Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.
SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.
Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.
Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9: Shinta Jatuh Sakit
Pagi hari menyongsong, aku terbangun, melihat Jefry dan Hendra juga tidur di sebelahku. Dengan posisi yang sepertinya tidak nyaman, namun terlihat pulas.
Aku membangunkan mereka karena pagi itu kami punya janji dengan vendor. Mereka bangun lalu masuk ke kamar masing-masing.
Tapi saat Jefry masuk ke dalam kamar, tiba-tiba ia memanggilku. “Gas, minta obat lo deh, Shinta demam nih,” ujar Jefry.
Aku memang memiliki stok obat yang dipersiapkan oleh Delia. "Shinta kenapa, Bang?" tanyaku.
Belum dijawab, Shinta ikut keluar sambil tersenyum seadanya, "Badan gua panas. Tapi masih bisa jalan kok. Nanti juga sembuh sendiri."
Tak bertanya lagi, aku masuk kamar mengambilkan obat untuk Shinta.
Waktu cepat beralih ke dalam mobil, Jefry, yang sejak tadi tidak bisa tenang, mulai memberi penjelasan, "Shinta itu memang sensitif. Dia bisa ngerasain hal-hal yang kita nggak sadarin.”
Aku menatapnya, "Maksud lo, ini ada hubungannya sama apartemen, Bang?"
Ia hanya mengangkat bahu. "Ya, kemungkinan aja. Tapi santai lah, kita sudah biasa yang gini-gini, ya kan, Dek?"
Shinta merespon hanya dengan menaikkan alis, wajahnya pucat, ia terlihat seperti orang tidak bergairah.
Hendra yang duduk di kursi supir memijit tengkuknya. "Badan gua kayak dipukul orang semalaman. Pegel semua," katanya, mencoba tertawa, tapi tertahan.
Anehnya, aku merasa biasa saja. Sedikit lelah, tapi tidak seperti mereka. Justru itu yang membuatku gelisah.
***
Siang harinya kami bertemu Damar dan Sully di restoran. Sully langsung memperhatikan Shinta yang jalannya sedikit gontai.
"Astaga, Shinta kamu sakit ya?" tanya Sully cemas, memegang tangan Shinta.
Shinta kembali memberikan senyum tipis. "Iya, Bu. Tapi nggak apa-apa kok. Cuma panas sedikit."
“Ke dokter ya, nanti biar Hendra yang antar,” kata Sully.
Tapi Jefry menolaknya, “Nggak usah, dia aman aja kok, biasalah, penyesuaian tempat baru.”
Sully menatap Jefry. "Kalau begitu, kalian pindah apartemen aja gimana? Saya minta sekretaris untuk segera carikan tempat lain. Gua nggak enak, kok bisa kalian dikasih tempat seperti itu."
Aku menghela nafas lega, akhirnya ada yang sadar.
Namun Jefry malah mengangkat tangan menolak. "Nggak usah, Bu Bos. Serius. Kami nyaman kok di sana. Lagi pula, gua jadi banyak inspirasi buat cerita film horor, hehe."
Aku menoleh cepat ke arah Hendra yang duduk di sebelahku, "Serius nih Bang? Shinta sakit lho," bisikku.
"Ya mau gimana lagi, lo mau ngebantah?" jawabnya datar.
Sully masih terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Kalau gitu jaga kesehatan, ya. Jangan dipaksakan."
Sedangkan Damar tidak terlalu merespons karena sedang sibuk dengan telepon di tangannya.
Hendra lebih banyak diam hari ini. Ia duduk bersandar, sesekali memejamkan mata. Lingkar hitam di matanya makin jelas. Sementara Jefry terlihat menahan rasa tidak nyaman di pundaknya, tapi ia tetap memaksakan diri untuk tampak tegar.
Sedangkan aku, hanya bisa memperhatikan, bertanya-tanya, ini semua benar-benar karena lelah? Atau ada sesuatu yang sedang menguras kami perlahan?
***
Matahari sudah mulai hilang saat kami rapat internal di ruang kecil restoran. Hanya kami berempat. Di luar, suara pekerja masih terdengar, menyiapkan dekor untuk grand opening.
"Jadi rundown sementara kayak gini," kataku, menunjuk layar laptop.
"Cukup sih menurut gua," jawab Jefry singkat.
Hendra menambahkan, "Vendor sound juga udah oke. Tinggal DP."
"Gua bantu follow up ya," ucap Shinta pelan sambil membuka buku catatannya.
Namun belum sempat ia menulis, tangannya tiba-tiba terkulai. Buku itu jatuh ke lantai. Aku hanya sempat mendengar hembusan nafas yang berat sebelum tubuh Shinta ambruk ke samping.
"Shinta!" teriakku refleks.
Jefry langsung memapah Shinta dari lantai. Tubuhnya panas seperti bara. Mata tertutup rapat, wajahnya semakin pucat, memutih.
Melihat kondisinya, Jefry mulai panik. "Dek?! Dek! Bangun!"
Ia beralih menggendongnya, lalu tanpa pikir panjang berkata, "Kita bawa ke klinik sekarang!"
Kami berlari keluar.
Dunia seakan bergerak lebih cepat dari biasanya. Hendra menyetir sementara Jefry duduk di belakang memegangi Shinta, menepuk pipinya pelan. Sedangkan aku duduk di kursi depan.
"Dek, sabar ya," suaranya pecah.
***
Di klinik, waktu terasa sangat panjang. Aroma antiseptik menusuk hidung. Hendra duduk terbungkuk, kepalanya tertunduk. Aku mondar-mandir tanpa tujuan.
Tak lama kemudian, Jefry keluar mendorong Shinta pakai kursi roda. "Tenang. Kondisinya sudah stabil. Dia cuma kecapekan aja, mungkin beberapa waktu belakangan, tugas kita terlalu berat. Dia kena fatigue. Butuh istirahat total," jelas Jefry.
"Fatigue?" ulangku pelan. "Tapi, pekerjaan kita kan nggak berat banget, Bang? Makan juga nggak pernah telat, lho. Kita kebanyakan kerja duduk-duduk doang.”
Dokter yang tak lama keluar bersamaan memberi penjelasan tambahan, “Kelelahan itu bukan cuma soal fisik. Bisa juga psikis. Lingkungan, tekanan, banyak faktor. Yang jelas, tubuhnya yang jadi korban."
Jefry mengangguk-angguk, “Tuh, dengerin, Gas.”
"Maaf ya, gua jadi bikin repot," kata Shinta lirih.
Hendra menepuk bahunya pelan. "Lo mending istirahat dulu ya, Dek. Jangan pikirin kerjaan."
“Apa kita antar Shinta ke apartemen aja?” celetukku yang langsung ku ralat. “Eh, tapi nanti aman nggak ya?”
Mendengar ucapanku, dokter penasaran dengan maksud ucapanku, “Lho, kok nggak aman? Kenapa memangnya?”
Dengan cepat aku langsung berdalih, “Oh, nggak dok, takutnya kalau dia sendirian, ada apa-apa, nggak ada yang bantuin.”
Kami akhirnya memutuskan bawa Shinta kembali ke restoran, tapi membiarkannya untuk beristirahat.
Selain itu, kami juga sepakat merahasiakan hal ini kepada Damar dan Sully, terutama Jefry yang tidak ingin membuat fokus mereka terpecah dengan drama.
Aku beberapa kali menatap Jefry. Dalam hati, ada rasa yang sulit ku gambarkan. Marah, kecewa, juga takut.
Ini bukan lagi tentang pekerjaan, melainkan seperti ada sesuatu sedang mengganggu kami.
Yang paling menyebalkan, aku tidak tahu itu apa?
Malam kembali datang seperti tirai hitam yang menelan sisa-sisa keberanian kami. Aku, Shinta, Jefry, dan Hendra menaiki lift dengan langkah berat.
Seharusnya ini hanya rutinitas menekan tombol lantai delapan, menunggu pintu terbuka, lalu masuk ke kamar. Namun sejak pertama kali tinggal di sini, setiap perjalanan naik lift terasa seperti memasuki perut makhluk asing yang menelan kami utuh-utuh.
Lift berderit pelan.
Lampunya redup, lalu terang lagi. Aku mulai resah. Tidak ada yang bicara, tapi aku bisa merasakan kegelisahan kami saling bertubrukan di suasana yang mencekam ini.
Tiba-tiba muncul suara desis kecil di sudut lift. Lalu sesuatu seperti kuku panjang menggesek dinding logam.
“Cekh, cekh”
"Apa itu?" bisik Hendra, bergetar. Sedangkan Shinta yang wajahnya sudah pucat sejak tadi pagi, sekarang malah makin putih seperti kertas basah, penuh keringat dingin.
Jefry pura-pura tidak peduli.
"Paling kabel listrik doang," katanya datar. Tapi aku bisa melihat tangannya mengepal kencang di saku celana.
Lift tiba di lantai delapan. Pintu tidak langsung terbuka, hanya diam tak bergerak.
Kami saling tatap, bertanya tentang apa yang sedang terjadi sekarang. Apakah ini teror lainnya?
Tiba-tiba saja Shinta berteriak menggunakan sisa tenaganya, “Buka!”
Semua terkejut, tidak mengira kalau Shinta akan bereaksi seperti itu. Namun setelah teriakan itu, pintu langsung terbuka.
Kami masih diam, tapi mulai melangkah keluar lift. Lorong remang itu menyambut kami lagi, sunyi, dingin, seperti koridor rumah sakit yang sudah lama ditinggalkan.
Begitu masuk unit apartemen, Shinta langsung berjalan masuk ke dalam kamar.
“Gua langsung tidur kayaknya,” kata Shinta tegas.
Nafasnya pendek-pendek, kami ikut mengantarkannya ke dalam kamar. Jefry menutupi tubuh Shinta dengan selimut tebal.
"Istirahat ya, Dek. Jangan pikirin apa-apa dulu," katanya lembut, seakan semua ini hanya demam biasa.
Aku menatapnya, "AC-nya nggak usah dinyalain aja dulu, Bang."
Jefry mengangguk, "Sabar ya, Dek. Ini pasti nggak lama kok. Kita lewatin bareng-bareng ya. Kita harus ambil peluang ini. Kalau kita lalui semua ini, kita bisa bikin cerita yang real banget. Investor pasti bakal suka."
Di sini aku terdiam.
Rasanya ingin marah, tapi itu seperti tembok yang memantulkan semua protesku kembali ke diri sendiri.
Kini Hendra duduk termangu di sofa. Bahunya turun, wajahnya terlihat sangat letih.
Aku dan Jefry berada di sebelahnya, kami menonton televisi. Lalu tanpa sebab, tubuh Hendra menegang. Matanya memerah, bukan seperti orang sakit, tapi seakan ada sesuatu yang menatap balik dari dalam sana.
"Bang?" panggilku pelan.
Dia memandangku, tajam, sinis, penuh benci yang tidak kukenal. Bibirnya bergerak, tapi yang keluar hanya gumaman rendah, seperti doa yang terbalik.
Aku mendekat, "Bang? Lo kenapa?"
Dia berkedut dengan nafas tersengal. Matanya berkedip-kedip, kembali seperti Hendra yang biasa.
"Hah? Kenapa, Gas?" suaranya polos.
"Nggak apa-apa. Mending kita istirahat aja yok," jawabku, padahal jantungku hampir meledak.
Jefry sebenarnya juga menyaksikan itu pun setuju. Kami sepakat istirahat, setidaknya berpura-pura tidur sampai pagi datang.
Jam tiga dini hari, seperti janji yang selalu ditepati, aku terbangun lagi. Bukan karena mimpi, tapi karena suara.
“Tok, tok,tok”
Ada yang mengetuk, pelan. Tepat dari pintu kamarku. Kini terdengar lebih jelas.
“Tok, tok”
“Tok”
Persis seperti sebelumnya, tiga kali, dua kali dan satu kali ketukan. Apa maksudnya?
Lalu suara lain menyusul. Seperti tawa kecil, menyeringai, menjalar di plafon. Aku memprediksikan setelah ini akan muncul suara Shinta memanggil atau bunyi kran air yang tidak tertutup rapat.
Tapi ternyata tidak demikian. Ada sesuatu yang menyentuh pergelangan kakiku dari balik selimut.
Aku langsung reflek menarik kakiku dengan cepat, lalu melihat ke arah bawah, tapi tidak ada apa-apa.
“BRAK!”
Sesuatu jatuh di luar. Gelas? Piring? Aku tidak tahu. Tapi suaranya itu terdengar nyata.
Terpaksa aku harus memeriksa, takutnya ada sesuatu.
"Jeglek!"
Untung saja karena setelah aku membuka pintu, Hendra dan Jefry sudah berada di depan pintu kamar mereka masing-masing. Lalu melihat sofa yang biasa kami duduki terbalik.
Dengan langkah pelan, kami mendekat ke arah sofa, berusaha untuk membenarkannya, mengembalikan ke posisi semula.
“Bang, ini udah nggak sehat lho,” sahutku ke arah Jefry.
Tapi Jefry masih teguh dengan pendiriannya.
“Tenang saja, Gas. Ini cuma pembiasaan aja kok. Mungkin mereka cuma mau ‘say hi’ aja ke kita,” ujarnya.
Aku menoleh ke arah Hendra, ia terlihat hanya mengangkat bahu singkat, tidak ingin memperpanjang.
Dalam hati, aku hanya bisa berdoa, semoga apapun yang sedang berkeliaran di unit ini tidak sedang menginginkan hal lebih dari kami.