Bagaimana jadinya jika kamu mengakhiri sebuah hubungan tanpa sebab lalu meninggalkan kekasihmu begitu saja karena suatu alasan?
Begitu pula dengan Serena, ia meninggalkan kekasih nya begitu saja hanya karena suatu alasan yang kurang jelas. Hingga suatu saat ia melamar pekerjaan disebuah perusahaan ternama milik mantannya dan bahkan saat ini seorang president.
apakah yang akan terjadi pada kehidupan Serena selanjutnya?
guyss mampir yuk, istirahat sebentar dinovel aku❤️❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Austrea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
My Ex²¹
"Saya hanya ingin mengembalikan laporan ini kepada Anda."
Zayn meletakkan map tersebut di atas meja Serena.
"Tuan Dirga mengatakan bahwa laporan ini berantakan."
Serena mengerutkan kening.
Dengan heran, ia segera meraih berkas itu dan membukanya.
Padahal ia sudah memeriksa laporan tersebut berkali-kali sebelum menyerahkannya.
"Berantakan?" gumamnya pelan.
Tatapannya kemudian beralih kepada Zayn.
"Kalau memang ada yang perlu diperbaiki, mengapa Pak Zayn yang mengantarkannya kemari?"
Serena tampak bingung.
"Bukankah Tuan Dirga bisa langsung menghubungi atau memanggil saya ke ruangannya?"
Zayn hanya tersenyum tipis.
Entah mengapa, pertanyaan itu terasa sulit untuk dijawab.
"Tuan Dirga juga menitipkan pesan."
"Pesan?"
Zayn mengangguk.
"Tuan mengatakan bahwa jika dalam waktu satu jam laporan tersebut belum selesai diperbaiki..."
Pria itu berhenti sejenak.
"...maka Anda akan dipaksa mengambil cuti selama satu bulan penuh sampai mampu mengerjakan laporan dengan baik."
Mata Serena langsung membelalak.
"A-apa?! Satu bulan?"
Zayn berdeham pelan. "Itu pesan langsung dari Tuan Dirga."
"Tapi laporan ini baik-baik saja!"
Serena membuka beberapa halaman dengan panik.
"Saya sudah memeriksanya berkali-kali."
"Kalau begitu, mungkin Anda harus menyampaikan keberatan tersebut langsung kepada tuan Dirga."
Serena terdiam.
Menyampaikan keberatan kepada Dirga?
Serena menggenggam berkas di tangannya lebih erat.
"Semua ini tidak masuk akal." Nada suaranya terdengar sedikit frustrasi.
"Kalau memang laporan saya bermasalah, setidaknya saya harus tahu bagian mana yang salah."
Zayn hanya tersenyum tipis.
Namun seperti biasa, sulit menebak apa yang sedang dipikirkannya.
"Waktu anda tidak banyak, Nona."
Serena mengerjap pelan.
"Hah?"
"Sekarang waktu Anda tinggal lima puluh delapan menit."
Pria itu melirik jam tangannya.
"Daripada menghabiskannya untuk mengeluh, lebih baik segera perbaiki laporan tersebut."
"Tapi—"
"Saya permisi."
Belum sempat Serena melanjutkan ucapannya, Zayn sudah berbalik dan melangkah pergi.
"Pak Zayn!"
Tidak ada jawaban.
Pria itu tetap berjalan menuju pintu.
Krek.
Pintu ruangan tertutup, meninggalkan Serena sendirian dengan setumpuk laporan.
Serena menatap berkas di tangannya dengan kesal.
"Laporan macam apa yang sebenarnya salah?"
gumamnya pelan.
Namun pada akhirnya, ia tetap duduk kembali di kursinya dan mulai memeriksa setiap halaman satu per satu.
Bagaimanapun juga, ia tidak mungkin mengambil risiko dipaksa libur selama satu bulan penuh.
Satu jam kemudian.
Serena kembali berdiri di hadapan meja kerja Dirga dengan laporan yang telah diperbaiki.
"Tuan, laporannya sudah saya revisi."
Dirga menerima berkas itu tanpa mengatakan apa pun.
Ruangan mendadak menjadi sunyi.
Hanya suara lembaran kertas yang dibalik satu per satu.
Serena berdiri tegak sambil menggenggam kedua tangannya di depan tubuh.
Beberapa menit berlalu.
Dirga akhirnya menutup laporan tersebut.
"Masih berantakan."
Jantung Serena langsung mencelos.
"Maaf, Tuan. Bagian mana yang harus saya perbaiki?"
Dirga melemparkan laporan itu ke atas meja, tatapannya terlihat dingin.
"Sangat buruk."
Serena menundukkan kepalanya.
"Saya akan memperbaikinya lagi."
Dirga tertawa sinis.
Tawa yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Memperbaikinya lagi?" Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Sampai kapan?"
Serena terdiam.
Tatapan tajam Dirga tidak pernah lepas darinya.
"Sangat buruk dalam mengintrospeksi diri."
"Masih belum sadar juga letak kesalahanmu di mana."
Tubuh Serena menegang.
Dirga sudah tidak sedang membicarakan laporan itu.
Namun ia tidak berani mengangkat kepalanya.
"Selain pandai membuat alasan..."
Dirga tersenyum tipis, senyuman yang justru terasa lebih menyakitkan.
"...kau juga pandai menjilat ludahmu sendiri."
Serena menggigit bibir bawahnya, dadanya terasa sesak.
"Maaf, Tuan."
"Maaf?" Dirga berdiri dari kursinya.
"Lucu sekali"
Langkahnya perlahan mendekati Serena.
"Setelah bertahun-tahun, kau masih menggunakan kata itu."
Pria itu berhenti tepat di hadapannya.
"Kalau memang merasa bersalah, setidaknya tunjukkan di mana letak kesalahanmu."
Suara Dirga terdengar rendah.
Namun justru itulah yang membuatnya semakin menakutkan.
Serena memilih untuk menatap lantai daripada wajah dingin pria tersebut.
Bahkan untuk menatap pakaiannya saja, Serena tidak berani.
Kuku-kukunya mulai menancap ke telapak tangan.
Ia sangat ingin menjelaskan, namun setiap kali mengingat ancaman itu...tubuhnya seakan membeku.
Dirga mendecih pelan.
"Keluar."
lantas Serena langsung menatap wajah pria itu dengan tatapan kebingungan.
"Tuan..."
"Kau punya waktu sampai besok pagi."
Pria itu berbalik membelakanginya.
"Kalau masih belum menemukan kesalahanmu, jangan harap kau masih ada disini besok pagi”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...----------------...
Bersambung.....
Hai para readers kesayangan Author, terimakasih sudah menjadi para pembaca yang setia dan selalu menemani hari² author💞🌹 Love You buat kalian semua yang selalu tinggalkan jejak sehat dan bahagia selalu ya🍃