Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Saluran di Bawah Tanah
"Empat belas orang," bisik Tarub, berbaring telungkup di rerumputan di puncak bukit. "Aku hitung dua kali. Delapan di halaman, empat di pintu tungku, dua berjaga di atap."
"Dan kita hanya enam," gumam Raka, suaranya hampir tak terdengar.
"Lima, kalau menghitung anak ini sebagai separuh." Tarub melirik Jaka, yang langsung memelototinya.
Wirabhaya tidak tertawa. Ia mengamati lembah dengan mata menyipit, rahang mengeras, seperti seorang jenderal yang menghitung peluang yang buruk dan tidak menyukai hasilnya.
"Kita tidak bisa menyerbu dari depan," katanya akhirnya. "Mereka akan menjadikan Sekar tameng."
"Kita butuh pengalihan," kata Tarub.
"Dan satu orang yang bisa mendekati Sekar tanpa terlihat." Wirabhaya menoleh pada Jaka. "Anak ini bilang dia hafal tempat itu."
"Ada saluran, Gusti," kata Jaka cepat. "Saluran asap di bawah tanah. Ayahku menggalinya supaya panas dari tungku bisa dialirkan ke lubang pembakaran di tengah halaman. Pintu masuknya di belakang bangunan, tertutup semak. Lubang keluarnya di halaman, tertutup papan kayu."
"Tepat di bawah gapura itu?" tanya Raka.
"Hanya beberapa langkah darinya."
Wirabhaya menatap Raka lama. Raka tahu apa yang akan dikatakannya, dan ia sudah tahu jawabannya sebelum ditanya.
"Aku yang pergi," kata Raka.
"Kau tidak terlatih."
"Kau terlalu besar untuk muat di saluran itu. Tarub juga." Raka mencoba tersenyum, tapi bibirnya gemetar. "Lagi pula, hanya aku yang membawa bata itu. Kalau gerbang mulai bereaksi, aku perlu tahu."
"Aku ikut," kata Jaka. "Aku yang tahu jalannya."
"Tidak mungkin..."
"Tolong, Gusti." Mata Jaka basah tapi tekadnya tak goyah. "Kalau aku tidak bisa menolong, aku akan menyesal seumur hidup."
Wirabhaya menghela napas panjang, lalu mengangguk berat. "Baik. Tapi dengarkan baik-baik. Tarub dan dua orang kita akan membuat keributan di sisi timur. Begitu kau dengar teriakan dan api, itu isyarat. Kau punya waktu sesingkat mungkin untuk memotong ikatannya dan membawanya keluar. Aku akan menunggu di pintu belakang."
Ia menyerahkan sebilah belati kecil pada Raka. Raka menggenggamnya dengan tangan dingin. Belati itu terasa terlalu ringan dan terlalu nyata.
Saluran itu hampir tidak muat untuk satu orang.
Raka merangkak dengan siku dan lutut, perutnya menempel di tanah lembap yang berbau arang dan tanah liat. Langit-langitnya begitu rendah hingga punggungnya sesekali menggesek bata. Jaka merangkak di depannya, tubuh kecilnya bergerak gesit seperti luwak. Dalam kegelapan pekat, hanya terdengar napas mereka berdua dan detak jantung Raka yang bergema di telinganya sendiri.
Bata merah di sakunya semakin hangat. Kini hampir panas.
"Kita hampir sampai," bisik Jaka. "Tiga puluh langkah lagi."
"Aku tidak bisa menghitung."
"Kalau begitu hitung napas."
Raka mencoba. Satu. Dua. Tiga. Ia membayangkan Sekar di atas sana, terikat, ketakutan, mungkin terluka. Ia membayangkan wajahnya waktu pertama kali mereka bertemu di tepi sungai, dengan sabit terangkat dan mata menyala. Entah bagaimana, gambaran itu membuatnya terus bergerak.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar teriakan.
"Api! Api! Kandang terbakar!"
Disusul jeritan kuda, derap kaki orang berlarian, dan seseorang berteriak memerintahkan semua bersiap. Suara-suara di atas kepala mereka berubah menjadi kekacauan.
"Sekarang," desis Jaka.
Mereka mempercepat rayapan. Di ujung saluran, seberkas cahaya remang menembus celah papan kayu. Jaka mengangkat lengannya perlahan, menekan papan itu dengan ujung jari, dan menggesernya sedikit.
Raka mengintip.
Mereka berada di bawah halaman, tepat di tengah lingkaran obor. Dari celah papan, ia bisa melihat kaki-kaki berlarian, bayangan orang-orang yang panik, dan tak jauh dari sana, tiang kayu tempat Sekar terikat. Hanya empat langkah.
Dan di bawah gapura bata itu, sendirian di tengah kekacauan, Sekar menoleh perlahan seolah merasakan sesuatu.
Mata mereka bertemu.
Raka tidak sempat berpikir. Ia mendorong papan itu terbuka, merayap keluar dalam kegelapan di antara bayang-bayang obor, dan mencapai tiang dalam beberapa detik. Sekar tidak berteriak. Hanya matanya yang melebar.
"Kau gila," bisiknya.
"Mungkin." Raka sudah memotong tali di pergelangan tangannya dengan belati. "Tapi aku datang."
"Terlambat."
"Aku macet di saluran."
Sekar mendengus, setengah tertawa setengah terisak, dan membiarkan Raka memotong tali di kakinya. Tali itu jatuh. Sekar mencoba berdiri, tapi kakinya lemas dan ia hampir roboh. Raka menangkapnya.
"Cepat," desisnya. "Lewat saluran. Jaka menunggu."
"Raka."
Suara itu datang dari belakang, pelan dan lelah.
Raka membeku.
Anggada berdiri tiga langkah di belakangnya, di bawah cahaya obor yang bergoyang. Pedangnya terhunus tapi diturunkan, tak ada ancaman di gerak tubuhnya. Wajahnya, wajah ramping dengan bekas luka di dagu, tampak jauh lebih tua dan letih dari yang Raka ingat.
"Aku tahu kalian akan datang," katanya.
"Biarkan kami pergi."
"Aku tidak bisa."
"Kau menangis waktu menyeretnya," kata Raka, mendorong Sekar ke belakangnya dengan lengan terentang. "Landep melihatnya."
Anggada tersenyum pahit. "Orang tua itu punya mata tajam."
"Kenapa?" Suara Raka pecah. "Kenapa kau lakukan ini? Kau sahabat Wirabhaya sejak kecil."
Anggada terdiam lama. Kekacauan di sekeliling mereka perlahan mereda, tetapi di bawah gapura bata, suasana terasa sunyi dan terpisah dari dunia.
"Putraku," katanya akhirnya. "Namanya Bayu. Umurnya enam tahun. Tiga pekan lalu dia demam, begitu tinggi sampai tubuhnya kejang. Tabib istana angkat tangan. Aku siap mengubur anakku."
Raka merasakan perutnya mengerut.
"Lalu seseorang datang ke rumahku. Orang yang tinggi, berpakaian aneh, membawa kotak kecil berisi butiran putih." Anggada menatap pedangnya. "Dia bilang itu obat dari negerinya. Dua hari kemudian, Bayu sudah bermain lagi di halaman."
"Obat..." Raka bergumam. Ia teringat strip parasetamol yang ia berikan pada Nyai Lastri, dan perutnya mulas. Bukan hanya itu. Mungkin juga antibiotik.
"Aku berutang nyawa putraku pada orang itu," lanjut Anggada. "Dia hanya meminta satu hal sebagai balasan: kesetiaan. Sedikit demi sedikit. Pertama hanya informasi. Lalu surat. Lalu..." Ia memejamkan mata. "Lalu hal-hal yang tak bisa kubatalkan."
"Gadis ini tidak bersalah."
"Aku tahu."
"Kalau begitu biarkan kami pergi."
Anggada membuka mata. Ada air di sudutnya. "Kalau aku membiarkan kalian pergi, Bayu akan menderita. Dia sudah bilang, penyakit itu bisa kembali. Dia hanya perlu menghentikan obatnya."
Hening.
Sekar, yang sejak tadi bersandar lemah pada punggung Raka, tiba-tiba melangkah maju. Wajahnya pucat, tetapi suaranya mantap.
"Ada obat lain," katanya. "Kau tidak perlu orang itu. Orang ini..." Ia menunjuk Raka. "Dia tahu cara-cara baru. Dia membuat ibuku sembuh. Dia bisa membantu anakmu."
Raka menoleh kaget. Sekar menatapnya lurus, penuh keyakinan yang mengejutkan.
"Kan?"
Raka menelan ludah. Ia tidak yakin. Ia bukan dokter, bukan apoteker. Tapi ia tahu cukup untuk mengenali bahwa demam tinggi pada anak perlu penanganan yang benar, dan bahwa mungkin, hanya mungkin, ada yang bisa ia lakukan.
"Saya akan mencoba," katanya perlahan. "Itu janji. Tapi saya tidak bisa menjamin."
Anggada menatapnya lama. Perjuangan terlihat jelas di wajahnya, antara rasa takut dan secercah harapan yang baru tumbuh. Pedangnya perlahan bergetar di tangannya.
Lalu sesuatu terjadi pada bata merah di saku Raka.
Panasnya melonjak hingga menyengat. Raka menyentak kain bajunya dan menariknya keluar, dan bata itu bersinar terang, begitu terang hingga bayangan mereka terlempar panjang di dinding tungku. Cahaya putih kebiruan memancar dari permukaannya, bergema dengan suara dengung rendah yang makin lama makin keras.
Dan di dada Sekar, di balik kainnya, sesuatu yang lain ikut menyala.
Cincin matahari.
"Apa..." bisik Sekar, menunduk menatap cahaya yang menembus kain bajunya.
Di antara dua pilar bata di belakang mereka, udara mulai beriak seperti permukaan air. Kabut tipis berputar dari ruang kosong di tengah celah, dan di baliknya, sayup-sayup, terdengar suara yang membuat bulu kuduk Raka berdiri:
Nyanyian panjang tanpa kata. Seratus suara sekaligus.
"Belum jam tiga," gumam Raka, terguncang. "Ini belum waktunya."
Tapi gerbang itu sudah terbuka.
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.