Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.
Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.
Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.
Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.
Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.
Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.
📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Level Kepedasan
Pak Hardi hampir tersedak air minumnya ketika pintu ruang makan lantai dua puluh tiga terbuka dan yang masuk bukan salah satu anggota tim, melainkan CEO Kane Group sendiri.
"Pak Kane," katanya, buru-buru berdiri, sisa nasi masih menyangkut di sudut mulutnya yang tidak sempat dia lap. "Ada yang bisa dibantu?"
"Enggak ada," kata Madoc, santai, seolah dia memang biasa berjalan ke ruang makan karyawan tiap hari Jumat siang. "Denger kalian mau makan di sini. Boleh gabung?"
Seluruh meja—tujuh orang dari tim operasional yang sedang menikmati jam istirahat sebelum rapat sore soal Meridian—diam kompak, saling lirik dalam keheningan yang lebih canggung daripada kalau tiba-tiba mati lampu.
"Boleh, Pak," kata Reza akhirnya, satu-satunya yang cukup senior untuk tidak terlalu gugup, menggeser kursi kosong di sebelahnya. "Silakan."
Madoc duduk, meletakkan nampan berisi nasi dan lauk yang baru dia ambil dari katering yang sama dengan yang lain—bukan makanan eksekutif dari lantai atas seperti yang biasanya dibayangkan orang, cuma menu kantin biasa yang sama dengan yang dimakan seluruh lantai.
Gwen, yang duduk di ujung meja sedang menyendok sup ayam, hanya mengangkat alis sedikit sebelum kembali fokus ke makanannya. Dia tidak berpikir lebih jauh dari itu—CEO makan bareng karyawan sesekali kedengarannya seperti gestur kepemimpinan yang baik, sesuatu yang mungkin dia baca di buku manajemen suatu waktu.
Tapi bagi enam orang lain di meja itu, kejadian ini setara dengan gempa kecil.
---
Percakapan yang tadinya mengalir bebas—soal drama kantor, soal siapa yang telat lagi minggu ini, soal rencana weekend—langsung berubah jadi obrolan formal yang kaku begitu Madoc duduk.
"Jadi, Pak," kata seseorang dari ujung meja, suaranya terlalu bersemangat untuk basa-basi biasa, "Meridian progressnya udah bagus banget ya, katanya."
"Bagus," jawab Madoc singkat, mengambil sendok nasinya.
Hening lagi. Bas, yang duduk di samping Gwen, mencoba melempar topik lain untuk menyelamatkan suasana yang mulai terasa seperti interogasi tanpa pertanyaan.
"Katanya nanti ada town hall soal ekspansi ke kota keempat juga ya, Pak? Bener gak sih rumornya?"
"Belum diputusin," kata Madoc, tanpa mengangkat kepala dari piringnya.
Bas mengangguk cepat, kehabisan bahan, dan kembali menyantap makan siangnya dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk sekadar makan nasi goreng.
Gwen memperhatikan pola ini dari sudut matanya—bagaimana semua orang tiba-tiba jadi terlalu sopan, terlalu berhati-hati memilih kata, seolah mereka sedang diwawancara alih-alih makan siang biasa. Dia sendiri tidak merasa perlu ikut-ikutan berhati-hati; makan siang tetap makan siang, mau ada CEO atau tidak.
"Sambelnya enak," katanya, lebih ke diri sendiri, sambil mencolek sedikit sambal dari mangkuk kecil di tengah meja untuk dicampur ke supnya.
Satu suapan kemudian, wajahnya berubah merah dan matanya berair.
"Gwen? Oke gak?" tanya Bas, panik.
"Oke," katanya, terbata, buru-buru minum air putih. "Cuma... itu pedes banget ternyata."
Beberapa orang tertawa kecil, suasana canggung tadi sedikit mencair. Gwen mengelap matanya dengan punggung tangan, masih terbatuk pelan, tidak sadar bahwa di ujung meja, Madoc sedang memperhatikan reaksi itu dengan lebih serius daripada yang seharusnya perlu untuk urusan sesederhana sambal.
---
Madoc sudah pernah lihat Gwen menolak halus tawaran makan pedas dua kali sebelumnya—sekali waktu ada yang menawarkan mi instan level lima di pantry kantor, dan sekali lagi waktu tim merayakan closing kecil dengan pesan ayam geprek, dan Gwen memilih menu yang paling tidak pedas di antara pilihan yang ada.
Dia tidak pernah benar-benar memperhatikan pola itu sampai sekarang, ketika dia melihatnya langsung—cara Gwen mencoba menahan reaksi, cara dia buru-buru minum tapi tetap tersenyum kecil seolah tidak ingin dianggap terlalu drama soal sesuatu yang sepele.
Ada sesuatu yang aneh soal betapa dia mengingat detail itu tanpa berusaha. Madoc tidak biasa menghafal preferensi orang lain—bahkan untuk klien penting yang dia temui berkali-kali, dia mengandalkan catatan Elias untuk mengingat detail semacam itu. Tapi soal Gwen, informasi-informasi kecil seperti ini masuk ke kepalanya sendiri, tanpa dia minta, dan menetap di sana seperti sesuatu yang penting.
Gak suka pedas. Suka teh, bukan kopi. Nulis catatan pakai pulpen biru, bukan hitam.
Dia tidak tahu untuk apa dia menyimpan informasi-informasi itu. Tidak ada gunanya secara profesional. Tapi entah kenapa, otaknya terus mengumpulkannya, seolah sedang menyusun sesuatu yang belum dia pahami sendiri tujuannya.
"Pak?"
Suara Reza membuyarkan lamunannya. Madoc mendongak, sadar dia sudah diam terlalu lama menatap ke arah yang salah.
"Ya?"
"Tadi saya tanya, Meridian ada kendala baru gak dari sisi Bapak? Soal budget tambahan yang kemarin diajuin."
"Oh." Madoc mengumpulkan pikirannya kembali. "Udah saya approve tadi pagi. Nanti masuk email kalian."
"Sip, makasih Pak."
Percakapan lanjut ke arah yang lebih formal—budget, timeline, hal-hal yang seharusnya jadi topik alami untuk seorang CEO yang makan siang dengan tim proyeknya. Madoc menjawab semuanya dengan lancar, profesional seperti biasa, tapi bagian dari perhatiannya tetap tertinggal di ujung meja, memperhatikan Gwen yang sekarang sudah kembali makan dengan normal, menyendok nasi tanpa sambal sama sekali.
---
"Itu tadi aneh banget, gak sih?"
Bas membisikkan kalimat itu ke Gwen begitu Madoc pamit duluan setelah selesai makan, alasan resminya ada meeting lain yang harus dia hadiri.
"Aneh gimana?" tanya Gwen, mengumpulkan piring kosongnya.
"Ya, dia gak pernah makan siang di sini. Gak pernah. Gue di sini udah dua tahun, dan ini pertama kalinya gue liat CEO makan pakai nampan kantin bareng-bareng kita."
Gwen mengangkat bahu. "Mungkin lagi pengen deket sama tim. Kan katanya budaya kerja di sini mau diubah jadi lebih terbuka."
"Iya sih, mungkin." Bas tidak terdengar sepenuhnya yakin, tapi tidak melanjutkan argumennya. "Cuma tetep aja, aneh. Kayak—dia duduknya juga strategis banget, langsung ke arah situ." Dia menunjuk kursi kosong di dekat Gwen yang tadi diduduki Madoc. "Padahal kursi kosong ada banyak."
"Mungkin cuma kebetulan," kata Gwen, sudah berdiri sambil membawa nampannya ke tempat pengembalian, tidak lagi memikirkan itu lebih jauh.
Di belakangnya, Reza dan dua anggota tim lain masih duduk, membahas kejadian itu dengan nada yang jauh lebih curiga daripada Gwen sendiri.
"Lo notice gak," kata salah satu dari mereka pelan-pelan, "cara dia liat Gwen tadi pas dia keselek sambel? Kayak, panik banget, padahal cuma sambel doang."
"Gue notice," kata Reza, menyeruput tehnya sambil tersenyum tipis, tidak berniat ikut campur lebih jauh, tapi juga tidak bisa berpura-pura tidak melihat apa yang barusan terjadi di depan matanya sendiri.
Sore itu, sebelum rapat lanjutan Meridian dimulai, sebuah pesan singkat masuk ke grup WhatsApp internal divisi katering kantor dari nomor yang tidak dikenal siapa pun kecuali orang yang mengirimnya:
Tolong kurangin level pedas menu Jumat depan. Ada yang gak tahan pedas di tim operasional.
Tidak ada nama pengirim yang dicantumkan. Tapi Elias, yang kebetulan jadi salah satu admin grup itu karena urusan administratif lain, membaca pesan itu, mengenali nomor telepon yang mengirimnya, dan hanya bisa menggelengkan kepala sambil menahan senyum sendirian di mejanya.