Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Acara lelang bawah tanah di Pulau Nenek Moyang akhirnya resmi ditutup.
Para tamu undangan mulai beranjak dari kursi mereka, saling berbisik membicarakan kegilaan yang baru saja terjadi malam ini.
Rendy Kusuma berdiri dari kursinya dengan dada dibusungkan.
Meski wajahnya masih sedikit pucat karena kelelahan emosional, dia memaksakan sebuah senyuman penuh kemenangan.
Dengan langkah angkuh, Rendy berjalan menghampiri kursi nomor 08 tempat Anton dan Elena masih duduk santai.
"Bagaimana rasanya pulang dengan tangan kosong, anak miskin?" ejek Rendy menatap Anton dari atas ke bawah.
"Pada akhirnya, orang dengan kasta rendahan sepertimu tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan uang keluarga Kusuma."
Anton perlahan berdiri dari kursinya lalu merapikan jas biru gelapnya dengan tenang.
Dia menatap Rendy dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa kasihan dan geli.
"Kekuatan uang?" ulang Anton dengan nada mengejek.
"Seingatku, batas dana tunai yang kau bawa malam ini hanya lima puluh miliar rupiah."
Rendy tersentak kaget. Tubuhnya mendadak kaku.
"B-bagaimana kau bisa tahu?" batin Rendy panik.
"Kau menghabiskan empat puluh miliar untuk lukisan palsu, tujuh puluh miliar untuk tanah, dan lima puluh miliar untuk resep itu," rinci Anton dengan suara pelan namun menusuk.
"Total seratus enam puluh miliar. Seratus sepuluh miliar sisanya pasti kau bayar menggunakan aset perusahaan keluargamu sebagai jaminan ke pihak penyelenggara, benar kan?"
Keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahi Rendy.
Pelelangan bawah tanah dikelola oleh sindikat kejam. Jika dia gagal melunasi hutang itu dalam waktu singkat, bukan hanya nyawanya yang terancam, tapi seluruh aset keluarga Kusuma akan disita.
"I-itu bukan urusanmu! Aku bisa membayarnya dengan mudah setelah tanah itu kujual lagi!" bentak Rendy menutupi ketakutannya.
Anton tertawa pelan. Tawanya terdengar sangat dingin menggema di sudut aula.
"Selamat menikmati kebangkrutanmu, Tuan Rendy," bisik Anton.
Anton menoleh ke arah Elena dan mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Ayo kita pulang, Nona Elena. Udara di sini mulai terasa sangat kotor," ajak Anton.
Elena menyambut uluran tangan Anton sambil tersenyum anggun.
Mereka berdua berjalan melewati Rendy begitu saja, meninggalkan pewaris keluarga Kusuma itu mematung dalam kepanikan yang mulai menggerogoti kewarasannya.
Satu jam kemudian, di atas geladak kapal pesiar Maybach yang membelah lautan malam.
Angin laut bertiup cukup kencang, namun tidak menyurutkan rasa penasaran di benak Elena.
Dia berdiri di samping Anton yang sedang bersandar di pagar pembatas kapal sambil menatap bintang.
"Anton, aku tahu kau punya rencana lain," buka Elena memecah keheningan.
"Tapi mengapa kau membiarkan Rendy mendapatkan tanah sengketa dan resep kuno itu? Padahal aku sudah menyiapkan dana hingga tiga ratus miliar untukmu."
Anton menoleh ke arah Elena lalu tersenyum misterius.
"Elena, dalam dunia bisnis, kita tidak perlu selalu membeli barang untuk mendapatkan nilainya," jawab Anton santai.
Elena mengerutkan keningnya, tidak memahami teka-teki pemuda di depannya ini.
"Apa maksudmu?" tanyanya penasaran.
"Pertama, soal tanah lima hektar itu," jelas Anton. "Status sengketanya bukan sengketa biasa. Kasus itu sudah masuk ke Mahkamah Agung."
"Pihak bank yang menjual tanah itu di lelang ini sebenarnya sudah kalah dalam putusan inkrah minggu lalu melawan ahli waris aslinya."
Mata Elena membelalak lebar mendengar informasi rahasia tersebut.
"Maksudmu... surat tanah yang dilelang tadi?"
"Ya, itu adalah sertifikat mati yang sudah tidak memiliki kekuatan hukum," potong Anton cepat.
"Pihak lelang sengaja mencuci barang itu sebelum beritanya meledak di media minggu depan. Rendy baru saja membuang tujuh puluh miliar untuk dokumen sampah."
Gasp.
Elena menutup mulutnya dengan tangan, takjub dengan betapa licik dan berbahayanya jebakan yang baru saja dimainkan oleh Anton.
"Lalu... bagaimana dengan resep obat kuno itu?" tanya Elena lagi, suaranya sedikit bergetar karena antusias. "Kulihat kau sangat menginginkannya tadi."
Anton tersenyum semakin lebar. Dia mengangkat jari telunjuk tangan kanannya lalu mengetuk-ngetukkan jarinya ke pelipis kepalanya sendiri.
"Siapa bilang aku tidak mendapatkannya?" ucap Anton tenang.
Elena terdiam, matanya menatap Anton dengan penuh kebingungan.
"Tapi Rendy yang membawa pulang kotak kayu itu, Anton."
"Rendy memang membawa pulang kertas perlengkapan dokumen kunonya," jawab Anton. "Tapi isi dari tulisan di kertas itu, sudah berpindah ke dalam kepalaku sejak pandangan pertamaku."
[Sistem Log: Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 telah berhasil memindai dan menyimpan 100% aksara dari Resep Pembersihan Sumsum Tulang dan Regenerasi Sel Kuno ke dalam memori tuan.]
Kemampuan mata tembus pandang Anton tidak hanya menembus benda padat, tapi juga memungkinkannya membaca setiap detail tulisan mikroskopis dan mengingatnya secara absolut dalam hitungan detik.
Elena terperangah. Jantungnya berdetak kencang menatap pemuda di depannya.
Dia tidak tahu apakah Anton memiliki ingatan fotografis tingkat dewa atau kemampuan lain yang di luar nalar manusia.
"Kau... kau menghafal seluruh resep medis kuno itu hanya dengan melihat kotak kayunya dari jarak sepuluh meter?" tanya Elena memastikan, nyaris tidak percaya.
"Kurang lebih seperti itu," jawab Anton tidak ingin menjelaskan terlalu detail soal sistemnya.
"Resep itu menggunakan campuran akar ginseng merah usia seratus tahun, teratai es, dan beberapa ekstrak mineral yang bisa direplikasi dengan teknologi medis modern."
Anton merogoh saku jas dalamnya, mengeluarkan sebuah pena dan notes kecil yang selalu dibawanya.
Dengan gerakan tangan yang sangat cepat dan lancar, Anton menuliskan puluhan baris bahan, rasio pencampuran, hingga metode ekstraksi suhu pada kertas notes tersebut.
Sret sret sret.
Hanya dalam waktu tiga menit, Anton merobek kertas notes itu dan menyodorkannya ke tangan Elena.
"Ini resepnya. Seratus persen akurat," ucap Anton.
Elena menerima kertas itu dengan tangan sedikit gemetar.
Bagi seorang pebisnis kelas atas sepertinya, kertas di tangannya ini bernilai triliunan rupiah jika dikonversi menjadi produk farmasi komersial.
Dan Anton memberikannya begitu saja seolah itu hanya secarik kertas bon belanja.
"Anton... ini gila. Nilai resep ini tidak bisa diukur dengan uang. Kau memberikannya padaku?" tanya Elena menatap mata Anton lekat-lekat.
"Aku tidak memberikannya secara gratis," jawab Anton mengoreksi.
"Aku adalah ahli teknologi dan pengembang, bukan ahli distribusi. Kau punya jaringan apotek dan rumah sakit terbesar di ibu kota."
Anton melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka berdua.
"Kita akan membangun perusahaan farmasi secara patungan. Aku memegang hak paten dan produksi sebesar enam puluh persen, kau memegang empat puluh persen untuk distribusi dan modal awal," tawar Anton dengan nada mutlak tanpa keraguan.
Elena menatap mata tajam Anton. Auranya begitu mendominasi, membuat Elena yang biasanya selalu mengontrol jalannya bisnis kini merasa tunduk tanpa perlawanan.
"Enam puluh, empat puluh. Sepakat," jawab Elena tanpa menawar sedikit pun.
Mereka berdua berjabat tangan di bawah sinar bulan, meresmikan sebuah aliansi bisnis baru yang kelak akan mengguncang dunia medis nasional.
Sementara itu, di bagian lain kapal, Rendy Kusuma sedang duduk di sudut ruangan sambil memandangi kotak kayu resep dan dokumen tanah di tangannya.
Tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Panggilan dari pamannya, ayah dari Kevin Kusuma.
"Rendy! Apa yang kau lakukan di pulau itu?!" suara pamannya menggelegar dari seberang telepon.
"Pihak bank baru saja menghubungi! Aset perusahaan kita dibekukan karena kau menjadikan sertifikat induk sebagai jaminan utang seratus sepuluh miliar!"
Ponsel di tangan Rendy langsung terjatuh ke lantai.
Tubuhnya lemas tak bertulang. Malam yang dia kira sebagai kemenangan mutlak, ternyata adalah gerbang menuju neraka kehancuran keluarganya.
Anton telah meratakan keluarga Kusuma cabang ibu kota bahkan sebelum mereka sempat menyatakan perang.