Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Kruyuk!
Perut Bara tiba-tiba berbunyi sangat nyaring saat dia sedang berjalan menyusuri trotoar pusat kota yang terang benderang.
Dia baru sadar kalau dirinya belum makan apa pun sejak pagi karena terlalu sibuk memulung rongsokan di bawah terik matahari.
"Aku harus mengisi tenaga dulu sebelum mulai berbelanja pakaian baru," batin Bara sambil memegangi perutnya yang kempis.
Mata Bara menyapu deretan toko dan memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran daging panggang mewah yang berada tepat di pinggir jalan raya.
Bau harum daging sapi yang sedang dipanggang langsung membuat air liur Bara menetes tanpa bisa ditahan lagi.
Pelayan restoran yang menyambutnya di pintu depan sempat menatap ragu ke arah pakaian Bara yang sangat kusam dan kotor.
Tapi Bara tidak mau membuang waktu untuk berdebat, dia langsung membuka ponselnya dan menunjukkan saldo lima puluh juta di layar pada pelayan itu.
Melihat deretan angka puluhan juta yang nyata itu, sikap pelayan pria itu langsung berubah menjadi sangat ramah dan menunduk hormat melayaninya layaknya seorang raja.
"Silakan duduk di meja VIP sebelah sini, Tuan," ucap pelayan itu sambil menarik kursi empuk untuk Bara.
Bara memesan lima porsi daging sapi wagyu kualitas paling mahal dan memakan semuanya dengan sangat rakus sampai piringnya benar-benar bersih mengkilap.
"Wah gila, rasanya benar-benar seenak ini kalau kita bisa makan enak tanpa harus pusing memikirkan harga tagihannya," gumam Bara sambil mengusap mulutnya dengan tisu mahal.
Setelah membayar tagihan makan malam sebesar dua juta rupiah dengan santai, Bara kembali melanjutkan langkah kakinya menuju mal perbelanjaan terbesar di pusat kota itu.
Dia melangkah masuk ke dalam mal megah yang lantai marmernya sangat mengkilat dan udaranya dipenuhi wangi parfum orang-orang kaya.
Tujuan utama Bara sekarang adalah sebuah butik pakaian pria bermerek dari luar negeri yang terkenal sering mematok harga selangit untuk satu potong kemeja.
Bara mendorong pintu kaca butik tersebut dan langsung disambut oleh jejeran kemeja, jaket, dan celana desainer yang dipajang sangat rapi di dalam etalase.
Saat Bara sedang asyik menyentuh bahan sebuah jaket kulit hitam yang terlihat keren, sebuah suara wanita melengking tiba-tiba memanggil namanya dari arah belakang.
"Bara? Ya ampun, apa mataku sedang rusak atau ini benar-benar kau?"
Bara menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita muda dengan riasan wajah tebal dan tas jinjing mencolok sedang menatapnya dengan pandangan luar biasa jijik.
Wanita itu adalah Siska, salah satu teman terdekat Dela yang sejak dulu memang selalu hobi merendahkan status Bara sebagai seorang pemulung miskin.
"Sedang apa gembel sepertimu bisa nyasar masuk ke dalam butik mewah seperti ini, Hah?" tanya Siska dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.
"Apa kau sedang mencari sumbangan kardus bekas dari toko ini untuk kau jual lagi ke tempat loak langgananmu itu?"
Beberapa pengunjung mal dan pelayan butik langsung menoleh ke arah mereka berdua karena teriakan melengking Siska yang sangat mengganggu telinga.
Bara hanya membuang nafas panjang dan memutar bola matanya karena harus berhadapan dengan wanita berisik ini di saat suasana hatinya sedang sangat bagus.
"Aku datang ke sini untuk berbelanja pakaian, bukan untuk mencari kardus bekas," jawab Bara dengan nada datar dan sama sekali tidak terpancing emosi.
Siska langsung tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya mendengar jawaban jujur dari Bara barusan.
"Berbelanja pakaian kau bilang? Tolong jangan membuatku tertawa sampai rahangku kram, Bara," cibir Siska sambil menunjuk pakaian kusam Bara.
"Dela baru saja meneleponku tadi sore dan menceritakan kejadian di rumahmu dengan sangat bangga padaku."
"Dela bilang dia akhirnya sudah muak dan resmi membuang ban serep miskin sepertimu ke tempat sampah, lalu memilih pergi bersama Aris."
Siska melangkah maju mendekati Bara dan melipat tangannya di dada dengan gaya arogan yang sangat mirip dengan kelakuan Dela.
"Asal kau tahu saja, Aris itu anak orang kaya raya yang keluarganya punya banyak perusahaan properti di kota ini," cerocos Siska tanpa henti.
"Dela sangat beruntung bisa lepas dari jerat kemiskinanmu dan mendapatkan pria berkelas yang bisa membelikannya barang-barang mewah."
"Lalu kau? Kau ini sudah dicampakkan, dipukuli sampai muntah darah, dan sekarang kau malah berhalusinasi mau beli baju desainer di butik semahal ini?"
"Satu potong celana di toko ini harganya sama dengan seluruh penghasilanmu memulung selama setahun penuh, dasar tidak tahu diri!"
Bara mendengarkan semua omongan panjang lebar Siska itu dengan wajah tenang seolah sedang mendengarkan anjing menggonggong di pinggir jalan.
"Oh, jadi Aris itu anak orang kaya raya yang ternyata punya hobi aneh memungut barang bekas ya?" balas Bara dengan senyum miring yang sangat menyebalkan.
"Cocok sekali dengan Dela yang memang suka menempel dan menguras harta siapa saja pria yang punya banyak uang."
"Lagipula aku justru sangat bersyukur hari ini, aku lebih suka memungut rongsokan besi tua daripada harus merongsokkan harga diriku sendiri seperti yang dilakukan teman lintahmu itu."
Wajah Siska seketika berubah merah padam mendengar balasan tajam Bara yang langsung menusuk tepat pada sifat asli Dela.
"Jaga mulut kotormu itu, dasar gembel berengsek!" bentak Siska sambil menunjuk tepat ke wajah Bara.
"Cepat keluar dari sini sebelum aku menyuruh pelayan toko untuk memanggil satpam dan menyeretmu ke tempat sampah!"
Bara sama sekali tidak peduli pada ancaman Siska dan justru membalikkan badannya untuk kembali fokus memilih pakaian di rak depannya.
"Pelayan, tolong ambilkan jaket kulit hitam ini, kemeja putih di sebelah sana, dan dua potong celana jins keluaran model terbaru itu," panggil Bara pada salah satu karyawan toko.
"Pilihkan ukuran yang paling pas untuk tubuhku dan tolong langsung bawa semuanya ke meja kasir sekarang juga."
Pelayan wanita itu tampak sedikit ragu dan bingung melihat penampilan kumal Bara, tapi dia tetap mengangguk sopan dan mengambilkan semua pesanan tersebut sesuai prosedur toko.
Siska mendengus kesal sampai lubang hidungnya kembang kempis karena merasa teriakannya barusan sama sekali tidak dianggap penting oleh Bara.
"Hei, kau ini telinganya sudah tuli atau sengaja pura-pura bodoh, hah?" bentak Siska sambil melangkah maju dan menarik kasar lengan kemeja usang Bara.
"Kau pikir kau bisa menipu semua orang di sini dan membayar semua pakaian mahal itu menggunakan karung goni berisi botol plastik bekasmu?!"
Bara dengan cepat menepis tangan Siska menggunakan sedikit tenaga yang cukup membuat wanita itu kehilangan keseimbangan dan terhuyung mundur ke belakang.
"Jangan pernah berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu, Siska," desis Bara dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan mengintimidasi.
"Soal apakah aku bisa membayar semua pakaian ini atau tidak, itu sama sekali bukan urusanmu dan bukan urusan Dela."
Bara kemudian berbalik badan dengan santai dan melangkah tenang menuju meja kasir tempat pelayan tadi sedang melipat dan menghitung total belanjaannya.