Menikah muda dan Kirana menyerahkan seluruh masa depannya untuk menjadi penopang di balik kesuksesan Gibran. Lima belas tahun ia setia mengabdi sebagai ibu rumah tangga, merawat anak-anak dan memastikan nama suaminya bersinar sebagai pria sempurna yang dipuja publik.
Namun, ketika harta dan tahta telah tergenggam, Gibran justru menganggap Kirana bab lama yang harus dibuang demi wanita lain.
Surat gugatan cerai dilayangkan. Satu kali, dua kali, hingga tiga kali.
Gibran mengira Kirana akan menangis mengemis cinta. Betapa naifnya. Bagi Kirana, ketenangannya bukanlah kepasrahan, melainkan strategi catur dingin.
Saat Gibran sibuk bertarung di ruang sidang, Kirana melangkah anggun menikmati masa mudanya yang tertunda. Kirana sengaja menjaga nama baik suaminya tetap bersih memastikan aset yang dibangun bersama berada di puncak nilai tertinggi.
Ketika Gibran mulai kehabisan napas, Kirana melayangkan pukulan balik. Ia mengincar delapan puluh lima persen harta gono-gini dan secara takt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Sah Yang Tak Sudi Diceraikan
Usai melangkah keluar dari halaman rumah ibu mertua, aku menyandarkan punggung di kursi belakang mobil yang melaju tenang. Ponsel di genggamanku bergetar singkat. Sebuah pesan singkat masuk dari salah satu informan rahasia yang kutempatkan di kantor pusat NexTech Group.
"Bu Kirana, Mbak Melani saat ini ada di dalam ruangan Pak Gibran. Dari luar pintu peredam suara saja, sayup-sayup terdengar keributan yang cukup besar antara mereka berdua."
Aku menyunggingkan senyuman miring. Rupanya, efek domino dari kejadian semalam di hotel dan skakmat negosiasi tadi pagi mulai membakar emosi wanita selingkuhan itu. Tanpa membuang waktu, aku langsung memberi instruksi tegas pada sopir.
"Pak, putar arah. Kita ke kantor pusat sekarang."
Tiga puluh menit kemudian, langkah anggunku menapak mulus di atas lantai marmer lantai paling atas gedung NexTech Group. Beberapa karyawan dan sekretaris depan menunduk hormat, tak berani menghalangi langkah sang istri sah yang berjalan tegap memancarkan aura dingin yang mengintimidasi.
Begitu mendekati pintu ganda bernuansa kayu mahoni milik ruangan CEO, suara nada tinggi Melani sudah terdengar samar meski pintu tertutup rapat. Aku tidak mengetuk. Dengan gerakan yang sangat anggun namun tegas, aku mendorong pintu setinggi dua meter itu hingga terbuka lebar.
Brak!
Pemandangan di dalam ruangan seketika menyapa netramu. Melani sedang berdiri di hadapan meja kerja besar, memarahi Gibran dengan wajah memerah padam dan napas memburu. Sementara Gibran duduk kaku di kursi kebesarannya, memegangi pelipisnya dengan raut wajah frustrasi luar biasa.
Mendengar pintu terbuka, keduanya melonjak kaget dan memutar tubuh secara bersamaan.
Aku melangkah masuk dengan santai, mengatupkan pintu di belakangku. Aku merapikan outer kasmirku, lalu menyilangkan kedua tangan di depan dada seraya menatap mereka bergantian dengan pendar mata mengejek.
"Wah... luar biasa sekali ya," ucapku dengan suara mengayun halus namun memotong ketegangan ruangan. "Ada hal penting apa lagi ini? Apakah sekarang kamu punya alasan lain untuk membela diri, Mas? Mau bilang kalau kalian cuma sedang mendiskusikan berkas proyek lagi... atau sedang main akting drama?"
Gibran seketika berdiri dari kursinya, wajahnya pucat pasi melihat keberadaanku. "K-Kirana?! Kenapa kamu bisa ada di sini?."
"Kenapa? Kamu takut rahasiamu terbongkar di rumah gedungmu sendiri?" balasku tenang, menyunggingkan senyuman miring yang amat tajam.
Melani, yang rupanya sudah berada di puncak emosi dan kehilangan akal sehatnya akibat sikap Gibran yang terus menunduk di hadapanku, mendadak tertawa sumbang. Ia tak sanggup lagi bermain peran sebagai rekan bisnis yang sopan.
"Cukup, Gibran! Aku sudah muak berakting konyol seperti ini di depan wanita ini!" teriak Melani histeris.
Wanita muda itu berbalik menghadapku sepenuhnya. Dengan gerakan melingkar yang kasar, ia mengangkat tangan kirinya tepat di depan mataku, memamerkan sebuah cincin berlian bermodel solitaire yang melingkar manis di jari manisnya.
"Lihat ini, Kirana!" jerit Melani dengan mata berkilat penuh kebencian dan kebanggaan yang kekanak-kanakan. "Buka mata kamu lebar-lebar! Gibran sudah melamar aku dan memberikan cincin ini sejak dua tahun yang lalu! Dia mencintai aku, bukan kamu lagi! Kamu itu cuma beban yang tidak tahu diri."
Suasana ruangan seketika hening mencekam. Gibran membelalak kaget, memegangi lengannya sendiri. "Melani! Cukup! Kamu gila, hah?!"
Aku sama sekali tidak terkejut, panik, atau meneteskan air mata. Sebaliknya, aku justru bertepuk tangan pelanmsebuah tepukan tangan halus yang mengalun mengejek di dalam ruangan CEO yang megah itu.
"Wow..." bisikku mantap, menyunggingkan senyuman paling mempesona yang menguliti kebanggaan Melani. "Selamat ya, Melani... Ternyata tuduhan pelakor yang kuucapkan semalam memang sangat tepat sasaran. Bahkan sudah tersertifikasi selama dua tahun penuh."
Wajah Melani mengetat kaku, terkejut karena reaksiku sama sekali tidak sesuai dengan skenario kehancuran mental yang ia harapkan.
"Terserah kamu mau bicara apa!" sergah Melani dengan nada ketus, menunjuk dadaku kasar. "Yang jelas, sekarang kamu harus tanda tangani surat gugatan cerai dari Mas Gibran nanti! Jangan jadi wanita murahan yang mengemis cinta pada pria yang sudah tidak menginginkanmu lagi!"
Kalimat 'wanita murahan' dan 'mengemis cinta' yang meluncur dari mulut seorang wanita simpanan membuat tawa kecilku membumbung tinggi.
Aku melangkah maju dua langkah, memangkas jarak di antara kami. Aura keanggunanku seketika berubah menjadi tekanan dingin yang membuat Melani refleks terdesak mundur setengah langkah.
"Oh... tidak semudah itu, Melani," bisikku pelan, menatap lurus ke dalam manik matanya dengan pendar mata tajam bagaikan mata pisau. "Kamu pikir hanya dengan selembar kertas dan sebuah cincin lamaran rahasia, kamu bisa dengan mudah menendangku keluar dan menikmati takhta ini?"
Aku memiringkan kepala, menyunggingkan senyuman penuh kemenangan yang teramat dingin.
"Aku yang menemani Gibran dari nol," lanjutku dengan intonasi suara yang mantap dan sarat penekanan. "Aku yang berdiri di sisinya saat pria ini tidak punya sepeser pun uang di dompetnya, saat perusahaan ini cuma berupa ruangan sewaan kecil yang pengap. Aku yang menenun jalan keberhasilannya hingga ia bisa duduk di kursi kebanggaan ini dan membelikanmu barang-barang mewah dari keringat yang kubantu dirikan!"
Melani menelan ludah dengan susah payah, napasnya tersendat mendengarkan setiap patah kata yang kuucapkan.
"Lalu kamu..." aku menunjuk cincin di jarinya dengan sudut mata menghina, "...datang saat semuanya sudah matang dan siap dipetik, lalu merasa berhak mengambil segalanya? Kamu cuma penikmat remah-remah kejahatan, Melani. Dan kamu pikir aku akan menyerahkan seluruh hasil jerih payahku bertahun-tahun begitu saja untuk wanita sepertimu?"
"Kirana, tolong..." sela Gibran dengan suara gemetar, tak sanggup lagi menahan rasa malu yang meremukkan wibawanya sebagai pimpinan perusahaan.
"Diam kamu, Mas!" potongku tegas tanpa memalingkan pandangan dari Melani.
Aku menatap Melani dari atas ke bawah, memamerkan ketenangan tiada tanding dari seorang Ratu yang tak tertandingi oleh selingkuhan manapun.
"Ingat satu hal, Melani," bisikku tepat di depan wajahnya. "Selama aku belum membuang Gibran dari hidupku, statusmu tidak akan pernah lebih dari sekadar wanita simpanan di balik bayang-bayang. Mau kamu pakai cincin itu sampai berkarat sekalipun, kamu tidak akan pernah bisa berdiri di sampingnya secara sah di mata hukum dan masyarakat."
Perdebatan panas itu mencapai puncaknya. Melani berdiri gemetar, air mata kekalahan dan rasa malu yang luar biasa akhirnya menetes membasahi pipinya yang teroles make-up tebal. Kebanggaannya dihancurkan berkeping-keping di dalam ruangan pria yang selalu ia banggakan.
Ia melirik Gibran, berharap pria itu akan membela atau setidaknya merangkulnya. Namun Gibran hanya berdiri tertunduk membisu, tak berani menatap matanya apalagi bersuara menentangku.
Sadar bahwa dirinya telah kalah telak dan tidak lagi memiliki muka di ruangan itu, Melani mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Kalian berdua jahat!" jerit Melani penuh keputusasaan.
Dengan perasaan hancur dan kekalahan yang nyata, Melani memutar tubuhnya kasar. Ia menyambar tas mewahnya di atas sofa, lalu berlari keluar dari ruangan kerja CEO sambil terisak keras, membanting pintu kayu mahoni itu dengan dentuman nyaring yang bergema di seluruh koridor kantor.
Suasana ruangan seketika kembali sunyi.
Aku memutar tubuhku anggun, merapikan kembali lipatan blazer kremku yang tidak bergeser sedikit pun. Aku menatap Gibran yang masih berdiri mematung di samping mejanya dengan raut wajah hancur, menanggung beban kemaluan dan rasa bersalah yang tak terobati.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada suamiku, aku menyunggingkan senyuman puas. Langkah kakiku berketuk mantap di atas marmer, menyusuri pintu keluar dengan kepala tegak mendongak meninggalkan sang CEO yang kini sendirian meratapi kehancuran yang ia ciptakan sendiri.
pelakor lngsng kabooorrrr....
tp dia sntai aja krna smua bukti udh dia pegang,tnggal lmpar dannnn....
booommmm.....
tnang kk,crta barumu udh msuk rak...abs ni aku otw....🏃♀🏃♀🏃♀
Krn setelah tu ,, km gx bakal sanggup jalani real kehidupan ,, Krn km terbiasa dengan drama ,, bukan real life ,,