NovelToon NovelToon
BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

BISIKAN HEWAN: PUTRI KECIL PEMBAWA KEBERUNTUNGAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.

Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.

Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.

Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Cring.

Cring.

Suara cangkul Arga beradu dengan tanah kering dan batu kerikil terdengar berirama dan konstan.

Pria bertubuh kekar itu bekerja keras tanpa henti untuk mencoba menggemburkan tanah dan menyelamatkan sisa tanamannya.

Di sudut ladang yang lain, Mira sedang berjongkok mencabuti rumput liar yang mengganggu tanaman jagung.

Wajah wanita paruh baya itu terlihat sangat pucat pasi hari ini layaknya selembar kertas tua.

Keringat dingin terus mengucur deras dari dahi dan lehernya membasahi kerah bajunya.

"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?"

Natasya yang sedang asyik bermain tanah di dekat situ langsung menyadari kondisi ibunya yang terlihat aneh.

"Wajah Ibu terlihat putih sekali hari ini."

"Ibu tidak apa-apa kok, Natasya."

Mira memaksakan sebuah senyuman ke arah putrinya meskipun bibirnya terlihat bergetar hebat.

"Ibu hanya sedikit pusing karena cuaca hari ini rasanya sangat gerah dan sumpek."

"Ibu istirahat saja di bawah pohon mangga sana."

Natasya menunjuk ke arah pohon rindang di pinggir ladang dengan jari telunjuk mungilnya.

"Biar Natasya saja yang bantu cabut sisa rumput liarnya."

"Kamu memang anak yang sangat baik dan pintar."

Mira mengusap keringat di dahinya dengan punggung tangan yang sudah kotor oleh debu tanah.

"Tapi Ibu masih kuat untuk menyelesaikan pekerjaan ini sebentar lagi."

Uhuk.

Uhuk.

Mira tiba-tiba terbatuk pelan sambil memegangi dadanya yang mendadak terasa sesak dan nyeri.

Batuk itu awalnya hanya pelan, namun lama-kelamaan ritmenya menjadi semakin keras dan tidak terkendali.

"Ibu."

Natasya langsung membuang mainan tanahnya dan berlari mendekati ibunya dengan raut wajah panik.

"Ibu kenapa batuk-batuk terus dari tadi?"

Uhuk.

Uhuk.

Uhuk.

Batuk Mira semakin menjadi-jadi hingga wanita itu terpaksa membungkukkan badannya menahan sakit.

Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan sambil terus terbatuk dengan hebat.

Arga yang mendengar suara batuk istrinya dari kejauhan langsung melempar cangkulnya ke atas tanah.

Pria itu berlari secepat kilat melewati bedengan tanaman untuk menghampiri Mira dan Natasya.

"Ada apa ini, Mira?"

Arga langsung memegang kedua bahu istrinya dengan perasaan was-was dan panik.

"Kenapa kamu tiba-tiba batuk parah begini?"

Bruk.

Tubuh Mira tiba-tiba limbung dan jatuh berlutut membentur tanah yang kering kerontang.

Wanita malang itu sudah tidak sanggup lagi menopang berat badannya sendiri.

"Mira."

Arga berteriak kaget dan langsung menahan punggung istrinya agar tidak jatuh telungkup sepenuhnya.

"Mira, buka matamu sekarang."

Saat tubuh Mira tersandar di lengan Arga, tangan kanan wanita itu terlepas dari mulutnya.

Mata Arga seketika membelalak sangat lebar saat melihat apa yang ada di baliknya.

Ada noda darah segar berwarna merah gelap yang cukup banyak memenuhi telapak tangan istrinya.

Bibir pucat Mira juga terlihat berlumuran darah kental yang mengalir turun ke dagunya.

"Ayah, kenapa ada darah di mulut Ibu?"

Natasya langsung menangis histeris melihat pemandangan yang sangat mengerikan di depannya.

"Ibu berdarah parah, Ayah."

"Tenanglah, Natasya."

Arga mencoba bersikap tegar meskipun jantungnya sendiri berdegup sangat kencang karena ketakutan yang luar biasa.

"Ibumu pasti akan baik-baik saja."

Tanpa banyak bicara lagi, Arga langsung mengangkat tubuh istrinya yang sudah setengah tidak sadarkan diri itu ke dalam gendongan dada.

Tubuh Mira terasa sangat dingin membeku namun anehnya dahi wanita itu memancarkan hawa panas seperti terbakar api.

"Natasya, kamu ikut Ayah pulang ke rumah sekarang juga."

Arga memberi perintah pada putrinya dengan nada suara berat yang bergetar.

"Kita harus segera membawa Ibumu pulang dan meminta bantuan Tabib Karta."

"Iya, Ayah."

Natasya berlari sekencang mungkin mengikuti ayahnya dari belakang sambil terus menangis terisak-isak.

"Ibu jangan mati, Ibu."

Langkah kaki panjang Arga membelah jalanan desa yang berdebu dengan kecepatan penuh.

Beberapa tetangga yang kebetulan sedang berada di luar rumah langsung menatap kejadian itu dengan raut terkejut.

"Ada apa dengan istrimu itu, Arga?"

Seorang tetangga pria bertanya dengan panik saat Arga berlari melewati halaman rumahnya.

"Kenapa bajunya penuh dengan darah begitu?"

"Tolong panggilkan Tabib Karta ke rumahku sekarang juga."

Arga berteriak kencang tanpa menghentikan langkah kakinya sedikitpun.

"Katakan padanya ini sangat darurat karena Mira tiba-tiba muntah darah di ladang."

Tetangga itu mengangguk paham dan langsung berlari ke arah berlawanan menuju rumah sang tabib desa.

Sementara itu, Arga akhirnya sampai di depan gubuknya dan langsung menendang pintu depan hingga terbuka lebar.

Brak.

Pintu kayu tipis itu berderit sangat kencang saat terbuka secara paksa.

Arga segera membaringkan tubuh Mira dengan ekstra hati-hati di atas ranjang bambu mereka yang keras.

"Bertahanlah sebentar lagi, Mira."

Arga bergegas mengambil kain bersih dan baskom berisi air sisa dari dapur.

Ia mulai mengelap dan membersihkan sisa darah di sekitar mulut istrinya dengan tangan gemetar.

"Ibu, bangunlah Ibu."

Natasya memegang erat tangan kiri Mira yang terasa sangat dingin dan kaku.

Air mata gadis kecil itu terus mengalir deras membasahi pipinya yang kotor oleh debu ladang.

Napas Mira terdengar sangat berat dan putus-putus.

Dada wanita itu naik turun dengan tempo cepat seolah sedang kesulitan menarik udara masuk ke paru-parunya.

Wajahnya semakin pucat pasi terlihat menyedihkan seperti tubuh mayat yang tidak bernyawa.

"Tabib Karta sudah datang, Arga."

Suara teriakan tetangga dari arah luar pintu membuat Arga langsung menoleh dengan wajah penuh harap.

Seorang pria tua dengan jenggot putih panjang masuk tergesa-gesa ke dalam rumah sambil menenteng sebuah tas anyaman rotan.

"Tolong segera periksa istri saya, Tabib."

Arga langsung melangkah mundur untuk memberikan ruang yang cukup bagi pria tua itu.

"Dia tiba-tiba batuk darah parah di ladang dan langsung kehilangan kesadaran."

Tabib Karta tidak membuang waktu menjawab dan langsung duduk di kursi kayu pinggir ranjang.

Ia mengambil pergelangan tangan Mira dan mulai merasakan ritme denyut nadinya.

Kening keriput pria tua itu berkerut sangat dalam menunjukkan ekspresi yang teramat serius.

Suasana di dalam ruangan kecil itu terasa sangat tegang dan mencekam.

Natasya menyembunyikan sebagian wajahnya di belakang kaki Arga karena merasa sangat ketakutan melihat raut wajah tabib tersebut.

Hanya suara tarikan napas Mira yang tersengal-sengal yang terdengar mendominasi ruangan sunyi itu.

Setelah beberapa saat berlalu, Tabib Karta membuka matanya perlahan dan melepaskan tangan Mira.

Pria tua itu menghela napas panjang yang terdengar sarat akan beban berat.

"Bagaimana keadaan istri saya, Tabib?"

Arga bertanya cepat dengan suara serak karena menahan tangis keputusasaan.

"Penyakit apa yang sebenarnya menyerang tubuh istri saya secara tiba-tiba ini?"

Tabib Karta mendongak dan menatap Arga dengan pandangan sendu penuh rasa kasihan.

"Ini sama sekali bukan penyakit biasa yang sering menyerang warga desa kita akhir-akhir ini, Arga."

"Istrimu terkena wabah demam darah, penyakit kutukan yang sangat mematikan."

"Demam darah?"

Tubuh kekar Arga seketika lemas dan hampir ambruk mendengar nama penyakit mengerikan itu.

"Tapi bukankah penyakit kutukan itu sudah puluhan tahun menghilang dari desa ini?"

"Penyakit itu sepertinya kembali lagi karena cuaca ekstrim dan kelaparan yang melanda desa kita belakangan ini."

Tabib Karta membuka tas anyamannya dan mengeluarkan sebuah botol bambu berukuran kecil.

"Ramuan dari akar ini hanya bisa meredakan rasa sakit di dadanya untuk sementara waktu."

"Lalu apa obat yang benar-benar bisa menyembuhkan ibuku?"

Natasya tiba-tiba memberanikan diri melangkah maju dari balik punggung ayahnya.

"Aku dan ayah pasti akan mencarinya ke mana saja asalkan ibuku bisa sembuh."

Tabib Karta menatap gadis kecil yang sedang menangis itu dengan senyuman getir yang menyakitkan.

"Obatnya tidak akan bisa kalian temukan di desa ini atau bahkan di kota sebelah, nak."

"Satu-satunya penawar mutlak untuk mengobati demam darah adalah Bunga Teratai Merah."

"Di mana kita bisa menemukan bunga teratai itu, Tabib?"

Arga mencengkeram kedua bahu pria tua itu dengan cengkeraman yang sangat kuat dan nekat.

"Katakan padaku di mana tempatnya dan aku akan langsung pergi mengambilnya."

"Bunga itu sangat langka dan perjalanannya sama saja dengan menjemput kematian."

Tabib Karta menatap tajam tepat ke dalam mata Arga untuk menegaskan bahayanya.

"Bunga itu hanya tumbuh di tengah danau beracun yang terletak jauh di jantung terdalam Hutan Larangan."

Jantung Arga dan Natasya seakan berhenti berdetak sesaat mendengar nama tempat tersebut.

Hutan Larangan bagian dalam bukanlah tempat yang pernah diinjak oleh manusia normal manapun.

Hanya mereka yang sudah siap membuang nyawa yang berani nekat masuk ke tempat terkutuk penuh monster itu.

1
Fauziah Daud
mantap Natasha 👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!