NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:32.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Kunjungan Mertua & Ipar

Keesokan harinya adalah hari akhir pekan. Suasana pagi di rumah berlantai dua itu terasa hangat dan segar. Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah jendela kaca, membiaskan cahaya di atas meja makan yang baru saja dibersihkan.

Hari ini adalah hari yang istimewa, karena Farah dan ibunya Fadil, Ibu Melati, akan berkunjung sesuai janji mereka beberapa hari yang lalu.

Aura sudah berkutat di dapur sejak pagi-pagi sekali. Usai menyelesaikan sarapan sederhana bersama Fadil, ia langsung membagi tugas dengan Mbok Nah.

Di pintu kulkas dua pintu berbahan stainless steel, tertempel selembar kertas catatan kecil berisi daftar menu hidangan istimewa yang akan disuguhkan hari ini: Ayam Garang Asem, Gurame Asam Manis, Sup Iga Bening, serta Puding Mentega Karamel sebagai hidangan penutup.

Dengan celemek katun berwarna krem melingkar di pinggangnya, Aura tampak telaten memotong sayuran, menyiapkan bumbu rempah, dan mengolah bahan-bahan masakan.

Rambut panjangnya dicepol asal di atas kepala, menyisakan beberapa helai anak rambut di lehernya yang menambah kesan manis.

Saat Aura sedang sibuk mengulek bumbu halus di atas cobek batu, langkah kaki santai Fadil terdengar mendekati area dapur. Pria itu baru saja selesai mandi, mengenakan kaus polos berbahan santai dan celana kain panjang.

Wajahnya segar dan garis bibirnya terhias senyum hangat yang tak pernah padam sejak dua hari terakhir.

Mbok Nah yang menyadari kehadiran Tuan mudanya di dapur langsung menghentikan kegiatannya memotong daun bawang. Dengan senyum penuh arti dan lirikan jenaka, Mbok Nah perlahan memberikan ruang untuk pasangan suami istri tersebut.

Menyadari Fadil melangkah mendekat ke arah meja dapur, Aura menghentikan gerakan ulekannya sejenak lalu menoleh dan mencoba melerai keberadaan suaminya di area masak-memasak itu.

"Mas... Kenapa ada di sini?" tanya Aura heran seraya menyapu keringat tipis di dahinya dengan punggung tangan.

"Mau bantu, boleh?" sahut Fadil, sembari mengikis jarak di antara mereka.

Aura pun tertawa pelan seraya menggeleng. "Gak usah, kan ada Mbok Nah..."

Fadil lalu menoleh ke arah Mbok Nah yang berpura-pura sangat sibuk mengelap konter dapur. Mbok Nah pun hanya tersenyum-tersenyum sendiri melihat kebersamaan dan kemesraan majikannya itu yang makin hari makin menempel.

"Kalau aku bantu, bisa jadi lebih cepat kan selesainya?" balas Fadil beralasan.

Tanpa ragu, pria itu maju beberapa langkah lagi hingga posisi tubuhnya kini berada tepat di belakang Aura, begitu dekat hingga helaan napas hangatnya menyapu leher belakang Aura, dan nyaris memeluk tubuh wanita itu dari belakang.

Spontan Aura berbalik badan seraya mendelik dengan mata yang membulat. "Mas! Ada Mbok Nah...!" bisik Aura panik dengan suara mencicit, dan wajah yang seketika merona merah.

Mbok Nah yang mendengar bisikan panik itu langsung tertawa kecil dan meraih keranjang pakaian kotor di sudut dapur.

"Mbok gak liat apa-apa, Neng... Mbok mau ngejemur baju dulu ya ke belakang..." ujar Mbok Nah bernada jahil sambil bergegas melangkah menuju pintu ruang belakang.

"Nah, Mbok Nah juga ngerti kan," ujar Fadil sambil terkekeh renyah. Pria itu menyunggingkan senyum jahil dan langsung mencari kesempatan untuk melingkarkan lengannya di pinggang Aura.

Namun dengan cepat, Aura mencegah gerakan Fadil. Ia mengangkat kedua telapak tangannya yang penuh dengan sisa noda bumbu dan rempah-rempah.

"Eits! Tangan aku kotor, Mas! Nanti baju Mas Fadil kena kunyit lho," tegur Aura sambil menatap tajam namun menggemaskan. "Nanti Mama sama Farah keburu datang lho, Mas..."

"Ok, ok," balas Fadil mengalah seraya mengangkat kedua tangannya. Namun sebelum Aura sempat menarik napas lega, Fadil justru memiringkan kepala dengan cepat dan mencium pipi kanan Aura secara tiba-tiba.

CUP!

"Dapet!" seru Fadil riang seperti anak kecil yang berhasil menang dalam permainan.

"Mas!" pekik Aura kaget, lalu menepuk dada bidang Fadil dengan siku lengannya yang bersih. "Tuh kan, bikin rusuh terus di dapur!"

Fadil hanya tertawa renyah, tawa lepas yang dulu begitu jarang terdengar, namun kini menjadi melodi harian di rumah tersebut. "Bercanda, Sayang. Ayo, mana yang perlu aku bantu? Memotong wortel atau mengupas bawang?"

Aura menghela napas pasrah, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum manisnya. "Ya sudah, Mas tolong kupaskan bawang merah dan bawang putih di mangkuk itu. Awas jangan sampai menangis kena pedasnya bawang ya."

"Tenang saja, gini-gini aku dulu pernah kursus masak singkat waktu kuliah di luar negeri," sombong Fadil seraya meraih pisau dapur kecil dan mulai mengupas bawang dengan gerakan yang ternyata cukup lincah.

Selama beberapa jam berikutnya, suasana dapur dipenuhi gelak tawa, percakapan hangat, serta godaan-godaan kecil dari Fadil.

Mbok Nah yang sudah kembali dari tempat penjemuran baju bergabung kembali, lalu ikut serta menyelesaikan berbagai hidangan pelengkap.

Kerja sama mereka bertiga membuat suasana dapur terasa amat hidup dan penuh energi yang positif.

____

Tepat pukul sebelas siang, seluruh hidangan telah matang sempurna dan tertata rapi di atas meja makan utama.

Sup Iga Bening yang berasap tipis mengeluarkan aroma gurih yang menggugah selera, berjejer anggun bersama Ayam Garang Asem yang dibungkus daun pisang dan Gurame Asam Manis bersaus merah merona.

Aura baru saja selesai membasuh tangan dan merapikan gaun santainya saat suara klakson mobil berhenti di halaman depan rumah.

TIN! TIN!

"Nah, itu sepertinya Mama dan Farah sudah sampai!" seru Aura bersemangat. Ia melepaskan celemeknya dan meletakkannya di sandaran kursi.

Fadil merapikan kaos santainya dan menggandeng jemari Aura menuju pintu depan.

Saat pintu jati berukir itu dibuka, tampak sosok Ibu Melati yang tampil anggun dengan stelan gamis bermotif lembut serta Farah yang tampil kasual dan ceria memegang sebuah kantong kertas hadiah.

"Assalamu'alaikum!" sapa Farah penuh semangat seraya melambaikan tangan.

"Wa'alaikumussalam..." sahut Fadil dan Aura bersamaan.

Farah langsung menghambur memeluk Aura dengan erat. "Kak Aura! Duh, kangen banget! Kelihatan makin segar dan tambah cantik aja nih!" goda Farah seraya melepaskan pelukannya dan melirik jahil ke arah Fadil.

Aura pun tersenyum manis, lalu menyalami tangan Ibu Melati dengan hormat dan mencium jemarinya. "Mama... silakan masuk."

Ibu Melati merengkuh Aura ke dalam pelukan hangat seorang ibu, lalu mengelus punggung menantunya dengan lembut. "Bagaimana kabarmu, Nak? Sehat?"

"Alhamdulillah sehat, Ma," jawab Aura.

Fadil kemudian mendekati ibunya, menyalami dan mencium pipi sang ibu. "Mama sama Farah datangnya pas banget, hidangan makan siang baru saja selesai ditata di meja."

Ibu Melati menatap putra sulungnya dari atas ke bawah, menyadari perubahan raut wajah dan aura Fadil yang kini tampak begitu hangat, tenang, dan dipenuhi binar kebahagiaan.

Sebagai seorang ibu yang mengenal betul tabiat putranya, Ibu Melati tau pasti bahwa benteng dingin di antara pasangan muda ini telah benar-benar luruh.

"Wah, kebetulan sekali! Bau masakannya sampai tercium dari luar lho, Kak Aura," puji Farah seraya melangkah masuk ke dalam rumah yang bersih dan harum itu. "Aku sama Mama sengaja gak makan banyak tadi pagi biar bisa puas menikmati masakan Kak Aura."

"Mari, Ma... Farah... langsung ke meja makan saja," ajak Aura ramah seraya menuntun mertua dan adik iparnya itu menuju area makan.

Di meja makan, suasana penuh kekeluargaan langsung tercipta. Ibu Melati terpukau melihat deretan masakan yang tersaji dengan begitu indah.

"Ini semua Aura yang masak sendiri?" tanya Ibu Melati kagum seraya mengambil tempat duduk.

"Dibantu Mbok Nah dan... Mas Fadil juga ikut membantu sedikit tadi, Ma," jawab Aura jujur seraya melirik suaminya.

Farah yang sedang menyendok nasi seketika menghentikan gerakannya dan membelalak heran. "Hah?! Mas Fadil ikut masuk dapur dan mengupas bahan? Ini rekor dunia! Sejak kapan Mas Fadil mau menyentuh bumbu dapur?"

Fadil terkekeh santai seraya menuangkan air putih ke cangkir ibunya. "Kenapa memangnya? Membantu istri sendiri kan dapat pahala."

Jawaban santai namun sarat akan kasih sayang dari Fadil membuat suasana meja makan dipenuhi tawa renyah. Ibu Melati pun menyunggingkan senyum lega dan bersyukur di dalam hatinya.

Ia melihat bagaimana Fadil begitu perhatian mengambilkan lauk untuk Aura, dan bagaimana Aura melayani suaminya dengan penuh kehangatan dan keikhlasan.

Acara makan siang itu berlangsung sangat hangat dan meriah. Percakapan mengalir lancar, diselingi candaan Farah yang selalu berhasil memecah suasana. Ibu Melati pun memuji rasa masakan Aura yang dinilainya sangat lezat dan pas di lidah.

(Hmmm... Aura menantu idaman nih... 🥰)

Kita lanjut di episode berikutnya ya...

Bersambung...

1
sunaryati jarum
Makin harmonis,semoga damai selalu kedepannya, Kesya juga dapat jodoh yang mau menerima keadaannya
sunaryati jarum
Semoga apa yang menjadi keyakinan Aura tentang Farhan,benar
sunaryati jarum
Alhamdulillah Farhan sudah move on dari Aura, semoga menjadi keluarga yang harmonis
sunaryati jarum
Ana- ana wae ngidamnya Aura
Aurora: xixixi... untung suaminya Siaga dan sayang benget 🤗😃
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
🤣🤣kelamaan pakai jubah, bisa² jadi Fadil panggang😅😅
Aurora: Wkwkkw... bisa jadi bisa jadi😅🤣🤣
total 3 replies
sunaryati jarum
🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Selamat untuk kalian kabar ini yang emak tunggu, semoga sehat kamu Nak Aura dan janinmu
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya... buah cinta yang ditunggu telah hadir membawa kebahagiaan mereka berdua dan seluruh keluarga besar😊
𝐀⃝🥀Weny
selamat untuk kalian.. jaga kandunganmu ya Aura 😊
Aurora: ok sip, dengan setiap dukunganmu aku selalu bersemangat 😅😅😃🤗
total 7 replies
𝐀⃝🥀Weny
itulah buah dari kesabaran dan keikhlasan😊sekarang memetik kebahagiaan 😊
Aurora: yes ituuu.
total 3 replies
sunaryati jarum
Semoga bulan madunya menyenangkan ,dan request emak dikabulkan
sunaryati jarum
Semoga segera ada kabar baik untuk Aura,ada benih Nak Fadil yang sedang tumbuh di rahimnya
𝐀⃝🥀Weny
thor kenapa mengiris bombai di depanku sih🥹😭😭😭
sunaryati jarum: Bukan sedih tapi terhura
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor up lagi sangu turu😅😅😅
sunaryati jarum
Tindakan kamu sudah benar demi hati Aura,dan kesembuhan ingatan Kesys
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya... semoga Keisya menerima kenyataan bahwa Fadil memang bukan tunangannya lagi 😊
Aurora: bisa jadi bisa jadi 😃
total 7 replies
falea sezi
heleh prettt trauma🤣
falea sezi
bukan polos tp goblokkk si aura🤣🤣 g usa debat emank. goblok ngapain ngurusin anak kakk nya wong kakk mu aja bangke
sunaryati jarum
Waduh ,ingatan Kesya cuma Fadil dan mau menikah sebulan lagi.Padahal sudah hampir satu tahun.Untung Fadil sudah teguh dan membentengi diri tidak ada cinta lagi pada Kesya
𝐀⃝🥀Weny
wah waaaah... bahayaaaa, untung aja Fadil sudah punya prinsip🤭
Aurora: wkwkwk... boleh deh😅😅🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!