Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan
Tubuh Jia Li bergetar hebat; dinding pertahanan emosi yang ia bangun rapat-rapat sejak tadi akhirnya runtuh total saat sepasang matanya menatap dalam dua pemuda di hadapannya.
Di seberang sana, Yun Shadom dan Yun Sharam berdiri terpaku. Kerutan samar muncul di dahi keduanya saat mereka menatap intens wajah gadis itu, mencoba menggali ingatan tentang di mana kiranya mereka pernah melihat wajah yang terasa begitu familiar tersebut.
Sebelum mereka berhasil menemukan jawabannya, sebuah bisikan lirih namun bergetar memecah keheningan. "Kakak——"
Suara itu pelan, hampir tersapu angin malam, namun cukup jelas untuk membuat Yun Shadom dan Yun Sharam tersentak hebat.
Sepasang mata kedua pemuda itu seketika membelalak, lalu menyipit penuh kebingungan yang bercampur dengan rasa tidak percaya.
Belum sempat logika mereka mencerna apa yang sedang terjadi, Jia Li sudah melangkah lebar, berlari sekuat tenaga, lalu menabrakkan tubuhnya ke dada kedua pemuda itu.
Ia merengkuh mereka berdua dalam satu pelukan yang luar biasa erat, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, kedua sosok itu akan menguap menjadi udara.
"Kalian di sini? Benar-benar di sini?" gumam Jia Li di sela tangisnya yang mulai pecah, menyembunyikan wajahnya di antara pundak mereka.
Tubuh Yun Shadom dan Yun Sharam menegang kaku. Ada sengatan tak kasat mata, sebuah ikatan batin yang begitu kuat, yang tiba-tiba mengalir deras ke dalam dada mereka hingga tak kuasa untuk mereka tolak.
Di detik berikutnya, kesadaran itu menghantam mereka layaknya petir di siang bolong. Mata mereka terbelalak sempurna saat potongan-potongan ingatan di kepala mereka terbuka.
Mereka memang belum pernah bertemu dengan gadis bernama Jia Li ini. Namun, raut wajah itu, struktur tegas yang berpadu dengan kelembutan itu... identitasnya selalu tersimpan rapi di relung memori terdalam mereka.
Gadis bernama Jia Li yang kini menangis sesenggukan di pelukan mereka, adalah sosok yang selama ini hanya bisa mereka pandangi dalam sebuah lukisan kuno. Lukisan yang tidak lain merupakan gambaran dari raga asli ibu mereka di zaman modern.
Namun... Kakak? Kenapa gadis ini memanggil mereka dengan sebutan itu?
Dengan napas yang tertahan, Yun Shadom dan Yun Sharam perlahan merenggangkan dekapan tersebut. Mereka memegang kedua pundak Jia Li, menjauhkannya sedikit demi sedikit sambil menatapnya dengan tatapan menyipit, menuntut penjelasan.
"Kau... siapa sebenarnya kau?" tanya Yun Shadom dengan suara yang tercekat di tenggorokan.
"Kenapa kau memanggil kami kakak?!" timpal Yun Sharam, suaranya bergetar menahan gejolak aneh di dadanya.
Kata-kata penuh tuntutan dan keraguan dari keduanya mendadak terhenti saat Jia Li mendongak.
Di bawah pendar cahaya lampu jalanan yang temaram, gadis itu menatap mereka dengan mata yang memerah dan basah oleh air mata. Sambil terisak dan berusaha mengatur napasnya yang sesak, ia berbisik, "Ini aku..."
Ia menjeda kalimatnya sejenak, membiarkan nama aslinya meluncur dari bibirnya. "Yun Sheren."
DEG!
Jantung Yun Shadom dan Yun Sharam seolah berhenti berdetak saat itu juga. Seluruh persendian tubuh mereka bergetar hebat oleh gelombang emosi yang begitu dahsyat, hingga tanpa sadar, sudut mata kedua pemuda berwajah dingin itu mulai berkaca-kaca.
Dengan tangan yang gemetar, mereka mengulurkan jemari, menyentuh dan menyeka air mata di pipi Jia Li.
Benar, raga yang mereka sentuh saat ini adalah milik orang lain—raga yang tak lain adalah milik ibu kandung mereka.
Namun, lewat tatapan mata itu, lewat getaran suara dan kehangatan yang menjalar, mereka bisa melihat dengan sangat jelas: ada jiwa lain yang bersemayam di dalamnya. Jiwa yang selama berhari-hari ini mereka rindukan setengah mati, jiwa yang terikat paling dekat dengan hati mereka.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Yun Shadom dan Yun Sharam langsung menarik Jia Li kembali ke dalam pelukan mereka dengan begitu protektif. Tangis yang sejak tadi ditahan oleh kedua pemuda itu akhirnya tumpah ruah.
"Adik!" isak keduanya penuh emosi.
Jia Li mengangguk sambil terisak di pelukan keduanya."Iya, kak... ini aku... ternyata aku nggak sendiri disini."
Di bawah kesaksian cahaya bulan yang temaram, takdir malam itu telah merajut kembali ikatan darah yang sempat terkoyak dan terpisah oleh waktu.
Setelah beberapa menit berlalu dan badai emosi mereka mulai sedikit mereda, Jia Li tiba-tiba tersentak.
Kesadarannya ditarik kembali ke realitas saat ini. Ia mendadak menepuk keningnya dengan keras—ia hampir saja melupakan hal yang sangat penting karena ego kerinduannya sendiri.
"Liu Yue?!" gumam Jia Li dengan mata membelalak panik. Wajahnya memucat seketika. "Astaga, Liu Yue!"
Tanpa memedulikan rasa heran di wajah Yun Shadom dan Yun Sharam, Jia Li langsung melepaskan diri dari dekapan mereka dan berlari kencang ke arah belakang, tempat mobil hitam yang di tumpangi Liu Yue terhenti.
Di sana, pemandangan tampak kacau. Beberapa pengawal berpakaian hitam yang terluka parah terlihat berusaha keras menahan rasa sakit yang mendera tubuh mereka.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, salah satu pengawal yang bersimbah darah merangkak mendekat, lalu mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil yang sudah retak seribu akibat benturan keras.
"Nona... Nona Liu Yue, Anda di dalam? Anda baik-baik saja?!" teriak pengawal itu dengan suara serak yang memilukan.
Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Sama sekali tidak ada jawaban.
Di dalam kabin mobil yang sunyi, Liu Yue masih gemetar ketakutan. Trauma dari serangan mendadak tadi membuat seluruh otot tubuhnya kaku, sampai-sampai ia kesulitan hanya untuk sekadar bergerak, bahkan untuk mengeluarkan suara dari tenggorokannya yang mendadak kering pun ia tak mampu.
Tok! Tok!
Jia Li tiba-tiba sudah berada di depan pintu mobil, mengetuk jendela yang retak itu dengan cemas. "Liu Yue! Ini aku, Jia Li! Buka pintunya!" seru Jia Li. Suaranya terdengar pelan namun sarat akan ketegasan yang menuntut kepatuhan.
Lagi-lagi, tidak ada jawaban dari dalam. Keheningan di dalam mobil itu justru terasa semakin mencekik.
Merasa tidak sabar dan khawatir terjadi sesuatu yang buruk di dalam sana, Jia Li mengepalkan tangannya.
Saat Jia Li baru saja akan menggunakan kekuatan spiritualnya untuk memaksa menarik pintu mobil yang terkunci mati itu, sebuah tangan kekar milik Yun Shadom tiba-tiba muncul dan menghalangi pergerakannya.
"Biar aku saja," kata Yun Shadom dengan nada suara yang datar namun dingin.
BRAK!
Tanpa menggunakan alat bantu apa pun, Yun Shadom menarik pintu mobil tersebut dengan satu sentakan kuat, seolah-olah besi tebal itu hanyalah sebuah mainan plastik murah yang rapuh. Logam pintu itu berderit mengerikan sebelum akhirnya terlepas dari engselnya.
Melihat kekuatan monster yang mengerikan itu, beberapa pengawal yang masih sadar di sekitar mereka hanya bisa menelan ludah dengan susah payah. Rasa hormat dan ngeri bercampur aduk di dalam benak mereka.
Tanpa memedulikan tatapan orang lain, Yun Shadom langsung merangsek masuk ke dalam mobil yang gelap.
Ia menatap sosok gadis yang meringkuk di pojok kursi penumpang. "Hei! Kau baik-baik saja?" tanya Yun Shadom, suaranya sedikit melunak dari biasanya.
Yun Shadom kemudian mengulurkan tangan dan menyentuh bahu Liu Yue. Sentuhan mendadak itu seketika membuat gadis itu tersentak hebat karena terkejut.
Liu Yue nyaris berteriak histeris jika saja Yun Shadom tidak dengan sigap segera menutup mulut gadis itu dengan telapak tangan besarnya.
"Diam! Jangan berteriak! Kau sudah aman," ucap Yun Shadom menenangkan, menatap langsung ke dalam manik mata Liu Yue yang dipenuhi air mata.
Mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Waktu seolah berhenti berputar selama beberapa detik di antara kilatan lampu kota yang samar-samar.
Detik berikutnya, seolah mendapatkan kembali kesadarannya dan merasa menemukan tempat berlindung yang paling aman, Liu Yue langsung menghambur ke pelukan Yun Shadom.
Ia memeluk leher pria itu dengan sangat erat, menumpahkan seluruh rasa takut yang sempat membekukannya tadi ke dalam dada bidang Yun Shadom.
Jia Li yang berdiri di luar mobil dan menyaksikan seluruh adegan romantis yang tak terduga itu hanya bisa menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh arti.
"Sepertinya ada yang terlewat..." gumam Jia Li pada dirinya sendiri, merasa ada percikan emosi yang berbeda di antara keduanya.
Di dalam mobil, Yun Shadom sempat tertegun sesaat. Tubuhnya menegang mendapati aksi nekat gadis itu.
Namun, perlahan tapi pasti, dengan gerakan yang tampak canggung dan ragu, tangan besarnya terangkat untuk membalas pelukan hangat itu, menepuk punggung Liu Yue dengan perlahan.
Di saat yang bersamaan, keheningan malam itu benar-benar pecah berkeping-keping. Suara riuh dari rombongan kendaraan besar mulai terdengar mendekat dari kejauhan.
Suara decitan ban mobil yang bergesekan tajam dengan aspal, berpadu dengan suara gemuruh baling-baling helikopter penyelamat yang berputar di udara, menerangi area pertempuran dengan lampu sorot yang terang benderang. Itu Liu Han.
•
•
Mohon maaf ya, mungkin untuk hari ini atau besok Author cuma bisa up satu bab. Soalnya sejak kemaren kesehatan Author sedikit menurun🙏🙏🙏🙏 tapi kalo udah agak mendingan, Author bakal up lagi 2 atau 3 bab😊😊😊