NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Hadiah dari Bos

Edwin pertama kali memperhatikan ponsel Liana bukan karena benda itu menarik perhatian, melainkan karena terlalu tidak cocok berada di lantai eksekutif Loh Group.

Ponsel itu kecil, casing-nya sudah kusam di bagian sudut, dan layar sentuhnya sering terlambat merespons. Ketika Liana membuka WhatsApp untuk mengecek pesan dari Arman, lingkaran loading berputar begitu lama sampai jadwal Edwin di tablet sudah selesai ia perbarui lebih dulu.

Hari itu, setelah rapat pagi, Edwin keluar dari ruang meeting dan melihat Liana berdiri di dekat printer. Ponselnya mendadak mati. Ia menekan tombol samping beberapa kali, wajahnya tetap tenang, tetapi alisnya sedikit berkerut.

"Ada masalah?" tanya Edwin.

Liana cepat-cepat memasukkan ponsel ke tas. "Tidak, Pak Edwin. Baterainya memang agak lemah."

"Berapa persen?"

"Tadi dua puluh. Sekarang mungkin... habis."

Edwin menatap tasnya. "Kamu menggunakan ponsel itu untuk koordinasi kerja?"

"Iya. Saya juga pakai tablet kantor untuk jadwal."

"WhatsApp?"

"Kadang lambat, tapi masih bisa."

Masih bisa.

Edwin tidak suka dua kata itu. Terlalu sering orang yang terbiasa kekurangan memakai "masih bisa" untuk menutup hal yang seharusnya tidak perlu mereka tahan.

Ia tidak berkata apa-apa saat itu. Namun setengah jam kemudian, Arman menerima pesan singkat dari ruang Edwin.

Siapkan satu ponsel baru untuk Bu Liana. Instal aplikasi emergency call, GPS sharing internal, dan satu tombol alarm. Hari ini.

Arman membaca pesan itu dua kali, lalu menatap pintu ruang Boss dengan ekspresi sulit dibaca.

Sore itu, setelah sebagian staf pulang, Arman datang ke meja Liana membawa kotak putih ramping dan sebuah kartu SIM baru.

"Bu Liana, ini dari kantor."

Liana melihat logo di kotak itu. Matanya langsung membesar. Ia memang tidak mengikuti tren gadget, tetapi cukup tahu bahwa ponsel itu bukan barang murah.

"Ko Arman, ini pasti salah."

"Tidak salah."

"Saya tidak bisa menerima ini."

"Ini inventaris kerja."

Liana tetap menggeleng. "Ponsel lama saya masih bisa dipakai. Kalau hanya untuk WhatsApp, nanti saya ganti baterai saja."

Pintu ruang Edwin terbuka.

Pria itu keluar dengan jas sudah dilepas, lengan kemeja digulung rapi sampai bawah siku. Ia mendengar cukup banyak.

"Kamu menolak alat kerja?" tanyanya.

Liana berdiri. "Pak Edwin, harganya terlalu mahal. Saya belum tentu bisa menjaga barang seperti ini."

"Justru karena kamu perlu menjaganya, kamu harus memakainya dengan benar."

"Tapi..."

"Kamu bekerja untukku. Aku harus bisa menghubungimu kapan saja saat pekerjaan membutuhkan. Ini bukan hadiah, ini alat kerja."

Kalimatnya terdengar final. Namun mata Edwin tidak sedingin kata-katanya. Ada sesuatu di sana yang membuat Liana sulit membalas. Bukan tekanan, melainkan kepastian bahwa ia tidak sedang diberi sesuatu untuk berutang budi.

Ia hanya sedang dipastikan tidak tertinggal.

"Kalau rusak, potong gaji saya," kata Liana akhirnya, masih mencoba mempertahankan sisa harga diri.

Edwin menatapnya beberapa detik.

"Tidak perlu dramatis."

Arman menunduk cepat, menyembunyikan senyum.

Liana merasa wajahnya panas. "Baik, Pak Edwin."

Edwin kembali ke ruangannya, tetapi sebelum pintu tertutup ia berkata, "Arman, pastikan dia bisa menggunakan semua fitur penting."

"Baik, Boss."

Di ruang meeting kecil, Arman membantu memindahkan kontak dan memasang aplikasi. Liana duduk di sebelahnya seperti murid baru yang takut salah menekan tombol.

"Ini WhatsApp Business kantor. Ini calendar sync. Ini email internal. Kalau ada dokumen sensitif, jangan download sembarangan."

Liana mengangguk serius.

Arman lalu menunjuk tombol samping ponsel. "Yang ini paling penting. Tekan tiga kali cepat, atau tahan tiga detik. Ponsel akan langsung mengirim lokasi ke saya dan security internal, lalu menelepon nomor darurat yang sudah disimpan."

"Nomor darurat?"

"Saya, security lantai eksekutif, dan..." Arman berhenti sejenak.

Liana menoleh. "Dan?"

"Boss."

Jari Liana yang menyentuh layar berhenti.

Arman berdeham. "Boss yang minta. Katanya untuk pegawai yang sering ikut acara luar kantor, standar keamanan harus jelas."

"Saya belum sering ikut acara luar kantor."

"Mulai sekarang mungkin akan lebih sering."

Arman menjelaskan lagi, kali ini lebih pelan. Cara mengaktifkan lokasi, cara merekam suara, cara mengunggah file ke Drive, cara mengunci layar dengan sidik jari. Liana memperhatikan semuanya. Tidak ada rasa diremehkan dalam cara Arman mengajar. Ia sabar, praktis, dan tidak tertawa ketika Liana salah membuka kamera depan tiga kali.

Malamnya, di rumah Jessy, Liana duduk di tepi tempat tidur kecilnya sambil menatap ponsel baru itu.

Layarnya terang, jernih, dan terlalu halus untuk tangannya yang biasa memegang gagang panci panas. Ia menyalakan video call pertama untuk Jessy yang sedang di dapur bawah.

Wajah Jessy muncul terlalu dekat ke kamera. "Lia? Ya ampun, bening banget gambarnya. Kamu pinjam HP siapa?"

"Punyaku."

Jessy menjauh dari kamera. "Punyamu? Sejak kapan kamu punya ponsel yang kameranya bisa memperlihatkan pori-poriku sejelas ini?"

Liana tertawa kecil. "Dari kantor. Alat kerja."

"Alat kerja apaan sampai kelihatan mahal begitu?" Jessy menyipitkan mata. "Boss kamu yang kasih?"

"Kantor yang memberikan."

"Berarti boss kamu yang menyuruh."

Liana diam setengah detik terlalu lama.

Jessy langsung menunjuk layar. "Nah! Aku tahu. Ko Edwin itu suka sama kamu."

"Jangan ngaco, Jess."

"Aku belum bilang apa-apa yang ngaco. Laki-laki dingin yang tiba-tiba beliin ponsel mahal, pasang emergency call, GPS, dan nomor dia sendiri? Itu bukan cuma SOP kantor, Lia."

"Dia bertanggung jawab sebagai atasan."

"Atasan yang baik ada. Atasan yang memasukkan nomor sendiri ke tombol darurat pegawai perempuan juga ada, tapi jarang."

"Jessy."

"Iya, iya. Aku diam." Jessy mengangkat kedua tangan, tetapi senyumnya tetap nakal. "Tapi kalau nanti dia tiba-tiba kirim sup, bunga, atau rumah, jangan bilang aku tidak kasih peringatan."

Liana menutup wajah dengan tangan. "Kamu makin ngawur."

Namun setelah panggilan berakhir, ia tidak langsung meletakkan ponsel. Pantulan wajahnya terlihat di layar gelap. Perempuan lima puluh tahun, rambut disisir sederhana, mata lelah, tetapi tidak lagi kosong seperti hari ia keluar dari rumah Phua.

Ia menyentuh tombol samping yang tadi diajarkan Arman.

Tiga detik.

Satu hal kecil, tetapi untuk pertama kalinya setelah lama sekali, ia punya alat yang bisa memanggil bantuan untuk dirinya sendiri.

Keesokan paginya, Liana tiba di Loh Group lebih awal. Di mejanya, selain jadwal Edwin dan folder dokumen, ada sebuah amplop cokelat dengan cap resmi Pengadilan Negeri.

Namanya tertulis jelas: Liana Liem.

Jantungnya turun.

Ia membuka amplop itu dengan tangan yang perlahan mendingin.

Di dalamnya ada surat panggilan sidang dan salinan jawaban dari pihak Albert. Beberapa baris pertama saja sudah cukup membuat udara di sekitarnya menipis.

Albert menuduhnya meninggalkan rumah tanpa alasan sah, menelantarkan ibu mertua lanjut usia, dan berusaha menguasai harta bersama dengan itikad buruk.

Di bagian tuntutan, kalimatnya lebih tajam.

Pihak Albert meminta pengadilan mempertimbangkan agar Liana tidak mendapat bagian dari harta perkawinan.

Liana menatap kertas itu lama.

Ponsel baru di sebelah tangannya menyala karena pesan masuk dari Arman.

Bu Liana, Boss bertanya apakah jadwal pagi sudah siap.

Liana menarik napas. Jari-jarinya masih dingin, tetapi ia menggenggam ponsel itu dan membuka kontak Dennis.

Kali ini, ia tidak akan panik sendirian.

1
ika
wes...
intinya pernikahan yg resmi yg mengikat Liana, begitu kah Ko Edwin???
ika
emang siapa F?
ika
semakin panas ...
/Casual//Casual//Casual/
Dewi 1234
summary..arti nya apa y...
Dewi 1234
👍👍👍
Ning Suswati
ceritanya bagus, tapi istilah dlm.bisnis ketinggian, untuk bisa dimengerti semua lapisan
penokohannya kok kelewatan bego banget, penindasan merupakan hal yg wajar bagi kaum konglomerat yg hanya menganggap semua harus patuh atas apapun,
dan tingginya ilmu pendidikan tidak mencerminkan seorang profesor mempunyai adab dan hati,
Ning Suswati
jadi ikut nangis beneran😭😭😭
Ning Suswati
kok tiara sibuk melakukan tes hamil, emangnya pernah tidur dg siapa aja, masa ceritanya ngawur kali
Ning Suswati
aneh banyak teka teki, kok tau2 hamidun, terus tidur dg jin tomang, atau ada titisan dewa
Ning Suswati
semoga saja dg salah kirim tsb bisa membuat tiara tersenyum dlm balutan kecewa yg sdh ditolak dg sopan oleh kang arman
Ning Suswati
kok jessi nikah, kemana suaminya yg dl tdk suka liana lebih lama tinggal numpang dirumah mereka, sekarang jessi menikah
Ning Suswati
kok hamil.sama2 kapan kevin nikahin sha
Ning Suswati
duh bingung sih sebenarnya, tapi masih mau dibaca, perasaan tegang terus
Ning Suswati
terlambat kali albert, orang yg menjadi tanggung jawabmu secara penuh tp 30 thn sdh diabaikan di hina dan dicampakkan
Ning Suswati
ternyata pengusaha besar dan orang kaya, waktu tidurnya sangat kurang
Ning Suswati
aduh ribet sih kisahnya, semua pada rahasia demi kekuasaan dan ego
Ning Suswati
keluarga kaya berpengaruh, profesor tapi otaknya cuma di akademis
Ning Suswati
😭😭😭😭😭😭 jadi ikut nangis haru laupun nunggunya kelamaan
Ning Suswati
kadang2 ceritanya gk masuk akal iya ! masa dlm pengawasan ketat bisa kecolongan liana bahkan diculik, oleh orang yg bukan ahli
Kumalani Wiro
narasinya indah....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!