NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Terputus di Ujung Dermaga

Pencarian yang dilakukan secara senyap namun masif itu berubah menjadi perlombaan melawan waktu. Tim pelacak yang dikerahkan oleh Hans menyisir setiap sudut kota, memeriksa rekaman CCTV jalanan, hingga memantau transaksi perbankan atas nama Seinara. Namun, hasilnya nihil. Seinara benar-benar memutus seluruh aksesnya ia tidak menggunakan kartu kredit, tidak menyalakan ponselnya, dan menolak berinteraksi dengan dunia luar.

Hingga pada hari ketiga, sebuah sinyal singkat yang berhasil ditangkap oleh perangkat pelacak Hans mengarahkan titik pencarian mereka ke sebuah kawasan pesisir pantai: Pelabuhan Merak.

Perjalanan menuju pelabuhan ditempuh dengan kecepatan tinggi. Valen duduk di samping Kevin dengan jari-jari yang bertautan erat di atas pangkuannya. Sepanjang jalan, hatinya tak henti berdoa agar Seinara tidak mengambil keputusan fatal. Kevin sesekali menggenggam tangan Valen, memberikan ketenangan tanpa perlu banyak kata.

Mobil mereka akhirnya berhenti di area parkir dermaga yang riuh oleh suara mesin kapal dan aroma asin air laut. Hans sudah menunggu di sana bersama beberapa anggotanya, wajahnya tampak serius.

"Bagaimana, Hans?" tanya Kevin begitu keluar dari mobil.

Hans menghela napas pendek dan menggelengkan kepala. "Sinyal terakhir dari ponselnya memancar tepat dari titik ini sejam yang lalu, Bos. Setelah itu, ponselnya mati total—kemungkinan besar dihancurkan atau dilempar ke laut."

Langkah Valen terasa berat saat menghampiri Hans. "Apa tidak ada petunjuk lain? Saksi mata? Kapal yang baru saja berangkat?"

"Kami sudah memeriksa area sekitar," kata Hans seraya menunjuk ke sudut area parkir khusus sepeda motor, tepat di bawah naungan tiang lampu dermaga yang berkarat. "Tapi kami menemukan ini."

Valen melangkah mendekat, dan jantungnya serasa berhenti berdetak seketika.

Di sana, terparkir rapi sebuah sepeda motor gede berwarna hitam doff. Motor itu sangat familiar di mata Valen motor kesayangan Seinara yang jarang sekali ia kendarai kecuali saat ia butuh melarikan diri dari kepenatan dunia. Helm diletakkan dengan rapi di atas tangki, dan kunci motornya masih menggantung di sana, terikat dengan gantungan kunci perak sederhana.

Valen mendekati motor itu dan menyentuh stangnya yang sudah dingin.

"Dia sengaja meninggalkan motor ini..." bisik Valen, suaranya tercekat di tenggorokan. "Seinara sangat mencintai motor ini. Jika dia meninggalkannya di sini..."

"Dia ingin membuang seluruh identitas dan masa lalunya, Valen," potong Kevin lembut. Ia berdiri di samping Valen, menatap sekeliling dermaga yang dipenuhi ribuan lalu lalang manusia dan puluhan jalur penyeberangan kapal. "Pelabuhan adalah titik awal sekaligus titik akhir. Orang yang pergi dari sini punya ribuan tujuan berbeda, atau... tanpa tujuan sama sekali."

Hans menyodorkan sebuah kantong plastik bening berisi ponsel yang layarnya sudah retak seribu dan kartu SIM yang telah dipatahkan menjadi dua. Barang itu ditemukan petugas kebersihan di tempat sampah dekat dermaga utama.

"Tidak ada catatan tiket kapal atas namanya," lanjut Hans. "Besar kemungkinan dia membeli tiket secara tunai dari calo, atau menumpang kapal kargo tanpa terdaftar dalam manifes penumpang. Jejaknya benar-benar terputus di sini."

Kenyataan itu menghantam Valen seperti hantaman ombak keras. Harapan yang sempat melambung kini hancur berkeping-keping. Mereka terlambat. Seinara telah pergi jauh, melarikan diri menyeberangi lautan luas menuju entah ke mana, membawa serta luka batinnya yang menganga tanpa arah tujuan.

Valen terduduk di atas pembatas beton dermaga, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat saat tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah di tengah riuhnya angin laut.

"Dia benar-benar sendirian, Kevin..." isak Valen. "Bagaimana kalau dia tidak sanggup bertahan? Bagaimana kalau dia..."

Kevin berlutut di hadapan Valen. Ia merengkuh kedua bahu wanita itu, menatap matanya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh kepastian.

"Dengarkan aku, Valen," ujar Kevin dengan suara berat dan tenang. "Seinara pergi bukan untuk menyerah pada hidupnya. Jika dia ingin mengakhiri hidupnya, dia tidak perlu merepotkan dirinya melarikan diri sejauh ini dan meninggalkan barang-barangnya dengan rapi. Dia pergi untuk melarikan diri dari rasa sakitnya, untuk bertahan hidup dengan caranya sendiri."

Valen menatap Kevin dengan mata yang basah oleh air mata. "Tapi kita tidak tahu dia ada di mana..."

"Kita memang kehilangan jejaknya hari ini," jawab Kevin mantap, mengusap air mata di pipi Valen dengan ibu jarinya. "Tapi aku tidak akan berhenti mencari. Tim Hans akan tetap menyebar jaringan di setiap pelabuhan tujuan dan kota-kota pesisir. Kita beri dia waktu untuk bernapas, tapi kita tidak akan pernah membiarkannya benar-benar hilang."

Dermaga hari itu menjadi saksi bisu terputusnya jejak Seinara. Di antara deru angin laut dan lambaian ombak yang dingin, Valen hanya bisa menatap jauh ke garis horison, berharap di mana pun sahabatnya berada saat ini, laut dapat menyerap sedikit rasa sakit yang membakar jiwanya.

Berita tentang terputusnya jejak Seinara di Pelabuhan Merak menjalar bagai dingin yang menyusup tajam ke dalam tulang. Bagi Valen, Firly, dan Jessy, kenyataan itu bukan sekadar kehilangan kawan melainkan sebuah hantaman rasa bersalah yang teramat berat.

Di ruang tengah kediaman yang biasanya penuh dengan obrolan ringan dan tawa, suasana malam itu terasa membeku. Lampu gantung menyala redup, memancarkan bayangan panjang di atas meja yang sepi.

Jessy duduk bersila di karpet, memangku laptopnya yang masih menyala terang. Tangannya yang biasanya lincah menari di atas keyboard kini gemetar. Matanya sembap, menatap layar monitor yang hanya menampilkan pesan galat (error message) seragam: Account Disabled, Number Not Registered, dan User Not Found.

"Sama sekali tidak ada..." suara Jessy pecah, tertahan di tenggorokan. Ia mengusap kasar air mata yang menetes ke atas papan tombol. "Email lamanya, akun media sosial, penyimpanan cloud bersama yang biasa kita pakai... semuanya dihapus permanen. Bahkan nomor ponselnya sudah di-deactivate total dari penyedia layanan."

Firly, yang berdiri di dekat jendela sambil memeluk tubuhnya sendiri, berbalik perlahan. Muka cantiknya pucat pasi. "Tidak ada sandi pemulihan? Atau jejak digital yang tersisa di peladen?"

Jessy menggeleng lemah. "Seinara sangat paham cara kerja sistem digital kita. Dia tidak cuma keluar dari aplikasi, Fir... dia melenyapkan eksistensi digitalnya. Dia menghapus semua foto bersama kita di akun drive, mematikan pelacakan posisi di semua perangkat, bahkan rekening tabungan sekundernya sudah ditutup secara resmi lewat transaksi penarikan tunai terakhir tiga hari lalu."

Penjelasan Jessy menegaskan satu hal yang paling menakutkan: Seinara tidak sedang emosional atau bertindak impulsif. Ia merencanakan kepergian ini dengan sangat matang dan tenang.

Valen, yang sejak pulang dari pelabuhan hanya terduduk diam di sudut sofa dengan mata sembap, akhirnya bersuara pelan. "Dia tidak mau dicari... Dia tidak mau kita menyalahkan diri sendiri, tapi dengan cara seperti ini, bagaimana bisa kita tenang?"

Firly berjalan mendekati Valen, lalu berlutut di sampingnya. Perempuan yang biasanya selalu tampil tangguh itu akhirnya runtuh. Ia menyandarkan kepalanya di lutut Valen, bahunya berguncang oleh isak tangis yang pecah.

"Ini semua karena kita kurang peka..." bisik Firly dengan nada penyesalan yang mendalam. "Harusnya aku sadar waktu dia senyum hari itu... senyumnya beda. Dia pamit tanpa suara, dan kita semua terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sampai tidak menyadari betapa hancurnya dia di dalam."

"Bukan salahmu, Fir, bukan salah kita..." sahut Jessy sambil menutup layar laptopnya dengan penuh keputusasaan. Suara benturan keras laptop yang tertutup seolah menyegel kenyataan bahwa pintu menuju kehidupan Seinara telah tertutup rapat. "Seinara memilih menanggung semuanya sendirian karena dia tidak ingin melukai kita lebih jauh."

Ruangan itu dipenuhi hening yang memilukan. Kesadaran bahwa Seinara kini benar-benar sendirian di luar sana tanpa identitas, tanpa teman berbincang, dan tanpa akses komunikasi menjadi beban berat yang harus mereka pikul bersama.

Di luar, gerimis mulai turun membasahi kaca jendela, menyamarkan jejak seseorang yang kini telah menjadi bayang-bayang di kejauhan.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!