NovelToon NovelToon
Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'

Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.

Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!

Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!

Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!

Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21.

Adit bersandar pada meja makan marmer, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut kencang. Ia menatap nanar ke arah wastafel, tempat Reno sedang mengguyur wajahnya dengan air dingin hingga sisa bumbu rendang luntur dan mengotori porselen putih milik Baba Hartono.

"Ren, sumpah," gumam Adit dengan suara serak, nyaris habis karena kelelahan. "Kalau besok di depan penghulu lo tiba-kira kayang atau lari-lari kesurupan kayak tadi, gue bakal pura-pura nggak kenal lo. Harga diri gue sebagai CEO sudah di ambang batas, Ren. Jangan lo hancurin lagi."

"Tenang, Dit! Energi gue sudah balik seratus persen!"

Reno menyambar kotak kayu berisi golok sakti dari meja dengan gerakan dramatis. "Ayo cabut! Sebelum Si Mbah penunggu golok ini berubah pikiran dan nyeret gue ke zaman es!"

Adit hanya bisa menghela napas panjang, mengikuti langkah Reno keluar dari rumah antik yang terasa angker itu. Ia menyalami Baba Hartono dengan gerakan kaku—sebuah formalitas yang tersisa dari sopan santun korporatnya—lalu bergegas menuju Tesla miliknya.

Di dalam mobil, keheningan menyergap. Adit mencengkeram kemudi, matanya menatap kosong ke arah dasbor digital yang menunjukkan waktu sudah hampir dini hari.

Besok bukan lagi soal kontrak Paris atau ekspansi Tokyo. Besok adalah hari di mana ia harus menyerahkan kebebasannya pada seorang gadis berusia 19 tahun yang statusnya masih sebagai mahasiswi semester awal.

Tesla hitam metalik itu meluncur senyap dan berhenti tepat di depan pagar rumah Reno yang tampak tenang di bawah temaram lampu jalan. Reno turun dengan gaya penuh kemenangan, satu tangan memeluk erat kotak golok, dan tangan lainnya menjinjing paper bag berisi jas mewah hasil gesekan kartu kredit black card milik Adit.

"Makasih banyak ya, Bro, udah nemenin drama 'rendang purba' tadi," ucap Reno sembari nyengir lebar.

Adit hanya mengangguk lesu. Tangannya masih mencengkeram kemudi dengan sangat kaku, urat-urat di punggung tangannya menonjol tegang. Tatapannya kosong menatap aspal.

"Iya, Ren. Gue cabut. Gue harus pulang... pasrah lahir batin buat ngasih tahu Mami, Oma, sama Opa soal nasib gue beberapa jam lagi."

"Semangat, Dit! Jangan loyo! Anggap aja ini ekspedisi cinta jalur kilat!" seru Reno mencoba membakar semangat sahabatnya.

"Hmm," gumam Adit singkat tanpa menoleh.

Saat mobilnya mulai menjauh dari rumah Reno, jantung Adit berdegup makin kencang. Ia membayangkan wajah Omanya yang mungkin akan langsung pingsan, atau wajah Opanya yang kemungkinan besar akan melempar tongkat kayu jati ke arahnya jika tahu cucu kebanggaan mereka harus menikah akibat insiden hotel di Paris yang memalukan.

Di lubuk hatinya yang paling dalam, Adit benar-benar belum siap. Rasa takut, bingung, dan penolakan batin bercampur menjadi satu gumpalan sesak di dadanya. Ia menatap setelan jas pengantin di kursi sampingnya—sebuah seragam takdir yang akan mengunci kebebasannya selamanya dengan Sella Saputra.

Adit mencengkeram kemudi Tesla miliknya dengan urat-urat tangan yang menonjol tegang. Lampu merah di depannya seolah mengejek, memberinya waktu sedetik untuk memutar kembali memori yang ingin ia hapus dari otaknya.

Bagaimana aku bisa mencintai seseorang yang memulai pertemuan kami dengan cara seabsurd itu? batin Adit getir.

Ia memejamkan mata sejenak, dan seketika ingatannya terbang kembali ke kafe estetik di sudut Paris siang itu. Adit ingat betul, saat itu ia sedang melangkah kaku dengan setelan jas mahalnya, berniat mengambil satu komik fantasi untuk melepas penat di sela jadwal rapat yang padat.

Namun, langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis yang tak lain adalah mahasiswi mode berumur 19 tahun membelakanginya, sedang mendekap sebuah buku dengan gerak-gerik mencurigakan.

Saat buku itu terjatuh, Adit hampir tersedak ludahnya sendiri. Di depan matanya, tergeletak sebuah novel dewasa dengan cover pria bertelanjang dada dan judul yang membuat suhu tubuhnya naik satu oktav. Gadis itu—Sella—malah mencoba bersikap sensual yang gagal total demi menutupi rasa malunya.

"Iya, Mas... panas banget. Panasnya... nyaingin Jakarta kalau lagi demo," bisikan konyol Sella itu masih terngiang jelas di telinga Adit, membuatnya merinding sekaligus jengkel setengah mati.

Adit menghela napas panjang, membuka matanya saat lampu berubah hijau. Harapannya untuk terbangun di ranjang hotelnya di Paris, sendirian dan tenang, musnah seketika.

Kenyataan pahit justru menghantamnya: beberapa jam lagi, ia akan mengucap janji suci dengan gadis mahasiswi kolektor novel dewasa yang tempo hari ia ceramahi soal literasi strategis.

"Sial," gumam Adit pelan. "Dari semua wanita di dunia, kenapa takdir harus menjatuhkan gue tepat di atas ranjang mahasiswi ajaib itu?"

****

Adit memacu mobilnya membelah sunyinya Jakarta, bersiap menghadapi penghakiman terakhir dari Mami, Oma, dan Opanya di rumah.

Langkah kaki Adit terasa seberat timah saat ia memijak ubin pualam teras Mansion Abraham.

Bangunan megah ini selalu terasa sunyi, namun malam ini kesunyiannya seolah mencekik. Di dalam sana, ada tiga orang yang menjadi alasan Adit tetap berdiri tegak sebagai CEO: Mami Vivian, serta Opa dan Oma yang sudah sepuh.

Adit berhenti tepat di depan pintu jati raksasa, jemarinya gemetar saat menyentuh gagang pintu. Ia teringat kembali tragedi besar saat ia masih kelas 3 SMA. Ayahnya sendiri dieksekusi mati setelah terbukti melakukan konspirasi pembunuhan kejam terhadap paman dan bibinya demi ambisi menguasai takhta perusahaan.

Opa yang saat itu berusia 70-an hampir menyerah pada hidup, sementara Oma terus-menerus jatuh sakit akibat syok yang tak berkesudahan.

Gue satu-satunya tumpuan mereka sekarang,

Batin Adit perih. Ia telah berhasil memulihkan kejayaan Abraham Company di Paris, Tokyo, hingga Singapura, menggantikan posisi yang seharusnya diisi oleh sepupunya, Alin, yang lebih memilih mengelola butik dan hidup tenang bersama suaminya. Tapi sekarang, ia pulang bukan membawa kontrak kerja baru, melainkan skandal yang bisa meruntuhkan martabat keluarganya lagi.

"Ya Tuhan... gue harus mulai dari mana?" gumam Adit lirih, matanya menatap nanar ke arah cahaya lampu ruang tengah yang menyelinap dari celah pintu.

Ia menarik napas panjang, mencoba membuang sesak di dada, mencoba membusungkan dada dan merapikan kemejanya yang sudah kusut bin lecek. Adit tidak sanggup membayangkan jika berita pernikahannya yang mendadak ini membuat kondisi jantung Opanya yang berusia 80 tahun itu kembali drop.

Dengan langkah yang diseret paksa, Adit mendorong pintu.

Cklek!

Adit berdiri mematung di ambang pintu ruang tengah. Suasana mewah Mansion Abraham yang biasanya memberikan ketenangan, kini terasa seperti panggung eksekusi yang paling menyiksa. Di bawah temaram lampu kristal, Vivian—sang mami—tampak sangat anggun dengan gaun rumahannya. Namun, bukan sosok maminya yang membuat jantung Adit serasa berhenti berdetak, melainkan wanita cantik yang baru saja menoleh ke arahnya.

Jasmine Clarissa Wijayanto. Nama itu bergema di kepala Adit seperti bel peringatan.

Cinta pertamanya. Gadis yang meninggalkannya dengan sejuta kenangan manis dan getir saat harus pindah ke London di masa kuliah mereka.

Kini, Jasmine berdiri di sana, menatapnya dengan binar mata yang masih sama indahnya, tepat di malam ketika Adit membawa beban skandal pernikahan kilat dari Paris.

"Adit, kamu kenapa sudah pulang? Bukannya pekerjaanmu di Paris belum selesai?"

1
meimei
lanjut😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!