NovelToon NovelToon
Secrets Of A Broken Family

Secrets Of A Broken Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: SellaAf.

Bagi Aera, rumahnya telah berubah menjadi labirin yang dingin dan mematikan. Setelah kematian misterius ibu kandungnya, kehidupan Aera dijungkirbalikkan oleh kehadiran Belva, ibu tiri yang penuh pesona namun manipulatif. Hanya dalam waktu singkat, Reno-ayah Aera yang dulunya penyayang-berubah total. Pria itu menjadi kasar, dipenuhi kebencian tak mendasar, hingga puncaknya tega mengusir Aera dari rumah. Aera dibuang, diasingkan, dan sengaja dilupakan. Namun, di balik pengusiran itu, Aera menolak untuk tunduk. Bergerak dari kegelapan, ia mulai mengumpulkan kepingan teka-teki yang sengaja disembunyikan di dalam rumahnya. Penyelidikan rahasia itu menuntun Aera pada fakta yang mengerikan-kecelakaan maut ibunya bertahun-tahun lalu adalah sebuah pembunuhan berencana. Dan dalang di balik konspirasi berdarah itu adalah Belva. Ibu tirinya tidak hanya menginginkan posisi sebagai nyonya rumah, dia menginginkan seluruh harta warisan berlimpah milik Reno. Menyingkirkan ibu kandung Aera adalah langkah pertama, memanipulasi Reno dan mengusir Aera adalah langkah kedua. Kini, permainan psikologis yang berbahaya dimulai. Aera tidak lagi menangis karena dilupakan. Dia akan kembali menyusup ke rumah itu, bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai ancaman terbesar yang siap membongkar kedok berdarah sang ibu tiri-sebelum nyawa ayahnya menjadi korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aera & Leo

Tiga hari berlalu dengan cepat di rumah sakit. Selama itu pula, Leo membuktikan kata-katanya. Cowok itu tidak pernah absen datang. Setiap pagi sebelum pergi kuliah—atau entah kegiatan apa yang ia lakukan—Leo selalu menyempatkan diri mengantar sarapan yang lebih layak daripada makanan rumah sakit yang hambar. Ia juga yang mengurus semua administrasi tanpa pernah mengeluh di depan Aera.

Aera, yang awalnya selalu bersikap defensif dan dingin, perlahan mulai membuka diri. Ia mulai terbiasa dengan kehadiran Leo yang blak-blakan namun penuh perhatian dengan caranya sendiri.

"Hari ini lo udah boleh pulang," kata Leo sore itu, sambil meletakkan selembar kertas berisi rincian pelunasan dari pihak rumah sakit di atas meja bed.

Aera yang sedang duduk di tepi ranjang, mencoba menggerakkan kakinya yang masih terasa kaku, langsung mendongak. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, bukan karena senang, melainkan karena rasa cemas yang mendalam. Pulang. Kata itu kembali menjadi momok yang menakutkan.

Ke mana ia harus melangkah setelah pintu rumah sakit ini tertutup di belakangnya?

Leo yang menyadari perubahan ekspresi Aera segera berjalan mendekat. Ia meraih tas olahraga miliknya yang tergeletak di kursi. "Ganti baju lo. Gue tunggu di luar. Kita pergi dari sini."

"Leo... kita mau ke mana?" tanya Aera, menahan langkah Leo dengan pertanyaannya yang penuh keraguan.

Leo berbalik, menatap Aera dengan senyum tenang yang entah bagaimana berhasil meredakan badai kecemasan di dada gadis itu. "Ke tempat baru. Tempat yang nggak bakal bikin lo merasa di neraka."

Perjalanan sore itu dilewati dalam keheningan di dalam mobil sedan hitam milik Leo. Aera hanya menatap keluar jendela, memandangi lampu-lampu kota Jakarta yang mulai menyala satu per satu seiring tenggelamnya matahari. Pikirannya berkecamuk, namun anehnya, ada secercah rasa aman yang ia rasakan selama berada di samping Leo.

Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan apartemen kelas menengah di kawasan yang cukup tenang. Leo turun lebih dulu, memutari mobil, lalu membukakan pintu untuk Aera. Dengan cekatan, ia membantu Aera turun, membiarkan gadis itu bertumpu Pada pundaknya karena jalannya yang masih agak pincang.

Mereka naik ke lantai tujuh. Ketika pintu unit bernomor 704 dibuka, bau aroma terapi lavender langsung menyengat indra penciuman Aera. Tempat itu tidak terlalu besar, namun sangat rapi dan fungsional. Ada ruang tengah kecil dengan sofa abu-abu, sebuah televisi, dan dapur bersih di sudutnya.

"Ini apartemen siapa?" tanya Aera sambil mendudukkan diri di sofa dengan hati-hati.

"Punya gue. Maksudnya, dibeli in bokap gue biar gue nggak usah pulang ke rumah utama," jawab Leo santai sambil berjalan ke dapur, mengambilkan segelas air putih untuk Aera.

"Gue jarang tinggal di sini. Biasanya gue lebih sering tidur di basecamp anak-anak atau di rumah temen. Jadi, tempat ini kosong. Lo bisa tinggal di sini sesuka lo."

Aera menerima gelas yang disodorkan Leo, namun ia tidak langsung meminumnya. Ia menatap sekeliling ruangan yang terasa begitu nyaman, sangat kontras dengan kamar tidurnya di rumah lamanya yang selalu terasa mencekam.

"Leo, ini terlalu berlebihan," kata Aera, merasa tidak enak hati. "Gue... gue nggak tahu gimana cara balas budi sama lo."

Leo duduk di ujung sofa yang lain, menjaga jarak agar Aera tidak merasa terintimidasi. Ia menumpukan kedua sikunya di lutut, menatap Aera dengan serius.

"Lo nggak perlu balas apa-apa, Aera. Cukup sembuh, tata lagi hidup lo, dan buktiin ke orang-orang yang udah ngusir lo kalau lo bisa hidup baik-baik aja tanpa mereka," ucap Leo. Suaranya terdengar begitu tulus, menyusup ke dalam relung hati Aera yang paling dalam dan menghancurkan sisa-sisa tembok pertahanan yang ia bangun selama ini.

Aera menunduk. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, air mata yang menetes dari matanya bukan karena rasa sakit atau keputusasaan, melainkan karena rasa syukur yang teramat sangat. Di tengah badai hidupnya yang paling hebat, Tuhan mengirimkan seseorang yang tak terduga untuk menjadi payungnya.

"Terima kasih, Leo," bisik Aera di sela isak tangisnya yang tertahan.

Leo hanya tersenyum tipis, menatap gadis di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Dalam hatinya, Leo berjanji akan memastikan bahwa lembaran baru kehidupan Aera yang dimulai dari apartemen ini, tidak akan pernah sekelam masa lalunya.

...----------------...

Malam pertama di apartemen barunya terasa sangat asing bagi Aera. Keheningan yang menyelimuti unit nomor 704 itu bukanlah keheningan mencekam yang biasa ia rasakan di rumah lamanya—di mana setiap derit pintu bisa berarti awal dari bentakan atau pertengkaran baru. Ini adalah keheningan yang damai, jenis ketenangan yang selama ini hanya bisa ia impikan saat meringkuk di sudut kamarnya yang gelap.

Setelah Leo pamit pergi untuk memberi ruang baginya beristirahat, Aera menghabiskan waktu berjam-jam hanya dengan menatap langit-langit kamar. Kakinya yang masih dibalut perban sesekali berdenyut nyeri, namun rasa sakit fisik itu kalah telat oleh rasa lelah mental yang telanjur menumpuk. Di tengah malam yang sunyi, bayangan wajah berang ibu tirinya dan telunjuk ayahnya yang mengarah lurus ke pintu keluar kembali berkelebat di benak Aera.

Kata-kata kasar mereka terngiang-ngiang, berputar seperti kaset rusak yang tak mau berhenti.

"Anak nggak tahu diuntung! Keluar kamu dari rumah ini!"

Aera memejamkan mata rapat-rapat, meremas ujung selimut lavender yang wangi. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir sesak yang kembali menghimpit dadanya. Ia tidak boleh goyah. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri dan kepada Leo—bahwa ia harus menata kembali hidupnya yang sempat berantakan.

Keesokan paginya, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden ruang tengah. Aera terbangun dengan perasaan yang sedikit lebih ringan. Dengan bertumpu pada dinding dan furnitur di sekitarnya, ia perlahan melangkah keluar dari kamar.

Ketika sampai di area dapur kecil, matanya menangkap sesuatu yang tidak ada semalam. Di atas meja counter, terdapat sebuah kantong plastik besar berisi beberapa kotak makanan instan, roti tawar, susu kotak, dan sebuah kotak obat baru. Di samping kantong tersebut, tergeletak selembar kertas catatan kecil dengan tulisan tangan yang besar-besar dan cenderung berantakan.

GUE TEBAK LO PASTI GENGSI BUAT MINTA SARAPAN. INI ADA STOK MAKANAN BUAT BEBERAPA HARI KEDEPAN. OBAT YANG DI DALAM KOTAK JANGAN LUPA DIMINUM SETELAH MAKAN. GUE ADA KELAS SAMPAI SIANG, SOREAN GUE MAMPIR BUAT GANTI PERBAN LO. — Leo

Aera menatap catatan itu cukup lama. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk seulas senyuman tipis yang tulus. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa keberadaannya di dunia ini tidak dianggap sebagai beban atau kesalahan oleh orang lain.

Hari itu dihabiskan Aera dengan melakukan hal-hal kecil. Karena pergerakannya terbatas, ia duduk di sofa ruang tengah sambil menyalakan televisi, meski fokusnya sama sekali tidak tertuju pada layar kaca.

Pikirannya melayang pada sosok neneknya. Bagaimana keadaan Oma sekarang? Apakah wanita tua itu mencarinya? Aera menghela napas, merasa bersalah karena harus berbohong demi melindungi kesehatan jantung sang nenek. Namun, kembali ke rumah utama jelas merupakan pilihan yang mustahil. Rumah itu bukan lagi miliknya.

Sesuai janjinya, sekitar pukul empat sore, terdengar suara ketukan kombinasi angka pada kunci digital pintu apartemen. Pintu terbuka, dan sosok Leo muncul dengan jaket denim yang tersampir di salah satu bahunya. Wajah cowok itu tampak sedikit lelah, rambutnya agak berantakan terkena angin jalanan, namun matanya langsung beralih mencari keberadaan Aera begitu ia melangkah masuk.

"Gimana kaki lo? Udah mendingan?" tanya Leo tanpa basa-basi, langsung berjalan menuju sofa dan melempar jaketnya ke ujung ruangan.

"Udah nggak terlalu senut-senut kayak kemarin, sih," jawab Aera, agak canggung melihat kedatangan Leo yang tiba-tiba membuat ruang apartemen terasa lebih penuh energi.

Leo mengangguk paham. Ia kemudian berlutut di lantai, tepat di depan kaki Aera yang berselonjor di sofa. Ia membuka kantong plastik yang dibawanya, mengeluarkan cairan antiseptik, kasa steril, dan plester baru. Tindakannya begitu cekatan saat mulai menggunting perban lama Aera, membuat gadis itu sedikit terkejut.

"Lo... kok pinter banget ganti perban? Kelihatan kayak udah biasa," tanya Aera, memperhatikan jemari Leo yang bergerak dengan hati-hati namun mantap.

Leo terkekeh pelan, matanya tetap fokus pada luka jahit di tulang kering Aera. "Anak motor kalau nggak akrab sama luka dan perban itu namanya amatir, Ra. Gue udah kenyang jatuh dari motor sejak SMA. Bedanya, dulu gue ngobatin diri sendiri di basecamp biar nggak ketahuan bokap."

Aera terdiam mendengarnya. Ada nada santai dalam suara Leo, namun ia bisa menangkap kesendirian yang serupa dari balik cerita itu. "Bokap lo... galak?"

"Lebih ke nggak peduli," sahut Leo pendek. Ia menuangkan cairan antiseptik ke kapas, lalu menatap Aera. "Tahan dikit, agak perih."

Aera meringis kecil saat kapas dingin itu menyentuh kulitnya yang terluka. Namun, fokusnya segera teralih kembali pada penuturan Leo. "Nggak peduli gimana?"

"Gue nggak punya energi buat mikirin hal-hal yang nggak ngaruh ke hidup gue," jawab Leo, tangannya bergerak telaten menepuk-nepuk pelan kapas itu di sekitar luka Aera. Tatapannya fokus, seolah luka kecil itu adalah hal paling penting yang harus dia urus saat ini.

Ia menarik tangannya, membuang kapas bekas ke kotak P3K, lalu menatap Aera lurus-lurus.

"Orang mau ngomong apa, mau berasumsi apa tentang gue, atau bahkan tentang... kita, itu urusan mereka. Pusing kalau semua harus dimasukin ke hati." Leo mengambil plester bening, lalu merekatkannya dengan hati-hati. "Selesai."

Aera terdiam sesaat, merasakan sisa perih yang perlahan digantikan oleh rasa hangat yang aneh. Ia menatap plester di lengannya, lalu kembali menatap cowok di depannya.

"Tapi gimana kalau omongan mereka mulai keterlaluan?"

Leo hanya mengedikkan bahu tipis, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan ekspresi wajah yang sulit dibaca.

"Ya tinggal tutup telinga. Lagian, mereka nggak tahu apa-apa tentang apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah ini, Ra."

Aera menatap plester yang baru saja ditempelkan Leo di kulitnya. Sentuhan cowok itu sudah menjauh, meninggalkan sensasi dingin dari alkohol yang menguap, namun kalimat terakhir Leo justru meninggalkan rasa hangat yang tertinggal di udara.

Di dalam rumah ini. Kata-kata itu terdengar begitu intim, sekaligus begitu berat. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini, Aera selalu merasa ada kabut tebal yang menyelimuti sosok Leo.

Cowok itu selalu tampak tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang menanggung desas-desus miring, pandangan menghakimi dari orang-orang luar. Sikap nggak peduli yang barusan Leo tunjukkan bukan sekadar tameng malas, melainkan sebuah pertahanan yang sudah dibangun bertahun-tahun.

Aera memajukan duduknya sedikit, menopang dagu dengan satu tangan di atas meja kaca. Matanya tidak lepas dari Leo yang sekarang sedang merapikan botol antiseptik dan sisa plester ke dalam kotak P3K putih.

"Leo," panggil Aera pelan.

"Hmm?" Leo menyahut tanpa menoleh, tangannya sibuk mengunci pengait kotak plastik tersebut.

"Lo selalu kayak gini?"

"Kayak gini gimana?" Leo balik bertanya, akhirnya mendongak dan menatap Aera dengan sepasang mata elangnya yang redup.

"Selalu kelihatan... nggak punya beban. Padahal gue tahu, omongan orang-orang di luar sana tentang lo itu nggak main-main." Aera menjeda kalimatnya, menimbang-nimbang apakah ia sudah melangkah terlalu jauh ke dalam zona aman seorang Leo.

Namun, rasa penasarannya jauh lebih besar. "Gue selalu ngerasa, lo sengaja pasang tembok setinggi ini supaya nggak ada yang bisa lihat apa yang sebenarnya lagi lo hadapin."

Leo terkekeh pelan. Suara kekehannya pendek, terdengar hambar tanpa ada riak emosi yang berarti. Ia meletakkan kotak P3K ke samping, lalu melipat kedua lengannya di dada, bersandar sepenuhnya pada kursi besi yang dingin.

"Ra, kalau lo sibuk mikirin apa yang dipikirin orang lain tentang lo, lo nggak bakal punya waktu buat hidup," kata Leo, nadanya datar namun sarat akan pengalaman pahit yang disembunyikan.

"Mereka cuma penonton. Mereka cuma lihat babak luar dari pertunjukan yang mereka anggap menarik, terus bikin ulasan sendiri tanpa pernah tahu naskah aslinya kayak gimana."

"Tapi penonton bisa bikin panggungnya runtuh, Leo," sergah Aera cepat. "Gue tahu rasanya. Gue tahu rasanya dituduh atas hal yang nggak pernah gue lakuin, dan rasanya sakit banget pas kita nggak punya kekuatan buat membela diri." Suara Aera agak bergetar di akhir kalimat, kenangan akan luka-lukanya sendiri mendadak mendesak naik ke permukaan dada.

Leo terdiam. Tatapannya melunak, tidak lagi sedingin sebelumnya. Ia memperhatikan bagaimana jemari Aera meremas pelan ujung bajunya sendiri—sebuah kebiasaan yang disadari Leo selalu muncul setiap kali gadis itu merasa tidak aman atau teringat akan rumahnya sendiri yang hancur.

"Problem gue beda sama problem lo, Ra," ucap Leo akhirnya, suaranya turun satu oktav, menjadi lebih berat dan dalam.

"Apa bedanya? Masalah ya masalah. Mau sekecil apa pun, kalau dipendam sendiri, lama-lama bisa bikin gila." Aera menatap Leo lurus-lurus, menuntut sebuah kejujuran.

"Gue udah bagi cerita gue yang berantakan ke lo. Gue udah nunjukin seberapa hancurnya gue pas gue pulang tanpa pernah dapat pelukan dari siapa pun di rumah itu. Tapi lo? Lo selalu jadi pendengar, Leo. Lo tahu semua luka gue, tapi gue nggak tahu apa-apa tentang lo."

Pertanyaan tersirat itu menggantung di antara mereka. Ruang tengah rumah Leo yang luas terasa makin sunyi. Suara detak jam dinding di sudut ruangan mendadak terdengar begitu nyaring, mengisi kekosongan di antara dua remaja yang sama-sama membawa memar di dalam hati mereka.

Leo mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar yang menampilkan halaman samping. Di luar, langit sore mulai meremang, digantikan oleh warna jingga keunguan yang pekat. Angin menggoyang ranting pohon mangga di luar, menimbulkan bayangan-bayangan abstrak di lantai ruang tamu.

"Lo benar-benar mau tahu?" tanya Leo, kembali menatap Aera. Ada sebersit keraguan di matanya, sebuah ekspresi yang sangat jarang—atau bahkan tidak pernah—Aera lihat dari seorang Leo yang biasanya mutlak dan dominan.

Aera mengangguk tanpa ragu. "Gue mau tahu. Bukan karena gue kepo, tapi karena gue nggak mau lo selalu sendirian tiap kali luka lo kambuh."

Deg.

1
Amora
bagus
Amora
selalu aku pantau terus ceritanya
Amora
yaampun Thor pantesan aku tungguin gak up terus pdhal ganti kesini xixixi🤭
Aisyah Suyuti
good
Its_sellaaf
Hallo, ini sebenarnya kelanjutan ulang cerita sebelumnya, di judul pertama aku yaa aku ubah di awal karena cerita yang sebelumnya susah buat aku delete. Jadi aku bikin ulang lagi aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!