Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Kau membuat ini agar para petugas pajak tidak bisa berbohong?” tanya Lucian pelan.
“Bukan hanya itu,” Elara menguap lebar, air mata kecil menggenang di sudut matanya. “Saya membuat ini karena saya orang malas, Yang Mulia. Orang malas itu benci bekerja dua kali. Kalau sistemnya berantakan, saya harus ngecek ulang dari awal. Dengan sistem ini, kalau kolom kiri dan kanan nggak ketemu, saya langsung tahu siapa yang harus dipenggal. Lebih efisien. Sekarang, bolehkah saya tidur siang? Mata saya sudah berat.”
Lucian menatap wanita di hadapannya. Gaunnya sedikit berantakan, ada noda tinta di pipinya, dan ia baru saja merancang sistem audit yang akan membuat kementerian keuangan bekerja keras selama sebulan, hanya agar ia bisa tidur siang lebih cepat.
“Belum,” kata Lucian datar. “Menteri Pendapatan sedang dalam perjalanan ke sini. Dia ingin ‘berdiskusi’ tentang reformasimu.”
Elara langsung tegak duduk. Rasa kantuknya menguap seketika, digantikan oleh rasa ngeri. “Berdiskusi? Maksudnya debat? Yang Mulia, saya baru saja bangkit dari kematian. Paru-paru saya masih lemah. Saya tidak bisa berdebat.”
“Kau tidak perlu berdebat,” Lucian menyeringai tipis. “Kau hanya perlu menunjukkan padanya Tabel Kejujuranmu.”
***
Sepuluh menit kemudian, pintu Ruang Kerja dibuka dengan suara yang cukup keras.
Menteri Pendapatan, Lord Vance, melangkah masuk. Ia adalah pria paruh baya dengan jubah kebesaran berwarna ungu, wajahnya merah padam karena menahan amarah. Di belakangnya, dua orang asisten membawa tumpukan gulungan kertas.
“Yang Mulia Kaisar!” suara Lord Vance bergema, mengabaikan protokol. “Hamba mendengar kabar bahwa Yang Mulia berencana mengubah sistem pajak provinsi selatan berdasarkan saran dari.. dari seseorang di Paviliun ini! Hamba menolak! Sistem yang berlaku saat ini adalah warisan leluhur yang suci!”
Lord Vance menoleh, dan matanya mengerut saat melihat Elara yang sedang bersandar malas di kursinya, memainkan sebuah jepitan giok.
“Dan ini.. Selir Tingkat Enam?” Lord Vance mendengus meremehkan. “Hamba pikir Yang Mulia mendapat saran dari seorang cendekiawan agung, bukan dari selir yang otaknya masih rusak karena racun.”
Elara menatap Lord Vance dengan tatapan datar. Ah, NPC bos tingkat menengah yang defensif. Klasik.
“Menteri Vance,” ucap Elara, suaranya terdengar sangat lelah. “Apakah kita harus berteriak? Kepala saya sakit. Kalau Anda mau berdebat, tolong duduk. Berdiri itu membakar kalori, dan saya belum makan siang.”
Lord Vance tampak terhina. Ia menatap Kaisar Lucian yang sedang menuangkan teh dengan wajah tanpa ekspresi, lalu kembali menatap Elara.
“Baiklah, Selir Elara,” kata Vance dengan nada merendahkan. Ia membuka gulungan kertas di meja, menunjuk deretan angka yang rumit.
“Hamba mendengar Yang Mulia mengusulkan pajak progresif untuk pedagang mewah dan insentif untuk tuan tanah. Tapi bagaimana Anda menghitung penyusutan aset? Bagaimana Anda melacak arus kas dari tiga provinsi berbeda tanpa membukukan tradisional? Jika Anda tidak bisa menjelaskan ini, hamba akan menganggap ini semua adalah omong kosong wanita histeris!”
Elara menatap kertas yang disodorkan Vance. Matanya menyapu angka-angka itu.
Di dunia sebelumnya, ia pernah diaudit oleh firma akuntansi besar. Ia tahu persis di mana para akuntan korup biasanya menyembunyikan uang. Dan Lord Vance? Dia tidak bahkan mencoba menyembunyikannya dengan rapi.
Elara menghela napas. Ia mengambil kuas, mencelupkannya ke tinta, dan membuat satu lingkaran besar di atas salah satu kolom angka Vance.
“Di sini,” ucap Elara pelan.
Lord Vance berkedip. “Apa?”
“Di kolom pengeluaran untuk ‘Pemeliharaan Kereta Kuda Kerajaan’,” Elara menunjuk angka itu. “Anda mengklaim ada dua puluh kereta kuda yang dirawat. Tapi berdasarkan catatan logistik istana yang saya baca semalam.. karena saya tidak bisa tidur dan bosan, Aethelgard hanya punya dua belas kereta kuda. Delapan kereta kuda lainnya adalah hantu, Menteri Vance?”
Wajah Lord Vance langsung seputih kertas. “I-itu.. itu kereta kuda cadangan yang disewa dari pedagang swasta!”
“Oke,” Elara mengangguk santai. “Kalau disewa, itu masuknya ke kolom ‘Biaya Sewa’, bukan ‘Pemeliharaan Aset’. Anda salah kategori. Dan karena salah kategori, total aset kerajaan di neraca Anda menggelembung sebesar empat ribu keping emas. Itu artinya, Anda melaporkan fiktif.”
Elara meletakkan kuasnya, lalu menatap Vance dengan mata setengah terpejam.
“Selain itu, Anda lupa menghitung penyusutan nilai kuda perang. Kuda itu makin tua, nilainya makin turun. Tapi di laporan Anda, nilai kuda Anda malah naik. Apa kuda-kuda Anda minum air awet muda?”
Ruangan itu menjadi sangat sunyi. Asisten Lord Vance menunduk dalam-dalam, takut tertular sial.
Lord Vance gemetar. Ia menatap Kaisar Lucian, lalu menatap Elara. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan yang kehabisan oksigen.
“Kau… kau baru saja membaca laporan keuanganku semalam?” suara Vance parau.
“Saya baca karena saya insomnia,” Elara mengoreksi sambil menguap lagi.