Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Raisa!"
Angga memanggil Raisa dari tempat tidur, seperti biasa lelaki itu hanya dapat menaikkan nada suaranya seolah istrinya adalah seorang pembantu dirumahnya. Adapun Raisa yang baru saja tiba diambang pintu membawa sebuah nampan berisi sarapan pagi suaminya tersebut hanya diam dengan raut wajah datar.
"Apa kau tidak bisa bersabar? Aku sedang sibuk" ucapnya.
"Aku sudah memanggilmu dari tadi, apa telingamu dan mulutmu tidak berfungsi?" Pekik lelaki itu sembari dibantu istrinya untuk duduk bersandar.
Usia pernikahan mereka sudah memasuki tahun kelima namun tempat tidur mereka masih terpisah, bahkan hubungan mereka tak pernah terlihat harmonis meski di depan umum sekalipun. Ya, pernikahan mereka adalah pernikahan tanpa cinta dan Raisa telah mengabdikan hidupnya bagi lelaki yang seharusnya adalah pasangan adik tirinya, Arni. Namun lima tahun silam Angga mengalami kecelakaan tunggal yang membuatnya harus mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya, saat itulah Arni menolak menikahi Angga dan meminta agar Raisa menggantikannya agar keluarga Angga tak meminta uang yang sudah dipakainya selama ia masih menjadi pasangan Angga.
Angga yang menyimpan dendam dan sakit hatinya pada Arni lalu menikahi Raisa dengan terpaksa, ia juga melampiaskan kekesalannya pada Raisa, baik melalui perkataan kasarnya atau bahkan tak segan melakukan kekerasan.
"Singkirkan tangan kotor mu dariku, aku tak sudi bersentuhan dengan fakir miskin sepertimu!" Ucapnya menepis kasar tangan Raisa dari bahunya, padahal tanpa bantuan istrinya tersebut ia bahkan tak mampu untuk duduk atau bergeser dari tempat tidurnya.
Raisa hanya diam tanpa perlawanan, lima tahun bertahan tanpa belas kasihan kini membuatnya kebal. Ucapan lelaki itu barusan bahkan belum seberapa dibanding hari-hari yang sudah berlalu.
"Makanlah sedikit, dari kemarin kau menolak untuk makan" ujar Raisa mengangkat mangkok berisi bubur dari atas meja.
"Aku tidak ingin makan dari tanganmu!" Balas Angga angkuh.
"Panggilkan pelayan, setidaknya derajat mereka lebih tinggi darimu" lanjutnya, kali ini dengan nada suara yang sedikit berbeda.
Raisa menoleh ke arah pintu, di depan sana memang telah berdiri salah seorang pembantu rumah tangga. Hanya dengan anggukan pelan maka wanita di ambang pintu sana lekas berjalan masuk kedalam kamar milik Angga untuk menggantikan Raisa.
Raisa menelan ludahnya dengan kasar saat melihat suaminya mulai menelan bubur yang disuap oleh pembantu rumah tangga itu.
"Usir dia dari sini, melihatnya membuat selera makanku menurun" ujar lelaki itu tanpa mengubah arah pandangnya.
Dengan langkah pelan Raisa melangkah mundur lalu berbalik meninggalkan kamar suaminya, sambil terus melangkah wanita itu menatap kearah halaman, dibawah sana terdapat sebuah mobil yang begitu familiar baginya. Keningnya berkerut sempurna kala seorang gadis dengan rambut bergelombang berwarna kecoklatan itu melangkah keluar dari dalam mobil.
"Arni?" Gumamnya kebingungan melihat keberadaan adik tirinya dirumah mertuanya tersebut.
Raisa segera berjalan menuruni anak tangga, bertepatan dengan Arni yang baru saja tiba di ruang tamu. Ibu mertuanya tampak senang menyambut Arni bersama lelaki bernama Steven, yakni adik dari suaminya, Angga. Beberapa tahun silam Steven dan Raisa sempat berpacaran bahkan telah membicarakan pernikahan, namun setelah kabar kecelakaan yang menimpa Angga terdengar ke telinga ibu tiri Raisa, segera mereka menukar Raisa untuk menjadi pasangannya Angga karena Arni tak ingin menikah dengan lelaki lumpuh.
Melihat Steven merangkul pinggang Arni sambil tersenyum membuat hati Raisa merasakan sakit yang luar biasa. Dalam hatinya ia bertanya apakah hal yang ia takutkan selama ini akan terjadi hari ini.
"Ohhh, kak Raisa!" Ucap Arni berpura-pura tersenyum pada Raisa yang memasang wajah datar dibelakang mereka.
"Ayo duduk bersama kami!"
"TIDAK PERLU, KALAU DIA BERGABUNG DENGAN KITA YANG ADA MALAH SIAL!" Wanita paruh baya disamping Arni segera angkat bicara sebelum Raisa sempat menjawab ajakan Arni.
Raisa menundukkan kepalanya, ia tahu ia akan dipermalukan dengan begitu hinanya sebab tak seorang pun anggota keluarga yang menerima kehadirannya dirumah itu. Ia lalu melangkah ke arah dapur, pagi tadi sempat membantu pekerjaan asisten rumah tangga mereka mencuci pakaian. Saat itu juga Arni memainkan sandiwaranya dihadapan Steven dan ibunya.
"Ma, Steven. Aku ingin menyapa kakakku sebentar, sudah setengah tahun ia tidak berkunjung kerumah kami, jadi aku sangat merindukannya!"
"Baiklah sayang, tapi jangan lama-lama, aku juga merindukanmu" ucap Steven tersenyum.
Berbeda dengan ibunya yang langsung menarik tangan Arni lalu mengajaknya untuk kembali duduk.
"Jangan berbicara dengannya, apa kau tidak sadar juga kalau dia sangat menginginkan semua yang kamu miliki? Tidakkah kamu mengingat bagaimana ia merebut anakku Angga darimu? Aku tidak ingin dia merebut anak bungsu ku lagi!"
"Ma!" Tegur Steven yang tak setuju dengan ucapan mamanya barusan.
"Apanya yang Ma? Apa ucapanku barusan salah?"
Steven hanya dapat menghela nafas panjang, ia tahu betul bahwa Raisa bukanlah wanita seperti itu, namun ia tak dapat berkutit dihadapan mamanya.
"Ma, tenang saja. Aku sudah sangat mengenal kakakku Raisa, meskipun dia itu licik, dia tetaplah kakakku. Dan apa mama lupa kalau kita harus selalu rendah hati dan memaafkan orang yang bersalah kepada kita?"
Wanita paruh baya itu ikut menghela nafas panjang, sambil tersenyum ia menatap Steven lalu keduanya tersenyum bersama.
"Arni, mama tidak tahu terbuat dari apa hatimu itu? Kau sangat sabar dan pemaaf. Kalau begitu pergilah, kalau ada apa-apa segera panggil kami!" Ujar wanita paruh baya yang sedang termakan oleh tipu muslihat Arni.
Gadis itu mengangguk lalu melangkahkan kakinya ke arah dapur, ia mencari keberadaan Raisa yang ternyata sedang menjemur pakaian di halaman belakang. Segera ia menghampiri Raisa dengan menyunggingkan bibirnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Hahaha, kupikir setelah kau menggantikan ku menikah dengan lelaki cacat itu kehidupan mu akan berubah jadi lebih baik, ternyata aku salah. Kenapa? Apa mereka menjadikanmu budak dirumah ini?"
"Aku sedang sibuk, pergilah kecuali kau ingin menggantikan ku menjemur semua pakaian ini!" Raisa berbicara tanpa menoleh pada Arni, ia terus melanjutkan pekerjaannya sebab matahari mulai naik.
"Wahhh, lancang sekali ini. Tunggu dan lihat saja, sebentar lagi aku akan menjadi nyonya besar dirumah ini, dan kau.... "
Raisa menatap wajah Arni datar, membuat gadis itu menggantung ucapannya namun jari telunjuknya masih mengarah kearah Raisa.
"Turunkan tanganmu atau aku akan mematahkannya!" Ujar Raisa tegas lalu kembali menjemur pakaian didalam ember.
"Yahhh, kau pasti kesal karena perjodohan itu bukan? Tapi apa boleh buat, kau memang dilahirkan untuk menjadi babuku. Owhh iya, lihat cincin berlian ini, kudengar dulu kau sangat menginginkannya bukan? Kini cincinnya dibelikan oleh Steven untukku" dengan bangga Arni memamerkan cincinnya dihadapan Raisa.
Wanita itu hanya menatap sekilas jari manis adik tirinya tersebut meski hatinya terluka, dari balik tirai jendela kaca dilantai dua, Angga menyaksikan semuanya dengan tatapan datar, dengan kedua tangannya ia memutar kursi rodanya untuk membuka lebih lebar tirai itu untuk melihat lebih jelas kedua saudara itu.
"Hei, apa kau tidak mendengarku?"
Arni dengan kasar menarik rambut Raisa hingga membuat wanita itu hampir terjatuh, membuat semua pakaian didalam ember ikut terjatuh hingga kotor.
"Kurang ajar ya kamu!" Bentak Raisa lalu memungut kembali semua pakaian dari atas rumput.
Mendengar suara teriakan Raisa, Steven dan mamanya segera berlari dari ruang tamu kearah halaman, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan Arni segera menjatuhkan dirinya setelah menarik ember ditangan Raisa.
"Awwww!"
Arni berteriak seakan-akan Raisa telah mendorongnya, begitu Steven dan mamanya sampai ke halaman belakang rumah maka kesalahpahaman pun terjadi.
"RAISAAA!"