Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Keesokan harinya, Bella bangun pagi-pagi dan bersiap-siap untuk berangkat ke studio foto. Pada saat Bella mau turun tangga, dia berpapasan kembali dengan Olivia yang mau berangkat ke sekolah.
"Pagi, Kakak Bella. Kakak sudah bangun?"
"Kakak Bella mau kemana pagi-pagi gini?" tanya Olivia pada Bella.
Namun, Bella enggan untuk menjawab pertanyaan Olivia tersebut.
Di saat Bella mau melangkah ke anak tangga, terdengar sebuah suara. Ternyata itu adalah Kak Aaron.
"Tak usah menghiraukannya, Olivia. Ayo kita sarapan sekarang. Hari ini Kakak yang akan mengantarmu ke sekolah," ucap Kak Aaron pada Olivia.
"Tapi kan, Kak, Kak Bella mau pergi dan dia belum sarapan. Olivia mau mengajak Kak Bella makan bersama kita," ucap Olivia pada Kak Aaron.
"Jangan dan tidak boleh! Nanti kita bisa sial kalau dekat-dekat dengannya. Ayo buruan," ucap Kak Aaron sambil menarik tangan Olivia.
Bella yang mendengar ucapan Kak Aaron saat itu merasa sangat sakit hati. Apa salahku sehingga kamu segitu bencinya padaku, Kak? batin Bella.
Pada saat Bella hendak melangkah, ternyata Kak Ethan dan Kak Charles turun bersamaan.
"Tak bisakah kamu tidak mengganggu Olivia sehari saja? Jangan selalu menampakkan dirimu di hadapan Olivia ataupun kami," ketus Kak Charles. "Kami tidak mau ketiban sial hanya karena melihatmu!"
"Bella tidak pernah menunjukkan diri pada kalian. Kalian sendiri yang selalu muncul. Kenapa kalian begitu membenciku? Apa salahku pada kalian?" tanya Bella dengan suara bergetar.
"Kamu bertanya apa salahmu?!" bentak Kak Ethan marah.
Charles menyela dengan tatapan tajam, "Kamu tidak tahu apa kesalahanmu? Gara-gara kutukanmu, kedua orang tua kita meninggal! Dan kamu masih bisa merasa tidak bersalah?!"
"Jangan pernah mengganggu Olivia lagi. Kami tidak mau Olivia celaka karena sialmu itu. Cukup Papa, Mama, dan Kakek yang menjadi korban," tambah Kak Ethan dengan nada sedingin es.
Bella tertawa getir, sebuah tawa hambar yang menyiratkan rasa sakit yang teramat dalam. Suaranya tidak lagi bergetar, berganti dengan nada datar yang sarat akan kekecewaan.
"Kematian Papa, Mama, dan Kakek itu kecelakaan! Bukan karena aku!" seru Bella, menatap balik mata Kak Ethan dan Kak Charles bergantian tanpa rasa takut. "Sampai kapan kalian mau melimpahkan rasa bersalah dan kesedihan kalian padaku? Aku juga kehilangan mereka, Kak!"
Suasana lorong tangga mendadak senyap. Charles tampak tertegun sesaat, sementara rahang Ethan mengeras mendengarnya.
Kata-kata Kak Ethan bagai belati yang menghujam telak ke jantung Bella. Dadanya sesak, napasnya tertahan. Tuduhan yang sudah ratusan kali ia dengar itu tetap saja terasa sama menyakitkannya setiap kali diucapkan.
Bella mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata agar tidak jatuh di hadapan mereka. Ia tidak boleh terlihat lemah.
Tanpa membalas sepatah kata pun, Bella memalingkan wajah. Ia melangkah cepat menuruni sisa anak tangga, mengabaikan tatapan tajam kedua kakaknya dan tatapan bersalah dari Olivia. Begitu kakinya melangkah keluar dari pintu rumah, setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. Di dalam hati, ia bertekad untuk membuktikan di studio foto hari ini bahwa hidupnya tidak semenjijikkan yang mereka kira.
Maka di sinilah ia sekarang, melangkah membelah pagi yang masih dingin, membiarkan kakinya menuntun menuju studio foto yang telah ia jadikan tujuan akhir.
Namun, perutnya yang kosong melompong mulai protes, menyuarakan rasa lapar yang terasa kian perih di tengah sunyinya pikiran Bella. Sebelum ia mengabadikan wajahnya dalam potret yang kelak akan dipajang di atas peti mati, Bella tahu ia harus bertahan sedikit lagi. Ia butuh tenaga untuk sekadar tersenyum atau memasang wajah tenang di depan kamera.
Langkah kakinya melambat saat aroma masakan hangat mulai menusuk penciuman. Bella mengedarkan pandangan, mencari restoran atau kedai terdekat yang bisa memberinya kehangatan sesaat. Di sudut jalan yang belum terlalu ramai, ia menemukan sebuah tempat makan. Di sana, di antara denting sendok dan uap makanan yang mengepul, Bella duduk seorang diri—mengisi kekosongan di perutnya sebelum menghadapi ruang kedap suara tempat memorinya akan dihentikan untuk selamanya.
Semangkuk soto ayam hangat tersaji di depannya, lengkap dengan uap panas yang menerpa wajah pucatnya. Bella menyendok kuah kuning itu perlahan, meresapi rasa gurih yang mengalir hangat di tenggorokannya. Lucu sekali, pikirnya. Di saat seluruh dunianya bersiap untuk runtuh dan berhenti, indra pengecapnya justru merayakan rasa kehidupan dengan begitu nyata. Setiap kunyahan terasa seperti ritual perpisahan dengan dunia yang sebentar lagi akan ia tinggalkan.
Setelah suapan terakhir tandas, Bella meletakkan sendoknya, mengusap bibir dengan tisu, lalu menarik napas dalam-dalam. Energi yang baru ia dapatkan dari makanan ini bukan untuk hidup, melainkan untuk melangkah tegap menuju kematiannya sendiri. Ia pun berdiri, membayar makanannya, dan kembali menyusuri trotoar menuju bangunan berpapan nama ‘Lensa Abadi Studio’.
"Silakan dilihat-lihat, Nona," sapa pemilik toko peti itu dengan ramah begitu Bella melangkah masuk. Ia memandang Bella sejenak sebelum bertanya, "Apakah untuk orang tua?"
"Untukku sendiri," jawab Bella tenang. Nada suaranya begitu datar, seolah kematian bukanlah hal yang menakutkan baginya.
Pemilik toko tersebut seketika terpaku. Senyum ramahnya lenyap, berganti rasa terkejut yang teramat sangat. Ia menatap gadis muda di hadapannya dengan tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang gadis sedini ini datang sendirian untuk memesan wadah kremasi bagi dirinya sendiri? Wadah yang kelak akan menampung abu jasadnya dan dimasukkan ke dalam peti matinya sendiri.
"Apa?!" Pemilik toko itu terperangah, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Pak, aku mau yang itu," ucap Bella pelan, memutus keheningan. Jemarinya menunjuk ke arah sebuah peti kayu kecil yang dipajang di sudut ruangan—sebuah wadah abu kremasi yang tampak sederhana namun elegan. "Tolong dibungkus, ya."
Mendengar permintaan yang begitu tenang dari Bella, dada pemilik toko itu berdenyut nyeri karena rasa iba. Ada rasa kasihan yang mendalam melihat seorang gadis yang masih memiliki masa depan panjang, namun tatapan matanya menyiratkan bahwa ia sudah bersiap-siap untuk meninggalkan dunia ini dalam waktu dekat.
Ini cukup sederhana dan harganya juga murah. Karena Nona masih sangat muda begini, Bapak kasih harga tiga ratus ribu rupiah saja," kata pemilik toko itu dengan raut wajah yang dipenuhi rasa iba.
Bella mengangguk samar, lalu mengeluarkan uang untuk membayar peti kecil tersebut sesuai harga yang ditawarkan. Ia menatap wadah abu kremasi di dekapannya. Petinya sangat cantik. Nanti aku akan tinggal di sini. Setidaknya, tempat ini tidak terlalu buruk, batin Bella, mencoba menghibur hatinya yang lara.
Melihat wajah Bella yang tampak sangat pucat, pemilik toko itu berbalik mengambil sesuatu. Ia menyodorkan sebungkus makanan hangat ke hadapan Bella. "Ambillah ini. Makanlah agar hatimu tenang," ucapnya dengan suara melembut.
Bella tertegun sesaat, menatap makanan di tangan pria paruh baya itu. Di saat keluarganya sendiri mengusirnya tanpa sarapan, seorang asing justru mengkhawatirkan perutnya.
"Terima kasih banyak, Pak," ucap Bella dengan tulus sambil menerima makanan tersebut.
"Tinggal satu langkah terakhir," ucap Bella dalam hati, mencoba menguatkan sisa-sisa keberaniannya di ambang pintu studio foto.
Udara dingin dari mesin pendingin ruangan langsung menyergap kulitnya saat ia melangkah masuk. Di balik meja, seorang pria paruh baya menoleh dan melemparkan senyum profesional yang hangat. "Halo Kak, ada yang bisa saya bantu?"
Bella membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering. "Hari ini adalah hari ulang tahun saya... dan saya ingin berfoto."
"Wah, selamat ulang tahun kalau begitu, Kak. Mau foto pas foto untuk keperluan resmi, atau potret kasual?" tanya pemilik studio itu, bersiap mencatat menu paket.
Ruangan itu mendadak hening selama beberapa detik sebelum Bella akhirnya bersuara, pelan namun teramat jelas. "Apa di sini melayani pembuatan foto duka?"
Kalimat itu meluncur begitu saja, membuat pena di tangan sang pemilik studio terhenti. Senyumnya surut seketika, digantikan oleh raut wajah yang menegang karena terkejut. Pria itu menatap Bella lekat-lekat, mencoba mencari celah apakah gadis di depannya sedang bercanda.
"Apa... apa maksud Anda?" tanyanya dengan nada suara yang merendah, dipenuhi rasa bingung sekaligus cemas.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~