NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takhta Terlarang Sang Ibu Agung

Kalian pikir pria bertopeng emas tadi adalah Pemimpin Tertinggi? ucap wanita tua itu dengan suara parau yang amat menyeramkan.

Pria itu hanyalah prajurit pelindungku. Akulah pencipta darah murni Vane yang sesungguhnya... dan malam ini, cicitku akan lahir di tanganku sendiri.

​Hujan gerimis yang membasahi helipad terasa makin membekukan darah. Anindya melangkah mundur seraya merangkul perutnya erat-erat, bersembunyi di balik punggung Adrian yang berdiri tegap menahannya.

​Nenek Buyut... Sophia? bisik Adrian dengan suara serak yang dipenuhi amarah mendalam. Wanita yang seharusnya sudah meninggal setengah abad lalu saat pendirian awal Vane Foundation.?

​Wanita tua di atas kursi roda canggih itu terkekeh pelan. Suara kekehannya terdengar seperti gesekan daun kering yang tertiup angin malam. Meninggal? Ah, Cucuku Adrian... Dunia ini terlalu naif.

Orang-orang yang memiliki kekuasaan dan ilmu pengetahuan tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya berganti identitas di balik layar.

​Kau....Baskara mencengkeram lantai beton yang basah, matanya melotot tak percaya dari posisinya yang berlutut.

Kau yang merancang seluruh siksaan genetika keluarga ini sejak lima puluh tahun lalu?Kau yang mengorbankan anak dan cucumu sendiri.?

​Baskara, Putraku yang malang...Sophia menatap Baskara dengan pandangan penuh kekecewaan.

Kau selalu menjadi produk gagal yang terlalu emosional. Kau melarikan diri hanya karena tidak sanggup melihat kebenaran dari evolusi manusia.

​Evolusi, jerit Anindya dari balik tubuh Adrian, suaranya melengking menembus deru angin badai.

Kau menyebut pembunuhan, penculikan, dan eksperimen manusia ini sebagai evolusi? Kau bukan manusia, Kau iblis.!

​Sophia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Anindya dengan mata yang menyipit tajam.

Nyonya Anindya... Gadis rakyat biasa yang secara tidak sengaja membawa kunci penutup dari penelitianku. Kau seharusnya bangga.

Rahimmu terpilih menjadi wadah bagi mahakarya tertinggi dalam sejarah peradaban.

​Anak ini bukan mahakaryamu,! bentak Adrian, melangkah maju satu titik seraya mengepalkan kedua tangannya hingga memutih.

Anak ini adalah darah dagingku dan Anindya! Kami tidak akan pernah membiarkan tangan kotor dari masa lalu menyentuh masa depannya.!

​Bicara yang sangat indah dari seorang pria yang bahkan tidak bisa berdiri tegak tanpa darah donor," cibir Sophia seraya melambaikan jarinya yang keriput dan dihiasi cincin batu zamrud hitam.

Amankan mereka semua. Bawa Anindya ke ruang operasi bawah tanah.

​Klak! Klak! Klak!

​Puluhan pengawal berjas hitam dengan emblem naga emas serentak mencabut senjata otomatis bertenaga listrik dan mengepung mereka dari segala sisi.

​Jangan sentuh istriku, teriak Adrian seraya menerjang pengawal terdekat, menghantamkan tinjunya tepat ke rahang pria berjas hitam itu hingga terpelanting.

​Adrian, jerit Anindya panik saat melihat dua pengawal lain mengarahkan tongkat strum voltase tinggi ke arah punggung Adrian.

​BZZZZZT!

​AAAGHHH! Adrian meraung kesakitan saat gelombang listrik menghantam punggungnya, membuatnya kembali jatuh berlutut di atas lantai beton yang basah.

​Tuan Adrian, Sarah bergerak cepat mencabut pistol cadangannya dan melepaskan dua tembakan beruntun.

Bang! Bang! Dua pengawal roboh seketika, namun jumlah mereka terlalu banyak.

Sebuah tendangan keras menghantam dada Sarah hingga wanita itu terlempar menabrak pembatas helipad.

​Sarah, teriak Baskara. Pria tua itu mencoba berdiri dan menerjang Sophia langsung, namun dua pengawal berjas hitam menahannya kencang dan menekan kepalanya ke lantai.

​Lepaskan aku, Sophia! Dia putrimu! Anindya adalah cucumu, jerit Baskara penuh keputusasaan.

​Sophia sama sekali tidak berpaling. Pandangannya terus terkunci pada Anindya yang kini terkepung di tengah helipad.

Bawa wanita itu naik ke lif. Waktu induksi persalinan darurat sudah tiba.

​Dua pria berbadan tegap meraih kedua lengan Anindya. Anindya meronta-ronta dengan seluruh sisa tenaganya, menendang dan mencakar siapa saja yang mendekatinya.

Lepaskan aku! Adrian! Tolong aku.!

​Adrian mendongak, matanya yang memerah menyaksikan Anindya diseret menuju lif khusus. Anindya...

​Dengan sisa kekuatan terakhirnya dari efek darah Julian, Adrian merayap menerjang kaki pengawal yang memegang tongkat strum, membalikkan keadaan dan mengarahkan aliran listrik itu ke dada sang pengawal hingga pingsan.

Adrian lalu mengambil senjata otomatis di lantai dan menembak kaki pengawal yang menyeret Anindya.

​DOR! DOR!

​Dua pengawal itu roboh, melepaskan cengkeraman mereka dari lengan Anindya.

​Anindya, lari, teriak Adrian seraya terus menembak ke arah barisan pengawal Sophia.

​Anindya berlari menghampiri Adrian, merangkul suaminya yang terengah-engah dengan darah yang terus merembes dari perutnya.

Aku tidak akan lari tanpamu, Adrian! Kita keluar dari sini bersama-sama.

​Gigih sekali... gumam Sophia dari atas kursi rodanya seraya menekan sebuah tombol merah di lengan kursi rodanya.

Tapi kegigihan tanpa kekuatan hanyalah kesia-siaan.

​Bzzzzzt! Krrrkk!

​Tiba-tiba, dari empat sudut helipad, empat tiang gelombang suara muncul dari balik lantai dan memancarkan frekuensi ultrasonik berdaya tinggi.

​AAGHHH!

​Adrian, Anindya, Baskara, dan Sarah seketika memegangi kepala mereka saat gelombang suara itu menusuk gendang telinga dan saraf otak mereka secara mendadak.

Rasa sakit yang teramat sangat membuat Adrian menjatuhkan senjatanya, dan Anindya jatuh berlutut seraya mengerang kesakitan di perutnya.

​Perutku... Akh! Sakit sekali, Adrian! jerit Anindya, memegangi bagian bawah perutnya yang mendadak menegang hebat.

​Anindya! Adrian mencoba menggapai jemari Anindya, namun pandangannya mulai kabur dan membayang.

​Induksi gelombang suara telah memicu kontraksi dini pada rahimnya, ujar Sophia dengan senyuman miring yang dingin saat melihat Anindya merintih kesakitan di lantai.

Sempurna. Bayi itu akan lahir dalam kurun waktu satu jam ke depan.

​Dua pengawal berjas hitam membawa sebuah tandu medis khusus dari dalam lif, meletakkan Anindya di atasnya secara paksa, dan menguncinya dengan sabuk penahan baja.

​Adrian... Tolong aku... Adrian, jerit Anindya dalam tangis ketakutan yang luar biasa saat tandu medis itu didorong masuk ke dalam lif bawah tanah.

​ANINDYA, teriak Adrian penuh amarah dan keputusasaan, merayap di atas beton basah dengan jemari yang memar, namun gelombang ultrasonik itu terus menekan kesadarannya hingga ambang batas.

​Pintu lif bawah tanah perlahan tertutup rapat, membawa Anindya dan Sophia menghilang ke dalam kegelapan perut gedung rumah sakit..

​Klik.

​Gelombang ultrasonik mendadak mati. Suasana helipad kembali hening, hanya diselimuti suara deru angin badai dan tangisan pasrah Baskara di tanah.

​Adrian terbaring lemah di atas beton yang basah oleh air hujan dan darahnya sendiri, matanya menatap pintu lif yang telah terkunci rapat.

Tangannya mengepal keras di atas lantai marmer.

​Bzzzt... static...

​Tiba-tiba, walkie-talkie taktis milik pengawal yang tergeletak di samping kepala Adrian menyala dan mengeluarkan suara bisikan seorang pria yang sangat dikenalinya:

​Adrian... Apakah kau masih bisa mendengar suaraku.!

​Adrian tersentak pelan, mengenali suara dari alat komunikasi itu. Kenzie...

​Tuan Adrian, suara Dokter Kenzie terdengar panik namun terencana dari balik saluran rahasia walkie-talkie.

Saya berhasil bersembunyi di dalam saluran ventilasi utama gedung! Pintu laboratorium bawah tanah tempat Nyonya Anindya dibawa... memiliki satu jalur pembuangan racun kuno yang belum pernah dipetakan oleh Sophia.

​Adrian memaksakan dadanya terangkat, suaranya serak menahan sakit.

Bisa... bisakah aku menembus tempat itu.?

​Bisa, Tuan,Tapi jalur itu dipenuhi oleh gas kimia beracun dan dijaga oleh sistem pertahanan otomatis tanpa manusia, jelas Dokter Kenzie cepat.

Jika Anda masuk ke sana dalam kondisi pendarahan ini... peluang Anda untuk bertahan hidup kurang dari satu persen.

​Adrian perlahan berdiri, memegang perutnya yang terbakar rasa sakit, matanya memancarkan tekad membara yang tak terpadamkan.

​Satu persen sudah lebih dari cukup untuk membunuh wanita tua itu dan membawa istri serta anakku kembali, desis Adrian dingin seraya mengambil pistol taktis di lantai.

​Namun tepat saat Adrian melangkah menuju pintu lorong pembuangan di sudut helipad, sebuah ledakan besar lain terjadi di lantai bawah rumah sakit, dan sirene darurat bersuara unik yang belum pernah mereka dengar sebelumnya bergema ke seluruh kota:

​SIRENE DARURAT PROTOKOL PEMUSNAHAN TOTAL DITELAN BUMI DALAM WAKTU THIRTY MINUTES.

​Baskara mendongak dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat. Protokol Pemusnahan Total... Sophia berniat meruntuhkan seluruh kompleks medis ini dan menanamkan bukti keberadaan kita lima puluh meter di bawah tanah.!

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!