NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 — Kepulangan Sang Penerus

Matahari sore di atas langit ibu kota menggantung rendah, memancarkan semburat jingga kemerahan yang pekat, seolah-olah sedang membakar lapisan tipis polusi dan debu yang menyelimuti kota. Di area kedatangan terminal bandara internasional yang sibuk, riuh rendah suara manusia, deru mesin pesawat yang baru mendarat, dan klakson kendaraan saling bersahutan membentuk simfoni kesibukan yang tiada henti. Namun, suasana di sekitar pintu keluar jalur VIP terasa sangat berbeda. Keheningan yang eksklusif dan ketat mendominasi area tersebut.

Sebuah barisan mobil sedan hitam mewah keluaran terbaru tampak terparkir rapi dan simetris di sepanjang pembatas jalan khusus. Di samping setiap pintu kendaraan, beberapa pria bertubuh tegap, berambut cepak, dan mengenakan setelan jas hitam formal berdiri siaga dengan pandangan mata yang terus memindai sekeliling secara waspada. Mereka adalah tim pengawal elit keluarga besar Danendra, yang hari itu ditugaskan dengan tingkat siaga tertinggi untuk menyambut kepulangan sang putra mahkota, penerus tunggal imperium bisnis mereka, yang telah tiga tahun lamanya mengasingkan diri di London.

Ketika pintu kaca otomatis jalur VIP terbuka secara perlahan, sosok yang telah lama dinantikan itu akhirnya muncul. Adrian melangkah keluar menapaki lantai marmer dengan ritme kaki yang mantap, tegas, dan penuh dengan rasa percaya diri yang mutlak. Tiga tahun penuh dengan tempaan keras, tekanan rapat direksi global, dan dinamika pasar internasional yang kejam di kantor pusat London telah mengubah pemuda yang dulunya gemar menyamar dengan seragam cleaning service kusam itu secara total.

Kini, ia telah menjelma menjadi seorang pria dewasa yang memancarkan aura kepemimpinan yang sangat matang dan dominan. Setelan jas potongan Bespoke berwarna biru malam melekat sempurna di tubuh atletisnya, membingkai bahunya yang bidang dengan sangat gagah. Sebuah jam tangan perak berdesain minimalis namun bernilai fantastis melingkar di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya yang tampan kini tampak lebih tegas dengan garis rahang yang mengeras, sementara sepasang mata elangnya memancarkan sorot yang sangat dalam, dingin, dan sulit untuk dibaca oleh siapa pun.

Tidak ada lagi sisa-sisa senyuman konyol, candaan santai, atau cara berjalan yang ceroboh seperti masa lalunya; yang tersisa hanyalah wibawa penuh dari seorang CEO muda yang siap mengambil alih kendali penuh atas takhta bisnis keluarganya yang bernilai triliunan rupiah.

Di samping kanan Adrian, Elena berjalan dengan langkah yang tak kalah anggun. Ia mengenakan gaun terusan berbahan kasmir lembut berwarna krem yang sangat elegan, serasi dengan mantel musim gugur mahal yang tersampir di tangan kirinya. Rambut panjangnya yang indah ditata dengan sangat rapi, bergoyang mengikuti irama langkah kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi mengkilap. Wajah Elena yang cantik tampak berseri-seri, memancarkan kebahagiaan yang luar biasa.

Bagi Elena, kepulangan ke tanah air ini adalah momen yang paling ia nantikan seumur hidupnya. Selama tiga tahun mendampingi dan berada di dekat Adrian di London, ia telah melewati banyak sekali badai emosi. Pada awalnya, ia sempat hancur dan dirayapi rasa cemburu yang teramat pekat setelah mengetahui secara langsung dari mulut Adrian bahwa hati pemuda itu telah terkunci rapat oleh sosok "Gadis Kecil" misterius yang berada di Indonesia.

Namun, seiring berjalannya waktu, kedewasaan memaksa Elena untuk meredam egonya. Ia memilih untuk menurunkan posisinya, mencoba berdamai dengan kenyataan, dan bertindak sebagai pendukung yang setia bagi Adrian. Meskipun begitu, jauh di dalam sudut hatinya yang paling tersembunyi, Elena masih menyimpan secercah harapan kecil yang rapuh, sebuah harapan bahwa pengabdiannya, kedekatan fisik mereka selama bertahun-tahun di negeri orang, dan rencana perjodohan keluarga kelak bisa melunakkan pertahanan hati Adrian dan membuatnya menoleh.

...Begitu mereka mendekati iring-iringan kendaraan yang sudah siap, seorang kepala pengawal pribadi yang mengenakan pin emas keluarga langsung maju beberapa langkah. Ia membungkukkan badannya dalam-dalam sebagai bentuk penghormatan tertinggi, lalu dengan cekatan membukakan pintu penumpang bagian belakang dari mobil sedan hitam paling mewah yang berada di barisan terdepan. Pintu itu terbuka, memperlihatkan interior kulit premium yang sangat nyaman dan mewah, siap untuk membawa sang bos muda kembali ke istananya....

Namun, bukannya langsung melangkah masuk ke dalam mobil tersebut, Adrian justru menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu yang terbuka. Ia berdiri mematung selama beberapa detik. Angin sore berembus, meniup pelan anak rambut di dahinya. Adrian perlahan menoleh ke arah kepala pengawal yang masih menunduk di sampingnya. Sorot matanya sangat dingin dan tajam, sebuah tatapan yang terbiasa memberikan perintah mutlak tanpa kompromi.

"Antarkan Elena langsung ke kediaman utama keluarga," perintah Adrian dengan suara baritonnya yang berat, sangat tenang, namun memiliki tekanan yang tidak menerima bantahan sedikit pun.

Elena yang mendengar kalimat itu langsung tersentak kecil di tempatnya berdiri. Senyum cerah yang sejak tadi menghiasi wajah cantiknya memudar seketika, digantikan oleh kerutan halus di keningnya dan sepasang mata yang menyiratkan keterkejutan sekaligus kekecewaan. Ia menatap Adrian dengan pandangan tidak percaya.

"Kak Adrian?" panggil Elena, suaranya sedikit bergetar halus. "Kakak tidak ikut pulang bersama ke rumah? Ibuku sudah menunggu di sana sejak siang. Mereka bahkan sudah menyiapkan acara makan malam penyambutan yang sangat besar dan mewah untuk merayakan kepulangan kita. Seluruh keluarga besar juga sudah berkumpul."

Adrian tidak mengalihkan pandangannya untuk menatap Elena. Matanya tetap menerawang jauh ke depan, menembus kepadatan jalan raya di luar area bandara. Di dalam benaknya, segala kemegahan pesta penyambutan keluarga, alunan musik klasik, dan hidangan mewah dari koki bintang lima sama sekali tidak memiliki arti. Semua itu terasa hampa dan palsu bagi jiwanya.

Satu-satunya hal yang memenuhi rongga dadanya saat ini, satu-satunya alasan mengapa jantungnya tetap berdetak dengan penuh semangat sepanjang penerbangan belasan jam melintasi benua, adalah bayangan sebuah gedung pencakar langit megah di pusat kota, tepatnya pada sebuah ruang basement yang dingin, pengap, dan berbau cairan karbol pembersih lantai.

Selama tiga tahun yang panjang dan menyiksa, Adrian telah menahan rasa rindu yang luar biasa masif di dalam dadanya. Seribu hari lebih ia hidup di London bagaikan sebuah robot bisnis yang dikelilingi kepalsuan, dan satu-satunya jangkar kewarasannya hanyalah rutinitas panggilan video di tengah malam dengan seorang gadis miskin yang status sosialnya berada di dasar bumi. Hari ini, di detik pertama kakinya kembali menginjak tanah kelahirannya, Adrian bersumpah tidak akan menunda waktu lebih lama lagi. Ia ingin menagih janji tiga tahun yang pernah ia ikat dengan sebuah sumpah persahabatan murni di mulut gang kumuh yang becek dulu. Ia harus melihat wajah gadis itu secara langsung, bukan lagi dari balik layar kaca yang buram.

"Ada beberapa urusan mendesak dan dokumen penting yang harus segera kuperiksa di kantor pusat sebelum besok pagi," jawab Adrian datar, memberikan alasan formalitas dunia bisnis yang sangat klise untuk menutupi niat aslinya. Ia melirik sekilas ke arah kepala pengawal, memberikan kode yang dipahami dengan cepat. "Kalian pergilah duluan. Jangan tunggu aku untuk makan malam."

Tanpa memberikan kesempatan bagi Elena untuk melayangkan pertanyaan lebih lanjut atau memohon, Adrian langsung berbalik badan. Dengan langkah-langkah panjang yang penuh determinasi, ia melangkah menuju mobil sedan hitam kedua yang berada di barisan belakang.

Ia membuka pintunya sendiri tanpa bantuan pengawal, masuk ke dalam kursi penumpang belakang, dan menutup pintu dengan bunyi debukan yang solid. Sopir pribadi di dalam mobil tersebut sempat terkejut melihat kedatangan mendadak sang penerus utama, namun dengan sigap langsung menyalakan mesin. Mobil mewah itu segera melaju mulus, membelah arus lalu lintas yang padat dengan kecepatan tinggi, bergerak lurus menuju satu-satunya titik koordinat yang menjadi arah kompas hati Adrian selama tiga tahun terakhir.

Elena berdiri terpaku di pelataran dermaga VIP bandara, menatap nanar ke arah mobil sedan hitam yang perlahan menjauh dan menghilang di antara kerumunan kendaraan jalan raya. Tangannya yang memegang mantel kasmir mengetat, sementara dadanya kembali merasakan perih yang teramat sangat, sebuah pengingat pahit bahwa setinggi apa pun statusnya sebagai "Tuan Putri", posisi utamanya di hati Adrian tetaplah tidak pernah bergeser dari status seorang adik perempuan biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!