Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Perjalanan pulang dari rumah sakit berlangsung cukup tenang.
Di dalam taksi, Sahira duduk di samping Sahir yang sejak tadi sibuk memakan sisa es krimnya dengan wajah puas. Sesekali anak kecil itu bersenandung kecil sendiri sambil menggoyangkan kakinya.
Sementara Sahira memilih diam. Tatapannya lurus ke luar jendela, namun pikirannya masih tertinggal di rumah sakit. Pada tatapan terluka Saga yang sempat ia lihat sebelum pergi tadi.
“Ibu…” Suara Sahir membuat Sahira tersadar dari lamunannya.
“Iya, Sayang?”
Sahir mendongak menatapnya dengan mata bulat polosnya.
“Doktel Saga itu tampan.”
Sahira langsung terdiam beberapa detik, lalu tersenyum kecil tipis.
“Iya?”
“Iya,” jawab Sahir mantap. “Dan baik juga.” Anak kecil itu tampak benar-benar menyukai Saga. Hal itu justru membuat hati Sahira semakin tidak tenang.
“Doktel Saga beliin Sahel es klim,” lanjut Sahir bangga sambil mengangkat cup kecilnya. “Terus temenin Sahel jalan-jalan.”
Sahira mengusap pelan rambut anaknya.
“Iya … Dokter Saga memang baik.”
Namun tanpa sadar, nada suaranya terdengar jauh lebih pelan. Sahir lalu terlihat berpikir beberapa detik sebelum kembali bertanya,
“Ibu…”
“Hm?”
“Nama ayah Sahel siapa?”
Pertanyaan itu membuat napas Sahira langsung tertahan. Ia menoleh cepat ke arah Sahir.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
“Tadi Doktel Saga tanya ayah Sahel,” jawab Sahir polos. “Tapi Sahel nggak tahu nama ayah.”
Jantung Sahira mencelos. Anak kecil itu melanjutkan tanpa sadar wajah ibunya mulai berubah pucat.
“Tapi Sahel bilang Sahel punya Papa Levano.”
Sahira langsung menggenggam tasnya lebih erat, dadanya terasa sesak. Ia tahu cepat atau lambat pertanyaan seperti ini akan muncul. Namun, mendengarnya langsung dari bibir Sahir tetap terasa begitu berat.
Sahir menatap ibunya polos.
“Emang nama ayah Sahel siapa, Bu?”
Untuk sesaat, Sahira tidak bisa menjawab, bibirnya terasa kelu. Lidahnya kelu untuk sekadar menyebut satu nama yang selama lima tahun terus ia simpan sendiri.
Beruntung Taksi perlahan berhenti tepat di depan toko bunga.
“Sudah sampai, Bu,” ujar sopir taksi.
Sahira langsung mengalihkan perhatian.
“Kita turun dulu, ya,” katanya lembut sambil memaksakan senyum.
Sahir yang mudah terdistraksi langsung mengangguk semangat.
“Ote!”
Sahira segera membayar taksi, lalu menggandeng tangan kecil anaknya masuk ke dalam toko.
Suasana sore itu lumayan ramai. Beberapa pelanggan sedang memilih bunga, sementara Lina dan Rani tampak sibuk melayani pesanan. Melihat Sahira datang, keduanya langsung tersenyum lega.
“Mbak udah balik,” ujar Lina.
Sahira mengangguk kecil.
“Iya.”
Sahir langsung berlari kecil menghampiri meja bunga dengan wajah ceria, membuat suasana toko terasa lebih hidup.
Namun di balik senyum tipis Sahira, pikirannya masih kacau. Tentang pertanyaan anaknya tadi. Dan tentang satu nama yang bahkan sampai sekarang masih sulit ia lupakan.
Sementara itu, di negara lain, jauh dari Indonesia.
Revano duduk diam di ruang kerjanya yang luas dengan ponsel masih berada di tangannya. Tatapannya kosong menatap layar yang sudah gelap sejak panggilan tadi terputus.
Keningnya sedikit berkerut.
“Aneh…” gumamnya pelan.
Sudah bertahun-tahun mengenal Sahira, ia tahu betul wanita itu bukan tipe orang yang mudah memanggil seseorang dengan sebutan sayang di depan orang lain. Terlebih lagi dengan nada seperti tadi. Seolah sengaja ditunjukkan untuk seseorang. Revano menyandarkan tubuhnya pelan ke kursi.
“Apa ada seseorang di sana?” pikirnya. "Atau lebih tepatnya, apa Saga sudah kembali?" Napas Revano terasa berat. Sudah cukup lama ia tidak pulang ke Indonesia. Pekerjaannya di Singapura membuat waktunya habis di sana. Namun meski begitu, ia tetap memperhatikan Sahira dan Sahir dari jauh. Anak kecil itu bahkan sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Tok! tok!
Ketukan pintu membuat Revano tersadar dari lamunannya.
“Masuk.”
Pintu terbuka perlahan.
Seorang wanita muda masuk dengan senyum manis di wajahnya. Cantik, elegan, dan berpenampilan rapi, dia adalah Ririn tunangan Revano. Sekaligus putri pemilik perusahaan tempat Revano bekerja saat ini.
“Kamu belum pulang juga?” tanya Ririn sambil mendekat.
Revano langsung menyimpan ponselnya dan mengangkat wajah.
“Masih ada sedikit kerjaan.”
Namun, Ririn memperhatikan sesuatu dari ekspresi pria itu.
“Kamu lagi kepikiran sesuatu?” tanyanya pelan.
Revano terdiam beberapa detik. Entah kenapa, firasatnya sejak tadi terasa tidak tenang.
Ririn berjalan mendekat sambil membawa beberapa map kerja di tangannya. Ia meletakkannya di atas meja Revano sebelum duduk di kursi depan pria itu.
“Ayah tadi nelepon aku,” ujarnya pelan.
Revano mengangkat pandangan.
“Hmm?”
“Beliau minta kamu pulang ke Indonesia minggu ini.”
Kening Revano langsung sedikit berkerut.
“Indonesia?”
Ririn mengangguk.
“Ada pertemuan penting sama Pak Mario,” jelasnya. “Katanya berkaitan sama proyek kerja sama baru dan investasi,”
Nama itu membuat tubuh Revano sedikit menegang, Pak Mario pemilik Rumah Sakit Kasih Ibu, sekaligus paman Saga. Jantung Revano langsung berdetak tidak nyaman.
Ia perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi, sementara pikirannya mulai dipenuhi banyak hal sekaligus. Sudah bertahun-tahun ia tidak bertemu keluarga Mahendra secara langsung. Dan meski hubungan bisnis keluarganya dengan mereka masih baik, tetap saja masa lalu itu terlalu rumit untuk diabaikan begitu saja.
Ririn yang menyadari perubahan ekspresinya sedikit memiringkan kepala.
“Kamu kenal Pak Mario?” tanyanya penasaran.
Revano tersenyum tipis samar.
“Lumayan.”
Namun, jawabannya terdengar terlalu singkat. Karena kenyataannya, bukan hanya mengenal. Dulu, ia bahkan sering datang ke rumah keluarga Mahendra bersama Saga. Mereka bertiga, Saga, Revano, dan Sahira, pernah sangat dekat. Sampai malam itu menghancurkan semuanya.
Revano menundukkan pandangannya pelan. Pak Mario juga tahu tentang kejadian lima tahun lalu. Tentang bagaimana Saga memergoki dirinya bersama Sahira di kontrakan wanita itu. Dan tentang bagaimana sejak malam itu, persahabatan mereka hancur begitu saja.
Napas Revano terasa berat.
“Ada apa?” tanya Ririn lembut. “Kamu kelihatan tegang.”
Revano tersadar dari lamunannya.
“Nggak apa-apa,” jawabnya pelan. Namun, jelas sekali ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. Ririn menatap pria di depannya beberapa detik. Selama ini, Revano memang selalu terlihat tenang dan dewasa sangat sulit ditebak.
Namun, entah kenapa, setiap kali pria itu berhubungan dengan Indonesia, ada sesuatu dalam dirinya yang berubah. Seolah ada masa lalu yang belum selesai di sana.
“Kalau nggak salah,” lanjut Ririn sambil membuka salah satu map, “pertemuannya dua hari lagi.”
Revano langsung mengangkat kepala.
“Secepat itu?”
“Iya.”
Ririn tersenyum kecil.
“Ayah juga bilang sekalian kamu mulai urus cabang proyek kesehatan di Indonesia.”
Mendengar itu, Revano kembali terdiam. Ririn berdiri sambil merapikan map di meja.
“Kalau begitu aku tinggal dulu,” ujarnya lembut. “Jangan terlalu malam kerjanya.”
Revano mengangguk kecil.
“Iya.”
Namun, setelah wanita itu keluar dari ruangan, Revano kembali terdiam sendiri. Tatapannya perlahan jatuh pada layar ponselnya. Pada nama Sahira yang masih berada di riwayat panggilan terakhir. Lalu tanpa sadar, ia bergumam pelan,
“Jangan bilang … Saga udah ketemu kalian…”
Ceklek!
Pintu terbuka kembali, Ririn hanya mengintip sedikit.
"Pesan robot yang baru dari toko mainan ya sebelum pulang ke Indonesia. Aku perlu membawanya untuk Sahir," ujar Ririn, Revano mengangguk dan tersenyum. Seperti biasa Ririn selalu punya hadiah untuk Sahir.
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.