Aynara terpaksa menikah dengan Aksa karena perjanjian kedua kakek mereka. Pernikahan itu diikat satu syarat: jika mereka bercerai sebelum satu tahun, Aynara harus membayar denda 10 miliar, sementara Aksa akan kehilangan haknya sebagai pewaris keluarga Wicaksono.
Namun, usai janji suci diucapkan, Wicaksono mengalami kecelakaan dan terbaring koma.
Merasa tak ada lagi yang bisa mengaturnya, Aksa berkata kepada Aynara, "Pernikahan ini terjadi karena Kakek. Aku sama sekali gak suka, apalagi mencintaimu. Dunia kita beda. Mulai sekarang, kita jalani hidup masing-masing sampai tiba waktunya bercerai."
Aynara terpaksa menelan kenyataan pahit itu. Namun, takdir mengubah segalanya ketika kecelakaan merenggut nyawa Aksa.
Regan, pembelot yang sedang diburu organisasi kriminal, memanfaatkan kematian Aksa untuk menyelamatkan dirinya.
Aynara tidak pernah tahu bahwa suami yang ia benci telah mati. Dan pria yang kini hidup sebagai Aksa adalah orang asing yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Satu Panggilan yang Mengubah Segalanya.
Setelah semua prosesi selesai, Wicaksono mengambil sebuah map berwarna hitam dari atas meja. Ia mengulurkannya kepada Aksa. "Ini."
Aksa menatap map tersebut dengan dahi berkerut. "Apa ini?"
"Keperluan bulan madu," jawab Wicaksono datar.
Aksa melirik Aynara sekilas, lalu matanya kembali pada map di tangan Wicaksono. Ia akhirnya menerimanya dengan enggan. "Harus bulan madu juga?"
Wicaksono hanya menatapnya datar. "Namanya juga pengantin baru."
Aksa mendengus pelan.
Di sisi lain, Cepi dan Caca langsung memerhatikan map tersebut dengan rasa penasaran.
Caca bahkan sedikit mendekat. "Bulan madu ke mana, Kek?"
Wicaksono menjawab tanpa ekspresi. "Maldives. Selama tujuh hari."
Mata Caca langsung membesar. "Maldives?"
Cepi ikut terdiam. Tujuh hari di tempat seperti itu tentu bukan perjalanan murah.
Caca melirik Aynara. Kakaknya benar-benar beruntung. Dapat suami dari keluarga kaya, perhiasan berlian, gaun mahal, dan sekarang bulan madu ke Maldives.
Cepi juga merasakan hal yang sama. Namun rasa iri di dadanya jauh lebih kuat. "Kenapa harus Aynara?"
Wicaksono kemudian menatap Aksa. "Sebelum berangkat, antar istrimu ke dokter."
Aksa menghela napas panjang. "Baik."
Aksa tahu, tidak ada gunanya membantah.
Namun Wicaksono belum selesai. "Dan satu lagi."
Aksa kembali menatap kakeknya.
"Kalau dalam waktu dekat Aynara hamil, posisi kamu di perusahaan akan Kakek naikkan."
Aksa mengernyitkan dahi. "Dari manajer menjadi..."
"CEO," jawab Wicaksono tanpa ragu.
Ruangan langsung hening.
Asti yang sejak tadi cemas justru tersenyum. "Itu bagus, Sa."
Baginya, inilah kesempatan putranya membuktikan bahwa ia mampu bertanggung jawab.
Sedangkan Jayadi malah terdiam. Ia tidak terlalu memahami seberapa besar perusahaan keluarga Wicaksono. Selama ini ia hanya tahu keluarga tersebut kaya dan memiliki bisnis besar. Namun, mendengar kata CEO membuatnya semakin sadar bahwa kehidupan Aynara akan benar-benar berubah setelah hari ini.
Caca ternganga. "Jadi kakak bakal jadi istri CEO?"
Sementara Cepi menelan ludah. Pikirannya kembali pada gaun, berlian, bulan madu, dan sekarang jabatan CEO. Semakin banyak yang ia dengar, semakin besar rasa tidak relanya melihat Aynara mendapatkan semua itu.
Berbeda dengan mereka, Aynara justru merasa dadanya semakin sesak.
Hamil?
Ia bahkan belum bisa membayangkan bagaimana harus menjalani satu malam bersama pria yang baru saja menjadi suaminya. Ia menoleh sekilas kepada Aksa. Wajah pria itu tidak banyak berubah. Dingin, angkuh, sombong. Persis seperti yang ia ingat sejak kecil.
Dulu, mereka hanya beberapa kali bertemu ketika masih kecil. Namun sifat Aksa sudah cukup meninggalkan kesan buruk dalam ingatannya. Dan sekarang... Pria itu akan menjadi orang yang tidur di sampingnya.
Aynara menelan ludah, ia segera mengalihkan pandangan. Bagaimana mungkin ia bisa tidur seranjang dengan pria yang bahkan tidak ia cintai?
Sementara di sisi lain, Aksa sama sekali tidak memikirkan hal yang sama. Baginya, bulan madu tujuh hari hanyalah satu lagi kewajiban yang harus dijalani.
Ia bahkan belum tahu bahwa di balik wajah Aynara yang saat ini memerah karena alergi, ada kecantikan yang sebenarnya belum pernah ia lihat.
Setelah seluruh rangkaian acara selesai, keluarga Jayadi akhirnya diantar pulang oleh orang suruhan Wicaksono.
Asti memilih pergi lebih dahulu karena masih memiliki pertemuan dengan beberapa sosialita yang sudah dijadwalkannya sejak jauh-jauh hari.
Sementara itu, Aksa masuk ke dalam mobil. Aynara duduk di kursi penumpang tanpa mengatakan apa-apa.
Sebelum berangkat bulan madu, Aksa membawa istrinya ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksakan alerginya. Bukan karena ia peduli, tapi karena perintah kakeknya yang tak bisa dibantah.
Mobil perlahan meninggalkan tempat acara. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan di antara sepasang pengantin baru itu. Yang terdengar hanya suara mesin dan pendingin udara yang memenuhi kabin.
Aynara duduk sambil menahan rasa gatal yang semakin menyiksa. Beberapa kali tangannya bergerak hendak menggaruk wajah dan lengannya, tetapi ia tahan. Ia tidak ingin memperburuk kondisinya.
Di sebelahnya, Aksa fokus mengemudi, sesekali ia melirik Aynara. Wajah perempuan itu masih memerah dan sembap. Entah kenapa, setiap kali melihatnya, rasa kesal Aksa kembali muncul.
"Sial banget," umpat Aksa dalam hati.
Hari ini menjadi hari terakhir kebebasannya. Semua gara-gara perjodohan yang dibuat kakeknya. Dan sekarang ia bahkan harus menghabiskan bulan madu bersama perempuan yang sama sekali tidak ia kenal. Aksa mengembuskan napas kasar.
Tak lama kemudian, mobil memasuki area rumah sakit. Setelah menemukan tempat parkir, Aksa mematikan mesin.
Aynara perlahan menoleh, tetapi Aksa tidak melihatnya. Dengan nada dingin pria itu berkata, "Kamu berobat sendiri. Aku tunggu di sini."
Aynara sebenarnya ingin bertanya mengapa Aksa tidak ikut menemaninya. Namun, rasa gatal yang semakin menjadi membuatnya tidak memiliki tenaga untuk berdebat. Ia hanya mengangguk.
"Iya."
Aynara membuka pintu mobil, sebelum turun, ia sempat menatap Aksa sekilas. Pria itu tetap menghadap ke depan, tidak ada ucapan hati-hati. Tidak ada pertanyaan tentang bagaimana keadaannya. Aynara akhirnya turun dan menutup pintu. Ia berjalan masuk ke rumah sakit seorang diri.
Aksa memerhatikan bayangan Aynara melalui kaca spion sampai perempuan itu menghilang. Ia kemudian bersandar pada jok.
"Setahun," gumamnya pelan. "Hanya satu tahun. Setelah itu, aku akan bebas."
Beberapa menit kemudian, Aynara akhirnya kembali. Langkahnya terlihat sedikit lebih ringan setelah mendapatkan obat. Di tangannya terdapat kantong plastik berisi beberapa obat dan hasil pemeriksaan. Ia membuka pintu mobil lalu duduk di kursi penumpang.
"Maaf lama."
Aksa tidak menjawab. Baru saja Aynara memasang sabuk pengaman, ponsel Aksa yang terletak di konsol tengah berdering.
Aksa melirik ponselnya, nama Gunadi muncul di layar. Gunadi adalah orang kepercayaan Wicaksono.
Kening Aksa langsung berkerut. "Ada apa lagi?" gumamnya kesal.
Ia mengambil ponsel tersebut lalu menerima panggilan. Namun, sebelum sempat mengatakan apa pun, suara Gunadi terdengar dari seberang.
"Tuan muda!"
Nada suara pria itu terdengar tergesa-gesa. Aksa langsung mengernyit. "Kenapa?"
"Tuan Wicaksono mengalami kecelakaan," jawab Gunadi cepat.
Aksa seketika menegakkan tubuh. "Apa?"
"Beliau sedang dalam perjalanan menuju Aksara Group ketika mobilnya mengalami kecelakaan. Sekarang beliau sedang dibawa ke RS Aksara Medika."
Untuk beberapa detik Aksa tidak mampu berkata-kata. Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kejengkelan berubah tegang. "Kecelakaan?"
"Iya, Tuan muda."
"Separah apa?"
Gunadi terdiam sesaat. "Kondisinya cukup serius. Kami belum mendapatkan informasi lengkap dari dokter."
Jantung Aksa berdegup lebih cepat, tangannya mencengkeram ponsel. Beberapa saat lalu ia masih mengeluhkan pernikahan yang dipaksakan kakeknya. Sekarang... orang yang memaksanya menikah justru sedang berada di ambang bahaya.
"Aku ke sana sekarang," kata Aksa tegas.
"Baik, Tuan."
Panggilan berakhir. Aksa langsung menyalakan mesin mobil.
Aynara yang tadi mendengar pertanyaan Aksa dan melihat perubahan ekspresi pria itu, dari kesal menjadi khawatir, akhirnya tidak mampu menahan rasa penasarannya.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
"Kakek kecelakaan," jawab Aksa tanpa menoleh.
Wajah Aynara ikut berubah cemas. "Parah?"
"Katanya cukup serius." Aksa memasukkan gigi mobil dan segera meninggalkan area parkir. Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat dari sebelumnya.
Sekarang ia tidak lagi memikirkan tentang pernikahan, tentang bulan madu, apalagi memikirkan Aynara. Yang ada dalam pikirannya hanya satu. Kakek.
Bagaimanapun kerasnya Wicaksono kepadanya, pria tua itu tetap satu-satunya orang yang selama ini berdiri paling kuat di belakangnya.
Dan sekarang... Aksa tidak tahu apakah ia masih akan sempat mendengar suara kakeknya lagi.
-
...🔸🔸🔸...
..."Kita boleh membenci cara seseorang mencintai kita, tetapi bukan berarti kita siap kehilangan orang yang selama ini diam-diam selalu menjaga kita."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Asti tidak menjawab pertanyaan Regan tentang Aksara Group.
Gunadi yang melihat Tuan Mudanya ada di taman dan terlihat sedih, merasa khawatir.
Gunadi berdiri di samping kursi tempat duduk Regan.
Tuan Mudanya bertanya pada Gunadi kenapa mamanya menangis ketika bertanya kenapa nama perusahaan Aksara Group.
Tuan Muda Arsa di mana ? Atau dia Regan ?
Regan tahu ada salah satu berkas yang harus dicek ulang oleh bagian keuangan.
Gunadi merasa heran, tuan mudanya bisa menemukan masalah tersebut.
Gunadi semakin heran dengan Aksa yang sekarang. Aksa lebih teliti.
Gunadi masih antara yakin dan tidak yakin, yang ada di rumah sakit itu Tuan Muda atau orang lain.
Regan minta sama Gunadi mengirimkan berkas-berkas yang perlu dia kerjakan di rumah sakit.
Nanti kalau ada yang perlu ditandatangani bagaimana. Lupa juga tanda tangannya.
Juga tentang ayahnya Aksa, Aditya Wicaksono tak luput dari pemberitaan. Mempunyai anak diluar pernikahan.
Berita unggahan tentang kecelakaan yang menimpa Aksa, juga tentang Aditya yang mempunyai anak diluar penikahan sudah sampai kepada Aksa, Gunadi dan Asti
Diiih orang yang sudah meninggal diusik juga. Ayahnya sendiri juga.
Kelakuan jahat Doni akibat sakit hati tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Doni nanti musuhnya Regan. G
Gunadi menanyakan kondisi Aksa setelah kecelakaan.
Dokter dengan sabar menjawab semua pertanyaan Gunadi, dan memberikan penjelasannya.
Semua perbedaan Aksa yang dirasakan Gunadi ditanyakan kepada dokter.
Perubahan Aksa secara medis masih dianggap normal.
Penjelasan dari dokter, Aksa berubah setelah kecelakaan, semua masuk akal.
Gunadi masih merasa ada yang ganjil.
Keturunan Wicaksono yang ada kini tinggal dua anak dari dua gundik Ayahnya Aksa.
Kalau Aynara nanti menikah ulang dengan Aksa palsu, kalau sampai hamil tentunya bukan keturunan Wicaksono.
Gunadi setelah selesai berinteraksi secara langsung dengan Aksa, pamit akan kembali ke kantor.
Gunadi pikirannya terus terganggu dengan perubahan Aksa.
Gunadi menuju ruang dokter sebelum kembali ke kantor. Sebelum menyimpulkan apapun, Gunadi harus mendapatkan jawaban yang masuk akal.
Gunadi seperti nggak yakin , apa cedera kepala dan amnesia bisa mengubah seseorang sampai sejauh itu.
Gunadi belum bertemu Aksa sejak mulai sadar. Gunadi nanti kalau bertemu dan berinteraksi dengan Aksa kemungkinan juga merasakan ada yang janggal.
Perasaan itu hilang sejak melihat Aksa setelah kecelakaan. Tidak ada raaa kesal, tidak berusaha menhaga jarak karena muak. Tapi ada rasa aneh yang sulit dijelaakan.
Aynara belum sadar saja kalau yang sedang dihadapi memang bukan Aksa.
Aynara selalu menepisnya - jangan-jangan karena amnesia.
Aynara sepakat untuk mulai dari awal. Dengan syarat tetap tinggal terpisah. Hubungan mereka dilihat perkembangannya. Di jalani seperti teman dulu.
Setelah satu tahun baru diambil keputusan, mau mempertahankan pernikahan atau bercerai.
Apa yang dikatakan Aynara, Regan setuju.
Hubungan di kantor mereka profesional. Interaksi mereka sebagai atasan dan bawahan.
Regan setuju dengan semua syarat yang dikatakan Aynara.
Wajah Regan bisa ya mirip sekali dengan wajah Aksa. Pengenalan wajah di layar ponsel Aksa utidak menolak wajah Regan.
Regan sebagai Aksa mengetik permintaan maaf atas semua sikapnya dulu yang sudah menyakiti Aynara.
Aynara tidak menyangka Aksa minta maaf.
Aynara memaafkan Aksa.
Regan mulai komunikasi sama Aynara dengan mengetik kalimat di ponselnya. Ia menunjukkan kepada Aynara.
Aynara mau menceritakan semuanya pelan-pelan.
Setelah Aynara menceritakan semuanya, apa yang akan dilakukan Regan nanti.
Aynara mulai menceritakan kenyataan yang ada.
Mendengar perlakuan dan hinaan Aksa terhadap Aynara, Regan punya penilaian lagi tentang Aksa. Jauh lebih buruk.
Aynara menyelesaikan ceritanya.
Regan baru tahu bahwa orang yang wajahnya hampir sama dengannya, saat sebelum kecelakaan terjadi, baru saja bertengkar hebat dengan istrinya.
Joseph sudah mendapatkan informasi tentang Aksa Wicaksono. Tentang nama-nama mereka. Kakeknya, Ayahnya, Ibunya, juga dua gundik Ayahnya Aksa yang masing-masing juga punya anak tapi tidak diakui sebagai keturunan Wicaksono.
Komplit sekali informasi yang di dapat Joseph.
Sampai tentang Aksa yang dijodohkan dengan Aynara.
Juga tentang pekerjaan Aksa.
Pembicaraan belum selesai, suara air dari kamar mandi berhenti. Aksa memutuskan sambungan.
Apa mobil Wicaksono yang mengalami kecelakaan juga Doni pelakunya ?
Kondisi Aksa dalam pemeriksaan secara medis baik semua. Dokter minta pasien tetap diobservasi.
Regan tahu kalau dokter merasa ada yang janggal.
Regan benar-benar mendalami perannya. Beberapa pertanyaan dokter dijawab dengan menggeleng.
Mendengar nasehat dari dokter, Regan menjawabnya mengangguk pelan.
Asti dan Aynara jadi memperkenalkan diri biar Aksa yang amnesia tahu siapa kedua wanita itu.
Dokter memeriksa Aksa. Ketika ditanya oleh dokter, jawabnya hanya mengangguk dan diam.
Bikin Asti khawatir saja nih.
Pura-pura panik, tidak tahu harus bicara apa.
Aynara terkejut melihat Aksa yang cuma membuka mulut, ngga ada suara yang keluar.
Aynara dan Asti memang orang asing bagi Aksa palsu. Aman saat ini Aksa menjadi tidak ingat sama mama dan istrinya.
Aksa hilang ingatannya serta suaranya. Itu yang Aynara tahu saat ini.
Suara jadi berbeda juga kalau Aksa bicara.
Regan membuat hidupnya rumit sendiri.