Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Wushhh.
Gaga berlari menembus kabut rawa yang perlahan mulai menipis karena sinar matahari pagi.
Napas serigala raksasa itu terdengar memburu namun langkah kakinya sama sekali tidak melambat.
Arga berlari di belakangnya dengan sekuat tenaga meski kedua kakinya sudah terasa seperti jeli.
"Ayo lebih cepat lagi, Ayah."
Natasya menoleh ke belakang dan berteriak menyemangati ayahnya dari punggung Gaga.
"Cahaya mataharinya sudah mulai terang menembus daun-daun di atas kita."
"Ayah sedang berusaha sekuat tenaga, Natasya."
Arga menjawab dengan napas yang terputus-putus sambil melompati akar pohon tumbang.
"Lumpur di sini membuat sepatu Ayah terasa sangat berat untuk diangkat."
Craaak.
Suara ranting patah yang sangat keras terdengar dari arah kanopi pohon di atas mereka.
Gaga seketika mengerem langkahnya dan melompat ke samping untuk menghindari sesuatu yang jatuh dari langit.
Brak.
Seekor burung elang raksasa dengan bulu berwarna cokelat kemerahan mendarat tepat di depan mereka.
Mata burung itu menatap tajam ke arah rombongan kecil tersebut dengan paruh bengkok yang sangat runcing.
"Itu Elang Pemburu Pagi."
Gaga menggeram rendah sambil memamerkan taringnya ke arah burung raksasa itu.
"Makhluk ini sangat cepat dan suka mencabik mangsanya dari udara."
"Tuan Elang, tolong minggir dari jalan kami."
Natasya mencoba berteriak menyapa burung buas tersebut dengan sopan.
"Kami sedang buru-buru ingin pulang ke rumah saat ini juga."
Kuaaak.
Burung elang itu hanya memekik keras tanpa membalas ucapan Natasya sama sekali.
Hewan itu langsung mengepakkan sayap lebarnya dan menerjang maju ke arah Arga yang berada di barisan belakang.
"Dia tidak mau mendengarkan ucapanku, Gaga."
Natasya berseru panik melihat burung itu mengincar ayahnya yang kelelahan.
"Sudah kubilang monster siang sangat buas dan tidak suka mengobrol."
Gaga melesat maju dan menabrak tubuh burung elang itu dengan bahu besarnya.
Tabrakan itu membuat burung elang tersebut terpental dan menabrak batang pohon mati di pinggir jalan.
"Lari, jangan buang waktu bertarung di sini."
Gaga berteriak menyuruh Arga untuk segera berlari mendahuluinya.
"Burung ini hidup berkelompok, teman-temannya pasti akan segera datang ke tempat ini."
Arga tidak membantah dan langsung berlari sekencang mungkin melewati burung yang sedang pusing itu.
"Terima kasih, Gaga."
Arga menepuk leher serigala itu saat Gaga kembali menyusul dan mengambil alih posisi memimpin jalan.
Mereka terus berlari tanpa menoleh ke belakang selama hampir satu jam penuh.
Udara busuk rawa perlahan menghilang digantikan oleh udara hutan biasa yang lebih kering dan segar.
Pohon beringin raksasa penanda batas awal Hutan Hitam akhirnya mulai terlihat di depan mata mereka.
Sssss.
Suara desisan familiar terdengar dari atas dahan pohon beringin raksasa tersebut.
Ular Sanca Hitam menjulurkan kepalanya ke bawah menatap rombongan yang sedang berlari tergesa-gesa itu.
"Kalian ternyata benar-benar berhasil kembali dengan selamat, manusia aneh."
Ular raksasa itu mendesis pelan dengan nada yang terdengar cukup terkejut melihat keutuhan mereka.
"Aku pikir kalian sudah menjadi santapan lezat para monster di wilayah rawa sana."
"Terima kasih sudah menjaga jalan ini tetap aman, Tuan Ular."
Natasya melambaikan tangannya tanpa menyuruh Gaga menghentikan langkah kakinya sama sekali.
"Kami harus cepat pulang menyembuhkan ibuku dengan obat ini."
"Semoga beruntung dengan obatmu itu, anak kecil."
Ular Sanca itu bergumam pelan sambil menarik kepalanya kembali bersembunyi ke atas dahan pohon.
"Jangan lupa bawa makanan putih manis itu lagi kalau kau datang berkunjung ke wilayahku."
Cahaya matahari pagi akhirnya benar-benar menyinari wajah mereka saat keluar dari batas pepohonan gelap.
Pohon mangga besar tempat perbatasan desa terlihat berdiri kokoh menyambut kepulangan rombongan kecil itu.
Arga langsung jatuh berlutut di bawah pohon mangga itu sambil terengah-engah mencari udara segar.
"Kita sudah sampai di perbatasan desa, Ayah."
Natasya merosot turun dari punggung Gaga dan memeluk ayahnya dari samping.
"Ayah hebat sekali bisa berlari sejauh itu tanpa beristirahat."
"Kita belum selesai sepenuhnya, Natasya."
Arga memaksakan dirinya untuk berdiri kembali dengan sisa-sisa tenaga terakhir yang ia miliki.
"Kita harus segera sampai ke rumah sebelum napas ibumu berhenti."
Gaga menghentikan langkahnya dan duduk tenang di bawah bayangan pohon mangga besar tersebut.
"Aku hanya bisa mengantarkan kalian berdua sampai di batas pohon ini saja, Natasya."
"Desa manusia sudah mulai terang dan terlalu berbahaya bagiku untuk memaksakan diri masuk ke sana siang hari."
"Aku sangat mengerti, Gaga."
Natasya memeluk leher serigala sahabatnya itu dengan sangat erat untuk mengekspresikan rasa syukurnya.
"Terima kasih banyak atas semua perlindunganmu semalaman ini."
"Tanpamu, aku dan ayah pasti sudah hancur meleleh di dalam hutan sana."
"Itu sudah menjadi janji dan tugasku untuk terus melindungimu."
Gaga mengusapkan moncongnya dengan sangat lembut ke pipi Natasya.
"Cepatlah pulang dan selamatkan ibumu, kita bisa bermain lagi nanti kalau keadaan di desa sudah membaik."
Natasya mengangguk mantap dan segera berlari menyusul ayahnya yang sudah berjalan tertatih menuju desa.
Gaga menatap punggung kedua manusia itu hingga sosok mereka menghilang di balik tikungan jalan tanah.
Serigala raksasa itu kemudian berbalik dan kembali menyembunyikan dirinya ke dalam bayangan gelap hutan.