senja mencerna rasa hantamannya, sebuah pesan teks panjang masuk dari nomor yang sama.
'Hai, Senja. Perkenalkan, aku Arum. Maaf ya kalau foto-foto ini bikin kamu kaget. Tapi aku cuma mau mengembalikan kebenaran pada tempatnya.'
'Selama ini kamu pasti bingung kan kenapa Adam selalu pulang lewat tengah malam? Kenapa bajunya wangi parfumku? Kenapa dia selalu ingkar janji sama kamu? Itu karena dia selalu ada bersamaku, Senja. Di rumahku. Di ranjangku.'
'Aku tahu kamu sudah dua tahun mendampingi dia. Tapi kamu harus sadar diri, dari awal Adam tidak pernah menginginkan kamu. Kamu cuma pengganti sementara waktu aku pergi. Sekarang aku sudah kembali, dan Adam masih milikku. Dia tidak pernah melepaskan hatinya untukku.'
'Tolong jangan jadi wanita pemaksak yang kasihan, Senja. Lepaskan Adam. Kasihan suamimu, setiap hari harus pura-pura peduli padamu padahal pikirannya cuma ada di aku.'
Air mata Senja menetes deras, membasahi layar ponsel yang masih menyala terang. Suara tangisnya pecah di tengah sepinya lantai kantor yang gelap.
Rasa sakitnya bukan lagi sekadar perih, melainkan kehancuran yang total. Semua teka-teki beberapa bulan terakhir ini mendadak terjawab dengan begitu gamblang dan kejam. Wangi parfum jasmin -vanilla, alasan lembur yang tak masuk akal, sikap dingin, hingga lirikan bersalah Adam malam itu, semuanya karena Arum sudah kembali.
"Kenapa, Mas..." bisik Senja dengan suara parau dan dada tersengal-sengal.
"Kalau kamu memang sudah kembali sama dia... kenapa kamu tak bilang yang sejujurnya padaku? Kenapa harus membodohiku sejauh ini?"
Senja meremas dadanya yang terasa begitu sesak. Ia tak lagi menangisi cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Kali ini, air matanya adalah bentuk kemarahan atas harga dirinya yang telah diinjak-injak.
Dengan tangan yang masih gemetar, Senja mengunduh seluruh foto, video, dan tangkapan layar pesan tajam dari Arum tersebut, lalu menyimpannya rapi di folder rahasia ponselnya. Bukti itu sudah cukup. Tak ada lagi alasan untuk bertahan, tak ada lagi tempat untuk berharap.
Senja mengusap air matanya dengan kasar. Ia mematikan komputer, menyambar tasnya, dan melangkah keluar dari kantor dengan ketetapan hati yang kini mengeras bagai batu, malam ini, semuanya harus berakhir.
Setibanya di rumah, Senja melangkah masuk dengan perasaan yang tak lagi hampa, melainkan berkobar oleh kepahitan dan kebingungan. Rumah itu sepi seperti biasa. Senja duduk di tepi tempat tidur di kamarnya, kembali membuka ponsel dan memandangi satu per satu bukti perselingkuhan yang dikirimkan Arum.
Kali ini, jemarinya bergerak menekan foto profil WhatsApp nomor asing itu. Foto Arum yang terpampang jelas di layar di bawah sorotan lampu kamar yang terang.
Senja mengernyitkan dahi. Ditatapnya wajah wanita itu lebih lekat, memperbesar bagian mata dan senyumannya. Seketika, rasa terkejut yang luar biasa menghantam dadanya.
"Tunggu... ini..." bisik Senja, napasnya tertahan.
Wajah Arum sangat tidak asing. Wanita berambut gelombang dengan tahi lalat tipis di dekat bibirnya itu adalah wanita yang sama yang beberapa bulan terakhir ini sering melenggang anggun di koridor lantai atas kantornya ruangan jajaran eksekutif. Wanita yang selalu disapa dengan penuh hormat oleh para karyawan.
"Lyra?" gumam Senja tak percaya.
Benak Senja langsung berputar cepat merangkai semua ingatan di kantor. Wanita bernama Lyra itu adalah tunangan sekaligus calon istri dari CEO di perusahaannya atasan tertinggi yang paling disegani. Senja ingat betul pernah melihat Lyra bergandengan tangan mesra dengan sang CEO di lobby utama, bahkan seluruh staf kantor sudah heboh membicarakan rencana pernikahan mewah mereka bulan depan.
Senja tertawa sumbang, sebuah tawa getir di tengah kegelapan kamarnya.
"Jadi... namamu sebenarnya Arum?" desis Senja, matanya menatap foto di layar dengan tatapan tak menyangka.
"Kamu menjadi Arum saat bersama Mas Adam, tapi di luar sana kamu adalah Lyra... calon istri calon bos besar?"
Fakta baru ini bagaikan tamparan keras. Senja menyadari permainan kotor yang sedang terjadi. Arum atau Lyra bukan hanya menghancurkan pernikahan Senja, tapi wanita itu juga sedang membodohi dua pria sekaligus. Arum menjalin hubungan gelap dengan Adam yang belum bisa move on darinya, sementara di saat yang sama ia mengejar kemewahan dengan bertunangan bersama pria lain yang jauh lebih berkuasa.
Dan Adam? Suaminya yang cerdas dan selalu membanggakan harga dirinya itu, ternyata hanyalah pria bodoh yang dimanfaatkan dan dijadikan persinggahan tersembunyi oleh mantan kekasihnya sendiri.
Senja menungu Adam semalaman, bahkan samapai dia ketiduran di sofa namun Adam belum pulang juga. Entah jam berapa Adam pulang. Paginya dia menunggu Adam kelaur dari dalam ruang kerjanya. Tapi Adam juga belum kelauar sedangkan hari ini dia ada ada rapat penting dengan atasan tertinggi di kantor, Angkasa. Pria yang juga merupakan calon suami Lyra.
"Astaga, aku hampir telat! Kenapa mas adam tumben sekali belum bangun? Aku harus segera perg ke kantor!" Seru Senja dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantor lebih dahulu. Dia akan bicara dengan Adam nanti malam.