CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Su Wan Menghindar Saat Bertemu
Malam itu terasa begitu singkat, seakan waktu berlari lebih cepat dari biasanya. Yicheng tidak pulang ke rumah besar yang sepi itu — ia memilih tinggal di rumah kecil ini, tidur di sofa ruang tamu, agar bisa dekat dengan mereka, agar saat Xiaoqi terbangun di tengah malam, ia ada di sana. Saat fajar menyingsing, cahaya keemasan matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah tirai jendela, menyinari ruangan yang masih terasa hangat oleh kebersamaan semalam. Yicheng terbangun lebih awal dari biasanya, bukan karena jadwal kerja, tapi karena suara langkah kaki kecil yang berjalan pelan di ruang tamu. Ia membuka matanya, melihat Xiaoqi berdiri di dekat sofa, memegang sebuah buku gambar, menatapnya dengan senyum malu-malu namun bahagia.
"Ayah sudah bangun?" bisik Xiaoqi, suaranya lembut agar tidak membangunkan ibunya.
Yicheng tersenyum, duduk perlahan, merentangkan tangannya, dan Xiaoqi langsung berlari masuk ke dalam pelukannya. "Ayah sudah bangun, Nak. Dan Ayah bangun dengan perasaan paling bahagia di dunia. Karena Ayah tahu kalian ada di sini, di dekat Ayah."
Xiaoqi memeluk ayahnya erat, lalu mengangkat buku gambar di tangannya. "Ayah, saya sudah bangun sejak tadi. Saya menggambar Ayah dan Ibu dan saya, sedang berjalan bersama ke taman. Saya ingin kita pergi ke taman bersama hari ini, boleh tidak? Kalau Ayah tidak sibuk?"
Yicheng mencium puncak kepala putranya, merasa bersalah karena selama ini pekerjaan selalu menjadi alasan baginya untuk melewatkan hal-hal sederhana namun berharga seperti ini. "Ayah tidak sibuk. Hari ini Ayah milikmu sepenuhnya. Kita pergi ke taman, makan es krim, bermain sepeda — apa pun yang kamu mau. Ayah berjanji."
"Benarkah?!" Xiaoqi melompat bahagia, matanya berbinar terang. "Saya akan memberi tahu Ibu! Ibu pasti senang!"
Xiaoqi berlari menuju dapur tempat Su Wan sedang menyiapkan sarapan, meninggalkan Yicheng yang tersenyum sambil menatap punggung putranya — kebahagiaan anak itu begitu sederhana, begitu murni, hanya membutuhkan kehadiran ayahnya, bukan kekayaan atau kemewahan apa pun. Dan Yicheng berjanji pada dirinya sendiri — tidak peduli apa pun yang terjadi, ia tidak akan pernah lagi menjadi ayah yang jauh, yang tidak ada, yang hanya hadir di foto. Ia akan ada di sini, di setiap momen, di setiap tawa, di setiap langkah pertumbuhan putranya.
Su Wan berdiri di depan kompor, memanaskan susu dan menata roti di piring, tangannya bergerak sedikit lebih lambat dari biasanya, pikirannya terbagi antara sarapan di depannya dan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya. Semalam terasa seperti mimpi — mimpi indah yang ia takutkan akan pudar saat matahari terbit. Yicheng ada di sini, di rumahnya, memeluknya, mencintainya, berjanji tidak akan pergi lagi — tapi ketakutan lama masih bersembunyi di sudut hatinya, takut kenyataan akan datang merusak semuanya, takut dunia tempat Yicheng berada akan menariknya kembali, takut ayahnya akan datang dan memisahkan mereka dengan cara apa pun.
"Ibu! Ibu!" Xiaoqi berlari masuk ke dapur, menarik tangan ibunya semangat. "Ayah bilang hari ini kita pergi ke taman bersama! Semua bertiga! Ayah bilang dia tidak sibuk! Kita bisa makan es krim dan bermain di ayunan! Boleh ya, Bu?!"
Su Wan tersenyum memaksakan diri, mengelus rambut putranya, lalu menoleh ke arah pintu dapur — Yicheng berdiri di sana, bersandar di kusen pintu, memandangnya dengan tatapan lembut dan penuh harapan. Jantung Su Wan berdebar, ia segera memalingkan wajah, menatap piring di tangannya, mencoba menyembunyikan kegugupannya.
"Tentu saja boleh, Nak," jawab Su Wan lembut, suaranya sedikit bergetar. "Tapi Ibu harus beres-beres dulu. Dan Ayah… Ayah pasti punya pekerjaan, kan? Jangan sampai Ayah terlambat hanya karena kita."
Yicheng berjalan mendekat, berdiri di samping meja dapur, menatap sisi wajah Su Wan yang menghindari tatapannya. "Ayah sudah atur jadwalnya. Hari ini Ayah bebas. Ayah ingin menghabiskan waktu bersama kalian berdua. Seharian penuh. Tidak ada rapat, tidak ada telepon, tidak ada pekerjaan. Hanya kita bertiga."
Su Wan mengangguk pelan, tapi tidak menoleh, tidak menatap matanya. Ia meletakkan piring di meja, menyusun sendok dan garpu, bergerak sibuk seakan ada seribu hal yang harus diurus, seakan kesibukan itu bisa melindunginya dari tatapan mata Yicheng yang membuatnya merasa terbuka, merasa telanjang, merasa terlalu mudah dibaca. Ia takut — takut jika ia menatapnya terlalu lama, ia akan luluh sepenuhnya, takut ia akan lupa ketakutannya, takut ia akan terlalu percaya dan nantinya akan jatuh lebih dalam lagi.
"Sarapan sudah siap," ucap Su Wan, berusaha terdengar tenang. "Duduklah, Xiaoqi. Makan dulu sebelum dingin."
Mereka duduk bertiga di meja makan kecil itu — Xiaoqi di tengah, Yicheng di sebelah kanannya, Su Wan di sebelah kirinya. Selama sarapan, Xiaoqi bercerita terus-menerus — tentang taman yang ingin ia kunjungi, tentang ayunan besar yang ada di sana, tentang kolam ikan, tentang bunga-bunga yang ingin ia tunjukkan pada ayahnya. Yicheng mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali bertanya, tersenyum, menanggapi setiap cerita putranya dengan antusiasme yang tulus. Tapi Su Wan — ia hanya mendengarkan, tersenyum tipis, sesekali menjawab pertanyaan Xiaoqi, tapi menghindari tatapan Yicheng setiap kali pria itu menoleh ke arahnya. Setiap kali mata Yicheng berusaha bertemu dengan matanya, ia segera menunduk, menatap piringnya, meminum susunya, berpura-pura sibuk dengan sesuatu, apa pun agar tidak harus menatapnya.
Yicheng menyadari hal itu. Ia menyadari bahwa Su Wan menarik diri, membangun jarak di antara mereka, seakan ia takut terlalu dekat, takut terlibat terlalu dalam, takut membiarkan dirinya menikmati kebahagiaan ini sepenuhnya. Ia tidak memaksanya — ia tahu Su Wan butuh waktu, butuh keyakinan, butuh bukti bahwa ini nyata, bahwa ia tidak akan pergi, bahwa ia bisa dipercaya. Ia bersabar, memberikan ruang, menunggu hingga wanita itu merasa cukup aman untuk menatapnya tanpa rasa takut.
Setelah sarapan, Xiaoqi berlari masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian, meninggalkan Yicheng dan Su Wan sendirian di ruang tamu. Keheningan tercipta di antara mereka — bukan keheningan yang nyaman seperti semalam, melainkan keheningan yang penuh ketegangan, penuh pertanyaan yang tak terucap. Su Wan berdiri di dekat jendela, memandang ke luar, punggungnya menghadap Yicheng, tangannya meremas ujung bajunya dengan gugup. Yicheng berdiri beberapa langkah di belakangnya, menatap punggung wanita itu, melihat bagaimana bahunya sedikit tegang, bagaimana ia berdiri kaku, seakan siap melarikan diri kapan saja.
"Su Wan…" panggil Yicheng pelan, melangkah maju satu langkah, tidak berani lebih dekat. "Mengapa kau menghindariku? Semalam kita sudah bicara, kita sudah saling memaafkan. Tapi pagi ini… seakan kau membangun tembok lagi di antara kita."
Su Wan menarik napas panjang, memejamkan matanya sejenak, lalu berbalik perlahan — namun matanya tidak menatap Yicheng, melainkan menatap lantai, ke arah sepatunya sendiri. "Aku tidak menghindarimu, Yicheng. Aku hanya… aku belum terbiasa. Semalam terasa seperti mimpi. Dan sekarang… saat matahari terbit, kenyataan datang kembali. Aku takut. Aku takut terlalu terbiasa dengan kehadiranmu, lalu tiba-tiba kau pergi lagi. Aku takut membiarkan Xiaoqi terlalu dekat denganmu, lalu suatu hari kau harus pergi karena keluargamu melarangmu. Aku tidak ingin menyakiti hatinya lagi. Dan aku tidak ingin menyakiti hatiku sendiri."
Yicheng melangkah maju lagi, kini berdiri tepat di hadapannya, mengangkat dagunya perlahan agar ia menatapnya — tapi Su Wan memalingkan wajah ke samping, menatap ke arah jendela lagi, menghindari tatapan matanya.
"Lihatlah aku, Su Wan," minta Yicheng lembut namun tegas. "Lihat mataku dan katakan padaku — kau benar-benar percaya aku akan pergi? Kau benar-benar percaya aku akan datang ke sini, bertemu Xiaoqi, berjanji padanya, lalu pergi begitu saja seolah tidak terjadi apa-apa?"
Su Wan menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang. "Aku tidak tahu, Yicheng. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak tahu seberapa kuat kau melawan keluargamu. Ayahmu adalah orang yang tidak mudah menyerah. Dia akan melakukan apa saja untuk mempertahankan rencananya. Dan aku… aku tidak ingin menjadi alasan kau bertengkar dengan ayahmu. Aku tidak ingin Xiaoqi tumbuh di tengah konflik keluarga. Mungkin… mungkin sebaiknya kita melakukannya perlahan-lahan. Jangan terlalu cepat. Jangan terlalu dekat. Agar kalau nanti kau harus pergi, kita tidak terlalu sakit."
Kata-kata itu — "jangan terlalu dekat" — menusuk hati Yicheng lebih tajam daripada pisau. Ia melihat ketakutan di mata Su Wan, ketakutan yang begitu dalam, begitu nyata, ketakutan yang lahir dari pengalaman ditinggalkan, dari bertahan sendirian selama bertahun-tahun. Ia tidak menyalahkannya — ia justru menyesal, menyesal karena tidak datang lebih cepat, menyesal karena membiarkannya menghadapi semuanya sendirian, menyesal karena memberinya alasan untuk takut.
Yicheng mengangkat tangannya, menyentuh dagu Su Wan dengan lembut, memutar wajahnya perlahan agar menatapnya — dan kali ini, Su Wan tidak memalingkan wajah, matanya bertemu dengan mata Yicheng, penuh air mata, penuh keraguan, penuh rindu yang tersembunyi di balik ketakutan.
"Dengar aku, Su Wan," ucap Yicheng lembut namun tegas, matanya menatap lurus ke kedalaman mata wanita itu, tidak membiarkannya menghindar lagi. "Aku mengerti ketakutanmu. Aku mengerti mengapa kau ragu, mengapa kau takut, mengapa kau ingin menjaga jarak. Tapi tolong — jangan menilai masa depan berdasarkan ketakutan masa lalu. Lima tahun lalu aku lemah. Aku terlalu terikat pada aturan ayahku, terlalu takut melawan, terlalu buta melihat kebenaran. Tapi lima tahun telah berlalu, Su Wan. Banyak hal yang berubah. Aku berubah. Kehilanganmu selama lima tahun mengajarkanku satu hal — tidak ada hal yang lebih berharga daripada kalian. Tidak ada kekayaan, tidak ada status, tidak ada nama keluarga yang bisa menandingi senyum Xiaoqi atau kehadiranmu di sisiku. Jadi jangan minta aku menjaga jarak. Jangan minta aku melambat. Karena setiap detik yang terpisah dari kalian adalah waktu yang terbuang — waktu yang tidak akan pernah bisa aku kembalikan."
Su Wan terisak pelan, air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya. "Tapi ayahmu… dia tidak akan diam, Yicheng. Dia akan mencari cara untuk memisahkan kita. Dia orang yang sangat berkuasa. Dia bisa menyakitimu, menyakitiku, menyakiti Xiaoqi. Aku tidak ingin Xiaoqi terluka. Dia anak yang lembut, dia tidak pantas menjadi sasaran konflik orang dewasa."
"Xiaoqi tidak akan terluka," jawab Yicheng tegas, tanpa keraguan. "Karena aku akan melindunginya. Aku akan melindungimu. Dan aku akan melindungi keluarga kita — dari siapa pun, termasuk ayahku sendiri. Ayahku berkuasa, tapi aku bukan lagi anak kecil yang bisa diatur sesuka hati. Aku memegang kendali Grup Lin sekarang. Aku punya kekuatan untuk melindungi orang-orang yang aku cintai. Dan aku akan menggunakannya — untuk kalian, untuk Xiaoqi, untuk masa depan kita. Tapi aku butuh kepercayaanmu, Su Wan. Aku butuh kau berhenti takut dan mulai percaya padaku. Percaya bahwa aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian. Percaya bahwa aku tidak akan pergi. Percaya bahwa kita bisa menghadapi semuanya bersama-sama, bukan sendirian."
Su Wan menatapnya, melihat ketegasan di matanya, melihat ketulusan di wajahnya, melihat cinta yang tidak pernah pudar meskipun waktu berlalu begitu lama. Ia ingin percaya — ia sangat ingin percaya. Tapi luka masa lalu masih terasa, bayang-bayang ayah Yicheng masih menghantui pikirannya, ketakutan akan kehilangan kembali masih terlalu kuat.
"Aku ingin percaya, Yicheng… aku benar-benar ingin," bisik Su Wan, suaranya penuh keputusasaan bercampur harapan. "Tapi aku butuh waktu. Beri aku waktu. Jangan mendesakku. Aku butuh memastikan bahwa ini nyata, bahwa kau benar-benar siap menghadapi semuanya, bahwa Xiaoqi tidak akan terluka karena keputusan kita."
"Aku akan memberimu waktu, Su Wan," jawab Yicheng lembut, mengusap air mata di pipinya dengan ibu jarinya, penuh kelembutan dan pengertian. "Aku tidak akan mendesakmu. Tapi aku juga tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini, di dekat kalian, membuktikan padamu setiap hari bahwa aku serius, bahwa aku bisa dipercaya, bahwa kehadiranku bukan ancaman bagi kebahagiaan kalian, melainkan pelengkapnya. Kau butuh waktu? Ambil waktu sebanyak yang kau butuhkan. Tapi tolong — jangan menjauh. Jangan menutup pintu hatimu sepenuhnya. Biarkan aku masuk perlahan-lahan, sesukamu."
Su Wan mengangguk pelan, menutup matanya, merasakan sentuhan tangan Yicheng di pipinya — hangat, aman, akrab. "Terima kasih, Yicheng… terima kasih karena mengerti. Aku… aku akan mencoba. Aku akan mencoba untuk percaya."
Mereka berangkat ke taman bersama — Yicheng mengemudikan mobilnya, Su Wan duduk di kursi penumpang depan, dan Xiaoqi duduk di kursi khusus anak di belakang, bersemangat sepanjang jalan, menunjuk ke arah jendela, bercerita tentang apa pun yang ia lihat di jalan. Yicheng sesekali menatap Su Wan dari samping, berusaha memulai percakapan, tapi Su Wan selalu menjawab singkat, mengalihkan pembicaraan ke Xiaoqi atau ke pemandangan di luar jendela, menghindari topik tentang masa depan, tentang keluarganya, tentang hubungan mereka. Ia masih menjaga jarak — tidak lagi menjauh sepenuhnya, tapi juga tidak terlalu dekat, seakan berjalan di atas tali, takut salah langkah, takut jatuh terlalu dalam.
Sesampainya di taman, Xiaoqi langsung berlari menuju area bermain, menarik tangan ayahnya untuk ikut bersamanya. Yicheng menoleh ke arah Su Wan, mengulurkan tangannya — "Ayo, Su Wan. Mari kita bermain bersama. Seperti keluarga biasa." Su Wan menatap tangan itu, ragu sejenak, lalu meletakkan tangannya di atas telapak tangan Yicheng — ragu-ragu, lembut, tapi akhirnya menerima. Yicheng menggenggamnya erat, merasakan kehangatan tangan wanita itu di genggamannya, dan berjalan bersama menuju tempat Xiaoqi sudah menunggu di ayunan.
Pagi itu di taman terasa begitu damai — anak-anak berlari dan tertawa, orang tua berjalan santai, bunga-bunga bermekaran berwarna-warni, angin sepoi-sepoi berhembus lembut membawa aroma tanah basah dan bunga melati. Xiaoqi bermain ayunan bersama ayahnya — Yicheng mendorong ayunan pelan, tertawa saat Xiaoqi tertawa, membiarkan anak itu merasakan kebebasan dan kebahagiaan yang selama ini ia rasakan hanya dalam mimpi. Su Wan duduk di bangku kayu di dekat sana, memandangi mereka berdua — ayah dan anak, tertawa bersama, begitu serasi, begitu bahagia — dan hatinya terasa hangat namun juga penuh kekhawatiran. Betapa indahnya pemandangan ini, betapa sempurnanya mereka berdua bersama — tapi berapa lama kebahagiaan ini akan bertahan? Berapa lama sebelum dunia luar datang merusaknya?
Yicheng menoleh, melihat Su Wan duduk sendirian di bangku kayu, menatap mereka dengan senyum yang sedih dan penuh kerinduan. Ia melepaskan ayunan Xiaoqi, berjalan mendekat ke arah wanita itu, duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat agar bisa berbicara tanpa didengar orang lain.
"Kau terlihat sedih," ucap Yicheng lembut, matanya menatap wajah Su Wan yang memandang ke arah Xiaoqi yang sedang bermain sendiri di perosotan. "Apakah kau menyesal membiarkan kami begitu dekat?"
Su Wan menggeleng pelan, tidak menoleh ke arahnya. "Tidak. Aku bahagia melihat Xiaoqi bahagia. Aku hanya… aku takut ini akan berakhir. Aku takut suatu hari nanti dia akan melihatmu pergi lagi, dan dia akan bertanya — 'Mengapa Ayah pergi lagi? Apakah aku tidak cukup baik? Apakah Ibu tidak cukup baik?' Dan aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu, Yicheng. Aku tidak tahu harus berkata apa padanya."
Yicheng menatap profil wajah Su Wan, melihat kesedihan yang tersembunyi di matanya, dan ia merasakan sakit di dadanya — sakit karena wanita ini memikul beban ini sendirian terlalu lama, sakit karena ia tidak bisa langsung menghapus semua ketakutannya dengan satu kata atau satu pelukan. Ia mengulurkan tangannya, meletakkan di atas tangan Su Wan yang bertumpu di atas paha — sentuhan lembut, menenangkan, tidak memaksa.
"Kau tidak perlu takut menjawab pertanyaan itu, Su Wan," jawab Yicheng pelan namun tegas. "Karena aku tidak akan pergi. Dan kalau pun aku harus pergi untuk sementara waktu — untuk menghadapi ayahku, untuk menyelesaikan masalah di perusahaan — aku tidak akan pergi tanpa pamit, tanpa penjelasan, tanpa janji untuk kembali. Xiaoqi akan tahu bahwa ayahnya pergi bukan karena tidak mencintainya, tapi karena sedang berjuang untuknya. Dan kau… kau akan tahu bahwa aku pergi bukan karena menyerah, tapi karena ingin memastikan bahwa kita bisa bersama selamanya, tanpa takut dipisahkan oleh siapa pun."
Su Wan menatap tangan Yicheng di atas tangannya — tangan yang kuat, hangat, penuh kekuatan dan perlindungan. Ia ingin membalas genggaman itu, ingin memeluknya, ingin bersandar padanya dan melupakan semua ketakutannya — tapi tembok di hatinya masih berdiri kokoh, dibangun dari lima tahun kesepian dan pengorbanan, diperkuat oleh ketakutan akan kehilangan. Ia menarik tangannya perlahan dari bawah tangan Yicheng, melipatnya di pangkuan, menatap ke arah Xiaoqi yang sedang melambai ke arah mereka dari atas perosotan.
"Aku tahu kau bermaksud baik, Yicheng," ucap Su Wan lembut, suaranya lemah namun tegas. "Tapi tolong… jangan terlalu cepat. Jangan berjanji hal-hal yang mungkin tidak bisa kau tepati. Biarkan waktu yang menjawab. Biarkan kita melihat bagaimana semuanya berjalan. Kalau kau benar-benar tetap di sini, kalau keluargamu benar-benar menerima kami… mungkin aku akan berhenti takut. Tapi sampai saat itu… tolong beri aku ruang. Jangan mendesakku untuk menjadi seperti dulu. Banyak hal yang berubah, Yicheng. Kita berubah."
Yicheng menghela napas panjang, menatap punggung tangan Su Wan yang ditariknya menjauh — bukan karena kebencian, tapi karena ketakutan. Ia tidak marah, tidak kecewa, hanya sedih — sedih karena menyadari bahwa luka yang ia tinggalkan begitu dalam hingga butuh waktu lama untuk sembuh, bahkan setelah ia kembali.
"Aku mengerti, Su Wan," jawab Yicheng lembut, menurunkan tangannya kembali ke pangkuan, menghormati jarak yang dibuat wanita itu. "Aku akan melambat. Aku akan menunggu. Aku tidak akan memaksamu untuk melupakan lima tahun sendirian hanya dalam satu hari. Tapi ingatlah satu hal — waktu tidak akan mengubah perasaanku. Dan aku tidak akan menyerah pada kalian. Tidak peduli berapa lama waktu yang kau butuhkan, aku akan tetap di sini, menunggu di luar tembok hatimu, sampai kau siap membukanya dan membiarkanku masuk kembali."
Su Wan terdiam, tidak menjawab, hanya menatap putranya yang bermain di taman, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang di matanya. Kata-kata Yicheng begitu indah, begitu menenangkan — tapi ketakutannya terlalu kuat, pengalamannya terlalu pahit. Ia ingin percaya, tapi pengalaman mengajarkannya untuk berhati-hati. Ia ingin membuka hati, tapi takut terluka lagi. Jadi ia memilih menjaga jarak — aman, terlindungi, tidak terlalu dekat sehingga tidak terlalu sakit jika ditinggalkan.
Siang itu berlalu dengan campuran kebahagiaan dan kehati-hatian. Mereka makan siang bersama di restoran kecil di dekat taman — Xiaoqi duduk di antara mereka, bercerita tanpa henti, dan Yicheng mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali menatap Su Wan dengan tatapan lembut yang selalu dihindari oleh wanita itu. Setelah makan, mereka berjalan-jalan di taman bunga, Xiaoqi berlari ke depan, memetik bunga dan memberikannya kepada ibunya, lalu kepada ayahnya — bunga sederhana yang menjadi simbol kebersamaan mereka yang masih rapuh namun penuh harapan.
Sore pun tiba, matahari mulai turun ke arah barat, menyinari langit dengan warna jingga dan ungu yang lembut. Mereka pulang ke rumah — Xiaoqi tertidur di kursi belakang mobil, lelah setelah bermain seharian, senyum masih tersungging di bibirnya. Su Wan duduk di kursi depan, menatap ke luar jendela, memandang pemandangan kota yang berlalu, pikirannya melayang jauh, penuh pertanyaan dan ketakutan yang tak kunjung habis.
Sesampainya di rumah, Yicheng menggendong Xiaoqi yang masih tertidur masuk ke kamar, meletakkannya perlahan di atas tempat tidur, menyelimutinya dengan hati-hati, lalu menatap wajah anak itu sebentar — penuh kasih sayang, penuh tekad, penuh harapan untuk masa depan. Ia berjalan keluar dari kamar, menutup pintu perlahan, dan menemukan Su Wan berdiri di ruang tamu, menunggu di dekat pintu depan — seakan sudah tahu bahwa ia harus pergi, seakan sudah siap mengucapkan selamat malam dengan jarak yang sama seperti pagi tadi.
Yicheng berhenti di hadapannya, beberapa langkah terpisah, tidak mendekat, tidak menjauh — menghormati ruang yang ia minta.
"Aku harus pergi," ucap Yicheng pelan, suaranya tenang namun penuh makna. "Besok aku harus menghadiri rapat penting, lalu… aku akan menemui ayahku. Aku akan memberitahunya tentang Xiaoqi. Aku akan menjelaskan semuanya padanya. Dan apa pun keputusannya, apa pun reaksinya — aku akan tetap pada pendirianku. Kalian adalah keluargaku. Dan tidak ada yang bisa mengubah itu."
Su Wan menatapnya, matanya penuh kekhawatiran. "Hati-hati, Yicheng. Ayahmu… dia orang yang keras. Jangan terlalu menantangnya. Jangan sampai dia menyakitimu."
Yicheng tersenyum tipis, tersenyum karena wanita ini masih memikirkannya, masih peduli padanya, meskipun ia berusaha menyembunyikannya di balik tembok ketakutannya. "Jangan khawatir tentangku, Su Wan. Khawatirlah tentang dirimu dan Xiaoqi. Aku akan memastikan tidak ada yang bisa menyakiti kalian. Aku berjanji."
Ia melangkah mundur menuju pintu, lalu berhenti sejenak, menatap Su Wan untuk terakhir kalinya sebelum pergi. "Besok aku akan datang lagi. Bawa makan siang untuk kalian berdua. Dan aku akan bermain dengan Xiaoqi lagi. Kalau kau tidak keberatan… aku ingin datang setiap hari. Sampai kau merasa cukup nyaman dengan kehadiranku. Sampai kau berhenti menghindariku."
Su Wan menggigit bibirnya, menahan tangis yang hampir keluar. Ia ingin mengatakan — 'Jangan pergi, tinggalah di sini, jangan tinggalkan kami' — tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, tertahan oleh harga diri dan ketakutan. Ia hanya mengangguk pelan, matanya menatap lantai, tidak berani menatap mata Yicheng.
"Baik… kalau kau mau datang, silakan," jawab Su Wan pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Tapi… tolong beri aku kabar dulu sebelum datang. Agar aku bisa… menyiapkan diri."
Yicheng mengangguk, tersenyum lembut — senyum yang penuh pengertian, penuh kesabaran, penuh cinta yang tidak akan pudar. "Baik. Aku akan memberi kabar. Selamat malam, Su Wan. Selamat malam, Xiaoqi."
Ia melangkah keluar, menutup pintu perlahan di belakangnya, meninggalkan Su Wan sendirian di ruang tamu yang tiba-tiba terasa sepi dan dingin lagi. Su Wan berdiri di sana cukup lama, menatap pintu yang tertutup, tangannya meremas kain bajunya erat, air mata akhirnya jatuh bebas di pipinya — bukan karena sedih, tapi karena bingung, karena terbelah antara cinta dan ketakutan, antara harapan dan kenyataan. Ia ingin Yicheng tetap di sini, ia ingin mereka menjadi keluarga yang utuh — tapi bayang-bayang ayah Yicheng, bayang-bayang masa lalu, bayang-bayang kemungkinan kehilangan kembali — semuanya berdiri di antara mereka, seperti tembok tebal yang belum bisa ia robohkan.
Di luar rumah, Yicheng berdiri di depan mobilnya, menatap jendela rumah kecil itu, melihat bayangan Su Wan yang berdiri di balik tirai, tahu bahwa wanita itu sedang menatapnya juga, tidak berani keluar, tidak berani membiarkan dirinya terlihat terlalu ingin ia tetap tinggal. Ia tidak masuk ke mobil, berdiri di sana cukup lama, membiarkan angin malam menerpa wajahnya, membiarkan pikirannya menyusun rencana — rencana untuk menghadapi ayahnya, rencana untuk melindungi keluarganya, rencana untuk meruntuhkan tembok di hati Su Wan perlahan-lahan, dengan kesabaran, dengan ketulusan, dengan bukti setiap hari bahwa ia tidak akan pergi.
Ia tahu perjalanan ini tidak akan mudah. Ia tahu ayahnya tidak akan menerima Su Wan dan Xiaoqi dengan tangan terbuka. Ia tahu Su Wan akan terus menghindar dan menjaga jarak untuk waktu yang lama. Tapi ia juga tahu satu hal — ia tidak akan menyerah. Bukan lagi. Karena sekarang ia punya alasan untuk berjuang — alasan yang lebih kuat dari kekayaan, lebih kuat dari kekuasaan, lebih kuat dari tekanan siapa pun. Alasan itu tidur di dalam rumah kecil itu — anak kecil yang bernama Xiaoqi, dan wanita yang ia cintai lebih dari apa pun di dunia ini.
Yicheng masuk ke mobilnya, menyalakan mesin, dan melaju perlahan meninggalkan rumah itu — tidak pergi menjauh, tapi pergi bersiap, pergi berjuang, pergi membangun masa depan di mana mereka bisa bersama tanpa takut, tanpa ragu, tanpa harus menyembunyikan cinta mereka. Dan di dalam mobil, di bawah cahaya lampu jalan yang melintas, ia berjanji pada dirinya sendiri — besok, dan lusa, dan setiap hari setelahnya, ia akan datang kembali. Ia akan datang setiap hari, sampai Su Wan berhenti menghindarinya, sampai tembok di hatinya runtuh, sampai mereka bisa berdiri berdampingan tanpa takut dipisahkan oleh apa pun.