Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Hak yang Kadaluarsa.
KRIINGGGGGG!
Bel tanda istirahat pertama berbunyi, langsung disambut helaan napas lega dari seisi kelas XI-IPA 2. Guru Biologi di depan kelas segera merapikan buku dan melangkah keluar, diikuti oleh puluhan murid yang langsung berhamburan menuju kantin demi mengisi perut sekaligus bergosip tentang kehebohan di gerbang sekolah tadi pagi.
Aletha masih duduk di bangkunya, menopang dagu dengan lesu. Fika sudah mengajaknya ke kantin sejak menit pertama bel berbunyi, namun Aletha menolak halus. Energi mentalnya hari ini benar-benar terkuras habis.
"Lo beneran nggak mau ikut ke kantin, Let?" tanya Fika sekali lagi sebelum beranjak.
"Enggak, Fik. Gue nitip air mineral aja nanti, ya," jawab Aletha dengan senyum yang dipaksakan.
Begitu Fika keluar, kelas mendadak sepi. Hanya tersisa tiga orang murid yang sibuk bermain ponsel di pojok belakang, serta Akalangit Sagara Voss di meja sebelah Aletha yang masih telaten merapikan buku-buku cetaknya ke dalam laci meja. Wajah datarnya tetap sedingin es, seolah kehebohan satu sekolah pagi ini sama sekali tidak mengusik ketenangannya.
Brak!
Pintu kelas yang setengah tertutup tiba-tiba didorong dengan kasar dari luar. Jantung Aletha sontak melompat ke tenggorokan saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu.
Tommy.
Cowok itu datang sendirian tanpa Reza atau anak-anak geng Griffin lainnya. Jaket denim hitamnya tidak dipakai, hanya seragam putih-abu-abunya yang tampak sedikit kusut. Lebam kebiruan di rahangnya akibat pukulan Langit kemarin malam terlihat semakin jelas di bawah lampu kelas yang terang. Matanya yang merah menatap liar ke sekeliling ruangan sebelum akhirnya mengunci sosok Aletha yang duduk di bangkunya.
Tommy melangkah lebar, memangkas jarak dengan cepat hingga berhenti tepat di depan meja Aletha.
"Tom... kamu ngapain ke sini?" tanya Aletha, suaranya bergetar menahan cemas. Matanya melirik ke arah tiga murid di pojok belakang yang kini mulai berbisik-bisik memperhatikan mereka.
"Ikut gue sekarang, Letha. Kita butuh bicara," ucap Tommy. Suaranya berat, serak, dan penuh dengan nada perintah yang egois. Ia langsung mengulurkan tangan, hendak menyambar pergelangan tangan Aletha.
Set.
Sebelum jari-jari Tommy sempat menyentuh kulit Aletha, sebuah buku cetak tebal tiba-kira diselipkan di antara tangan mereka, menghalangi gerakan Tommy secara mutlak.
Langit berdiri dari duduknya dengan gerakan lambat namun penuh intimidasi. Tubuh tingginya yang menjulang langsung memberikan sekat pelindung di antara Tommy dan Aletha. Mata hazel-nya menatap Tommy dengan pandangan yang teramat datar dan dingin.
"Gue kira batas memori otak lo nggak sependek ini, Tommy," desis Langit dengan nada suara yang tenang namun menusuk telak.
"Perjanjian semalam di Jalan Baru sudah sah. Lo kalah, dan lo dilarang keras buat mendekati tunangan gue lagi."
Tommy menggeram rendah, urat di pelipisnya menegang hebat. Ia melangkah maju, menantang tatapan mata Langit tanpa mundur sedikit pun.
"Tunangan sialan apa, hah?!" bentak Tommy, emosinya meledak hingga membuat tiga murid di pojok kelas langsung bergegas kabur keluar ruangan karena takut terkena imbas.
"Gue nggak peduli sama drama taruhan bodoh semalam! Status gue di sini adalah pacar sah Aletha! Kita belum putus, dan gue masih punya hak penuh atas dia!"
Tommy beralih menatap Aletha melewati bahu tegap Langit, matanya memancarkan rasa terluka sekaligus obsesi yang besar.
"Letha! Kamu pacar aku! Kita udah jalan hampir satu tahun! Kamu beneran mau ngebuang semua hubungan kita cuma karena dijodohin sama cowok modal tampang yang selama tiga tahun ini selalu kamu benci?!"
Aletha meremas ujung rok abu-abunya dengan tangan gemetar. Dadanya terasa begitu sesak mendengar teriakan Tommy. Hubungan mereka memang sudah lama berjalan, tapi semua rasa manis itu sudah menguap sejak Tommy berubah menjadi kasar dan suka memaksa kehendak.
"Tom, tolong dengerin gue..." Aletha membuka suara, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Hubungan kita emang udah rusak bahkan sebelum Langit datang. Lo berubah, Tom. Lo selalu marah-marah, lo selalu ngilang, dan puncaknya waktu di bioskop sebulan lalu... lo hampir maksa gue! Kemarin di belakang gedung olahraga juga lo mau maksa cium gue lagi! Lo nggak pernah hargai keputusan gue!"
"Gue kayak gitu karena gue sayang sama kamu, Letha!" potong Tommy egois, tidak mau disalahkan.
"Wajar kan kalau cowok mau cium pacarnya sendiri? Lo aja yang terlalu berlebihan dan sok suci!"
Kata 'sok suci' dari mulut Tommy rasanya menghantam ulu hati Aletha dengan telak. Air matanya akhirnya luruh membasahi pipi. Rasa sedihnya mendadak menguap, digantikan oleh kekecewaan yang teramat mendalam.
Namun sebelum Aletha sempat membalas makian itu, Langit mengambil satu langkah lebih maju. Aura dingin yang menguar dari tubuh tegap cowok itu mendadak turun beberapa derajat, begitu pekat dan mencekik. Langit mencengkeram bagian depan kerah seragam Tommy dengan satu sentakan tangan yang sangat kuat, menarik tubuh ketua geng motor itu hingga mereka saling berhadapan dalam jarak beberapa senti saja.
"Jaga. Mulut. Lo." desis Langit kata per kata dengan suara rendah yang terdengar seperti geraman serigala yang siap menerkam mangsanya. Sorot mata hazel-nya berkilat dipenuhi kemarahan yang teramat pekat.
"Hak lo atas Aletha sudah kedaluwarsa sejak lo memutuskan untuk berbuat kasar dan tidak menghormati dia sebagai perempuan. Di depan mata gue semalam, lo sudah kehilangan hak itu secara mutlak di atas aspal."
Tommy mencoba melepaskan cengkeraman tangan Langit di kerah bajunya, namun tenaga Langit jauh lebih besar menahannya di tempat.
"Kalau lo berani meneriakinya lagi, atau berani menyebutnya dengan kata-kata sampah itu di depan gue sekali lagi..." Langit memajukan wajahnya sedikit, tatapannya begitu mengintimidasi hingga nyali Tommy mendadak menciut. "...gue pastikan bukan cuma reputasi geng motor lo yang hancur, tapi masa depan lo di sekolah ini juga selesai hari ini juga. Paham?"
Langit menyentakkan tubuh Tommy ke belakang dengan kasar hingga cowok itu terhuyung menabrak meja guru di depan kelas.
Tommy terengah-engah, memegangi dadanya dengan napas memburu. Ia menatap Langit dengan tatapan mata yang dipenuhi kekalahan, lalu beralih menatap Aletha yang kini sedang menghapus air matanya dengan kasar di balik punggung tegap Langit. Menyadari bahwa Aletha sama sekali tidak berniat membelanya lagi, ego Tommy akhirnya runtuh sepenuhnya menjadi serpihan dendam.
"Oke... oke!" seru Tommy dengan suara parau yang bergetar penuh kemarahan tertahan. Ia membetulkan kerah seragamnya yang kusut dengan tangan gemetar. "Kalian berdua menang hari ini. Tapi inget kata-kata gue, Letha... lo bakal nyesel karena udah milih cowok iblis ini daripada gue!"
Dengan langkah dihentak-hentakkan penuh emosi, Tommy membalikkan badannya dan berjalan cepat keluar dari kelas XI-IPA 2, membanting pintu geser kelas dengan bunyi BRAK! yang sangat nyaring hingga mengguncang kaca jendela.
Keheningan yang teramat pekat kembali menguasai ruang kelas. Aletha menundukkan kepalanya dalam-dalam, bahunya bergetar lirih karena sisa tangisnya yang belum reda. Di depannya, Langit membalikkan tubuhnya perlahan. Cowok dingin itu menatap Aletha beberapa saat, sebelum akhirnya ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan selembar sapu tangan kain berwarna biru dongker yang wangi parfum mint miliknya.
Langit menyodorkan sapu tangan itu ke depan wajah Aletha dengan gerakan kaku.
"Hapus air mata lo, Kurcaci. Tugas lo hari ini adalah jadi babu gue, bukan jadi air mancur kelas."
Mendengar sindiran yang dibalut perhatian minimalis itu, Aletha mendongak, menatap Langit melalui sisa air matanya. Sebuah debaran aneh yang begitu halus kembali mengetuk dinding hatinya. Aletha mengambil sapu tangan itu, lalu tersenyum sangat tipis di balik sisa tangisnya. Hubungan mereka mungkin berawal dari neraka pertengkaran, namun siang ini, di dalam kelas yang sepi, Aletha sadar bahwa pelindungnya yang paling tangguh adalah musuh bebuyutannya sendiri.