Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Aku tahu ini racun, Rosa," potong Kayna, tersenyum lebih lebar. "Itu sebabnya aku ingin meminumnya. Sekarang tolong lakukan seperti yang kuperintahkan."
Rosa berdiri terpaku, tidak tahu harus berbuat apa. Air mata mulai menggenang di matanya. "Nona... Nona tidak bisa bunuh diri! Tuan Duke akan.."
"Tuan Duke tidak akan tahu," balas Kayna datar. "Sekarang tuangkan tehnya."
Sebelum Rosa sempat menjawab, pintu kamar berderit terbuka. Adrian masuk, dan tatapannya langsung jatuh pada kotak teh di tangan Rosa.
"Apa ini?" tanya Adrian, suaranya dingin.
Rosa segera menyerahkan kotak itu pada Adrian dengan tangan gemetar. "I-ini hadiah dari Nona Freya, Yang Mulia. Tapi... baunya..."
Adrian membuka kotak itu, menghirup isinya. Wajahnya langsung berubah gelap. "Sianida."
Ia menatap Kayna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau tahu ini racun?"
"Ya," jawab Kayna datar. "Dan aku ingin meminumnya."
Adrian menutup matanya sejenak, menghela napas panjang. Lalu, dengan suara yang terdengar sangat lelah, ia berkata: "Keluar, Rosa. Bawa kotak ini ke laboratorium istana untuk dianalisis. Dan panggil penjaga. Aku ingin tahu siapa yang mengirim ini."
Rosa segera keluar dengan kotak itu, meninggalkan Adrian dan Kayna sendirian di kamar.
Adrian menatap Kayna. "Kau benar-benar ingin meminum racun itu, bukan?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena itu cara termudah untuk mati," jawab Kayna jujur. "Tidak ada rasa sakit, tidak ada drama, tidak ada lampu gantung yang jatuh. Hanya tidur dan tidak bangun lagi."
Adrian menatapnya lama. Lalu, dengan gerakan yang cepat, ia duduk di samping Kayna, mencengkeram kedua tangannya.
"Dengarkan aku, Kayna," ucap Adrian, suaranya terdengar sangat serius. "Freya mencoba membunuhmu. Dia ingin kau mati. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Tapi aku ingin.."
"Tidak peduli apa yang kau inginkan!" potong Adrian, suaranya naik sedikit. "Aku tidak akan membiarkanmu mati. Tidak hari ini, tidak besok, tidak pernah. Kau mengerti?"
Kayna menatap Adrian. Pria itu terlihat sangat serius, sangat... protektif. Dan itu membuat Kayna merasa... hangat lagi.
Ini tidak adil, batin Kayna, merasa frustrasi. Aku hanya ingin mati dengan tenang. Kenapa semua orang di dunia ini begitu obsesif memaksaku untuk tetap hidup?
"Baiklah, Tuan Duke," ucap Kayna akhirnya, suaranya terdengar kalah. "Aku tidak akan meminum racun itu. Tapi aku janji tidak akan berhenti mencoba."
Adrian menatapnya, lalu perlahan mengendurkan cengkeramannya. "Aku tahu," bisiknya. "Dan aku juga janji tidak akan berhenti menghalangimu."
Mereka berdua duduk dalam keheningan, tangan mereka masih bertautan. Dan untuk pertama kalinya, Kayna merasa bahwa mungkin hidup tidak selalu tentang mencari cara untuk mati.
Mungkin hidup juga tentang menemukan alasan untuk tetap bertahan.
Dan itu adalah pikiran yang paling menakutkan dari semuanya.
***
Malam itu, Kayna tidak bisa tidur.
Ia berbaring di dipan kecilnya, menatap langit-langit batu pualam yang dingin. Tangannya masih terasa hangat, sisa dari genggaman Adrian tadi siang. Dan yang lebih mengganggu, pikirannya masih dipenuhi oleh wajah Freya yang tersenyum manis saat memberikan kotak teh beracun itu.
Kenapa? batin Kayna, membalikkan tubuhnya menghadap dinding. Kenapa Freya melakukan itu? Apakah dia benar-benar membenciku sampai-sampai ingin membunuhku? Atau... apakah ada sesuatu yang lain?
Di kehidupan pertamanya, Kayna pernah membaca novel-novel romantis di mana pahlawan wanitanya selalu baik hati, selalu menjadi korban, dan selalu dicintai oleh semua orang. Tapi sekarang, ia hidup di dalam dunia seperti itu, dan kenyataan yang ia temukan jauh lebih gelap.
Freya tidak baik hati. Freya adalah manipulator ulung yang menggunakan air mata dan kelemahan sebagai senjata. Dan yang paling mengerikan, Freya berhasil membuat seluruh kerajaan termasuk Adrian percaya bahwa dia adalah gadis polos yang tidak bersalah.
Hampir berhasil, koreksi Kayna dalam hati. Tapi sekarang Adrian tahu. Dan aku juga tahu.
Tapi pertanyaannya adalah apa yang akan dilakukan Adrian sekarang?
***
Di ruang kerja pribadinya di lantai bawah, Duke Adrian tidak tidur.
Ia duduk di belakang meja kerjanya yang besar, di depannya terbentang berbagai dokumen dan laporan. Lilin di atas meja menerangi wajahnya yang tegang, matanya menyapu setiap halaman dengan ketelitian seorang jenderal yang sedang merencanakan serangan.
Di depannya berdiri Kapten Roderick, kepala pengawal pribadinya, seorang pria tua dengan bekas luka di pipi yang telah mengabdi pada keluarga Adrian selama tiga puluh tahun.
"Laporkan," perintah Adrian, suaranya dingin dan datar.
Kapten Roderick membuka sebuah folder. "Yang Mulia, kami telah menyelidiki Nona Freya sesuai perintah Anda. Dan... hasilnya sangat mengejutkan."
Adrian mengangkat alisnya. "Lanjutkan."
"Pertama, Nona Freya tidak benar-benar yatim piatu," ucap Roderick, menyerahkan sebuah dokumen. "Kami menemukan catatan dari sebuah desa kecil di perbatasan utara. Orang tua Freya masih hidup. Mereka adalah petani biasa yang menjual anak mereka kepada sebuah sindikat perdagangan manusia ketika Freya berusia tujuh tahun."
Mata Adrian menyipit. "Sindikat?"
"Ya, Yang Mulia. Sindikat yang melatih anak-anak jalanan untuk menjadi... 'pendamping' bagi bangsawan kaya. Mereka diajarkan cara menangis dengan indah, cara terlihat rapuh, dan cara memanipulasi emosi pria."
Adrian mencengkeram tepi mejanya, buku-buku jarinya memutih. "Jadi semua itu... akting?"
"Sepertinya begitu, Yang Mulia," Roderick mengangguk. "Dan ada lagi. Kami menemukan bahwa Freya telah mencoba mendekati setidaknya lima bangsawan tinggi dalam dua tahun terakhir. Dua di antaranya sudah menikah, dan satu lainnya... meninggal secara misterius setelah bertunangan dengannya."
Adrian terdiam lama. Matanya menatap dokumen di hadapannya, tapi pikirannya sedang memproses semua informasi ini. Freya. Gadis yang ia kira adalah cahaya di tengah kegelapan. Gadis yang ia lindungi dari Kayla yang "jahat". Ternyata adalah predator yang bersembunyi di balik topeng korban.
"Dan yang paling penting," lanjut Roderick, suaranya menjadi lebih pelan. "Kami menemukan bahwa Freya memiliki kontak dengan Marquis Ardent."
Adrian mendongak tajam. "Ayah Kayla?"
"Ya, Yang Mulia. Kami menemukan surat-menyurat antara mereka. Marquis Ardent membayar Freya untuk... 'menyingkirkan' Kayla dari keluarga Ardent. Freya dijanjikan posisi sebagai istri sah Marquis Ardent jika dia berhasil membuat Kayla dihukum mati atau dibuang."
Adrian berdiri, kursinya terjatuh ke belakang dengan suara keras. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala dengan api kemarahan yang dingin.
"Jadi ini alasannya," gumam Adrian, suaranya terdengar berbahaya. "Freya tidak pernah peduli padaku. Dia hanya menggunakan aku sebagai batu loncatan. Dan ayah Kayla... ayah Kayla sendiri yang menyuruh wanita itu untuk menghancurkan putrinya."
"Yang Mulia, apa perintah Anda?" tanya Roderick.
Adrian menatap jendela, di mana bulan purnama bersinar terang di langit malam. Ia memikirkan Kayna. Wanita yang ia kira jahat, yang ternyata adalah korban. Wanita yang mencoba bunuh diri bukan karena dia gila, tapi karena dia sudah hancur dari dalam.
"Jangan tangkap Freya dulu," perintah Adrian akhirnya. "Aku ingin melihat seberapa jauh dia akan pergi. Dan aku ingin bukti yang tidak bisa ia sangkal di depan seluruh kerajaan."
"Dan Marquis Ardent?"
Adrian tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Suruh mata-mata kita mengawasinya. Setiap langkah, setiap kata, setiap orang yang ia temui. Aku ingin menghancurkannya. Tapi tidak sekarang. Aku ingin dia menderita dulu."
Roderick membungkuk. "Seperti yang Yang Mulia perintahkan."
..gagal terus🤣