Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENUNDAAN TEST
Matahari perlahan turun ke peraduannya, menyisakan semburat jingga yang memudar di balik pucuk-pucuk pohon tinggi menjulang. Udara di dalam hutan semakin terasa sejuk dan dingin, menyapa kulit siapa saja yang melintas. Menjelang malam, rombongan mereka akhirnya tiba di lokasi perkemahan yang telah ditentukan di tengah kawasan hutan lindung tersebut. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu enam jam ternyata berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan, dikarenakan jalur yang terjal dan licin membuat mereka terpaksa berkali-kali berhenti untuk beristirahat sejenak agar tenaga tidak habis sebelum tiba di tujuan. Namun meski perjalanan terasa melelahkan, akhirnya mereka semua berdiri di tanah lapang yang cukup luas dan datar, tempat mereka akan mendirikan tenda dan bermalam sebelum melanjutkan kegiatan esok harinya.
Begitu tiba di lokasi, Kevin selaku panitia dan pengganti sementara Doni langsung bergegas menuju bagian tengah lapangan untuk segera mendirikan tenda utama. Billy yang hadir sebagai senior pun segera mendekat dan membantu pekerjaan tersebut agar lebih cepat selesai. Sementara itu, Rangga sesama panitia segera melangkah masuk ke balik rimbunan semak belukar untuk mengumpulkan ranting dan kayu kering guna persiapan api unggun serta memasak malam ini. Nisa yang tidak ikut sibuk mengangkat barang, justru berdiri di hadapan para peserta baru dan dengan tenang namun tegas mulai memberikan arahan pembagian tugas agar segala sesuatu berjalan tertib dan cepat.
"Joel dan Bobi," panggil Nisa dengan suara lantang namun tetap lembut, "kalian berdua segera mendirikan dua tenda untuk peserta baru. Satu tenda untuk Cintya dan Kristin, dan satu lagi untuk kalian berempat bersama Jeki dan Ari. Pastikan tiang-tiangnya terpasang kuat dan menancap kokoh ke tanah, agar tidak mudah roboh jika angin malam bertiup kencang."
Joel dan Bobi pun segera mengangguk patuh, lalu mengambil kantong-kantong tenda dari tumpukan barang bawaan dan mulai membentangkan kain tenda di atas tanah yang rata.
"Jeki," lanjut Nisa, "kau bergabung bersama Rangga untuk mengumpulkan kayu bakar. Kumpulkan sebanyak mungkin, karena malam di dalam hutan ini cukup dingin dan kita membutuhkan cukup banyak kayu untuk api unggun serta memasak malam ini."
Jeki pun segera berlari menyusul ke arah hutan tempat Rangga pergi tadi.
"Sedangkan Ari dan Cintya," ucap Nisa kembali menatap dua orang yang berdiri di sisi kanannya, "kalian berdua bersiap menyiapkan bahan makanan untuk masakan malam ini. Periksa kembali persediaan yang dibawa, lalu bersihkan dan potong bahan-bahannya agar nanti tinggal dimasak saja saat api sudah siap."
Ari dan Cintya pun segera beranjak menuju tempat penyimpanan bahan makanan dan mulai memeriksa serta menata apa saja yang akan mereka masak untuk makan malam bersama.
Kristin yang sedari tadi berdiri diam sambil memegang erat tas punggungnya, melihat semua orang begitu sibuk dan teratur bekerja. Ia pun hendak melangkah mendekat untuk ikut membantu menata bahan makanan bersama Ari dan Cintya. Namun baru saja kakinya melangkah beberapa langkah, Ari yang menyadari hal itu segera berhenti bekerja dan menoleh ke arah Kristin sambil mengangkat tangan memberi isyarat agar berhenti.
"Jangan mendekat dulu, Kristin!" seru Ari dengan nada cemas namun tetap lembut. "Kau tidak perlu ikut membantu di sini. Sebaiknya kau duduk dan beristirahatlah di atas batu besar yang datar di sana."
Kristin tertegun sejenak, lalu menatap bingung ke arah kakinya yang tertutup celana panjang. "Tidak apa-apa, Ari... Aku masih kuat. Biar aku bantu sedikit saja," ucap Kristin berusaha memohon.
Namun Ari tetap menggeleng tegas sambil berjalan mendekati Kristin. "Lihatlah kakimu sendiri, Kristin. Sepanjang perjalanan tadi kau banyak terkena duri tanaman liar dan kakimu terlihat penuh lecet serta goresan. Kulitnya pun terlihat merah dan bengkak. Bagaimana jika nanti lukanya semakin parah atau infeksi? Jangan memaksakan diri. Di sini sudah cukup aku dan Cintya yang mengurus semuanya. Kau duduklah dan istirahatkan kakimu."
Mendengar perkataan Ari yang penuh perhatian itu, Kristin pun akhirnya tidak berani menolak lagi. Ia hanya bisa mengangguk pelan, lalu berjalan perlahan menuju batu besar yang datar di pinggir lapangan dan duduk di atasnya sambil menurunkan kakinya yang terasa perih dan lelah.
Tak lama kemudian, setelah memastikan bahan makanan sudah tertata rapi dan siap dimasak, Cintya berjalan mendekati Kristin sambil membawa sebuah botol berisi cairan berwarna merah tua dan selembar kain bersih. Cintya pun duduk di sisi batu tempat Kristin duduk, lalu dengan lembut mengangkat kedua kaki Kristin dan meletakkannya di atas pangkuannya. Tanpa banyak bicara, Cintya perlahan menurunkan ujung celana Kristin hingga memperlihatkan betis dan pergelangan kaki gadis itu yang tampak penuh goresan, lecet, dan bintik-bintik merah bekas tusukan duri liar.
"Sudah kubilang, kau ini terlalu tidak tega pada dirimu sendiri," gumam Cintya pelan sambil menggelengkan kepala. Ia kemudian membuka tutup botol obat merah itu, meneteskan cairan itu ke atas kain bersih yang dibawanya, lalu dengan hati-hati dan perlahan mulai mengoleskan obat tersebut ke seluruh bagian kaki Kristin yang terluka dan lecet.
Saat cairan obat itu menyentuh kulit yang luka, seketika rasa perih yang luar biasa menjalar dari ujung kaki hingga ke seluruh tubuh. Kristin tak kuasa menahan rasa perih itu, seketika ia meringis keras, menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata rapat-rapat. Kakinya seakan hendak ditarik kembali, namun Cintya tetap memegangnya dengan lembut namun tegas agar tidak bergerak.
"Sabar... sebentar lagi selesai," ucap Cintya pelan sambil terus mengoleskan obat itu dengan hati-hati. "Rasa perih itu memang terasa menyengat sekarang, tapi tak akan lama. Setelah ini lukanya akan segera kering dan kau akan merasa jauh lebih baik dari sebelumnya."
Kristin perlahan membuka matanya, menatap Cintya yang sedang menunduk serius merawat kakinya dengan penuh kesabaran. Di tengah rasa perih yang masih terasa menyengat itu, tiba-tiba sebuah pertanyaan polos namun begitu dalam terlontar dari mulut Cintya tanpa menoleh sedikit pun.
"Katanya... mana yang lebih terasa perih dan menyakitkan? Luka di kakimu yang sedang kurepikan ini... atau luka di hatimu yang tak pernah kau ceritakan kepada siapa pun?"
Seketika itu juga, Kristin terdiam mematung. Matanya yang tadi memerah menahan perih kini terbelalak menatap wajah sahabatnya itu. Rasa perih di kakinya seketika seakan hilang tertutup rasa terkejut bercampur haru yang mendadak menyeruak di dadanya. Tak lama kemudian, sudut bibir Kristin perlahan terangkat membentuk senyum tipis yang bergetar. Ia pun tertawa kecil, tawa yang terdengar renyah namun menyembunyikan perasaan yang begitu dalam. Kristin merasakan betapa beruntungnya ia memiliki sahabat seperti Cintya—sahabat yang tidak hanya peduli pada luka di kulitnya, namun juga begitu peka terhadap luka yang tersembunyi jauh di dalam hatinya.
Kristin menghela napas panjang yang terasa melegakan, lalu menatap Cintya dengan pandangan yang penuh kasih sayang dan ketulusan. "Kau memang sahabat terbaikku, Cintya..." ucap Kristin pelan namun begitu tulus. "Kau selalu saja punya cara untuk menghiburku dan menyadarkan aku, bahkan di saat-saat yang paling sulit sekalipun. Terima kasih... Terima kasih sudah mengerti tanpa perlu aku bercerita."
Cintya pun akhirnya tersenyum dan menatap Kristin lekat-lekat. Ia mengusap pelan punggung tangan sahabatnya itu, lalu kembali melanjutkan mengoleskan obat dengan lembut hingga seluruh bagian yang terluka telah tertutup rata.
Sementara itu, di sisi lain lapangan, Kevin dan Billy telah selesai mendirikan tenda utama. Sebagai senior yang turut membantu, Billy ikut memastikan semuanya terpasang kokoh dan aman. Setelah pekerjaan itu selesai, Billy pun membantu mengatur barang-barang bawaan agar tertata rapi di dalam tenda.
Waktu terus berjalan dan kegelapan malam pun semakin pekat menyelimuti hutan. Namun di tengah kegelapan itu, cahaya api unggun mulai menyala terang dan memberikan kehangatan bagi siapa saja yang berkumpul di sekitarnya. Aroma masakan yang lezat pun mulai tercium menggugah selera, membuat perut yang sedari tadi kosong seakan semakin menuntut untuk segera diisi. Tak lama kemudian, semua orang berkumpul melingkar di sekitar api unggun dan bersama-sama menikmati masakan yang telah disiapkan oleh Ari dan Cintya. Makanan sederhana yang dimakan bersama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan itu terasa begitu nikmat dan berkesan bagi setiap orang yang hadir di sana.
Setelah semua selesai menikmati makan malam dan peralatan makan telah dibersihkan kembali, Nisa berdiri di hadapan para peserta baru dan menyampaikan pengumuman dengan nada suara yang lembut namun tegas. Billy yang berdiri tak jauh di samping Nisa ikut menyimak dan sesekali menatap ramah ke arah mereka.
"Terima kasih atas kerja sama dan ketertiban kalian sepanjang hari ini," ucap Nisa sambil menatap satu per satu wajah mereka yang tampak lelah namun tetap bersemangat. "Sekarang, sebaiknya kalian segera beristirahat di dalam tenda masing-masing. Jangan banyak bergerak dan usahakan tidur cukup agar besok pagi kondisi tubuh kalian kembali segar dan bugar."
Sebenarnya, sesuai dengan rencana awal, panitia berniat mengadakan salah satu rangkaian ujian malam itu juga. Namun mengingat perjalanan yang sangat lama dan melelahkan, serta kedatangan mereka yang sudah terlambat hingga menjelang malam hari di lokasi perkemahan yang gelap dan terpencil, Kevin selaku panitia dan pengganti sementara Doni pun mengajak Nisa, Rangga, dan Billy untuk berkumpul sejenak berdiskusi. Setelah mempertimbangkan keselamatan serta kondisi fisik para peserta baru yang terlihat sangat kelelahan, mereka pun sepakat untuk menunda pelaksanaan ujian tersebut. Ujian yang sedianya dilaksanakan malam itu pun diputuskan untuk diadakan pada keesokan harinya pagi-pagi sekali, guna menjaga kondisi dan kekuatan seluruh peserta baru agar tetap bugar dan siap menghadapi segala tantangan yang menanti.